
"Buka mulutnya," ucap Arkan yang masih belum menyerah agar Anjani mau disuapi. Sudah dibilang biar disuapi tapi dia malah tetap diam dan tidak ingin membuka mulutnya.
Karena sudah lelah berdebat Anjani menerima suapan dari Arkan meskipun dengan wajah yang tidak ikhlas. "Rewel!"
"Kamu yang rewel, bukan saya. Tinggal buka mulut saja padahal," ucap Arkan yang kini menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri.
"Ehh berantem terus ini setiap hari kaya gini?" Tanya Hera.
"Mas Arkan tuh, Ma. Suka jahil banget, suka bikin kesel," adu Anjani.
"Besok kita pasang kaca di kamar, sekalian kita beli yang besar." Arkan tersenyum lalu mengusap puncak kepala Anjani. Membuat gadis itu kembali mencibir. Demi apapun Arkan kalau sedang mode menyebalkan seperti ini tiada tanding, selalu sukses membuat Anjani naik darah.
Tapi kalau dipikir-pikir mereka memang pasti sama sifatnya. Secara Arkan anak tunggal dan Anjani anak bungsu. Arkan selalu ingin punya adik untuk dikerjai, sementara Anjani saat masih ada Seana di rumah juga suka jika mengerjai kakaknya. Jadi mereka berdua sama. Bedanya Arkan lebih dewasa daripada Anjani.
Setelah selesai makan malam, mereka semua mengobrol di ruang keluarga. Anjani yang masih lemas jadinya ya seperti ini, duduk di sofa sembari bersender pada dada Arkan yang membawanya ke dekapan hangat terbaik yang selalu membuat Anjani nyaman.
Mereka kebanyakan membicarakan tentang bisnis sih, jadi Anjani tidak mengerti dan memutuskan untuk memainkan ponselnya sembari membalas pesan yang belum terbalas. Arkan yang melihat itu langsung mengambil ponsel Anjani dan menyimpannya di belakang punggungnya, membuat Anjani mengerutkan dahinya. "Mas??!"
"Jangan main ponsel, radiasi. Nanti kamu tambah pusing," peringat Arkan.
Anjani mengerucutkan bibirnya, banyak aturan sekali. Padahal Arkan tidak tau saja, saat Anjani di rumah sakit pun bahkan dia bisa bolak balik ke supermarket sembari menenteng infusan. Karena ya Anjani mudah bosan.
"Jadi Anjani bagaimana sekolahnya?" Tanya Abdi.
"Baik, Pa. Aman, nilai Anjani juga aman, tanya Pak Arkan, yakan, Pak?" Tanya Anjani seraya mendongakkan wajahnya pada Arkan.
"Mass ... "
"Ya kalau di sekolah kan manggilnya Pak."
"Ini kan di rumah."
"Ya maksudnya ini pertanyaan murid ke gurunya, masa manggil Mas sih, ngaco," kesal Anjani.
Arkan yang melihat itu pun gemas, setelah itu dia kembali memeluk Anjani dan mencium pipinya, seperti tidak ada rasa malu di hadapan Ayah dan Ayah mertuanya. Toh memang Arkan sangat mencintai Anjani, dia akan selu menunjukkannya di hadapan siapapun.
"Sama papanya sudah tidak mau manja-manjaan, sekarang rupanya lebih suka manja-manjaan sama suaminya," sindir Mario. Iya dia sedang cemburu memang, biasanya kalau Anjani sakit itu adalah tugas Mario untuk memeluknya.
Anjani hanya terkekeh, sebenarnya bukan tidak ingin bermanja dengan Ayahnya, hanya saja tadi Anjani lemas. Lagi, kalau sudah ada Arkan seperti ini, ya dia langsung nempel, seperti anak kucing. Tidak salah memang Arkan menamainya anak kucing.
"Engga, Paa. Tadi kan Jani tidur, papa cemburu ya?" Tanya Anjani yang kini berpindah duduk dan memeluk Mario.
__ADS_1
Arkan tidak keberatan sih, kan memang Mario ayahnya? Justru bagus kalau Anjani sudah berbaikan dengan orang tuanya, karena mau bagaimana pun suatu saat Anjani akan membutuhkan orang tuanya.
"Cemburu, udah besar ternyata putri papa. Gak ada yang bisa diajak debat lagi sekarang, Papa kira karena putri papa sudah lebih jinak, taunya sekarang malah sering mengajak suaminya berdebat."
Anjani memperlihatkan gigi-giginya, memang sepertinya mulut Anjani ini akan asam kalau sehari saja tidak ada yang bisa diajak berdebat, jadi kalau Ayahnya tidak ada, tentulah Arkan korbannya.
"Tetep Papa pemenangnya." Anjani mengeratkan pelukannya pada Mario. Rindu sebenarnya, tapi Anjani begitu gengsi mengucapkannya. Tapi Mario selalu tau kok apapun yang dirasakan oleh Anjani meskipun dia tidak mengatakannya.
.
.
.
Arkan duduk sembari menatap Anjani dan mengambil termometer yang sebelumnya dia jepit di mulut Anjani. Ternyata demamnya sudah turun.
"Berasa anak kecil," kesal Anjani.
"Memang anak kecil. Besok kamu jangan dulu sekolah, besok saya sudah harus masuk. Tidak apa-apa saya tinggal?" Tanya Arkan.
"Kenapa harus ke sekolah cepet-cepet?" Tanya Anjani.
"Karena kewajiban."
"Oh mau ketemu Bu Manda ya?" Ledek Anjani.
Anjani mengangguk, dia jadi ingat kejadian kemarin saat istirahat, iya selain karena Bagas dia memang kesal juga dengan Arkan tapi tidak ingin bilang.
"Kenapa jadi Manda?"
"Ya kemarin maksudnya apa tuh peluk-pelukan sama Bu Manda?" Kesal Anjani.
Arkan nampak berpikir, pelukan yang mana? Perasaan dia tidak pernah tuh memeluk wanita lain selain Anjani, apalagi posisinya di sekolah? "Kapan saya peluk Manda, tidak pernah."
"Kipin siyi pilik Mindi, tidik pirnih," ledek Anjani. Ya meskipun begitu ya dia ini kesal loh, pakai menyangkal segala.
"Anjani ... "
"Waktu istirahat, di deket ruangan kamu!"
Arkan menghela napas lalu mengangguk-nganggukan kepalanya pelan. Ternyata Anjani salah paham padanya. "Manda dari ruangan saya, saat dia keluar hampir pingsan karena belum sarapan. Jadi saya tangkap."
Anjani mendelik, lalu kalau Manda hampir pingsan memang harus kah Arkan memeluknya seperti itu? Kesal sekali, kan? Ya bukan cemburu tapi ya tidak suka saja.
__ADS_1
"Cemburu?"
"Gak, gak usah GR. Cuma gak suka aja kok guru peluk-pelukan di depan muridnya," balas Anjani cepat.
"Baik kalau tidak cemburu, lain kali kalau ada yang hampir pingsan lagi saya gendong depan kamu sepertinya menarik."
Anjani membulatkan matanya tak percaya dan menatap ke arah suaminya. "Maksudnya apaloh gendongnya depan aku, biar apa?"
"Katanya tidak cemburu?"
"Y-ya enggak! Tapi kan sekolah gitu!"
"Kan menolong?"
"Gak tau ah kesel! Gendong aja sana, sekalian jadi pembina PMR biar bisa bantuin cewek-cewek cantik pingsan!" Kesal Anjani.
Arkan terbahak, baru kali ini dia melihat Anjani uring-uringan seperti itu. Memang gengsinya saja yang setinggi langit, padahal kalau dia bilang cemburu Arkan akan berusaha menghindari hal-hal yang membuat Anjani kesal. Kalau begini malah ingin disengajakan untuk membuat Anjani kesal.
"Tidak suka wanita lain atau gadis manapun, saya hanya menyukai Anjaninya saya."
Anjani mengedikan bahunya sembari menahan senyum. Anjaninya saya katanya? Kenapa kata-kata itu terlihat manis di pendengarannya? Kenapa malah membuat Anjani jadi salah tingkah begini.
"Anjani?" Arkan mengangkup kedua pipi Anjani dan mengarahkan padanya.
"Apa sih, Pak!"
Cup ...
Arkan mengecup bibir Anjani dengan lembut. "Panggil saya, Mas! Sekali lagi panggil Pak saya akan cium lagi."
"Pak ... Pak ... Pak!" Sengaja Menang Anjani melakukannya agar membuat Arkan kesal.
Setelah itu Arkan memeluk Anjani lalu menciumi bibirnya berkali kali, membuat Anjani tertawa karena ya lucu saja. "Paakkkkk!!"
Membuat Arkan kembali mencium bibir gadis gemasnya itu. Lalu setelahnya dia menatap Anjani dari jarak yang begitu dekat. Hidung mereka menempel dan mereka saling bisa merasakan hembusan napas masing-masing.
"Oh rupanya kamu senang dicium?" Tanya Arkan.
"E-engga ... Suka aja jahilin kamu," cicit Anjani. Ditatap dari jarak dekat seperti ini memang siapa yang tidak grogi?
"Padahal kalau ingin meminta cium bisa setiap hari tanpa membuat saya kesal," lanjut Arkan.
"Engaaa .... "
__ADS_1
Arkan tersenyum melihat raut wajah Anjani yang nampak grogi. Dengan lembut kini dia mencium bibir Anjani lama, membuat Anjani merasa ada yang berbeda dari ciuman Arkan kali ini.
Dia tidak melakukan apa-apa tapi hangatnya sampai ke perasaan Anjani. "Astaga, apa aku udah mulai suka sama Pak Arkan ya?" Batin Anjani.