
Hari ini Anjani di antar oleh supir ke sekolah, meskipun tidak ada kata putus di antara dia dan Bagas tapi hubungan mereka benar-benar berakhir malam itu. Anjani masih terlihat murung meskipun matanya tidak terlihat sembab. Tapi melihat Anjani dan Bagas yang datang sendiri-sendiri membuat satu warga sekolah heboh dan bertanya-tanya tentang hubungan couple goals mereka.
Anjani dan Bagas sempat saling berpapasan saat di parkiran, tapi dengan cepat Bagas menghindarinya. Jujur itu adalah hal yang paling sesak selama menjalin hubungan dengan Bagas. Tentu semua orang bertanya-tanya karena dalam masalah apapun mereka selalu nampak mesra dan tidak menunjukkan apapun, tapi sekarang berbeda.
"ANJANIIII!!!" Teriak Nanda dan Della secara bersamaan lalu mendudukkan gadis itu di bangkunya.
"Kamu putus sama Bagas?" Tanya Nanda setengah berbisik.
"Please, jangan bilang iya?" Tanya Della juga.
Anjani memilih diam namun tiba-tiba Azzam dan Rafi menghampiri mereka. Mereka berdua terlihat dengan wajah yang sangat kaget. Ada apa mereka ke sini?
"Kata Bagas kalian putus? Bener? Kok bisa? Si Bagas lagi pingin sendiri, kasih tau dong, Jan. Aku sebagai BJI Shipper kan potek," ucap Rafi.
Kenapa sih mereka harus datang? Padahal kan Anjani belum mau bercerita. Dia saja masih sesak karena tak dianggap ada kehadirannya oleh Bagas, sekarang malah ditanya begini, dia malah ingin menangis kan.
"Jan? Are you oke? Kenapa?" Tanya Azzam.
Della dan Nanda yang mendengar suara Azzam lembut begitu malah menjadi salting sendiri. Ya wajar saja karena mereka mengagumi Azzam sejak lama. Tapi mereka kini kembali fokus pada Anjani dan menepikan itu sejenak.
"Ya putus, gak kenapa-kenapa. Emang harus putus aja," jawab Anjani yang langsung mengambil baseus dari dalam tasnya. Akan lebih baik dia belajar saja sambil mendengarkan lagu, menjawab mereka hanya akan membuat dadanya semakin sesak. Dia tidak mau menangis di sekolah.
Mereka yang menatap Anjani terdiam, tapi tidak berusaha mencecarnya juga. Mungkin Anjani dan Bagas memang perlu waktu untuk menceritakan alasan mereka putus. Atau bisa jadi malah mereka akan balikan, karena semua orang juga tau kalau Anjani dan Bagas tidak akan mungkin berpisah.
Anjani nampak menyibukkan diri dengan dengan fokus pada pelajaran, akan lebih baik kalau dia seperti ini. Karena kalau dia diam atau lengah sedikit, perasaannya sudah pasti didominasi oleh Bagas.
__ADS_1
Beberapa pelajaran terlewati, sekarang sudah masuk jam istirahat. Nanda dan Della sudah mengajak Anjani ke kantin tapi gadis itu memilih mengerjakan PR yang baru dia dapat barusan.
Namun sepertinya ketenangan seperti ini memang tidak akan pernah dia dapatkan mulai sekarang karena tiba-tiba salah seorang murid datang memangilnya. "Anjani, dipanggil Pak Arkan ke ruangannya ambil buku."
Anjani menghela napasnya lalu mengangguk pelan. "Oke, Makasih ya."
Dengan penuh keterpaksaan Anjani melangkahkan kakinya keluar kelas untuk menuju ruangan Arkan. Namun saat dia akan memasuki ruangan itu matanya beradu tatap dengan Bagas yang menatapnya penuh amarah. Anjani ingin menjelaskan tapi dengan cepat Bagas pergi dari sana. Ya memang sudah sewajarnya kan kalau Anjani masuk ke ruangan calon suaminya sendiri?
Tubuh Anjani seketika melemas, tapi bagaimana pun jalannya ya mungkin memang harus seperti ini. Jadi dengan terpaksa dia harus melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruangan Arkan.
"Permisi, Pak Arkan. Saya mau ambil buku kelas 12 IPA 1," ucap Anjani berusaha terdengar ramah karena profesionalitas guru dan muridnya.
"Duduk dulu," perintah Arkan.
"Ini gak bisa langsung kasih aja bukunya, Pak? Saya mau ke kelas, masih ada yang ingin dikerjakan juga. Kan tujuan utamanya cuma ambil buku aja, jangan buang-buang waktu. Jadi mana bukunya, Pak?" Tanya Anjani.
Anjani mendengus sebal, tadinya dia masih mau menghargai Arkan sebagai gurunya ya, tapi lama-lama menyebalkan juga, apalagi saat menjawab dia tidak lepas pandangan dari ponsel dan juga kacamatanya. Heran, kok bisa ayahnya memilih Arkan sebagai jodoh yang sempurna di mata mereka.
"Pak!" Panggil Anjani yang sudah duduk 5 menit tapi belum diinstruksikan apapun oleh Arkan.
Arkan sejenak menaruh ponsel dan kacamatanya, setelah itu mengambil rice box dan juga moccha float yang tadi sudah dia pesan untuk diberikan pada Anjani. Anjani tidak menerima atau menolaknya, dia malah menatap Arkan tak paham.
"Kamu murid saya yang pintar, jangan sampai bodoh hanya karena cinta. Ibu kamu bilang kalau magh kamu sudah akut, berdiam diri di kelas tanpa makan apapun hanya menyiksa diri sendiri," ucap Arkan.
"Bagus kalau saya sakit, jadi pernikahan ini tidak akan pernah ada!" Celetuk Anjani.
"Silahkan kalau memang ingin, kamu kan yang merasakan bukan saya? Pikirkan : Kalau kamu sakit, lalu dirawat, dan ternyata pernikahan kita hanya diundur. Apa tidak sia-sia usaha kamu?" Tanya Arkan realistis.
__ADS_1
Anjani membulatkan matanya, tak percaya dengan apa yang Arkan lontarkan. Sementara yang ditatap hanya datar sembari menyatukan kedua tangannya di depan wajah. Tanpa banyak bicara lagi Anjani mengambil rice box itu dan memakannya. Anjani memang suka berdebat dengan semua orang, tapi dia salah kalau memilih Arkan sebagai lawannya. Dia tidak akan pernah menang.
"Good girl," ucap Arkan yang kembali memainkan ponselnya.
Malas sebenarnya berada di ruangan ini, tapi kalau dia keluar dan membawa makanan ini juga tidak enak dengan yang lainnya. Apalagi ini jam istirahat, pasti banyak orang yang berkeliaran di luar sana. Dia tidak mau nantinya malah keluar celetukan gosip yang tidak-tidak.
"Pulang sekolah kamu tunggu saya di halte depan sekolah," ucap Arkan.
"Saya udah dijemput supir jadi bapak gak perlu anterin saya pulang!" Ketusnya.
"Supir kamu sudah saya pinta untuk tidak menjemput. Kita harus fitting baju untuk acara pernikahan."
"Gak mau! Pake baju seragam aja sih, repot banget. Kalau mau nikah sama saya jangan repot, Pak!"
Ya asal saja sebenarnya, kan kalau mereka tidak fitting baju pengantin Arkan akan merasa kesal dan akhirnya memilih untuk membatalkan pernikahan mereka. Mana ada sih pria yang betah lama-lama diacuhkan oleh wanita seperti ini.
"Baik, kalau itu mau kamu. Saya bisa siap memakai apa saja selagi nyaman. Tapi pernikahan akan terjadi satu kali dalam hidup, jadi kalau suatu saat nanti kamu menyesal jangan salahkan saya."
"OKE FITTING!" Sungut Anjani kesal.
Anjani mengepalkan tangannya, tidak habis pikir loh dengan Arkan yang selalu di luar dugaan. Tapi Anjani salah sih jika pria akan bosan jika diacuhkan, justru jika melakukannya malah akan membuat adrenalin seorang pria terpacu untuk mendapatkannya, termasuk apa yang Arkan rasakan saat ini. Terbiasa dikejar wanita membuat Arkan bosan, dia lebih senang mengejar singa yang ada di hadapannya saat ini sepertinya.
Kesal sekali Anjani sekarang ini. Niatnya ingin membuat Arkan terpukul mundur malah dia yang kena mental. Akhirnya dia terpukul oleh senjatanya sendiri. Benar-benar menyebalkan Arkan Altair ini! Rasa-rasanya segala jenis umpatan sudah dia lontarkan pada Arkan padahal baru beberapa hari mengenal.
Sementara di sisi lain Arkan tersenyum kemenangan, baginya Anjani ini mudah untuk dibolak-balikan, mudah untuk dipancing emosinya, mudah ditebak dan mudah sekali berubah pikiran. Tidak sia-sia dulu dia menjabat sebagai Ketua OSIS dan Presma kampus. Ternyata bisa dia pergunakan juga untuk menghadapi wanita keras kepala seperti Anjani. Menarik.
Mari kita lihat, akan berapa lama macan liar ini berubah menjadi kucing menggemaskan jika sudah merasakan hangatnya seorang Arkan Giovano Altair.
__ADS_1