
Setelah menidurkan Jihan, Arkan berniat untuk langsung menemui Anjani, namun saat akan menaiki tangga ternyata dia bertemu dengan ibunya yang tengah membawa Arsyla. "Mau kemana, Ma?"
Hera yang mendapat pertanyaan itu sedikit menghembuskan napasnya. Ya tentu dia membawa Arsy agar Arkan bisa menyelesaikan masalahnya dengan Anjani. Terlebih keadaan Anjani sedang tidak baik-baik saja, jadilah Hera berinisiatif untuk membawa cucunya. "Biar Arsy dengan mama dulu, sebenarnya ada apa?"
Sebagai ibu Hera juga tidak mungkin langsung menghakimi putranya, dia tau pasti ada alasan di balik semua ini. Jadi lebih baik dia bertanya dulu walaupun sebenarnya kesal dengan keadaan seperti ini.
Arkan menjelaskan semua permasalahan ini dari awal, dia tentunya juga bingung harus bagaimana. Mungkin bicara dengan sang ibu Arkan bisa mendapatkan solusi.
Mendengar penjelasan Arkan, Hera kembali menghela napas. Begini terkadang, Arkan terlalu baik dengan orang lain sampai tidak memikirkan resiko kedepannya. Hera pun bingung, namun sebisa mungkin dia memberikan saran dan sepertinya dia juga harus turun tangan soal ini.
"Wajar Anjani marah, selesaikan dengan dia. Bicara hati-hati jangan sampai membuat perasaannya semakin terluka," peringat Hera yang dihadiahi anggukan oleh Arkan.
Sebelum kembali menaiki tangga, Arkan menyempatkan diri untuk mencium kening putrinya. Dia jadi merasa bersalah pada Arsy karena kejadian ini dia harus jauh dari ibunya untuk sementara waktu. Tapi memang lebih baik begitu daripada dia berada di tengah-tengah pertengkarannya dengan Anjani.
Perlahan Arkan membuka kenop pintu, ternyata tidak dikunci. Baguslah jadi dia tidak perlu bersusah payah membujuk Anjani untuk membuka pintu. Saat masuk hanya ada keheningannya, yang Arkan dapati adalah punggung Anjani yang kini telah tidur membelakanginya.
Sejenak dia menghela napas, kalau sudah begini susah untuk diajak bicara, Arkan tau kalau Anjani belum tertidur, tapi untuk mengajaknya bicara seperti ini rasanya dia harus memberi waktu untuk Anjani.
Dengan pelan Arkan menaiki kasur dan langsung menghampiri Anjani, memeluk dan mencium rambutnya. "Belum mau bicara dengan saya ya?"
Anjani yang mendapatkan perlakuan seperti itu berusaha tetap diam dan menutup matanya. Sungguh, rasanya sesak, marah, emosi, semuanya menjadi satu, Anjani bingung bagaimana cara mengekspresikannya.
Arkan yang melihat respon Anjani ikut berbaring dan memeluk Anjani dari belakang, mencoba memberikan ketenangan pada istrinya meskipun dia tau sepertinya ini tidak akan bekerja. "Saya minta maaf karena tidak membicarakan ini dengan kamu."
Anjani masih terdiam, sementara Arkan semakin mengeratkan pelukannya. "Maaf sudah membuat kamu menangis, tapi saya ingin kamu tau kalau apa yang ada dalam pikiran kamu sekarang itu tidak benar."
__ADS_1
Arkan menghela napas pelan. "Kita bicara besok kalau kamu masih belum siap. Tolong jangan diamkan saya lagi ya. Percaya sama saya kalau saya hanya mencintai kamu dan anak kita."
Setetes air mata kembali mengalir di pipi indah Anjani. Namun benar, dia tidak siap mendengar penjelasan Arkan apapun bentuknya, dia memilih bertahan untuk diam dan membiarkan Arkan memeluknya seperti ini. Karena jujur meskipun dia sedang marah, dia membutuhkan ketenangan seperti ini dari pelukan Arkan. Setidaknya pikiran yang sekarang saling bersautan bisa sedikit tenang. Hingga tak lama kemudian Anjani benar-benar terlelap.
.
.
.
Pagi harinya Arkan menemui Rindu di taman belakang. Dia benar-benar harus menyudahi ini semua. Dia tidak mau kalau sampai keluarganya hancur hanya karena belas kasih pada orang lain seperti ini.
"Gio ... "
"Saya tidak mau basa-basi, tolong luruskan ini sekarang juga dan pergi dari sini," ucapnya tegas.
"Saya tidak peduli, saya lebih peduli dengan keluarga saya, istri saya dan anak saya jadi tolong bekerja sama untuk hal ini."
Rindu mendengar itu tidak bisa dengan mudah membiarkan ini cepat berakhir. Dengan cepat Rindu memeluk Arkan sambil menangis. "Aku mohon, aku mohon jangan sekarang. Jihan sakit, dia butuh kamu. Aku mohon, Gio bantu aku. Aku–"
"Mass .... "
Mendengar panggilan itu Arkan langsung menjauhkan tubuhnya dari Rindu dan menatap Anjani yang kini matanya sudah berkaca-kaca. Sial, niatnya ingin menyelesaikan masalah tapi sudah ada lagi kesalah pahaman baru. "Anjani ini—"
Tanpa mendengar penjelasan Arkan Anjani pun meninggalkan mereka dan kembali ke kamar. Dia mengambil tas berisi baju dan keperluan Arsyi. Anjani tidak mempedulikan. keperluannya, emosinya sudah meledak-ledak dan tidak bisa dia bendung. Tadinya dia berharap bisa menyelesaikan masalah ini dengan Arkan namun yang dia dapati adalah Arkan dan Rindu sedang saling memeluk, bagaimana dia tidak sakit? Dia tidak bisa di sini.
Sambil berusaha tegar, dia menggendong baby Arsy yang memang sejak pagi sudah dikembalikan oleh Hera ke kamar mereka dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Arkan yang baru datang pun menahan pergelangan tangan Anjani, namun Anjani mencoba melepaskan genggaman tangan itu. "Lepas."
"Anjani, tolong kita bicara dulu. Kamu mau kemana?"
"Mau bicara apa? Aku gak butuh penjelasan kamu ya, Mas. Aku cuma mau tenang, urus selingkuhan sama anak kamu itu aku gak bisa di sini, aku gak mau bicara sama kamu tolong ngerti!" Tegasnya.
"Anjani saya dan Rindu—"
"Cukup!" Anjani menahan sesak yang kini menyerangnya, ditambah melihat baby Arsy yang menangis akibat pertengkaran mereka.
"Aku mau sendiri, aku mohon aku gak bisa bicara sama kamu Mass. Aku cape, apa ngeliat kamu sama Mba Rindu gak sakit? Kamu bohong sama aku kemarin kalau Mba Rindu ke kantor siang itu dan aku nemuin bekas pengaman di kantor kamu itu apa? Belum lagi masalah semalem dan sekarang apa lagi?" Anjani bicara dalam tangisnya menahan sesak yang kini kian mendominasi perasaannya.
Arkan berbohong padanya itu adalah hal yang menyakiti perasaannya. Dia tidak suka dibohongi, dia trauma dengan perselingkuhan dan apa yang Arkan lakukan sekarang?
"Anjani kita bicara ya? Saya tau saya salah membohongi kamu tapi ada hal yang harus kita luruskan. Saya mohon." Arkan kini memeluk Anjani dan putrinya namun itu membuat Anjani menjauh dan menggeleng pelan.
"Aku mau pulang, jangan larang aku!" Anjani pun memberanikan diri melangkahkan kakinya.
Melihat itu Arkan memijat pangkal hidungnya, bagaimana cara menjelaskan pada Anjani kalau keadaannya seperti ini? Arkan tidak bisa menhan Anjani juga di sini, apa sebaiknya dia memang membiarkan Anjani menenangkan diri dan dia menyelesaikan semua permasalahan ini dulu?
Berhenti berpikir Arkan menyusul Anjani yang kini nampak sudah memasuki mobil, saat Arkan mendekat mobil itu pun menjauh, membuat Arkan sedikit mengumpat. "Maafkan saya, Anjani. Nanti saya akan jemput kamu, biar saya menyelesaikan masalah ini dulu."
Jujur Arkan frustrasi sekarang, banyak sekali masalah yang harus dia selesaikan. Dia tidak bisa hanya berdiam diri begini dan membiarkan Anjani lama jauh darinya.
Dari jauh sana Hera menghela napasnya, ini sudah benar-benar keterlaluan. Dia bukan membiarkan menantunya pergi begitu saja, tapi dia tau kalau Anjani butuh ruang sekarang, setidaknya dia aman dengan diantar supir. Sekarang tinggal menyelesaikan apa yang memang harus diselesaikan.
Dia juga sudah mengabari besannya agar tidak khawatir, kalau urusan permasalahan di sini biarkan Arkan yang jelaskan karena sebagai orang tua dia juga mau melihat Arkan bertangungjawab atas apa yang terjadi sekarang.
__ADS_1