I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Menjadi Pusat Perhatian


__ADS_3


Sepanjang perjalanan pulang, bahkan setelah dia sampai di rumah, Anjani masih saja senyum-senyum sendiri. Mengingat bagaimana wajah Dery yang pucat pasi, lalu betapa gentle-nya Arkan saat memperkenalkan dirinya sebagai suami Anjani.


“Kenapa senyum-senyum terus? Seneng ada yang naksir?” Tanya Arkan sewot. Arkan yang sudah berkaos oblong putih dan baru selesai mandi itu ikut bergabung dengan Anjani di atas ranjang.


“Apaan sih, Mas? Aku tuh ketawa karena lihat wajah Kak Saka tadi,” jawab Anjani.


“Kaget dia, dikiranya Mas Arkan kakak aku. Taunya pas Mas bilang suami aku wajahnya langsung pucat gitu hahahaha.”


"Tapi saya heran kenapa dia bisa mengira saya Kakak kamu. Memang saya setua itu ya? Bahkan saat tadi saya turun ada yang memanggil saya Om."


"Kan emang om-om, salahnya dimana coba?" Tanya Anjani tanpa ada rasa berdosa.


“Kamu!” Arkan memekik gemas.


Kemudian, dia menyerang pinggang Anjani, menggelitik hingga gadis itu kelojotan dan berteriak minta ampun. Mereka tertawa terbahak-bahak, napasnya pun terengah-engah. Ketika mereka sama-sama sudah lelah, Arkan melepaskan tangannya dari perut Anjani, lalu berpindah ke atas kepala sang istri untuk menahan beban tubuhnya.


Tangan Anjani terulur untuk menyentuh wajah Arkan yang berada di atasnya. Dia mulai menyusuri kening, mata, hidung, hingga bibir. “Nggak ketemu semalem aja kenapa rasanya kangen banget ya, Mas?” Tanya Anjani.


“Saya kira, hanya saya saja yang rindu. Saya rindu sekali.” Arkan kini mengecupi bibir Anjani. Rasanya dia ingin mengurung Anjani semalaman hanya untuk menuntaskan rindunya pada istri kecilnya itu.


Kepala Anjani menggeleng-geleng. “Aku kangennya dua kali lipat. Lebih banyak kangennya aku. Kangen banget tau.” Anjani mengalungkan tangannya di leher Arkan dan mengecup bibir Arkan lama. Dia tidak bohong, dia bahkan rasanya ingin cepat pulang tadi karena tak sabar ingin bertemu Arkan.


Anjani juga heran kenapa begitu, tapi memang jauh dari Arkan membuatnya merasakan kehilangan. Ada sesuatu yang kurang jika melewati hari tanpa suaminya sekarang dan Arkan harus tau itu.


“Ini bukan alasan supaya saya tidak minta penjelasan tentang Saka tadi, kan?”


Arkan merebahkan tubuh ke samping Anjani, lalu dengan secepat kilat kepala sang istri sudah nangkring di lengannya seolah tidak mau jauh dari Arkan. Anjani memeluk Arkan dan bersandar di dadanya seolah sedang mengisi energinya yang terkuras habis hari ini. Membuat Arkan kini menatapnya dan merapikan helaian rambut Anjani. “Jadi bagaimana?”


“Jadi, di permainan itu kak Saka tanya apa aku udah punya pacar atau belum. Terus ... ”


Anjani pun mulai bercerita tentang kejadian saat di acara malam akrab. Bagaimana saat Sama terang-terangan mengikuti Anjani hingga ke sungai, lalu dilanjutkan dengan unjuk bakat dan permainan truth or dare. Tidak ada yang Anjani sembunyikan, dia bercerita sangat detail, takut-takut jika suatu saat ada kesalahpahaman.


“Saya sudah menyangka hal kaya gini bakalan terjadi.” Arkan mendengkus pelan.


“Tapi saya bangga karena kamu bisa tegas pada dia. Thank you so much. Saya sangat mencintai kamu, Anjani.”


Anjani terkikik geli ketika Arkan mulai melingkarkan kaki di atas tubuh Anjani, seolah gadis itu adalah guling yang paling empuk sedunia. Dan Anjani pun tak pernah keberatan karena pelukan Arkan adalah pengantar tidur yang selalu dia rindukan.


.


.

__ADS_1


.


1 Minggu Kemudian.


Proses belajar mengajar di kampus sudah mulai aktif sejak beberapa hari lalu. Pagi-pagi sekali, Anjani sudah siap untuk berangkat. Mengenakan celana kulot dan kemeja warna putih gading dan jaket jeans, rambut panjangnya diikat satu seperti ekor kuda dengan poni manis yang menghiasinya. Gadis itu menghampiri Arkan yang sudah siap di meja makan.


“Rapi banget, Sayang? Ada meeting ya pagi ini?” Sapa Anjani. Tadi, Anjani bangun agak kesiangan. Jadi, dia tidak sempat melihat penampilan Arkan. Sudah biasa memang Arkan berpakaian jas dan kemeja begini, tapi rasanya ada yang berbeda.


“Mau ketemu sama klien,” jawab Arkan sambil mengoleskan nuttela ke atas roti tawar. Setelah seluruh permukaan roti tertutup cokelat, Arkan mengulurkan kepada Anjani. “Nanti saya antar kamu dulu. Baru ketemu klien.”


Mata Anjani memicing. “Kok, pagi banget, Mas? Kalau ketemu klien biasanya siangan, kamu gak ke kantor dulu emangnya? Artis kamu aman-aman aja, kan? Kliennya cewek atau cowok?" Tanya Anjani.


“Ada laki-laki, ada juga perempuan.”


“Masih muda atau udah tua?” Tanya Anjani lagi.


Arkan terkekeh, tidak biasanya loh Anjani bertanya sedetail itu. Padahal kalau meeting, bertemu klien itu hal yang sudah biasa dilakukan. “Kepo, ya?”


“Cemburu, ya?” Tebaknya lagi.


Bibir Anjani mengerucut kesal. Entah kenapa dia sekarang ketularan posesifnya Arkan. Masa dia punya pikiran takut jika Arkan bertemu dengan wanita lain yang lebih oke dari Anjani, lalu Arkan sadar betapa bodohnya dia jatuh cinta pada Anjani yang tak bisa Apa-apa. Bagaimana kalau nanti ada wanita yang lebih dewasa yang jauh lebih menarik dari dirinya dan memberikan Arkan sesuatu yang tidak Anjani bisa. Kan takut ya?


Ah, tidak. Jangan sampai itu terjadi. Meskipun Anjani tidak bisa apa-apa hanya bisa yang simpel-simpel saja, tapi dirinya cantik dan layak dicintai. Apalagi Arkan selalu mengatakan kalau Arkan hanya tertarik pada dirinya saja. Jadi dia juga harus percaya pada Arkan kalau Arkan tidak akan jajan di luar.


“Iya, aku cemburu,” jawab Anjani blak-blakan. Dia bahkan langsung menggigit rotinya besar-besar karena kesal. Untung saja tidak sampai tersedak.


Anjani mengedikan bahunya. Membuat Arkan gemas melihat tingkah istrinya yang sudah mulai posesif begini. Tentu dia suka kalau Anjani mode begini. "Saya hanya mencintai istri saya. Satu untuk selamanya, berarti tidak akan ada yang lain lagi. Percaya ya?"


Mendengar itu Anjani tersenyum puas. "Iya harus aku aja soalnya aku pelit. Aku gak suka bagi-bagi apalagi itu kamu. Big no!"


"Iya sayang, iyaaa." Arkan mengecup bibir Anjani setelah itu kembali memakan sarapannya.


Setelah selesai sarapan, Arkan pun mengajak Anjani untuk segera berangkat karena sang istri ada kelas pagi. Sebagai mahasiswa baru, terlambat masuk kelas adalah suatu hal yang harus dihindari. Karena biasanya, dosen akan menandai mana mahasiswinya yang sering menyepelekan kelasnya.


Arkan mengusap kepala Anjani saat mobil sudah berhenti di pelataran parkir. “Nanti, kalau di kelas, belajar sungguh-sungguh.”


“Iya, Mas,” jawab Anjani.


“Mas juga semangat ya, gaboleh nakal. Gak boleh jajan diluar apalagi jajan cewek!” Gadis itu bergegas mencium punggung tangan Arkan, lalu keluar dari mobil.


Kampus dan segala ***** bengeknya, hal yang dulu sempat Anjani bayangkan, akhirnya kini kesampaian sudah beberapa hari di sini tapi Anjani masih merasa tidak percaya. Gadis itu melangkah dengan ringan menuju ruang kelas yang digunakan untuk mata kuliah pagi. Sialnya, ketika menginjakkan kaki ke dalam, Anjani langsung disambut oleh wajah sok cantik Zeva.


Gadis itu langsung membuang muka dan Anjani pun bersikap demikian. Dia sudah punya prinsip, akan baik kepada orang yang memperlakukan dirinya dengan baik, dan akan acuh tak acuh pada orang yang memperlakukan dirinya dengan buruk. Seperti apa yang Zeva lakukan padanya.

__ADS_1


Anjani melewati Zeva serta temannya begitu saja dan langsung mengambil tempat duduk di belakang mereka. Dia yakin Zeva sudah tau kalau Anjani sudah bersuami jauh-jauh hari. Tentu gossip semacam itu akan cepat menyebar, apalagi ada hubungannya dengan Saka, si ketua BEM.


Setelah hampir lima menit sendirian, gadis itu melambaikan tangan pada Shella dan Dion yang baru masuk kelas. Dia menepuk-nepuk kursi di sisi kananya yang kosong, bermaksud meminta Shella untuk duduk di sana. Sampai detik ini—meski sudah berkenalan sejak Ospek hingga malam akrab, Anjani memang lebih dekat dengan mereka sih.


.


.


.


Saat mata kuliah sedang berlanjut, semua mahasiswa diperintahkan untuk masuk ke ruang auditorium. Ada apa ya? Tapi karena semua orang keluar dari sana. Anjani pun mengikuti mereka dan masuk ke ruang auditorium.


Semua orang di sana nampak lega sih, karena otomatis mata kuliah terhenti dan mereka bisa rileks sejenak. Berbeda dengan Anjani yang memang hobi belajar. Jadi dia agak kesal karena harus meninggalkan mata kuliah yang menurutnya menyenangkan ini.


Anjani menghela napasnya berkali-kali, huft yasudahlah dia memang harus mengikuti ini dengan baik sih mau tidak mau. Tak lama kemudian acara pun di mulai.


Sambutan dari rektor dan juga ketua BEM menjadi pembuka acara pada pagi ini. Anjani masih berusaha menyimak. Ternyata hari ini kedatangan donatur beasiswa. Kampus ini memang negeri tapi banyak perusahaan besar yang menjadi donatur untuk mahasiswa yang kurang mampu.


Namun mata Anjani membulat saat yang menjadi donatur itu adalah Altair Group. Benar saja kan, suaminya lah yang maju di depan podium. Anjani menepuk jidatnya. Bisa-bisanya Arkan mengerjainya tadi pagi.


Kenapa dia tidak bilang saja kalau dia akan menghadiri acara kampus?! Arkan memulai sambutannya, semua orang terpesona dengan ketampanan suaminya. Aaahhh menyebalkan sekali, ini jauh lebih menyebalkan saat Arkan menemui klien wanita ternyata.


Kalau Arkan mau membuat Anjani cemburu, dia sukses sih. Anjani cemburu parah sekarang. Dia tidak rela banyak pasang mata yang memuja suaminya begitu.


"Anjani itu suami kamu, kan?" Bisik Shella.


"Iya," singkatnya.


"Gila jauh lebih ganteng aslinya. Tapi kamu emang rela, Jan suami kamu di puja-puja sama wanita lain. Kalau aku jadi kamu kayanya bakalan kurung dia 1 bulan di kamar."


"On the way!"


Anjani kembali memperhatikan Arkan yang sedang pidato. Dia nampak lugas dan berwawasan tinggi memberikan beberapa nasehat dan wejangan. Tidak salah sih, Arkan kan memang pernah menjadi guru juga. Jadi kalau soal begini dia khatam dan berpengalaman. Apalagi dia juga seorang CEO.


Namun Anjani tiba-tiba terdiam.


"Saya juga di sini akan memperkenalkan istri saya, dia mahasiswa baru di kampus ini. Kenapa saya perkenalkan? Karena memang sepertinya terjadi kesalah pahaman yang cukup besar hingga membuatnya sedikit tidak nyaman."


"Istri saya mahasiswa psikologi tahun ini, Clarissa Putri Anjani."


Anjani melongo sih, ini gila. Kedua kalinya Arkan memperkenalkan dirinya dihadapan umum seperti ini. Pertama saat acara kelulusan dan sekarang? Oh tidak Anjani salah tingkah apalagi sekarang semua mata tertuju padanya.


Arkan berjalan menaiki tangga dari bawah sana dan menghampiri Anjani yang sejak awal sudah dia ketahui tempat duduknya. Shella dan Dion nampak heboh melihat semua itu. Ini jauh dari kata romantis, ROMANTIS SEKALI.

__ADS_1


"Mass–"


Arkan menganggukkan kepalanya seolah berkata kalau semuanya akan baik-baik saja. Membuat Anjani menghela napas dan pada akhirnya ikut Arkan maju ke hadapan podium. Sungguh, Arkan memang di luar dugaan, dia selalu menjadi orang yang tidak bisa Anjani tebak.


__ADS_2