I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
DiInterogasi


__ADS_3


Pada akhirnya pertanyaan Anjani kemarin tidak jadi dia lanjutkan, Arkan memaksanya untuk mengulang, tapi tidak jadi deh. Dia masih memiliki segudang gengsi. Jadi Anjani mengabaikan pertanyaan Arkan, biar saja deh. Nanti akan dia ucapkan kalau memang dia sudah sangat yakin dengan perasaannya.


Setelah beradu argumen tadi pagi dengan suaminya, Anjani bisa kembali ke sekolah. Karena ya dia bosan lah, kalau hanya berdiam di kamar seharian. Dia tidak akan sanggup kalau harus beberapa hari lagi. Lagian juga dia takut tertinggal pelajaran.


Namun ada yang berbeda kali ini, sepanjang jalan semua orang menyapa dan tersenyum ke arahnya. Belum lagi saat Anjani ke loker untuk mengambil beberapa buku di sana, banyak sekali yang mengirinya surat dan coklat.


Ada apa ini? Tumben sekali, biasanya mereka akan bergosip ria tentang dirinya. Tapi Anjani tidak peduli juga sih, apapun yang mereka lakukan dia tidak peduli.


Baru saja Anjani duduk di bangkunya, tiba-tiba Nanda, Della, Azzam dan juga Rafi menghampirinya. Bukan menghampirinya lagi, mereka mengambil kursi murid lain dan duduk seraya menatap Anjani. Karena memang kondisinya juga masih sangat pagi, baru ada mereka di sekolah ini.


"Kalian kenapa sih?" Tanya Anjani tak mengerti.


"Kenapa kamu gak bilang soal Bagas?" Tanya Azzam.


Anjani hanya ber-oh ria. Anjani pikir apa, ternyata Bagas toh. Apa mungkin juga karena Andira kemarin menamparnya jadi banyak berita menyebar kalau selama ini dia dan Bagas putus karena Bagas yang tidak beres?


"Karena kalian temennya, aku cuma bilang sama Della dan Nanda. Belum tentu juga kalian percaya sama aku, bahkan kamu aja kemarin bilang kecewa sama aku, kan? Buat apa juga aku jelasin semuanya ke orang yang punya keputusan final di otak dia?"


"Bukan masalah gitu Anjani, kalau kamu bilang itu pasti bakalan merubah semua pandangan orang," sambung Rafi.


"Gak perlu juga, ujungnya kebongkar sendiri, kan? Aku diem karena aku tau kalau nanti juga bakalan kebongkar dengan sendirinya."


"Kalau Andira gak kesini, gak akan kebongkar," balas Azzam.


"Yaudah, aku sama Bagas juga udah selesai."


"Karena kamu pacaran sama Pak Arkan?" Tanya Azzam lagi.


Anjani mengerutkan dahinya dan menatap ke arah Della dan Nanda. Kemudian mereka berdua menggeleng. Kalau soal itu demi apapun mereka tidak menceritakan apapun pada Azzam dan juga Rafi.


Anjani langsung curiga dengan Mading, tidak menutup kemungkinan, kan? Dengan cepat Anjani, keluar dari bangkunya dan berlari ke arah Mading.

__ADS_1


Langkahnya menelan saat menatap rentetan kalimat di sana. Namun tidak ada apa-apa. Hanya ada berita mengenai soal masalahnya dengan Andira dan juga Arkan yang memiliki pacar. Tapi tidak ada tuh namanya disebut. Lalu bagaimana Azzam dan Rafi tau?


"Tadi kita liat kamu berangkat bareng Pak Arkan. Jangan bilang kalian sama-sama selingkuh?" Tanya Rafi.


Anjani menggeleng cepat. "Bukan, bukan kaya gitu. Aduh gimana ya aku jelasinnya?"


"Kamu anggap kita sahabat juga gak sih? Selama kamu sama Bagas, aku kira kita semua spesial," ucap Rafi lagi.


Anjani berdecak jengkel, dramatis sekali mereka ini. Masa iya harus menceritakannya juga pada Azzam dan juga Rafi. "Nanti pulang sekolah aku jelasin deh. Panjang ceritanya."


"Bener?" Tanya Azzam dengan tatapan tajamnya.


"Iya, udah ah sekarang aku mau nyalon catatan selama gak masuk." Setelah mengatakan itu Anjani bergegas ke kelasnya. Pusing sekali rasanya harus membahas hal berat pagi-pagi begini.


.


.


.


Setelah sampai di rumah, Anjani mengganti pakaiannya dan menyusul teman-temannya di bawah. Arkan tadinya akan ikut, tapi ternyata dia ada beberapa pekerjaan, jadi ya biarkan saja Anjani yang menjelaskan sendiri kepada teman-temannya.


Anjani mirip ke arah Azzam dan juga Rafi yang menatap lekat pada photo pernikahannya dengan Arkan. Dia tau sih mereka akan langsung tertuju pada itu, tapi tidak masalah. Dia akan menceritakan semuanya dan ini keputusannya.


"Jadi kamu selingkuh sama Pak Arkan?" Tanya Rafi.


Anjani berdecak, kenapa mereka malah fokus ke perselingkuhan sih, Anjani pikir mereka cukup pintar dalam menyimpulkan, ternyata tidak. "Gak gitu!"


Anjani duduk di sofa, sesekali dia menarik napas. Ternyata lelah juga harus berhadapan dengan yang begini-begini. "Aku sama Pak Arkan dijodohin waktu kabar aku sama Bagas putus."


Azzam dan Rafi berbalik, mereka duduk di sofa dan mulai mendengarkan Anjani. "Awalnya aku pikir ya aku jahat sama dia, aku ngaku salah kok. Tapi awal aku terima perjodohan karena aku gak mau masa depan dia keganggu karena emang dia bakalan dibatasin katanya kalau pacaran."


"Tapi waktu itu setelah menikah sama Pak Arkan, aku tau soal Andira dan aku tau kalau selama ini aku cuma selingkuhan."

__ADS_1


"Jadi ini beneran masih salahnya Bagas, kan?" Tanya Azzam.


"Yaiya, tapi gak tau sih menurut pandangan kalian," kata Anjani.


"Ya intinya yang gila itu temen kalian, aku sih ogah anggap dia temen. Lagian juga ceweknya kenapa jadi nyalahin Anjani sih? Kesal banget aku," ucap Nanda.


"Apalagi aku yang ada di sana. Aku kesel banget waktu dia seenaknya nampar Anjani. Kaya apasih gak jelas banget," kesal Della.


"Harusnya Anjani nampar dia juga sih," sahut Azzam.


"Gak deh, ngapain. Gak jelas juga, lagian aku masih ngehargain dia karena adeknya Pak Arkan. Jadi ya mau gimana pun juga harus stok kesabaran. Toh aku gak salah juga, dia sendiri yang bakalan malu."


Benar sih apa yang dikatakan oleh Anjani. Azzam dan sendiri jadi malu dengan Anjani. Tapi semenjak hari itu percayalah kalau hubungan mereka dengan Bagas Retak.


Mereka merasa kecewa karena Bagas bertingkah sepengecut itu apalagi sampai membuat banyak kesalah pahaman. Tapi syukurnya Anjani tidak marah, dia malah masih mau cerita. Meskipun mereka kaget sih karena ya memang ada ya yang mau dijodohkan diusia muda.


"Tapi Pak Arkan baik kan?" Tanya Azzam, seperti yang pernah kita tau, kalau Azzam sudah menganggap Anjani seperti adiknya.


"Baik banget, kayanya dia treat Anjani like a queen!" Timpal Della.


"Bener Pak Arkan kayanya sweet banget sama Anjani, aku yakin dia lebih baik dari si Bagas," balas Nanda.


Anjani terkekeh mendengarnya, tapi memang benar sih, Arkan memang sangat baik. Jauh melebihi kata baik tapi Anjani engga saja mengakuinya. Gengsi.


Untuk sesaat dia melirik, memastikan tidak ada Arkan di sana. Karena dia jelas malu lah. "Baik kok, baik banget. Aku ngerasa beruntung malah kayanya, soalnya emang Pak Arkan sebaik itu."


"Cieeeeee," goda mereka.


"Apasihh?!!!" Anjani benar-benar malu.


Tanpa disadari Arkan memang berada di sana, bersembunyi. Menguping sedikit tidak akan jadi masalah kan ya? Dia benar-benar salah tingkah hanya karena Anjani membanggakan dirinya di hadapan teman-temannya sendiri.


Rasa ingin menciumi gadis itu rasanya besar sekali, tapi dia harus sabar. Ya setidaknya sampai teman-teman Anjani pulang dari sini. Setelah itu baru dia eksekusi Anjani.

__ADS_1


__ADS_2