I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Bayi Kecil Cantik


__ADS_3


Arkan menatap putrinya yang masih dibersihkan oleh dokter, tidak lupa juga mereka memberikan perawatan terbaik, dari mulai pengecekan berat, tinggi, suhu dan beberapa tes alergi lainnya. Entah apa yang ada dalam pikiran Arkan. Tapi melihat putrinya lahir dengan sehat, dia merasa sangat bahagia.


Kaki tangan yang mungil, hidung yang mancung, bibir kecil milik Anjani pun melekat pada putrinya. Sangat cantik. Anjani memang tadi meminta Arkan untuk melihat putrinya, karena tiba-tiba saja dia mengantuk. Dokter juga bilang kalau itu sangat wajar, karena ada obat yang di suntikkan dan itu efeknya berbeda pada setiap pasien.


"Anak saya tidak kurang apapun kan, Dok?" Tanya Arkan pada salah satu perawat.


"Alhamdulillah berat badan dan tingginya normal, tidak ada kecacatan maupun alergi, anak bapak sehat-sehat saja dan cantik," ucapnya dengan senyum.


"Alhamdulillah, berarti setelah ini boleh langsung di bawa ke ruang rawat bersama Ibunya?" Tanya Arkan lagi.


"Sudah bisa, Pak. Tunggu Ibu Anjani selesai dibersihkan dan nanti anaknya bisa di bawa ke ruang rawat untuk langsung disusui pertama kali," jelas perawat itu.


Arkan mengangguk paham. Setelah mendengarkan penjelasan suster Arkan mendekat ke arah bayi kecil yang masih nampak menatap ke arahnya. Ada perasaan di mana dia jatuh cinta pada anaknya sendiri sejak pandangan pertama.


Dengan lembut Arkan mengusap pipi bayi yang belum diberi nama itu dengan ujung telunjuknya. "Cantik, ini Ayah."


Arkan sedikit menundukkan kepalanya dan mencium pelan kening dan bibir si bayi yang nampak bertanya-tanya dengan apa yang ayahnya lakukan saat ini.


Ahh tidak bisa ini, Anjani saja sudah meresahkan. Sekarang ada lagi orang yang memporak-porandakan hatinya hanya karena ditatap seperti itu. Arkan salah tingkah sendiri. Mulai sekarang ada tiga wanita dalam hidupnya dan si kecil ini paling mencuri hatinya.


Arkan semakin mendekat dan memposisikan bibirnya di telinga sang bayi. Pertama dia mengumandangkan adzan di telinga kanan anaknya, lalu membacakan iqamah di telinga kiri. Perasaannya membuncah, ternyata rasanya menjadi ayah sangat menyenangkan. Apalagi wajah tenang anaknya saat Arkan mengumandangkan adzan dengan indahnya.


Mungkin bukan hanya Arkan saja yang terpesona dengan anaknya, tapi anaknya juga. Suara adzan yang berkumandang di telinganya membuat bayi itu terlihat sedikit melengkungkan bibirnya meskipun dia belum paham.


"Setelah ini kita bertemu mama, jadi anak yang sholehah, pintar, baik dan lembut hatinya ya, Nak. Ayah akan berusaha yang terbaik untuk anak cantik ayah ini." Arkan tersenyum sendiri, bayi itu memang tampak belum mengerti, tapi dia memperhatikan Arkan seolah menurut dengan ucapan sang ayah. Bagaimana tidak gemas coba?


Tak berselang beberapa lama Viona dan Mario datang dan memasuki ruangan itu. Tadi suster mengarahkan mereka ke sini, karena Anjani masih di tangani. Saat mengetahui Anjani melahirkan mereka tanpa mandi dan berpikir panjang langsung datang ke sini. "Gioo ... "


"Ma .. Pa." Melihat itu Gio tersenyum dan menyalami mereka. Namun nampaknya bukan Arkan saja yang terpesona dengan kecantikan bayi kecil itu, tapi juga Kakek dan neneknya.

__ADS_1


"Subhanallah, cantik sekali, Nak." Viona mendekat ke arah bayi kecil yang masih di letakan di atas kasur penanganan.


Semakin bingung sepertinya si bayi karena mendengar beberapa suara yang ada di dekatnya. Sesekali dia nampak membuka mulutnya seperti bayi yang sedang lapar. Ah gemas sekali.


"Mas cucu kita," ucap Viona yang kini mengusap pipi kecilnya itu.


"Mirip Anjani sewaktu kecil ya, Ma. Hanya saja hidung dan matanya mirip ayahnya," ucap Mario.


Arkan terkekeh, memang begitu. Mata dan hidungnya sangat mirip dengannya, sementara bibir dan dagunya seperti Anjani. Perpaduan yang sangat pas. Tidak heran memang, Arkan tampan dan Anjani juga cantik.


"Sudah diadzankan?" Tanya Mario.


Arkan menganggukkan kepalanya, membuat Mario tersenyum mendengarnya. Tidak heran sih kalau Arkan tidak perlu diingatkan, karena memang dia sudah dewasa. Itulah enaknya memiliki menantu yang sudah mapan, Mario tidak perlu susah payah untuk membimbingnya, karena dia sudah memahaminya.


.


.


.


Dia masuk sembari membawa putrinya yang masih tertidur, membuat Anjani melengkungkan senyumnya. "Mas ... "


Mendengar itu Arkan mendekat ke arah Anjani dan duduk di sampingnya. "Kenapa, Sayang? Sakit?" Tanya Arkan khawatir karena melihat air mata di sudut mata Anjani.


Anjani menggeleng, membuat Arkan menghapus air mata itu dengan jempolnya. "Lalu kenapa, ada yang kamu butuhkan?"


"Anak kita cantik."


"Hmm cantik seperti mamanya, kamu senang?" Tanya Arkan.


Anjani menganggukkan kepalanya. Ternyata Arkan benar, ada kenikmatan tersendiri saat dia menjadi seorang ibu. Semua rasa takut, sakit, gelisah, berubah seketika menjadi perasaan bahagia yang tidak dapat dia definisikan. Dia teramat senang sampai tadi dia lupa segalanya dan membiarkan dokter melakukan pekerjaannya dengan baik.

__ADS_1


"Aku seneng, anak kita sehat kan, Mas? Jarinya lima kan? 10 karena sepasang. Tangannya gak ada yang jinjet kan? Kakinya sempurna? Matanya gimana?" Tanya Anjani. Katakan saja konyol, tapi Anjani memang hanya ingin mengetahui keadaan anaknya sehat atau tidak.


Setiap ibu pasti menginginkan anaknya sempurna, baik-baik saja dan tidak kurang satu apapun. Itu yang Anjani rasakan saat ini. Dia ingin tau karena Arkan yang ikut bersama suster.


Arkan terkekeh lalu mengusap puncak kepala Anjani. "Anak kita sehat, tanpa kurang satu apapun. Matanya mirip saya, hidungnya juga. Seperti apa yang kamu mau. Bibirnya manis seperti kamu, begitu juga dagunya. Tidak ada anak yang secantik anak kita."


Anjani jadi ikut tersenyum mendengarnya, dia belum boleh bergerak minimalnya 8 jam, jadi dia belum melihat pasti bagaimana wajah putrinya, tapi dia sudah terbayang dari cerita Arkan kalau anak mereka secantik itu. "Cantik banget?"


"Cantik sekali, bahkan membuat ayahnya jatuh cinta. Kamu ada saingan sekarang," Kata Arkan sembari mencolek hidung Anjani dengan telunjuknya.


"Kamu harus jatuh cinta sama anak kita emang, kamu harus jadi cinta pertamanya anak kita. Aku mau nanti dia dekat sama ayahnya kaya aku sama papa. Aku mau kalian kompak ya?" Pinta Anjani.


"Tentu, saat dia berkencan nanti setelah dewasa pun saya harus ikut," balas Arkan.


Anjani tertawa meskipun dia menangis karena terharu juga sih. "Jangan ihhh kasian nanti anak kita gak bisa pacaran."


"Tidak boleh, Sayang. Milik Ayahnya, nanti saja setelah dia cukup umur baru saya izinkan." Arkan mengecupi tangan Anjani dengan lembut. Anjani sangat ketakutan tadi tapi sekarang dia terlihat sangat bahagia. Arkan juga jadi merasa sangat bahagia.


"Mass ... "


"Iya, Sayang?"


"Aku gak tau gimana caranya jadi ibu yang baik, ajarin aku ya?" Ucap Anjani.


"Kita belajar sama-sama. Saya belajar dan kamu juga belajar, agar kita bisa menjadi orang tua yang kompak untuknya ya?"


Anjani mengangguk, setelah itu Arkan berdiri dan menciumi wajah Anjani tanpa terlewat sedikit pun. Sebagai penutup Arkan mencium bibir Anjani dengan lembut. "Terima kasih ibu dari anak saya, terima kasih karena sudah berjuang. Terima kasih karena telah melahirkan anak saya dengan selamat. Kamu hebat. Saya menyayangi kamu, sangat sayang, Anjani."


"Aku juga sayang sama kamu, makasih karena kamu selalu di samping aku ya, Mas. Aku bersyukur karena suami aku itu kamu." Meskipun nampak lemas Anjani tersenyum manis sekali sekarang.


Memang dia ibu yang hebat.

__ADS_1


__ADS_2