I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Anjani Sakit?


__ADS_3

Sebenernya ini 4 episode sama bab sebelumnya tapi karena bulan terakhir gak boleh update banyak bab jadi aku satuin. Maaf kalau kurang nyaman dibaca. But, hope u like it guys. Happy reading~



Jujur saja kejadian di kantor Arkan membuat Anjani kepikiran. Sebelumnya dia tidak mempermasalahkan hal ini, bahkan kalau dipikir-pikir dia belum siap menjadi seorang ibu. Dia masih ingin bermain-main, tapi tidak tau kenapa kepikiran saja.


Hera yang menatap Anjani nampak tak bersemangat memakan makanannya pun keheranan. "Kenapa tidak di makan, Sayang? Apa kamu tidak suka makanan hari ini?"


Mendengar itu Anjani menatap ke arah Hera dan menggeleng. "E-engga kok, Ma. Anjani suka banget."


Anjani terkekeh lalu kembali melanjutkan makan malamnya. Meskipun dia merasa tidak bernafsu sekali untuk makan. Arkan melirik ke arah Anjani dan menghela napasnya.


Gadis kecilnya ini pasti terlalu banyak berpikir, kalau begini Arkan yang merasa bersalah pada Anjani sekarang. Perlahan Arkan menggenggam tangan Anjani di bawah meja, membuat Anjani menatapnya. Arkan tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengusap punggung tangan Anjani seolah mencoba untuk menenangkan pikirannya yang sedang berkecamuk.


Setelah selesai makan malam, Arkan menyibukkan diri di ruang kerjanya sementara Anjani sedang berkutat dengan ponselnya di ranjang. Beberapa kali dia menghela napas dan memberanikan diri untuk mencari tau apa yang selama ini selalu dihindarinya.


"Cara agar cepat hamil," gumam Anjani sembari mengetikan kalimat di kolom pencarian hingga terpampang lah informasi yang Anjani butuhkan..


"Ketahui Masa subur, sering melakukan hubungan intim dengan teratur ... Hah gimana-gimana? Emang kalau gituan harus dijadwal ya?" Anjani menghela napasnya namun menuliskan itu dalam buku jurnalnya.


Tekadnya sudah bulat sekarang, Arkan selalu membuatnya senang. Masa iya Anjani tidak mau berusaha membuat Arkan senang hanya karena dia terlalu acuh dengan hal begini. Bukan acuh juga sih, tapi dia memang kemarin-kemarin belum siap. Masih banyak ketakutan.


Dua jam Anjani berkutat mencari informasi itu sampai tidak sadar kini dia ketiduran dengan posisi masih telungkup. Ternyata benar, kalau kekuatan berpikir itu lebih melelahkan daripada beraktifitas seharian. Biasanya Anjani tidak pernah ketiduran, bahkan masih bisa bergadang. Tapi sekarang dia malah pulas sekali tidurnya.


Tak selang beberapa lama Arkan memasuki kamar mereka. Dilihatnya Anjani yang sudah tertidur pulas dengan posisinya yang masih telungkup. Belum lagi buku dan ponselnya belum di tutup atau dimatikan layar.


Sejenak Arkan duduk di tepi kasur, melirik ke arah buku jurnal milik Anjani dan juga ponsel gadis itu. Nahkan sudah Arkan bilang, pasti Anjani kepikiran. Entah harus bagaimana menjelaskan pada Anjani kalau dia tidak perlu berpikir berlebihan untuk sekarang. Karena yang paling terpenting itu adalah kesehatan Anjani sendiri.


Kalau kehamilan itu mereka bisa serahkan kepada yang di atas, bukan? Kalau sudah waktunya pasti mereka akan diberikan anak.


Arkan menyimpan buku dan ponsel Anjani. Setelah itu Arkan menggendongnya ala brydal dan membenarkan posisi tidur Anjani di ranjang. Ternyata ini sudah jam 10 malam. Dia juga harus segera tidur karena besok masih harus pergi ke kantor.


Arkan berbaring di samping Anjani dan membawa Anjani ke dalam dekapannya. Perlahan dia mengecup bibir Anjani dengan lembut. "Selamat tidur."


"Besok jangan memikirkan apapun lagi, ya? Percayalah kalau saya menyayangi kamu. Saya mencintai kamu, Anjani," bisik Arkan tepat di telinga Anjani.


"Eunghh ... "


Anjani sedikit terusik dengan Arkan yang terus menggerayangi wajah dengan ciuman-ciuman tiada henti. Tapi Arkan suka menciumi Anjani seperti ini. Gadis itu dua kali lipat menggemaskan dari sebelumnya.


Pagi harinya.


"Kamu jangan masuk kuliah dulu, Sayang. Wajah kamu sudah pucat begitu, jangan dulu ya?" Pinta Arkan karena merasa khawatir dengan keadaan istrinya.


Anjani menggeleng. "Gak mau, Mas. Hari ini ada kuis dan aku gak mau ketinggalan. Aku gapapa, Kok. Tapi aku udah minum vitamin dan agak enak badannya."


"Anjani ... "


"Mass ... Aku mau masuk aja ya? Aku janji gak akan kenapa-kenapa, beneran deh," ucap Anjani meyakinkan.


Meskipun ya kalau boleh jujur badan Anjani ini tidak enak sekali. Dia juga mual, terus menerus. Kepalanya pusing dan badannya sedikit hangat. Tapi kalau soal pelajaran dan pendidikan dia selalu mengutamakan. Tidak mungkin dia sebagai mahasiswa baru tapi sudah absen. Tidak, selagi dia masih bisa bangun, akan Anjani usahakan untuk pergi ke kampus hari ini.


Arkan menghela napasnya, memang pada dasarnya Anjani ini keras kepala. Padahal tadi Hera dan Abdi juga sudah mengatakan kalau Anjani tidak boleh masuk tapi gadis itu malah merayu agar diizinkan. Memang Anjani ini. "Ya sudah tapi kalau nanti tidak kuat telefon saya ya? Biar kita ke dokter."


"Iya, Mass. Yaampun padahal istrinya cuma gak enak badan doang."


"Bukan cuma, Sayang. Tidak enak itu awal dari penyakit lainnya. Jangan disepelekan."

__ADS_1


Nahkan mulai deh Arkan dengan mode bawelnya. Anjani jadi tertawa melihatnya, Arkan sudah persis sekali seperti ayah yang memarahi anaknya kalau tidak mau menurut.


"Iya, Mas. I'm oke, jadi udah ya? Ayok kita ke kampus nanti aku sama kamu bisa telat," ajak Anjani seraya mengulurkan tangannya..


Arkan mengangguk, setelah itu dia menggenggam Anjani dan mereka berdua pun segera pergi untuk menjalani aktifitas masing-masing.


.


.


.


Sesampainya di kampus, Anjani melangkahkan kakinya di loby kampus, tiba-tiba saja Shella dan Dion menghampiri Anjani sambil berlari. "Anjaniiiiii."


Anjani yang nampak masih tidak enak badan berbalik dan menatap mereka dengan senyum tipisnya. "Kalian ini, tugas Mr. Dito udah?"


"Udah kok, Aman," jawab Dion.


"Tunggu, muka kamu pucat banget deh, Jan. Kamu lagi gak enak badan?" Tanya Shella yang kini sudah khawatir.


Anjani menggeleng pelan. "Cuma gak enak badan aja kok, gak parah. Masih bisa jalan ini."


"Tapi gak boleh disepelein loh, mau beli obat dulu? Atau ke rumah sakit kampus aja yuk biar ku antar, mau gak? Itu beneran pucat banget," kata Shella.


Anjani menghela napasnya. "Engga, Shell. Lagian kebanyakan minum obat gak baik, nanti juga aku sembuh sendiri. Jangan khawatir, aku beneran gapapa kok."


"Tapi kalau kamu gak kuat bilang ya? Biar kita panggilin suami gantengmu itu supaya dijemput."


Anjani menurut saja, akan lama soalnya kalau mereka berdebat hanya karena sakitnya Anjani. Dia masih merasa oke dan malah lebih semangat untuk ikut kuis. Seharusnya tidak akan terjadi apa-apa dengannya, kan?"


Memang Anjani ini bukan kaleng-kaleng kalau menurut Shella dan juga Dion. Padahal mereka kalau sakit tidak akan bisa seperti Anjani yang biasa-biasa saja begitu, tapi Anjani otaknya malah semakin terpacu. Keren sih.


Selesai kuis, Anjani langsung berlari ke toilet di temani oleh Shella dan Dion. Nah ini yang mereka khawatirkan. Anjani sendiri juga kan yang merasakannya.


Tak selang beberapa lama Anjani keluar dengan posisi yang sangat lemas, tiba-tiba saja Anjani merasa pusing dan tubuhnya ambruk ke lantai seketika.


"Anjani!!" Dion dan Shella berteriak karena panik.


"Di, angkat Anjani. Kita bawa ke rumah sakit!" Perintah Shella.


"Aku mana bisa gendong sih?" Dion semakin panik.


Namun saat itu Azzam dan Bagas lewat di sana dan langsung menghampiri Anjani yang sudah pingsan di sana. "Anjani kenapa?" Tanya Azzam.


"Pingsan, bantuin. Dia lagi sakit kita bawa ke rumah sakit sekarang."


Tanpa basa-basi, Bagas meminta Shella memegang tasnya. Bagas melinting lengan bajunya cepat, lalu menggendong tubuh Anjani untuk dia bawa ke rumah sakit kampus ini.


Jaraknya tidak jauh memang tapi tetap harus menggunakan mobil. Pada akhirnya mereka semua ikut menumpang di mobil Bagas untuk membawa Anjani ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, petugas UGD sudah siap dengan brankarnya. Kini giliran Azzam yang menggendong tubuh Anjani dan membaringkannya di brankar. Semua orang panik apalagi melihat wajah Anjani yang memucat.


Tanpa berlama-lama lagi yang Bagas hubungi sekarang adalah Arkan. Dia harus tau kalau Anjani tidak baik-baik saja di sini. Iya, dia harus menghubungi Arkan sekarang.


Di sisi lain Arkan sedang ada meeting di kantornya bersama karyawan. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Tertera nama Bagas di sana. Namun karena dia sedang meeting, jadi Arkan memutuskan akan menghubunginya lagi nanti.


Namun tidak lama setelahnya ponselnya berbunyi lagi, kali ini dari Anjani. Perasaannya jadi tidak enak, langsung saja Arkan meminta izin untuk mengangkat panggilan.

__ADS_1


“Maaf, saya angkat telefon dulu,” ucap Arkan seraya pamit untuk ke luar ruangan sebentar.


"Halo." Arkan mengernyit, ternyata itu suara Bagas. Tapi kenapa ponsel Anjani ada pada pria itu. Nahkan sekarang Arkan yang nampak tidak karuan. Pasti terjadi sesuatu pada istri kecilnya itu.


"Halo, kenapa ponsel ada di kamu, Gas?" Tanya Arkan cepat.


"Anjani masuk rumah sakit, Bang. Rumah sakit kampus, kesini aja. Jangan banyak tanya, dokter juga udah nanyain suami Anjani. Ke sini atau aku yang ngaku jadi suaminya."


Setelah Bagas mengatakan itu, Arkan mengumpat. Dia langsung berlari ke dalam untuk meminta izin karena istrinya masuk rumah sakit. Pada akhirnya meeting kali ini di pimpin oleh asisten kepercayaannya.


Dengan cepat Arkan mengambil kunci mobil di ruangannya dan berlari keluar kantor. Ini nih keras kepalanya Anjani. Padahal Arkan sudah bilang kalau dia tidak usah masuk kelas, tapi tetap kekeh.


"Astaga Anjani, kamu berhasil kalau mau buat saya jantungan," gumam Arkan yang kini menginjak pedal gasnya dengan mantap. Bahkan dia tidak peduli lagi dengan kecepatan. Dia harus segera sampai di rumah sakit karena takut Anjani kenapa-kenapa.


Tidak butuh waktu lama memang, apalagi Arkan mengendarai mobilnya dengan kesetanan. Sampai di sana Arkan langsung berlari ke ruangan dan mendapati Bagas ada di sana.


"Mana Anjani?" Tanya Arkan.


Namun belum juga Baga menjawab. Kini seorang dokter memanggil suami Anjani dan Arkan pun terkesiap.


"Saya Arkan, Altair. Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Arkan cepat.


"Mari ikut saya, Pak. Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan lebih mendalam."


"Baik."


Arkan pun mengikuti dokter perempuan itu untuk masuk ke ruangannya. Dia semakin tidak karuan, apa terjadi sesuatu pada Anjani sampai harus disampaikan dengan detail? Ah demi apapun pikirannya sudah kemana-mama sekarang.


Sesampainya di ruangan dokter Arkan mengatur napasnya dan duduk menatap dokter yang menangani Anjani sekarang.


“Bagaimana kondisi istri saya, Dok?” Tanya Arkan to the point.


“Begini, Pak. Bu Anjani sedang hamil 9 minggu. Tetapi kandungannya sangat lemah," ucap Dokter Zara.


“Hamil? Tapi, apa masih bisa diselamatkan janinnya, Dok?” Arkan tampak terkejut. Kemarin Anjani bilang jika dirinya tidak hamil. Arkan sedikit tidak percaya, karena bulan kemarin Anjani juga masih halangan meski itu hanya dua hari.


“Insyaallah bisa, Pak.”


“Tapi, bulan kemarin istri saya masih halangan, Dok? Bahkan kemarin menstruasi hari pertamanya.”


Dokter Zara tampak tersenyum tipis. “Hari ini juga begitu, Pak. itu bukan haid tetapi pendarahan. Biasanya Ibu merasa sedang haid tetapi itu hanya 1-2 hari. Jadi, harus sering kontrol. Takutnya nanti kasus plasenta previa.”


Jantung Arkan berdegup lebih kencang. Tidak menyangka akan menjadi seperti ini. “Apa penyebabnya kandungan istri saya lemah, Dok?”


“Bisa jadi aktivitas berlebih dan juga bisa jadi stress, Pak. Untuk saat ini, Bapak saya sarankan libur untuk tidak berhubungan suami istri dulu, ya dan tolong buat Bu Anjani selalu dalam mood yang baik-baik saja.”


"Karena Ibu hamil itu sensitif, Pak. Apalagi kalau melihat dari segi usia, Bu Anjani masih muda. Jadi sangat rentan keguguran kalau sang ibu mengalami stress berlebih atau terlalu kelelahan. Mungkin saya akan memberikan buku pedoman untuk Ibu hamil, Nanti Pak Arkan bisa membacanya lebih jelas."


Arkan mengangguk lemah. Yang dia pikirkan saat ini adalah kesehatan Anjani. “Apa saya boleh temui istri saya?”


“Boleh, Pak. Kebetulan Bu Anjani sudah sadar, tapi saya belum memberitahukan soal ini kepada Bu Anjani. Akan lebih baik jika dibicarakan dengan posisi santai dan tenang. Agar si ibu juga tidak stress. Mungkin beberapa hari ini Bu Anjani harus di rawat inap, Pak."


"Tidak masalah, Dok. Nanti saya akan urus semua administrasinya."


Setelah mengatakan itu Arkan keluar dari ruangan dokter Zara. Perasannya campur aduk sekarang, tapi tidak bisa dipungkiri kalau dia bahagia mendengar kabar kehamilan Anjani.


Arkan berjanji pada dirinya sendiri kalau mulai sekarang akan lebih siaga lagi dalam menjaga Anjani, mengingat kondisi kandungannya yang lemah. "Saya pasti akan menjadi suami yang baik, Anjani," gumam Arkan yang kini mempercepat langkahnya untuk menemui Anjani di ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2