I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Bayi Cacing


__ADS_3


Siapa yang berulang tahun, siapa yang merasa di ulang tahun kan. Benar saja sehari setelah ulang tahun Arkan mereka langsung pergi berlibur ke Karimunjawa. Arkan menepati janjinya pada Anjani untuk mengajaknya berlibur menggunakan kereta.


Tadinya mereka disuruh membawa mobil oleh kedua orang tuanya, tapi percuma saja sih. Selain kapalnya tidak akan membuat Anjani nyaman, mobil juga nantinya akan dititipkan di dekat pelabuhan. Jadi memang lebih baik menjelajah dengan transportasi umum yang memang nyaman juga untuk mereka tumpangi.


"Kereta kalau lewat suka lama ya, Mas?" Tanya Anjani.


"Tentu lama, lintasannya hanya ada dua sampai tiga, mereka harus bergantian untuk melintas. Berbeda dengan transportasi lainnya," jawab Arkan.


"Ya bener sih, tapi ini berapa lama lagi sih?" Tanya Anjani lagi.


"Sebentar lagi sampai, sabar ya?" Pinta Arkan seraya memeluk pinggang Anjani. Membuat gadis itu mengangguk pasrah dan kembali bersabar menunggu kereta melintas.


Kereta menuju Jepara sudah datang, Arkan menggenggam tangan Anjani lalu masuk ke dalam gerbong kereta dan mencari tempat duduk. Mata Anjani berbinar, baru kali ini lagi dia menaiki kereta, senang sekali.


Sampai akhirnya mereka duduk di kursi mereka. Tempatnya nyaman dan Anjani sangat suka di sini. Apalagi dia baru tau kalau di kereta sekarang ada cafe. Apalagi saat kereta sudah melaju, Anjani semakin senang.


"Aku suka naik kereta!" Ucap Anjani antusias.


"Senang hm? Kalau begitu saya juga ikut senang kalau istri saya bahagia," balas Arkan seraya mengusap puncak kepala Anjani.


Anjani hanya senyum malu-malu, sialan dia malah terpesona oleh suaminya sendiri. "Kayanya kamu harus sering ajak aku naik kereta, aku bosen ternyata naik mobil terus."


"Setelah kamu lulus kita bebas naik apapun yang kamu mau," ucap Arkan.


Anjani menghela napas, iya sih mereka ini terkendala dengan pernikahan rahasia ini. Meskipun sebenarnya mereka siap saja kalau semua orang tahu. Tapi tetap saja untuk sekarang masing-masing dari mereka masih tetap berusaha menyembunyikannya sebaik mungkin.


"Masih lama lulusnya."


"Tidak lama, setelah liburan ini kamu masuk lalu disibukkan dengan berbagai ujian, ya paling sampai bulan April awal setelahnya kamu bisa bebas."


"4 bulan itu lama tau!" Protes Anjani, dia benar-benar stress sih, banyak sekali yang harus dia pikirkan. Dari mulai pemantapan, ujian-ujian, try out dan masih banyak lagi.


"Tidak akan lama, itu makanya jalaninya dengan saya." Arkan menggenggam tangan gadisnya itu dan memainkan jari-jari lentiknya.


"Kalau jalaninnya gak sama kamu emangnya kenapa?" Tanya Anjani seraya menatap Arkan.

__ADS_1


"Akan lama."


Anjani terkekeh seraya memperhatikan jari-jarinya yang kini digigit pelan oleh Arkan. Memang terkadang suaminya ini begitu random, tapi manis secara bersamaan.


Mata anjani tiba-tiba tertuju pada sepasang suami istri yang tengah asik berbincang dengan bayi yang ada di dalam kandungan istrinya. Lucu saja, dia seperti sedang menyaksikan drama Korea.


Arkan yang melihat Anjani nampak tersenyum kini menatap objek yang Anjani tatap sejak tadi. "Kenapa kamu tersenyum?"


"Gapapa lucu aja, kaya nonton drama Korea. Gemes tau, suami kaya gitu. Aku suka nonton di film dan sekarang aku liat di kehidupan nyata." Anjani kembali tersenyum, dia baper sekali melihat tangan pria itu mengusap perut istrinya dan terkadang menciumi perut sang istri yang sudah membesar.


Namun dia mengerjapkan matanya saat merasakan tangan Arkan yang kini mengusap perutnya dengan lembut. "Bayi Ayah sedang apa di sini?" Tanya Arkan pada perut sang istri.


"Baik-baik di sana, jangan bikin Bunda sakit. Harus nurut sama Ayah dan Bunda ya, Nak. Jangan rewel." Kemudian Arkan mengecup perut istrinya yang rata itu.


Anjani mengulum senyumnya saat Arkan menatap ke arahnya, pipinya bersemu merah membuat Arkan terkekeh. "Kenapa, Sayang?"


"Ya kamu lagian aneh, gak ada bayinya!" Ucap Anjani. Kenapa gemas sekali sih suaminya ini, dia malah salah tingkah. Padahal dia tidak hamil.


"Ada kok. Bayi cacing," balas Arkan setengah bercanda yang membuat Anjani tertawa. Sudah dia bilang kalau Arkan jadi random sekarang.


"Makanya ayok kamu hamil, apapun akan saya lakukan kalau kamu hamil," ucap Arkan.


"Jadi kalau sudah lulus mau hamil?" Tanya Arkan.


Anjani menutup mulut Arkan, pasalnya semua orang langsung tertuju pada mereka. Kan malu ya mereka dilihat orang banyak begini, apalagi pembahasannya itu loh.


"Kenapa malu? Biarkan saja, saya kan sedang bertanya pada istri saya?"


"Memangnya kalau aku hamil kamu mau ngikutin semua maunya aku? Aku pasti gak akan biarin kamu tenang sih, ngidam setiap hari misalnya?" Tantang Anjani.


"Why not?"


"Manjat menara Eiffel?" Tanya Anjani.


"Boleh, lalu saya teriakan nama kamu, begitu?" Tanya Arkan.


Mereka berdua terkekeh, ya menghibur juga di saat bosan begini dan lagi mereka hanya berdua, butuh banyak percakapan agar suasananya tidak membosankan.

__ADS_1


"Anjani, apa sebaiknya kita sekalian bulan madu?" Tanya Arkan iseng.


"Ngaco!"


"Loh sekalian, kita belum pernah bulan madu," bisik Arkan pada istrinya.


"Ini kalau turun dari kereta ada belnya gak?" Tanya Anjani yang merasa panik mendengar


Arkan tertawa puas melihat wajah panik istrinya, ah senang sekali mengerjai Anjani, wajahnya itu akan terlihat pucat tapi pipinya memerah, gemas sekali melihatnya.


"Tidak akan, saya juga masih memikirkan masa depan kamu. Kamu berhak menjalani apa yang ingin kamu jalani, karena tujuan saya menikah dengan kamu adalah membuat kamu bahagia. Itu saja."


Anjani tersenyum mendengar penuturan Arkan, gila kalau sudah sebaik ini tapi Anjani masih tidak menyukai seorang Arkan. Karena memang pada dasarnya dia masih kecil, jadi membutuhkan orang yang lebih dewasa untuk menemaninya memahami segala hal. Termasuk soal pernikahan.


Kereta terus melaju, membuat pemandangan kini berganti dengan pemandangan persawahan yang indah. Beda sekali dengan hiruk pikuk perkotaan yang membuatnya jengah.


Orang tuanya selalu melarang Anjani naik kereta api, katanya sangat berbahaya dan tempatnya tidak higienis. Anjani selalu menurut pada saat itu, andai dia tau kalau kereta sekarang semakin bagus, mungkin dia akan sering berlalu lalang menaiki kereta.


Perjalanan cukup panjang, ternyata duduk berjam-jam begini melelahkan juga sampai-sampai perut Anjani berbunyi. Tentu saja itu membuat Arkan tertawa.


"Kamu lapar?" Tanya Arkan pada sang istri.


Mendengar pertanyaan suaminya Anjani langsung mengangguk. "Huum, aku aku lapar."


"Gadis kecil." Arkan mengusak puncak kepala Anjani dan langsung membawa Anjani ke gerbong cafe.


Anjani senang sekali, melihat berbagai macam makanan ternyata ada di menu. Akhirnya dia memilih untuk makan teriyaki dan juga es teh. Porsinya juga cukup banyak dan Anjani menikmati juga karena lumayan enak.


Namun matanya tertuju pada bakso milik Arkan, dia jadi ingin. "Mas?"


"Kenapa?" Tanya Arkan seraya menatap ke arah Anjani.


Anjani membuka mulutnya seraya menunjuk bakso milik Arkan. Membuat pria itu gemas sendiri dan langsung menyuapkan bakso ke mulut Anjani. "Enak?"


Anjani mengangguk, rasanya juga memang mereka sudah sering makan dengan piring yang sama, sendok yang sama, gelas yang sama jadi tidak aneh lagi di mata Anjani.


Pokonya sekarang Anjani senang sekali bisa melakukan perjalanan jauh dengan Arkan menggunakan kereta api. Ternyata menikah tidak buruk, banyak kebebasan dan pengalaman baru yang bisa Anjani rasakan ketika bersama Arkan.

__ADS_1


Jadi seperti tiket bebas dalam hidupnya yang memang dikontrol orang tua.


__ADS_2