I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Gebetan Presma Kampus


__ADS_3


Puluhan bus sudah tertata rapi di sana. Seorang gadis mungil pul keluar dari mobil menggunakan kaos berwarna biru, topi berwarna putih dan juga celana jeans, tidak lupa juga dengan kemeja kotak-kotak yang dia sampaikan di pinggang.


Di sini sudah banyak orang, dengan memakai kaos warna-warni. Tentu acara ini per fakultas jadi mereka memiliki dresscode masing-masing.


"Kamu tidak usah jadi ikut ya?" Ucap Arkan.


"Mau ikut ya, Mass," ucap Anjani dengan manja.


Arkan menghela napas dan menarik pipi Anjani gemas. "Ya sudah tapi sampai di sana kabari saya, jangan matikan ponselnya jadi biar bisa saya hubungi dan tidak khawatir. Jangan telat makan, saya sudah suruh Mba memasukan cemilan sehat ke dalam tas kamu. Jangan makan sembarangan."


Anjani menghormat siap pada Arkan. "Siap bapak negara, semuanya sudah Anjani ingat-ingat dengan baik."


"Jangan dekat-dekat Saka dan pria yang lainnya," ucap Arkan.


"Engga, Mas. Lagian juga acaranya per fakultas, belum tentu juga ketemu Kak Saka."


Pucuk di cinta ulam pun tiba. Saka dari arah belakang datang menghampiri Anjani. Ternyata Saka memakai baju yang sama dengan Anjani, itu artinya mereka satu fakultas.


"Hai, Anjani, Kak Arkan," sapa Saka sembari menyalami Arkan.


Anjani tersenyum ngeri sih ke arah Arkan dan menatap Saka. "E-eh, Kak. Kakak mahasiswa psikologi?"


"Iya, dong. Ayok masuk ke bus. Udah mau berangkat," ajak Saka.


"O-oh gitu yaudah bentar." Meskipun ngeri dengan tatapan Arkan Anjani menyalami suaminya itu, lalu Arkan mencium kedua pipi Anjani dengan lembut dan terakhir di keningnya.


"Ingat pesan Mas tadi," ucap Arkan.


Anjani mengangguk dan melambaikan tangan pada Arkan. Anehnya Saka malah tersenyum melihat itu, karena mengira Anjani sangat dekat dengan kakaknya sampai cium pipi begitu.


"Saya bakalan jagain Anjani kok, Kak. Saya pamit," ucap Saka.


"Anjani bisa jaga dirinya sendiri, kok."


Saka hanya tersenyum kaku, galak sekali ternyata kakak Anjani, pikirnya. Tapi tidak masalah juga, memang seorang kakak pasti ingin menjaga adiknya dengan baik.


Saka biasa saja tapi Anjani yang tidak biasa saja. Dia rasanya seperti ketahuan selingkuh padahal tidak begitu. Belum lagi Saka kini menggandeng tangan Anjani, membuat Anjani berusaha melepaskannya namun Saka sepertinya tidak mengindahkan.


Arkan gemas sekali melihat itu, rahangnya mulai mengeras. Namun dia berusaha agar tidak emosi di sana. Sialan memang Saka, setelah selesai ospek ini akan dia beritahu padanya kalau Anjani adalah miliknya.


"Arkan, lu udah dewasa. Lu suaminya, dia hanya bocah ingusan," ucap Arkan pada dirinya sendiri.


Namun tetap saja saat dia sampai di dalam mobil Arkan tidak bisa menahan emosinya karena kesal pada Saka. "Arghht seharusnya tadi Anjani dilabeli dulu di keningnya kalau dia milik saya!"

__ADS_1


Niatnya ingin mengetahui seberapa berani Saka mendekati istrinya, sekarang dia malah panas dingin kan melihat keberanian lawannya itu. Tidak akan Arkan biarkan lagi, tidak akan!


Dari kejauhan sana Azzam dan Bagas nampak bergumam melihat kejadian itu.


"Gila Anjani diincar ketua BEM juga," gumam Azzam.


"Lebih berani lagi dia begitu di depan bang Arkan, ngeri," balas Bagas.


"Keren sih."


"Keren matamu, cari perkara dia sama bang Arkan," timpal Bagas.


"Semoga dia selamat dah, gak ikut-ikut."


Mereka berdua bergidik ngeri, pasalnya mereka sudah sama-sama tau seramnya Arkan bagaimana. Ini Saka malah nyelonong begitu. Tidak tau saja dia berurusan dengan siapa.


.


.


.


Karena memang dia dan Saka terlambat, mau tidak mau Anjani harus duduk di samping Saka. Dia memilih untuk di dekat jendela. Meskipun sebenarnya dia tidak nyaman harus duduk di sini.


Saka tersenyum melirik ke arah gadis yang ada di sampingnya. Dia memang sengaja tadi membuat yang lain masuk lebih dulu dan memanggil Anjani yang nampak sudah datang bersama Arkan agar bisa begini.


"Udah, kok," jawab Anjani yang membalasnya dengan sedikit senyum.


Kenapa dia jadi kepikiran Arkan ya? Ah tapi ya sudahlah. Toh ospek tinggal hari ini dan setelah itu dia akan terbebas dari Saka.


Perjalanan dari kampus ke puncak mungkin ada sekitar 3 jam, Anjani menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sementara Saka mengecek keadaan bus dan sesekali mengajak Anjani bicara.


"Mual?" Tanya Saka.


Anjani yang sedang minum susu kotak dan membaca novelnya kini menatap ke arah Saka. "Engga, aku bukan orang yang mabok gitu kok."


Saka mengangguk-anggukkan kepalanya, basa-basi saja sih. Karena Anjani tidak membuka suara. Aneh di saat orang ingin bicara dengannya, Anjani malah mengabaikannya. Tapi itulah yang membuat Saka nampak tertarik dengan gadis yang ada di sampingnya ini. Belum lagi wangi parfumnya membuat dia kecanduan.


Senior yang ada di sana nampak berbisik-bisik, belum lagi mahasiswa yang lain yang sesekali menatap ke arah mereka. Mereka meyakini kalau Anjani adalah gebetan dari presmanya. Sementara senior menatap Anjani tak suka karena mengira dia mendekati Saka.


Tapi Anjani tidak peduli sih, orang pada kenyataannya tidak begitu. Dia hanya perlu bersabar untuk dua hari ini agar bisa segera menjauh dari orang-orang tidak beradab ini.


.


.

__ADS_1


.


Sepanjang perjalanan Anjani disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Sama seperti saat Arkan dan dirinya akan ke Karimunjawa. Suasananya menyejukkan mata. Sesekali Anjani tersenyum karena merasa tenang. Sepertinya nanti kalau ada waktu luang dia akan meminta jalan-jalan pada Arkan.


"Suka banget sama pemandangannya?" Tanya Saka.


Anjani mengangguk. "Heem, bagus aja. Nenangin perasaan."


"Kalau saya yang nenangin perasaan kamu boleh?" Tanya Saka.


Anjani menatap ke arah Saka, namun sebelum dia bertanya ternyata bus ini sudah berhenti. "U-udah sampe, Kak."


Saka menghela napas, padahal tadi suasananya sudah mendukung sekali. Tapi sebagai Presma dia harus sigap dan turun dari bus untuk mengecek peserta dan beberapa urusannya.


Anjani bukannya bagaimana, hanya saja kenapa Saka seperti terang-terangan sih? Anjani jadi bingung. Daripada memikirkan Saka lebih baik Anjani turun saja.


"Ayok turun." Saka mengulurkan tangannya pada Anjani.


Jalanan di bawah cukup licin sih karena tanah yang becek, bisa-bisa dia jatuh. Tapi dia sadar kalau dia bukan gadis lagi dan mempunyai suami. Jadi alih-alih menerima uluran tangan Saka, Anjani malah berpegangan ke pintu bus. "Makasih, Kak. Aku bisa turun sendiri."


Setelah mengatakan itu Anjani tersenyum tipis dan berlari menuju teman-temannya yang sudah berkumpul di tanah lapang itu.


"Langka nih," gumam Saka, dia pun tersenyum dan langsung menyusul untuk mengecek semua peserta per fakultas.


"Shellaa!!" Panggil Anjani.


Shella pun melambaikan tangannya karena memang mereka beda bus meskipun satu fakultas, begitu juga dengan Dion. Akhirnya Anjani bisa terlepas dari saka dan bergabung bersama mereka.


"Cie tadi duduk sama Kak Saka," goda Shella.


"Kok tau?"


"Senior itu pada gosipin kamu tau, gosipin kalau kamu itu gebetannya Kak Saka sampai Kak Saka gak naik mobil demi duduk sama kamu," ucap Shella.


"Cocok tau kalian," kata Dion.


"Apasih, engga. Aku lagian gak suka sama Kak Saka. Kamu aja sama dia, aku sih gak mau," balas Anjani sembari mengedikan bahunya.


"Kenapa gak mau sih, dia tuh udah cakep, pinter, Presma, berwibawa, apa coba yang kurang? Kamu tuh dikejar lagi bukan ngejar," celetuk Shella.


"Oke-oke aku mau jujur sama kalian."


"Jujur apa?" Tanya Dion penasaran.


"Sebenernya itu aku udah punya su–"

__ADS_1


"SEMUANYA BERBARIS!!" Instruksi dari Saka membuat Anjani terpotong.


Ah sial memang, ya sudahlah. Nanti malam saja dia akui kepada Shella dan Dion kalau sebenarnya dia sudah menikah dengan Arkan.


__ADS_2