I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Membicarakan Pola Asuh


__ADS_3


Hari ini Arkan libur dari kantor, merasa tidak banyak pekerjaan membuat Arkan ini diam di rumah saja. Menemani istrinya yang sedang cuti kuliah dan juga bermain bersama anaknya seharian.


Anjani menyiapkan sarapan karena sedang ingin membuatkan sarapan sendiri, sementara di luar sana Anjani bisa melihat kalau Arkan sedang mengajak Arsy untuk berjemur, bayi kecil itu nampak nyaman dalam dekapan ayahnya sembari menikmati matahari pagi.


Beres menyajikan itu, Anjani ikut bergabung dengan suami dan anaknya di luar sana. "Lucu banget Arsy, anteng ya sama Ayah? Gak mau sama Mama?"


"Tidak, Mama. Mau dengan Ayah dulu," ucap Arkan.


"Yaudah iya anak Ayah." Anjani terkekeh sambil membersihkan sesuatu yang ada di lubang hidung anaknya dan mengusap punggung Arkan dengan lembut.


"Kamu gak cape, Mas?" Tanya Anjani.


"Kenapa bertanya begitu?" Tanya Arkan.


"Kamu kurang tidur semalem."


Ya bagaimana tidak, semalam Arsy rewel dan terjaga di tengah malam, belum lagi pempersnya penuh 2 kali dan semalam dia seakan mengajak ayahnya bermain. Semuanya Arkan lakukan sendiri, meskipun Anjani juga membantunya tapi tetap saja Arkan yang paling banyak berperan.


Dia sudah di kantor seharian, lalu membantu Anjani juga mengurus Arsyla, apa Anjani tidak merasa membuat Arkan jadi kurang tidur begini? Dia jadi semakin semangat belajar agar Arkan tidak merasa kelelahan begini. Terlihat juga kantung matanya yang yang membuat Anjani semakin merasa tidak enak.


"Tidak kok, saya malah suka direpotkan anak saya sendiri. Dia manis sekali, Sayang. Lihat." Arkan terkekeh dan mendekatkan wajah anaknya pada Anjani.


Ya memang menggemaskan sih, menggemaskan sekali malah. Anjani mengecup pipi Arsy dan membuatnya menggesekkan tangan pada hidungnya. Membuat Anjani tersenyum. "Yaudah, tapi kamu juga jangan lupa istirahat ya, Mas. Arsy biar sama aku aja. Hari ini biar aku yang turun tangan."


"Tidak mau, Sayang. Saya libur kan hanya beberapa kali saja, saya ingin Quality Time bersama kalian," jawab Arkan seraya mengusap-usap punggung anaknya.


Anjani menghela napas, memang bucin sekali Arkan ini. Tapi ya sudah lah, Anjani sudah menawarkan diri tapi Arkan tidak mau, jadi ya biar saja Arkan melakukan apapun yang dia inginkan. "Yaudah, kamu makan dulu gih. Sini Arsy biar sama aku aja."


Arkan tersenyum lalu memindahkan Arsy pada pelukan ibunya, setelah itu dia merengkuh pinggang Anjani dan mengajaknya masuk ke dalam. "Kamu sudah sarapan?"


Anjani menggeleng. "Kamu dulu aja, aku gampang."

__ADS_1


Arkan mengangguk dan membantu Anjani duduk, setelahnya dia menarik piring dan meminum air putihnya dulu sebelum makan. Sudah lama dia tidak merasakan masakan Anjani. Karena Arkan juga yang melarang Anjani untuk tidak kelelahan selama hamil dan masa pemulihan.


"Enak." Arkan menguyah makanannya dan tersenyum ke arah Anjani. Membuat Anjani tersenyum juga karena Arkan memang selalu mengapresiasi apapun yang dianlakukan.


"Makan yang banyak, Mas," ucap Anjani seraya menciumi Arsy yang terlihat sedang memperhatikan ayahnya makan. Dia sudah minum susu tadi, jadi ya begini. Menunggu ayahnya makan untuk bermain lagi.


"Arsy, tidak boleh makan ini dulu ya, Sayang. Minum susu saja, jadi Mamanya juga harus makan. Aaa." Arkan mendekatkan sendok pada bibir Anjani, tapi Anjani menggeleng karena tidak mau menganggu agenda makan suaminya.


"Mas aja dulu yang makan, aku nanti aja."


"Tidak bisa, Sayang. Ayok makan, kamu sedang menggendong anak saya, jadi biar saya lakukan ini untuk kamu."


"Mass ... "


"Anjani ... "


Mendengar namanya sudah dipanggil membuat Anjani sedikit bergidik ngeri, karena ya itu bagai sp 1 di pendengarannya, jadi Anjani memilih untuk menurut saja dan menerima suapan dari Arkan.


"Nah begitu, makan juga yang banyak agar kamu bisa memberikan asi yang sehat untuk anak kita."


Anjani tersenyum dan menganggukkan sedikit kepalanya. Memang Arkan ini manusia yang paling meresahkan, padahal ini masih pagi.


Selesai sarapan, Arkan dan Anjani memilih untuk berjalan-jalan di sekitar perumahan sambil mendorong troli bayi. Ya mereka bukan generasi kolot juga yang harus mengikuti tradisi 40 hari bayi tidak boleh diajak keluar atau bepergian. Jadi jalan-jalan seperti ini akan mereka biasakan.


"Pasti Arsy bingung, mau di bawa kemana ya dia sama Ayah dan Mamanya? Kok baru liat tempat ini," kata Anjani random.


"Dia senang, Sayang. Biar tidak suntuk juga di rumah, apalagi di troli seperti ini, dia tidak perlu lelah berjalan dan hanya menikmati suasana pagi ini," kata Anjani.


"Hmm, dia seneng karena bisa eksplor dunia luar. Kalau udah besar kamu bakalan jadi orang tua yang nerapi pola asuh permisif atau otoriter?" Tanya Anjani.


"Kenapa memangnya?" Tanya Arkan seraya mengusap puncak kepala Anjani yang ada di sampingnya.


"Ya aku rasa kita harus bicara soal ini sih, Mas. Maksudnya biar kita sejalan buat arahin Arsy kedepannya mau seperti apa," ucap Anjani.

__ADS_1


Arkan tersenyum, ya tidak salah memang. Anjani ini anak psikologi, sedikitnya dia belajar tentang perkembangan anak dan juga memahami sikologis anak, wajar dia menanyakan hal ini. Tapi itu membuat Arkan jadi kagum, karena Anjani terlihat semakin dewasa kalau begini.


"Saya sih permisif, saya akan membebaskan apapun yang ingin dia lakukan, tidak akan melarang banyak hal namun saya tetap menerapkan aturan dan pengawasan."


"Tapi kalau seandainya dia melanggar dan melakukan di luar batas saya akan otoriter," lanjut Arkan.


"Maksudnya gimana?"


"Misalkan, saya tidak akan melarang dia untuk makan apapun yang dia suka, tapi saya punya aturan untuk tidak makan-makanan manis setiap hari. Jika dia melakukannya akan saya biarkan, kalau dia sakit gigi barulah saya jelaskan sebab akibat dan menegaskan peraturan yang pernah saya buat."


"Membiarkan biar dia belajar dari kesalahan dan paham kalau peraturan yang kamu buat itu adalah kebaikan buat dirinya sendiri, gitu?" Tanya Anjani.


Arkan mengangguk. "Balita, anak-anak, remaja. Akan sulit diberi tau, mereka akan melakukan apapun sesuai kehendaknya. Itu kenapa mereka harus merasakannya sendiri sebab akibat agar kedepannya mereka paham."


"Iya sih, dulu juga aku gitu."


"Jadi kamu setuju atau punya pendapat lain, hm?" Tanya Arkan sembari duduk di kursi taman dan di susul juga oleh Anjani.


Anjani memainkan pipi Arsy dan tertawa kecil. "Kayanya aku setuju sama pola asuh yang mau kamu terapin. Aku yakin dia bakalan tumbuh dengan baik, dia bakalan jadi anak penurut, penyayang, baik dan pintar nantinya."


"Pasti, dia juga akan cantik seperti Mamanya. Wah saya harus ekstra ketat menyeleksi calon menantu nanti. Anak saya cantik begini tidak boleh salah pilih seperti mamanya," ledek Arkan.


Anjani melirik Arkan dengan tajam, memang begini nih Arkan senang sekali mengajaknya bertengkar. "Maksudnya apa ya?! Kan aku nikahnya sama kamu!"


"Siapa tuh yang bilang kalau saya pemeran antagonis dalam ceritanya, memisahkan putri dan pangeran tampan dan merusak jalan ceritanya."


"Kupukul mau?!"


"Siapa yang menangis sampai 3 hari dalam kamar karena tidak mau dijodohkan dengan saya ya? Heran, ada ya wanita yang menolak saya, sampai menangis, Sayang. Ayahmu ini ditolak, padahal Ayah tampan," adu Arkan pada Arsy dengan percaya dirinya.


"Apasih?!! Bukan aku!!" Kesal Anjani.


"Memang saya bilang kamu, apa kamu merasa, Sayang?" Tanya Arkan yang kini mendekatkan wajahnya pada Anjani.

__ADS_1


Anjani mendorong wajah Arkan dengan kedua telapak tangannya. Ah malu tau Anjani kalau begini. Dulu menolak mati-matian, sekarang malah terlihat bucin. "Yaudah iya aku, iya! Aku pelakunya. Puas?!"


Anjani menyerah, membuat Arkan tergelak dengan perkataan istrinya. Akhirnya si ratu gengsi ini skakmat, lucu sekali.


__ADS_2