I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Memang Belum, Kok! Tapi Aku Akan Belajar!


__ADS_3


Selesai makan malam, Arkan menumpuk piring-piring kotor di atas meja. Sementara Bagas dan Andira sudah melipir ke ruang tengah untuk menonton atau bermain PS. Anjani yang masih duduk di kursinya menatap Arkan dengan keheranan. Padahal ada beberapa Mba di sini tapi Arkan yang melakukan pekerjaannya. Anjani semakin penasaran dengan pria yang berstatus suaminya itu.


"Kamu mau kemana?" Tanya Anjani yang kini melihat Arkan mengangkat.


"Cuci piring, ayok ikut!" Ajak Arkan pada Anjani.


Mendengar instruksi itu Anjani menurut, daripada dia bosan juga menunggu Arkan sambil melihat Bagas dan Andira. Lebih baik dia ikut. Arkan tersenyum seraya menaruh piring-piring itu di wastafel. Tapi kan tidak enak ya kalau Anjani istrinya tapi Arkan yang mengerjakan pekerjaan rumah, manja-manja begini Anjani juga paham kalau gadis yang sudah menikah harus mengerjakan tugasnya dengan baik. Termasuk pekerjaan rumah tangga.


"Sini aku aja!" Ucap Anjani inisiatif.


Arkan melirik Anjani dengan ragu, bukan apa-apa. Tapi Viona mertuanya pernah bilang, kalau Anjani memang selalu mengandalkan Mba di rumah, jadi dia belum bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan pada saat itu Arkan juga tidak masalah, karena mungkin setelah dewasa nanti Anjani akan belajar. "Kamu bisa cuci piring?"


"Gak bisa sih, tapi masa kamu yang cuci terus aku liatin aja?"


"Tidak apa-apa, saya sudah biasa juga. Kamu duduk manis saja dan tunggu saya. Itu cukup," imbuhnya.


"Gak, gak mau. Ajarin aku caranya gimana!" Tukuh Anjani.


Arkan menghela napas, tapi dia senang sih kalau Anjani mau belajar. Bukan kah bagus untuk kedepannya? "Kemari."


Dengan patuh Anjani menurut, perlahan dia berdiri di hadapan wastafel sembari memegang spons. "Ini langsung di gosok-gosok aja, kan?" Tanya Anjani.


Arkan menggeleng, setelah itu dia berdiri di belakang Anjani dan mengarahkan kedua tangan gadis itu. "Kesini, masukan dulu spons-nya ke sabun, lalu remas hingga berbusa. Setelah itu gosokan ke piring seperti ini."


Anjani membiarkan Arkan mengendalikan tangannya, jujur dia gugup sekali! Tapi Anjani juga memperhatikan kok, dia juga bukan orang yang banyak jijik, dia memperhatikan agar dia bisa.


Karena Anjani memang cepat tanggap, dia mempraktekannya sendiri. Namun posisi mereka tidak berubah, malah kini Arkan memeluknya dari belakang seraya memperhatikan Anjani mencuci piring. Ini lucu sekali menurut Arkan. Ada perasaan berbeda ketika mereka ada di posisi ini. Anjani juga nampak sedikit terlihat dewasa ternyata karena sudah bisa mencuci piring.


"Ini kamu gak ada niat buat menepi gitu? Harus banget pelukan kaya gini?" Tanya Anjani yang tidak berpaling dari aktifitasnya mencuci piring.

__ADS_1


"Kenapa? Bukannya remaja penuh imajinasi seperti kamu suka diperlakukan seperti ini? Seperti di film Korea yang selalu kamu tonton dan novel yang kamu baca, bukan?" Tanya Arkan berbalik.


"Ternyata aneh rasanya kalau aku yang ngalamin," ucap Anjani jujur.


"Memang kenapa?"


"Bikin mules!"


Arkan terkekeh mendengar ucapan Anjani, setelah itu dia menciumi tengkuk gadis itu. Wangi, satu kata yang bisa Arkan gambarkan saat melakukannya. "Kenapa bisa? Apa ada kupu-kupu di perut kamu?"


"Mas, kenapa sih hiperbola banget!" Protes Anjani.


"Hahahahaha, kenapa?" Arkan mengeratkan pelukannya pada Anjani dan kembali menciumi gadis itu. "Saya suka kamu, suka semua yang ada di kamu."


Sebuah senyuman terukir di sudut bibir Anjani. Kenapa ya dia mendadak suka setiap Arkan mengutarakan sesuatu padanya? "Oh jadi ini ya rasanya dibucinin orang dewasa?" Gumam Anjani dalam benaknya.


.


.


.


"Awww!! Bagas, sakit!!!" Ringis Anjani.


Bagas tak menghiraukannya, sampai akhirnya Bagas mengarahkan Anjani menghadap ke arahnya dengan kasar, membuat gadis itu kembali meringis kesakitan. "Akhhh, lepasin!!"


"Murahan!" Ungkap Bagas.


Anjani terdiam, maksudnya apa? Bahkan rasa sakit akibat cekalan dari pria itu tidak terasa sekarang akibat perkataannya. "Maksudnya?"


"Memang sebutan yang cocok untuk wanita yang baru putus lalu berciuman dengan pria lain apa selain itu?" Tanya Bagas yang semakin mengeratkan cekalannya pada Anjani.

__ADS_1


"Akhh sakit, Bagas!! Emangnya salah? Mas Arkan itu suami aku, kita menikah dan sah. Bukan selingkuh juga, kan? Bukannya kita udah berakhir?" Tanya Anjani yang tentu membuat Bagas semakin emosi.


"Jangan munafik, kamu sendiri pasti belum mencintai Bang Arkan, kan? Kamu cuma terpaksa, kan?!" Bentak Bagas seraya menarik Anjani untuk lebih dekat padanya. Sungguh, meskipun ini bukan pertama kali, tapi tetap saja rasanya sakit untuk Anjani.


"Akkhhh aku mohon, Gas lepasin dulu tanganku sakit!!" Anjani benar-benar memohon kali ini, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


Tanpa mereka sadari Arkan sudah ada di sana seraya menatap tajam ke arah Bagas yang dengan lancangnya melukai Anjani. Arkan mendekat dan terus menatap Bagas, sebenarnya ditatap seperti itu saja mampu membuat Bagas terintimidasi, tapi entah kenapa dia belum mau melepaskan cekalannya pada Anjani.


Dengan begitu Arkan menggenggam lengan Anjani lalu menariknya mundur dan mendekap gadis itu dengan pelukan terbaiknya. Arkan tidak peduli dengan tanggapan Bagas, yang jelas dia mengambil alih sesuatu yang dia ketahui adalah miliknya. Yang harus sadar diri di sini Bagas, bukan?"


"Jangan kurang ajar! Saya suaminya saja tidak pernah melakukan ini padanya, kamu siapa?!" Ucap Arkan yang terdengar berat, karena menahan emosi. Jelas dia emosi, memang siapa yang mengizinkan Bagas untuk menyakiti istrinya.


Bagas seolah tidak mendengar, dia terus menatap Anjani dengan tajam. Di sini dialah yang pertama kali memiliki Anjani dan sampai kemarin Arkan datang untuk mengambil Anjani dari sisinya. Mungkin dia terlihat biasa saja saat bersama Andira, tapi saat melihat Anjani bersama Arkan dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia cemburu.


"Kamu tidak mencintai pria ini kan Anjani?" Tanya Bagas dengan suara lembut namun dalam. Tangannya menunjuk tepat di wajah Arkan, tidak peduli ini sopan atau tidak.


Anjani merasa kalau dia tidak boleh lemah, dengan cepat dia menyeka air matanya dan keluar dari dekapan Arkan. Matanya menatap tepat pada manik mata Bagas seolah dia tidak memiliki rasa takut dengan pria yang pernah dia cintai di masa lalu itu.


"Iya memang belum kok. Aku memang belum mencintai Mas Arkan tapi aku akan belajar!" Jawabnya lugas.


"Anjani ... "


"Kalau kamu lupa, aku cepat belajar dalam hal apapun. Kalau matematika yang rumit saja bisa aku pahami apalagi pria yang jelas-jelas mencintai aku, pria yang belum aku kenal lama tapi lebih memperlakukan aku dengan baik, pria yang jauh lebih dewasa saat ada masalah dan pria yang memahami aku lebih daripada diri aku sendiri!"


"Jangan bercanda!"


"Aku gak bercanda, bahkan nanti kami akan punya anak! Lihat saja!"


Bagas dan Arkan tertegun mendengar perkataan gadis itu. Seserius itu kah Anjani, atau hanya ingin terlihat keren saja di mata Bagas yang menyakitinya? Namun Arkan mengangguk-nganggukan kepalanya, setidaknya Anjani berani menghadapi masalahnya.


Setelah bicara seperti itu Anjani langsung menggandeng Arkan untuk masuk ke dalam. Namun sebelum mereka benar-benar masuk, Arkan menghentikan langkahnya di hadapan Bagas. "Sekali lagi kamu menyakiti istri saya, bukan hanya kehilangan Anjani yang akan kamu rasakan, tapi juga Andira!"

__ADS_1


Bagas terdiam, dia hanya bisa menatap punggung mereka berdua yang perlahan menjauh. Emosinya kembali naik, hingga pada akhirnya pohon yang ada di sana menjadi sasarannya.


__ADS_2