
Setelah selesai dari kampus, Anjani hari ini memilih pulang ke rumah Mama mertuanya. Karena memang dia juga banyak tugas dan buku juga tidak dia bawa kemarin.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, menampilkan notifikasi panggilan dari suaminya. Langsung saja Anjani buru-buru mengangkatnya. "Halo, Mas?"
"Halo, Sayang. Sudah sampai di rumah?" Tanya Arkan dari seberang sana. Tadi Anjani mengabari kalau dia akan pulang ke rumah mereka, jadi memastikan keselamatan Anjani adalah hal utama.
"Udah, ini aku baru duduk. Lagi rebahan di sofa, cape banget," adu Anjani.
"Istirahat, jangan lupa makan dan minum susunya. Bilang sama anak saya, jagain mamanya," ucap Arkan.
"Huum, tapi bayi katanya kangen ayahnya. Ayahnya lagi di mana?" Tanya Anjani sembari mengusap perutnya dengan lembut.
"Saya sedang menuju bandara, sabar ya? Nanti ayah cepat pulang, Sayang."
Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun Arkan tidak melihat juga sih, bersamaan dengan itu air matanya mengalir. Untung saja Arkan tidak bisa melihatnya. "Yaudah hati-hati ya, Mas. Kalau udah sampai Jakarta bilang ya?"
"Iya siap, Sayang. Yasudah nanti saya kabari lagi. I love you," ucap Arkan dari seberang sana.
"I love you more."
Anjani menaruh ponselnya ke sembarang arah. Tuh kan dia merasa cengeng sekarang. Padahal sudah jelas kalau Arkan bekerja dan akan kembali lagi Minggu depan. Tapi dia rasanya tidak mau kalau ditinggalkan oleh Arkan begini.
Hera yang hendak ke dapur, kini menatap ke arah menantunya yang sedang menghapus air mata dan mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Sayang ... "
Hera yang sedikit khawatir langsung duduk di samping Anjani dan membawa Anjani ke dalam pelukan terhangatnya. "Kenapa, Sayang? Berantem sama Gio? Gio apain kamu? Atau ada yang jahatin di kampus?"
Anjani membalas pelukan mama mertuanya itu seraya mengeratkannya. "Gak tau, Ma. Cuma gak mau ditinggal sama Mas Arkan aja. Tapi mas Arkan juga kan harus kerja."
Mendengar itu Hera tersenyum, wajar sih. Selama menikah Arkan belum pernah meninggalkan Anjani sampai berhari-hari. Jangankan berhari-hari, kalau lembur pun dia ingin cepat-cepat pulang karena tidak mau istrinya menunggu.
"Wajar kok begitu, tapi jangan terlalu dipikirkan ya, Sayang? Nanti Gio akan cepat pulang. Setelah itu kalian bersama-sama lagi," kata Hera mencoba menenangkan menantunya.
Anjani tidak tau harus membalas apa, meskipun sudah diceramahi oleh banyak orang tetap saja dia merasa sedih. Tiba-tiba saja menangis begitu. Anjani juga tidak tau kenapa sulit sekali mengatur mood dan emosinya.
__ADS_1
"Kasian anak Mama, jangan menangis. Kalau lama biar Mama jewer kuping suami kamu sampai merah. Dia harus cepat pulang karena istrinya sedang hamil, anaknya juga pasti merindukannya."
"Jewer mas Arkan kalau gak pulang-pulang ya, Ma?" Pinta Anjani.
Hera mengangguk dan menghapus air mata putrinya dengan penuh kasih sayang. "Iya, sudah jangan menangis lagi. Lebih baik sekarang kamu bersih-bersih setelah itu turun ke bawa dan kita makan siang."
.
.
.
Anjani mondar mandi mengecek ponsel sambil meminum susu. Bahkan Hera juga sampai pusing melihat Anjani yang tidak bisa berhenti gelisah.
"Sayang, nanti Gio kabari. Ayok kamu jangan begitu nanti bisa stress loh, peringat Hera."
Anjani menghela napasnya, benar sih tapi dia tidak bisa tenang sebelum ada kabar dari Arkan. Ini serius deh Anjani sepertinya bukan orang yang bisa melakukan hubungan jarak jauh, dia selalu ingin dikabari setiap saat.
Melihat itu juga Hera tidak bisa apa-apa selain menenangkan menantunya dan berusaha memberikan afirmasi positif agar Anjani tidak stress.
Lama, menunggu keberangkatan lama karena delay, sampainya pun lama. Jadi karena kepalang frustasi jadi dia memilih untuk menyibukkan dirinya sendiri.
Breaking News : Pesawat Anam Air 578 dengan rute Surabaya – Jakarta. Dikabarkan jatuh pukul 1 dini hari. Pesawat jatuh di perairan laut Jawa dengan membawa 102 penumpang.
Degh ...
"Mas Arkan ... " Anjani yang tadinya sedang fokus mengetik tiba-tiba saja panik. Dia mencari beberapa saluran televisi berbeda dan mencari berita serupa. Beberapa kali dia mencoba memastikan nama pesawat dan juga rutenya. Dia berusaha berpikir positif.
Tangannya gemetar, air matanya sudah mengalir deras sekarang. Anjani langsung mencari ponselnya dan menghubungi Arkan namun ponselnya tidak aktif.
"MAAAAAA!!" Teriak Anjani histeris.
Hera dan Abdi yang semula sedang mengobrol di kamar kaget mendengar suara teriakan Anjani, lebih kaget lagi saat melihat kabar di televisi tentang jatuhnya pesawat yang Arkan tumpangi.
"Maaa, Mas Arkan. Maaaa Mas Arkan ada di sana. Mas Arkan–"
__ADS_1
Tubuh Hera melemas, bagaimana ini bisa terjadi? Dia langsung memeluk Anjani dan kini mereka sama-sama histeris. Apalagi Anjani yang tangisannya semakin pecah membuat Hera semaki kacau.
Abdi yang melihat itu berusaha menenangkan dirinya, dia berusaha mencari info untuk memastikan semuanya. Meskipun tak bisa dipungkiri kalau dia juga panik saat ini.
"Mamaa Mas Arkan, Maaaa Anjani gak mau ditinggalin Mas Arkan." Dadanya terasa sesak bisa Hera rasakan kalau Anjani begitu down sekarang. Sama seperti dirinya.
"Tenang, Sayang. Gio pasti baik-baik saja, Gio pasti akan pulang. Gio–" Hera tidak dapat melanjutkan perkataannya hati ibu mana yang tidak sakit melihat ini.
Putranya tidak ada kabar dan menantunya down. Bagaimana dia bisa berusaha tegar. Bahkan dia memeluk Anjani erat sambil terisak begitu perihnya.
"Maa, Mas Arkan–" Tiba-tiba tubuh Anjani melemas. Namun di saat bersamaan Vanya dan Bagas datang lalu membantu Hera menopang Anjani yang sekarang pingsan.
"Mbaa kenapa?" Tanya Vanya panik.
"Gio ... Gio Vanya ... " Hera menunjuk televisi yang menampilkan kecelakaan pesawat. Membuat Vanya juga melemas. Bagaimana ini.
Vanya mencoba menenangkan Hera sementara Bagas menggendong Anjani dan membaringkannya di sofa. Anjani pasti down sekali melihat ini semua.
Para pengawal dan body guard juga berdatangan, mereka saling memberikan informasi yang mereka dapat meskipun sedikit demi sedikit. Astaga rumah ini sudah begitu kacau sekarang karena isak tangis dan kekhawatiran penghuninya.
"Anjani bangun ... Anjani bangunn. " Bagas menepuk-nepuk pipi Anjani dan memberikannya minyak angin.
Untuk beberapa saat Anjani masih belum sadar, namun sepersekian menit berikutnya Anjani pun membuka matanya. "Mas Arkan ... Bagas Mas Arkan mana?!!"
"Gas!!" Anjani bangun dari posisinya. Bagas juga tidak tau harus memberikan jawaban apa. Dia juga belum mengetahui apa-apa sekarang, mereka baru datang dan masih mencoba mencerna ini semua.
"Bagaimana bisa?! Biar saya urus sendiri!" Terdengar suara Abdi yang menginstruksi mereka menatap ke arahnya. Abdi yang sudah tidak tenang akan memastikan sendiri keberadaan putranya dan pergi ke bandara.
"Mass aku ikut!" Hera yang melihat suaminya ingin pergi juga tidak bisa tenang hanya dengan menunggu di sini.
Anjani berdiri dan menyusul ibu mertuanya. Pada akhirnya mereka yang melihat itu pun juga ingin ikut pergi ke bandara dan memastikan semuanya dan berharap semuanya baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan Anjani terus menangis sembari mengusap perutnya, dia berharap kalau tidak terjadi hal buruk pada suaminya. Dia berharap kalau Arkan selamat dan pulang tanpa kekurangan apapun.
"Mass kamu harus baik-baik aja, anak kita butuh kamu. Aku butuh kamu, Mass. Aku gak mau ditinggalin kamu aku gak akan pernah siap," batin Anjani. Entahlah pikirannya kacau sekarang, yang dia harapkan saat ini hanya keselamatan suaminya.
__ADS_1