
Mengenai tentang gosip perselingkuhan Anjani, tadinya Arkan akan menegur ekskul mading. Tapi Anjani bilang kalau tidak harus dipermasalahkan. Masalahnya nanti dia juga harus berurusan dengan Bagas. Karena sudah pasti gosipnya masih akan terus menyebar dan malah akan bertambah buruk.
Namanya juga gosip, ketika masih panas ya akan mencuat kepermukaan. Tapi seiring berjalannya waktu pasti akan mereda. Yang terpenting Anjani tidak meladeni dan fokus dengan kegiatan sekolahnya, dia juga sudah berjanji kok pada Arkan kalau dia tidak akan sampai terganggu karena masalah itu. Jadi Arkan membiarkan Anjani menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri.
Hari ini adalah pelajaran olahraga, Anjani sangat tidak suka sekali dengan pelajaran itu. Setelah mengganti bajunya dan mengikat rambut, jiwa-jiwa bandelnya muncul. Dari ruang ganti dia malah berbelok ke arah kantin untuk mangkir dari pelajaran olahraga.
Baru saja dia tersenyum senang, namun tiba-tiba seseorang menarik bajunya dari arah belakang. "Mau kemana kamu, Anjani?"
Anjani yang mendengar suara itu langsung berbalik sembari menunjukkan gigi-giginya. "Hehehe, Paakkk plisss hari ini pelajaran olahraga aku males banget, Pakkk. Aku gak suka pelajaran olahraga."
Arkan menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir ternyata istri kecilnya ini mempunyai sifat bandel. Yang benar saja dia akan mangkir dari pelajaran olahraga. "Tidak ada, segera pergi ke lapangan!"
"Pakkkk!!!" Rengek Anjani, karena merasa tidak ada orang yang melintas.
"Clarissa Putri Anjani ... "
Anjani mendengus kesal, kenapa sih Arkan tidak ada di pihaknya? Katanya cinta, tapi membiarkan istrinya istirahat saja tidak boleh. Kan kesal ya, masalahnya memang Anjani tidak suka sekali pelajaran olahraga. Mana sebelum memulai harus berlari keliling lapangan dulu. Malas sekali.
"Kesel banget ihh, punya suami galak!" Sungut Anjani setengah berbisik sembari menghentak-hentakkan kakinya menuju lapangan.
Arkan menghela napas seraya memijat pangkal hidungnya, pusing sekali ternyata mempunyai istri seperti Anjani yang super duper ajaib. Otaknya cepat tanggap untuk menangkap pelajaran rumit, tapi dia malas bergerak. Apa dia yang harus melatih Anjani untuk banyak bergerak?
Namun Arkan menggeleng-gelengkan kepalanya, otaknya sudah mulai kemana-mana. Daripada sibuk memikirkan Anjani, lebih baik dia masuk ke kelas karena ada jadwal juga di kelas 12 IPA 3.
Terik matahari sudah menyorot tepat di wajah Anjani. Padahal ini masih pagi dan baru memulai pemanasan. Terpaksa sekali ini dia mengikutinya. Andai saja tadi tidak bertemu Arkan, pasti dia sudah bisa di kantin sambil makan bakso. Kan enak.
"Sekarang lari 10 putaran!" Seruan peluit menggema sampai ujung lapangan. Semua siswa dan siswi kelas 12 IPA 1 mulai berbaris dan berkeliling lapangan.
__ADS_1
Namanya juga anak generasi z, baru satu putaran saja mereka sudah loyo, terkecuali para lelaki yang memang sudah terbiasa dengan latihan fisik. Belum lagi Anjani melirik ke arah Arkan yang bersidekap dada di depan pintu kelas 12 IPA 3, nampak sedang mengawasi Anjani.
Memang Arkan pikir Anjani akan kabur? Menyebalkan sekali apalagi tatapannya seperti meledek, dilihat seperti itu malah membuat Anjani terpacu untuk lari lebih cepat, karena dia sudah pasti tau kalau Arkan meledeknya, bisa jadi dia meledek dengan kata-kata gendut lagi. Lihat saja, Anjani akan mengikuti olahraga ini sampai selesai.
Benar saja, Anjani bersama anak laki-laki lebih dulu menyelesaikan 10 putaran. Demi apapun kaki Anjani rasanya mau patah! Gara-gara Arkan dia jadi harus berlari kencang, arghhhtt meresahkan sekali om-om satu itu.
Arkan terkekeh, dia merasa tidak melakukan apa-apa tapi Anjani sangat terlihat kesal sepertinya. Tapi tidak apa-apa, dia melakukan itu demi kebaikan Anjani juga, dia jarang bergerak. Jadi jika di sekolah ada pelajaran olahraga, tentu bagus untuknya.
Selesai olahraga, mereka turun dari lapangan. Namun suara berat Arkan tiba-tiba menginstruksi Anjani. "Anjani, kemari."
Anjani menghela napas, sudah tau dia lelah. Apalagi yang akan dilakukan Arkan untuk mengerjainya? "Kenapa, Pak Arkan? Saya mau ganti baju."
Arkan mengulum tawanya, lucu saja wajah Anjani yang terlihat kesal tapi juga pasrah. "Kamu tolong ke ruangan saya dan ambil buku-buku kemarin yang sudah saya periksa."
Tuhkan memang Arkan senang sekali menjahilinya, menyesal Anjani menurut saja menjadi ketua kelas. Anjani memajukan bibir seraya menyipitkan matanya. "Siap, Pak Arkan!"
Anjani menegaskan nada bicaranya, setelah itu dia berbalik dan segera menuju ke ruangan Arkan. Pria itu terkekeh, ah ada-ada saja lagian Anjani. Di sekolah saja dia bisa-bisanya membuat Arkan gemas. Setelah selesai mengistruksi Anjani, Arkan pun kembali masuk ke dalam kelas untuk melanjutkan pelajaran.
For My Dearest, Gembull : Saya tau kamu lelah, setelah berolahraga jangan lupa makan, kamu belum sarapan tadi. Habiskan airnya agar tidak dehidrasi!
Anjani mengulum senyumnya, sedetik kemudian dia melompat-lompat di sana. Kenapa sih Arkan gemas sekali? Anjani mengatur napasnya berkali-kali. "Gak boleh salting, gak boleh salting, gak boleh salting!"
"Arghhttt mana bisaa!!! Kenapa om-om itu meresahkan banget?! Kalau aku baper gimana? Tapi udah kepalang baper!" Gerutu Anjani.
Tiba-tiba ponsel Arkan berbunyi, ternyata pria itu tidak membawa ponselnya. Dari mama mertuanya. Tidak apa-apa kali ya kalau Anjani mengintip?
Mom : Pintar sekali menantu, Mama. 🤭❤️
Mom : Sampaikan pada Anjani kalau Mama dan Mama Viona juga merindukannya, dia bangga dengan putrinya.
__ADS_1
Anjani yang melihat pesan itu jadi penasaran, memang apa yang sedang di bahas oleh Arkan dan mama mertuanya? Arkan pernah bilang dia boleh memegang ponselnya, kan? Jadi karena penasaran Anjani membuka ponsel suaminya itu yang memang tidak di pasword.
Matanya menggulir pesan ke atas, karena namanya disebut, berarti dia sedang menjadi bahan pembicaraan suami dan mama mertuanya, kan? Matanya membaca setiap rentetan kalimat yang ada di pesan itu.
^^^Arkan Altair : Mom, look at this!^^^
^^^Arkan Altair : Sent picture^^^
^^^Arkan Altair : Masakan pertama Anjani^^^
Mom : Are you sure? Terlihat sangat cantik, kamu yang meminta Anjani memasakan, Gio? Anjani bisa memasak? Bukankah Mama Viona sudah berpesan pada kamu? Lagi pula ada beberapa Mba di sana, Gio. Jangan repotkan menantu Mama!
^^^Arkan Altair : Tidak, dia sendiri yang ingin membuatkan makanan untuk saya. Saya sudah menyuruh Anjani meminta bantuan pada Mba tapi dia tidak mau.^^^
Mom : Gemas sekali, rasanya bagaimana? Jangan sampai kamu malah melukai usahanya loh, Gio!
^^^Arkan Altair : Memang masih agak asin, tapi saya habiskan dan memang bisa dimakan karena enak. Dan lagi itu dibuat khusus untuk saya. Saya sangat senang.^^^
Mom : Pintar sekali menantu, Mama. 🤭❤️
Mom : Sampaikan pada Anjani kalau Mama dan Mama Viona juga merindukannya, dia bangga dengan putrinya.
Anjani full senyum, mungkin kalau Arkan melihat wajahnya sekarang ini pasti dia meledek. Ternyata di belakangnya Arkan sangat membanggakan dirinya, apalagi di depan mama mertuanya. Demi apapun ini Anjani merasa senang dan malu.
Jadi kemarin makanannya sedikit asin ya? Tapi Arkan sangat menghargai usahanya. Bahkan tidak menyisakan sedikit pun makanan di atas piringnya. Pria dewasa yang begini nih yang kadang membuat remaja seusianya lebih memilih om-om, ternyata se-manis ini. Sialnya Anjani tidak berhenti full senyum akibat percakapan Arkan dengan mama mertuanya. Dia salah tingkah sekarang!
P.s. Gambar hanya ilustrasi ya guys.
__ADS_1
Maaf aku baru update, aku baru pulang guys. Aku mau mandi dulu hehehe, nanti malam aku update lagi yaa, See u!