
Seperti yang pernah dikatakan kalau orang tua mereka akan melakukan perjalanan bisnis. Arkan hanya menerima laporan kalau mereka sudah berangkat siang ini. Sebenarnya kemarin mereka sudah sempat membicarakan.
Anjani sendiri juga merasa biasa saja, toh kedua orang tuanya tidak ada tuh mengabari Anjani, seolah mereka sudah bebas telah melepaskan Anjani kepada Arkan. Jadi, untuk apa juga Anjani harus kepikiran kalau orang tuanya saja seolah mengabaikannya setelah menikah. Sedih sih, tapi ya mau bagaimana lagi.
Anjani menatap ke luar Jendela, setelah pulang dari kantor Arkan, mereka memesan drive thru. Anjani seperti biasa aja memesan burger, ice cream dan kentang goreng. Arkan yang melihat cara makan Anjani ya terheran-heran. Kentang goreng dia celupkan ke dalam eskrim. Benar-benar random sekali istrinya.
"Tidak ada ada yang lebih aneh dari kamu, Anjani. Kentang dan eskrim enaknya di mana?" Tanya Arkan.
Anjani yang merasa dibicarakan menoleh. "Ya menurut orang dari goa emas aneh, menurut aku engga."
"Coba." Anjani mendekatkan kentang yang sudah dia celupkan ke eskrim pada Arkan.
Ya seperti biasa, awalnya Arkan nampak ragu tapi ya ternyata enak juga. Jadi dia ketagihan, Anjani juga tidak masalah sih. Toh seharian dia dibuat senang oleh Arkan, tidak buruk juga ternyata menjalin hubungan dengan orang yang lebih dewasa darinya, karena Arkan juga menyesuaikan.
Sesampainya di rumah ternyata ada Andira dan Bagas di sana. Anjani berusaha biasa saja sih dengan kehadiran Bagas. Ya untuk apa juga sebenarnya dia permasalahkan, dan lagi memang dia harus terbiasa dengan kondisi seperti ini, karena Bagas dan Andira memang tidak jauh dari jangkauan keluarga Altair.
"Kakkkkkkkk!!" Andira berlari dan langsung memeluk Jeff, Anjani tersenyum melihat kedekatan Arkan dan Andira, bukan cemburu juga. Tapi dia selalu ingin punya kakak laki-laki, karena meskipun dia mempunyai kakak, dia tidak pernah akur dengan Seana.
"Hai, Dir. Sejak kapan kalian di sini?" Tanya Arkan seraya menepuk-nepuk puncak kepala Andira.
"Emmm ... Sejak tadi, aku bosan di rumah. Jadi aku minta Bagas ke sini. Gapapa, kan?" Tanyanya pada Arkan.
Arkan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil, tentu. Lagi pula dulu Andira sering main ke sini, jadi tidak masalah sebenarnya. Tapi sedikit khawatir saja pada Anjani. Namun saat melirik Anjani ternyata dia anteng dengan semua makanan di tangannya. Syukurlah, Arkan jadi lega.
__ADS_1
"Kakak sama Anjani dari mana?" Tanya Andira yang kini melirik Anjani.
"Dari kantor, Kakak tidak bisa meninggalkan Anjani sendiri di rumah. Apalagi hanya dengan pelayan-pelayan, takut dia kesepian," jawab Arkan.
Anjani mengangguk, karena memang itu alasan Arkan sebenarnya mengajak Anjani ke kantor. Orang tua mereka tidak ada, Anjani pasti butuh teman mengobrol.
"Aisshh manis banget Kakakku, lain kali kalau kamu kesepian telfon aku aja, Anjani. Nanti aku langsung ke sini sama Bagas," ucapnya dengan senang.
Anjani hanya menganggukkan kepala seraya membalas senyuman Andira. Andira juga tidak merasa bagaimana sih, karena mungkin ya mereka cukup asing, jadi butuh pendekatan yang lebih sering untuk menjadi teman.
Pegal mengobrol sambil berdiri, Arkan dan Anjani memutuskan untuk bergabung di sofa. Anjani dan Arkan duduk di sofa yang berbeda tentunya dengan Andira dan Bagas.
"Kamu mau?" Tanya Anjani seraya menyodorkan eskrim yang belum dia makan pada Andira.
Arkan merangkul istrinya dan mencium punyak kepalanya, Anjani nampak seperti saat dia berumur 5 tahun, yang awalnya nampak malu-malu bertemu dengan orang baru, lucu sih menurutnya.
Tanpa sadar sedari tadi Bagas memperhatikan mereka dengan hati yang gemuruh. Ya bagaimana pun Bagas mencintai Anjani, jadi dia tidak rela melihat Anjani terlihat dekat dengan Arkan meskipun Arkan suaminya.
Apalagi kentang dan eskrim yang Anjani suapkan, kebiasaan aneh itu biasanya Anjani lakukan hanya bersama Bagas. Ahh sial, kenapa dia jadi tidak karuan begini? Berbeda dengan Anjani yang memang tak pernah melirik ke arah Bagas dan fokus pada dirinya sendiri.
Anjani melirik Arkan yang sedikit kesusahan membuka dasinya, entah ada gerakan apa dia malah menawarkan bantuan. "Sini, gitu aja gak bisa."
Arkan terkekeh lalu mendekatkan diri pada Anjani, mempersilahkan istri kecilnya itu membantunya membuka dasi. Biasanya dia bisa sendiri, tapi entah kenapa hari ini tidak bisa.
Bagas menghela napas, udara yang sejuk saja menjadi panas karena melihat ini. Andira sebenarnya aneh dengan Bagas yang banyak diam seperti ini, apa karena dia terlalu lama koma ya sampai tidak menyadari perubahan Bagas? Di sisi lain Anjani tidak berniat sebenarnya membuat Bagas panas, karena dia pikir Bagas juga biasa saja. Anjani melakukannya karena ya dia mau menolong Arkan. Jadi tidak ada balas dendam atau sebagainya.
__ADS_1
"Oh iya, Jan. Kamu satu sekolah kan sama Bagas? Kalian deket gak? Bagas gimana di sekolah? Deketin cewek gak dia selama aku koma?" Tanya Andira setengah bercanda.
Tapi Andira tidak tau saja kalau itu membuat ketiganya merasa serat seketika, apalagi Bagas. Dia sedikit takut kalau Anjani akan nekat. Karena bagaimana pun Bagas tau kalau Anjani masih mencintainya, dia pasti melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
Arkan menatap Anjani, dia ingin tau saja apa jawaban yang akan istrinya berikan pada Andira. Cukup membuat penasaran karena Anjani terdiam sebentar.
"Aku gak deket sama Bagas, aku cuma liat dia sesekali di lapangan futsal. Aku juga sibuk di kelas, Dir. Jadi gak terlalu perhatiin sekitar," ucap Anjani sambil tersenyum.
Arkan mengangguk-nganggukan kepalanya, Anjani cukup bijak ternyata untuk diam saat dia mengetahui segalanya. Dia pikir Anjani akan langsung terus terang agar membuat Bagas merasakan sakit yang dia rasakan, tapi dia ternyata punya sisi dewasa. Bangga sekali Arkan melihatnya.
"Wahhh sayang banget, padahal aku mau tau keseharian Bagas di sekolah," kata Andira seraya melirik ke arah Bagas dan mengusap pipi pria itu dengan lembut.
Karena sebenarnya Andira takut, takut kalau Bagas berpaling saat dia koma. Takut Bagas merasa kesepian dan akhirnya mencari pelampiasan, takut juga Bagas terjerat pergaulan bebas, pokoknya Andira takut sekali tentang apa-apa yang dia lewatkan selama dia koma.
Bagas sendiri dia tertegun dengan perkataan Anjani. Tidak menyangka Anjani akan mengatakan kalau mereka adalah orang asing. Padahal pada kenyataannya mereka berpacaran selama dua tahun, minimal dia mengatakan kalau mereka berteman. Sakit sekali ternyata, dia jadi teringat saat tidak mengakui Anjani di depan orang tuanya. Dia juga merasa, apa ini karmanya?
"Mas, aku mau mandi gerah. Aku duluan ke kamar ya?" Ucap Anjani.
Arkan tersenyum lalu mengecup bibirnya tanpa sungkan, ya memang kebiasaan tapi tidak tau tempat. Anjani menghela napas, kan tidak enak ya dilihat oleh Andira. "Sana, biar cantik. Nanti saya nyusul."
Anjani mengangguk, setelah dia berpamitan pada Andira dan Bagas, Anjani langsung naik ke atas dan memasuki kamarnya bersama Arkan. Anjani bersandar pada pintu dan memejamkan matanya.
"Anjani, jangan lemah! Kamu udah berjalan sejauh ini tanpa Bagas. Kamu harus buktiin kalau kamu bisa tanpa dia!"
Anjani berusaha menenangkan dirinya, meskipun terlihat biasa saja tapi tetap saja ada perasaan tidak enak. Mereka juga bisa dibilang baru putus, jadi tentu Anjani masih dalam proses melupakan sepenuhnya. Memang sudah tidak benar pikirannya, jadi dia memutuskan untuk menyegarkan diri saja daripada berfokus dengan Andira dan Bagas.
__ADS_1