
Anjani mencoba mendudukkan dirinya di ranjang, tentu Arkan menantunya, selain menaikan tinggi ranjangnya, dia juga membantu menopang tubuh anjani agar dia nyaman untuk belajar duduk dan berjalan.
"Jangan dipaksakan kalau sakit," ucap Arkan perhatian.
Anjani menggeleng memang terasa ngilu sih, tapi dia masih mampu kok kalau untuk mencoba menggerakkan tubuhnya sedikit demi sedikit. Jadi karena Anjani yang memaksa dan keras kepala, Arkan pun mengiyakan.
"Memang mau apa duduk? Kamu sama-sama harus banyak istirahat," kata Arkan.
"Pegel, Mas. Aku gak biasa tiduran lama-lama kaya gitu, apalagi aku gak bisa tidur," balas Anjani.
"Jadi maunya bagaimana hm?" Tanya Arkan seraya mengusap punggung tangan Anjani.
"Mau gini aja."
"Mau makan?" Tanya Arkan.
Anjani menggeleng, ya sudah kalau dia belum mau apa-apa, Arkan memutuskan untuk membuatkan susu formula untuk putrinya. Dia sudah belajar tadi, karena memang dokter mengatakan kalau anaknya harus diberi susu 2 jam sekali. Anjani yang melihat itu langsung menarik lengan Arkan. "Mas mau bikin susu buat Arsyla ya?"
Arkan mengangguk, namun pandangannya kini fokus menatap Anjani meskipun tanpa bicara. Anjani melarangnya. "Jangan, aku mau cobain kasih ASI ke anak aku."
"Sayang, tubuh kamu masih lemas nanti–"
"Mass, boleh ya? Aku mau nantinya Arsy selalu deket sama aku. Aku mau penuhin hak dia juga sebagai anak, walaupun aku juga gak bisa sih sebenernya. Tapi boleh, ya?" Pinta Anjani.
Sebenarnya bukan apa-apa, Arkan merasa kalau Anjani memang harus istirahat total. Ini pengalaman pertamanya menemani Anjani melahirkan, menjadi seorang ayah dan tentunya dia masih banyak kekhawatiran. Dia tidak mau Anjani kesakitan, atau dia terlalu lelah. Tapi kalau Anjani sudah keras kepala ya sudah, dia mengangguk.
Anjani melihat itu pun senang. Moment seperti ini nih yang dia tunggu-tunggu. Akan lengkap rasanya ketika dia melahirkan, menjadi seorang ibu yang bisa memenuhi hak anak-anaknya. Dengan perlahan, Arkan mendekat ke arah baby box dan menggendong Arsyla yang nampak sedikit merengek karena lapar.
"Ututu anak Mama lapar ya, sini sama Mama." Anjani mengulurkan kedua tangannya membuat Arkan terkekeh karena gemas. Aduh Anjani memang kalau dilihat-lihat masih terlalu kecil untuk mempunyai anak.
"Buka dulu kancing bajunya," ucap Arkan seraya berusaha menenangkan putrinya.
__ADS_1
"Kamu gila, Mas. Ngapain?!" Tanya Anjani kaget. Ya ini rumah sakit dan Arkan memintanya membuka bajunya.
Arkan menghela napas. "Pikiran kamu jangan ngaco, saya–"
"Apaa?? Ini rumah sakit kamu mau aku buka baju, mau ngapain? Kamu mau itu?" Tanya Anjani tak percaya.
Aduh bagaimana ini menjelaskannya, jelas bukan begitu maksud Arkan. Tapi kan memang melakukannya begitu. Harus dibuka dahulu, kan? Dia belum pernah melihat orang menyusui, tapi kalau secara teorinya kan begitu. "Kalau kamu mau menyusui anak kita kan begitu."
Wajah Anjani memerah, dia reflek memejamkan matanya karena malu. Pikirannya sudah kemana-mana tadi. Ya lagian Arkan tidak spesifik, main buka-buka aja. "Kamu sih gak bilang!"
"Marah-marah saja, mamanya. Ayok cepat."
"Bentar malu!"
"Kenapa juga harus malu, sudah ada Arsy berarti saya pernah menikmati semuanya, pernah melihat semuanya," kata Arkan lempeng.
"Ya malu aja!" Bagaimana menjelaskannya pada Arkan ini kalau dia malu. Tapi karena memang prosedurnya seperti itu Anjani mengikuti arahan Arkan dan menaikan sebelah bra-nya.
Melihat itu Arkan mengulum tawanya, jangan tanya kenapa. Ya karena lucu saja, istri kecil ya sudah sangat dewasa sekarang. Dengan perlahan Arkan memposisikan anak mereka di pangkuan Anjani. Setelah itu dia duduk di samping Anjani dan membantu menopang tubuh anaknya karena Anjani masih sangat kaku.
"Mas kenapa Arsy gak mau?" Tanya Anjani.
Arkan paham sebenarnya, ya memang kan rasa asi dan susu formula itu pasti tidak sama, jadi anaknya pasti merasa aneh. Tapi itu membuat Anjani panik apalagi kini Arsy sudah merengek.
"Mas kayanya dia gak suka ASI deh." Wajah Anjani mulai berubah, ini memang yang dia takutkan. Apalagi dia membaca kalau ibu hamil yang melahirkan sesar itu akan sedikit mengalami keterlambatan dalam menyusun anaknya.
"Coba lagi, Sayang. Arsy itu belum terbiasa, coba lagi ya?" Ucap Arkan menenangkan sembari mengusap punggung Anjani dan tetap menopang tubuh anaknya.
Anjani mencoba kembali, namun memang sepertinya Arsy tidak mau meminumnya. Serius Anjani merasa ditolak kehadirannya oleh anak sendiri. Begitu rasanya. Itu kenapa dia menangis sekarang melihat anaknya tidak mau minum susu dan malah semakin menangis
"Sayang kenapa? Jangan menyerah begitu, Arsyla pasti mau kok."
"Tapi dia udah nangis, kamu buatin aja susu formula. Aku gapapa, dia gak mau sama aku, Masss."
__ADS_1
Arkan menggeleng dan berusaha menenangkan Anjani. Sekarang tugasnya bertambah, menenangkan Anjani dan juga anaknya. Dia juga bingung. Tapi tidak salah kalau Anjani merasa ditolak atau sedih. Karena moment ini yang paling dia tunggu selama ini.
Dengan lembut Arkan mengusap kepala putrinya sembari mengecupi kening dan hidungnya. "Heyy, anak cantik. Ingat kan kata ayah kamu menjadi anak yang baik. Jangan begitu, Sayang. Mamanya sedih."
"Minum susunya ya, Sayang. Anak Ayah kan pintar, mau tumbuh menjadi dewasa itu harus minum susu yang banyak."
"Mas kasian Arsynya, buatin susu aja," ucap Anjani lirih, dia nampak pasrah, akan lebih egois kalau dia membuat anaknya kelaparan.
Mendengar itu Arkan mengadahkan wajah dan menatap Anjani. "Coba sekali lagi, ya? Setelah itu kalau masih tidak mau saya buatkan susu."
"Tapi, Mas anaknya udah nangis kasian."
"Sekali lagi." Arkan berusaha meyakinkan Anjani.
Melihat itu Anjani menghela napas, tidak tau harus bagaimana namun kalau dia bertahan egois akan semakin lama. Jadi Anjani kembali mencobanya.
Arkan juga membantu prosesnya dengan mengusap puncak kepala anaknya. Awalnya dia masih menolak, membuat Anjani langsung menatap suaminya. Tapi Arkan mengangguk seolah ingin Anjani mencoba lagi. Lalu pada akhirnya ternyata Arsy melahap pucuk dada berisi air susu itu dan menghisapnya dengan lahap.
Melihat itu Anjani tersenyum, tapi sekaligus dia meringis. Ternyata sakit ya rasanya menyusui bayi, tapi entah kenapa dia menangis bahagia karena anaknya minum dengan lahap.
"Sakit?" Tanya Arkan yang tidak tega melihat Anjani meringis.
Anjani mengangguk pelan. "S-sedikit sshh ... Mass. Kok perih ya?"
"Kalau begitu jangan dilanjut, mau saya panggilkan dokter?" Tanya Arkan.
"Gak usah, Mass biar."
Anjani berusaha menahan itu semua, karena memang dia ingin Arsy terpenuhi asupannya. Jadi Anjani berusaha menyesuaikan diri. Mungkin ini karena baru pertama kali dia menyusui anak jadi sakit begini.
Beruntungnya Arkan selalu ada di sampingnya, bahkan dia tidak melepaskan tangannya yang ikut menopang si bayi, dia tetap bersama Anjani dan itu yang membuat Anjani merasa kalau dia tidak boleh menye-menye.
"Kalau sakit sekali sudah saja ya?"
__ADS_1
"Engga, sampai Arsy kenyang baru udah. Akhhh–" Anjani memejamkan matanya erat, ternyata ini ya menjadi seorang ibu. Perjuangannya berat ternyata dan Anjani menyadari kalau selama ini banyak bersalah dengan ibunya.
"Kalau begitu tahan ya? Terima kasih karena telah memberikan apapun untuk anak kita, Anjani. Kita belajar sama-sama untuk kedepannya ya? Belajar menjadi orang tua." Arkan tersenyum lalu mengecup pipi Anjani, setelah itu dia kembali fokus menatap putrinya yang sedang lahap sekali menikmati susu yang mengalir di sana.