I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Jadi Setelah Ini Apa?


__ADS_3


Setelah dipublikasikan secara mengejutkan oleh Arkan, tentu saja banyak yang mengerumuni Anjani saat dia turun dari panggung. Tapi Anjani santai saja. Karena Arkan juga mempublikasikannya setelah lulus.


Jadi apapun yang dikatakan banyak orang tentang dirinya tidak penting lagi. Yang terpenting mereka tau kalau Anjani adalah istrinya Arkan. Jadi tidak boleh ada yang dekat-dekat lagi karena Anjani tidak mau membagi suaminya.


Della, Azzam dan Rafi terus menggodanya dari tadi, membuat Anjani benar-benar malu. Dia juga tidak menyangka kalau Arkan itu kadar romantisnya tidak manusiawi. Bikin anak orang senyum-senyum saja.


Setelah acara di auditorium selesai, semua bebas untuk berpencar dan seperti biasa mereka akan berphoto kelas. Begitu juga dengan Anjani, tapi nampaknya dia sedikit berbeda. Karena setelah acara bersama teman-temannya, kini Arkan menggenggam tangannya dan diperkenalkan pada guru-guru.


Aduh Anjani malu, benar-benar malu. Mereka kan tahunya Anjani murid dan sekarang diperkenalkan sebagai istri oleh Arkan. Rasanya tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.


Anjani menyalami satu-persatu gurunya.


"Ibu gak nyangka loh kamu sudah menikah muda, tapi melihat prestasi kamu yang tidak pernah mengecewakan ibu yakin kamu bisa menghandle keduanya. Menjadi ibu rumah tangga dan juga mahasiswa," ucap Bu Ratna. Beliau adalah guru bahasa fisikanya Anjani.


Dekat dengan banyak guru karena sering dianggap anak emas, membuat Anjani juga tidak terlalu sulit sih memposisikan diri. "Aamiin, makasih ya, Bu. Makasih juga karena Ibu selama ini sabar banget ajarin Anjani yang suka banyak tanya."


"Justru ibu akan kehilangan murid seperti kamu. Tapi tidak apa-apa, ibu yakin kalau Pak Arkan bisa menjaga kamu dengan baik dan akan menjadi suami yang baik juga. Kabarin ibu ya kalau ada kabar bahagia."


Anjani mengangguk-menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, sementara Arka mengecup puncak kepala Anjani dan sedari tadi tidak lepas juga tangannya dari pinggang gadis kecilnya.


Nampaknya guru yang lain pun sama seperti Ratna. Yang berbeda hanya Manda saja dan Restia. Ya bukan salah Anjani juga kalau mereka baru tau sekarang. Kenapa juga harus sensi? Mau dengan siapapun Arkan tetap menikah.


Tapi Arkan tetap tersenyum dan mengarahkan Anjani untuk tetap bersalaman dengan mereka. Karena bagaimana pun mereka juga guru. Setelah itu Arkan kembali menggenggam tangan Anjani dan menjauh dari sana.


"Kamu gak bilang loh kalau publikasiinnya di depan banyak orang gitu," ucap Anjani sambil mengikuti Arkan yang entah akan membawanya kemana.


"Memang ada cara yang lebih baik dari ini?" Tanya Arkan?


"Aku malu tau diliatin."


Arkan menghentikan langkahnya dan menggenggam kedua tangan Anjani dan sedikit menundukkan kepalanya mendekat pada Anjani. Nahkan sudah mulai meresahkan dia. "Malu karena menjadi istri saya hm?"


Anjani menelan salivanya, ya bagaimana tidak. Beberapa orang menatap ke arah mereka. Mereka ini masih di lingkungan sekolah. "Bukan malu karena jadi istri kamu, tapi malu karena diliatin."


"Mereka punya mata, Sayang. Kita juga punya hak, jadi masing-masing saja. Yang terpenting mereka tau kalau kamu istri saya."


Anjani mengulum senyumnya dan membalas tatapan Arkan. "Tapi tuh ... Aku mau bilang makasih sama kamu."


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Arkan.


"Makasih kamu buat aku jadi orang paling spesial hari ini, makasih karena kamu udah kasih aku kejutan yang banyak banget hari ini. Ini berarti banget buat aku, Mas."


"Terima kasih kembali karena telah membuat saya bangga dan beruntung memiliki kamu juga," balas Arkan.


Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, manis sekali gadisnya ini. Apalagi dia cantik sekali, ingin Arkan karungi saja dan dibawa pulang.

__ADS_1


"Ekhhmm ... " Seseorang membuat mereka menatap ke sumber suara.


Anjani dan Arkan nampak diam saat melihat Bagas yang sudah ada di hadapan mereka. Namun Bagas malah mengulurkan tangannya pada Anjani. "Selamat karena berhasil capai semua yang kamu tuju."


Anjani nampak ragu menerima uluran tangan Bagas. Namun Arkan tersenyum saat Anjani menatapnya. Menandakan kalau tidak apa-apa.


Perlahan Anjani membalas uluran tangan Bagas dengan sedikit tersenyum. "Makasih, Gas."


Bagas membalas senyuman Anjani, ya setidaknya dia bisa diajak bicara sekarang. "Aku ikut bahagia buat pernikahan kalian. Maaf soal kemarin-kemarin. Kalian bahagia terus ya."


Anjani kembali tersenyum, sementara kini semakin mendekat ke arah mereka dan menepuk bahu Arkan. "Bahagiain dia, Bang. Kalau engga aku rebut lagi."


Setelah mengatakan itu Bagas meninggalkan Anjani dan juga Arkan. Ya setidaknya ini semua sudah membaik. Tidak akan ada lagi Bagas yang akan menghantui pernikahan mereka.


"Dia berubah ya, Mas ... " Gumam Anjani.


"Manusia kan memang harus berubah, untuk apa mengulang siklus yang sama. Dia juga pasti ada titik jenuhnya sendiri dan menyerah dengan keadaan."


Anjani mengangguk-nganggukkan kepalanya paham. Ya memang benar sih. Tapi ya sudah, mereka hari ini seharunya tidak memikirkan hal-hal berat. "Jadi kita pulang?"


"Ayok, Sayang. Sudah merasa lelah ya?" Kini Arkan kembali menggenggam tangan Anjani untuk pulang bersama.


"Engga cape cuma emang udah pas pulang juga gak sih? Jadi buat apa juga lama-lama di sini."


"Wanna eat something sweet, Baby?" Tanya Arkan.


Arkan terkekeh, mesra sekali mereka. Bahkan rasanya mereka juga tidak mempedulikan kalau sekarang banyak yang menatap ke arah mereka. Arkan tetap membukakan pintu dan membantu Anjani memasang seatbelt-nya, setelah itu dia menyusul dan melajukan mobilnya.


Sesampainya di rumah, Anjani kebingungan sih pasalnya tidak ada satu pun pelayan di sana. Bahkan di luar sudah ada koper yang sepertinya milik orang tua mereka. Apa mereka akan pergi sekarang? Tapi masa sih, kemarin mereka baru pulang perasaan.


Tak lama dari itu Hera dan Abdi keluar dan menghampiri mereka. Selain mengucapkan selama Hera dan Abdi juga berpamitan karena akan ke London. Mendadak sekali bukan?


"Loh kok Mama sama Papa perginya sekarang?" Tanya Anjani dengan raut wajah sedihnya.


"Iya, Sayang karena memang sedang ada kendala juga di kantor cabang sana. Jadi kami harus segera kesana," jawab Abdi.


Anjani sedih sih, ya karena bagaimana pun di rumah ini kan mereka hanya berempat, sisanya dengan pelayan jadi ya agak sepi saja kalau mereka tidak ada. "Jangan sedih gitu dong anak Mama, kami akan segera kembali. Dan ... Emm Mama mau kasih tau kalau semua pelayan mama beri izin selama 2 Minggu untuk pulang kampung. Tidak apa-apa, kan?"


"Kenapa?" Tanya Arkan tak percaya dengan keputusan ibunya.


"Emm ya ... Ya karena mereka juga butuh bertemu dengan keluarga mereka, Sayang. Jadi tidak apa-apa ya kalau kalian berdua di rumah? Oke? Saling jaga ya."


Arkan menaikan alis sebelah kanannya. Ada yang janggal, apa yang orang tuanya rencanakan. Sementara Hera hanya tersenyum penuh makna. "Kalau gitu Mama dan Papa pergi dulu ya sayang sayangnya Mama, happy holiday!"


Hera menciumi keduanya, namun sebelum berangkat Abdi berbisik pada anaknya. "Semangat, Boy."


Arkan menghela napas, sepertinya dia sudah paham kenapa semua ini terjadi, sementara Anjani masih terdiam menatap kepergian mertuanya yang kini sudah masuk ke mobil. "Yah sepi di rumah."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, ayok masuk." Ajak Arkan seraya meraih pinggang Anjani.


Entah kenapa dia jadi tersenyum setelah mendengar perkataan ayahnya. Memang seniat itu mereka merencanakan semuanya.


"Kamu kenapa sih?" Tanya Anjani saat akan membuka pintu kamar mereka.


"Kenapa apanya?" Tanya arkan berbalik.


"Itu kamu senyum-senyum gitu kaya kesambet tau gak, kan aku jadi takut."


"Tidak ada apa-apa, ayok buka. Saya gerah mau mandi," ucap Arkan.


Anjani menghela napasnya, aneh sekali memang suaminya. Siapa yang tidak aneh coba, dia sejak tadi senyum-senyum sendiri dan lagi di rumah besar ini hanya ada mereka berdua. Jadi lebih baik memang mereka masuk saja dan membiarkan Arkan mandi, siapa tau kepalanya memang sedang panas makanya begitu.


"Yaudah kamu mandi duluan gih. Aku nanti aja masih keringetan."


Arkan tersenyum, alih-alih mendengarkan ocehan sang istri kini dia malah menarik Anjani dan merengkuh pinggangnya masuk ke dalam pelukannya. "Anjani ... "


Anjani mengerjapkan matanya, dia kaget. Terlebih Arkan nampak menatapnya dengan serius. "Hmm?"


"Jadi ... "


"J-jadi apa?" Tanya Anjani dengan gugup.


"Jadi setelah ini apa?" Bisik Arkan tepat di telinga Anjani.


Anjani memejamkan matanya sejenak, merasakan hembusan napas Arkan di sana membuat tubuhnya sedikit meremang. "A-apanya?"


Anjani paham sih arah pembicaraan mereka, tapi ya memang dia belum siap saja. Lagi, memang dia harus menjawab apa sekarang, semua wanita pun akan bingung kalau ditanya begitu.


"Sekarang mandi, kan? Ohh atau mau makan? Mau cemilan? B-biar aku ambil." Anjani hendak beranjak, namun Arkan menahannya dalam pelukan.


Oh Tuhan apalagi ini, Anjani harus bagaimana. "M-mass lepasin dulu."


"Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Sayang."


Anjani memejamkan matanya seraya mengigit bibir bawahnya sendiri. Kenapa harus tanya ini sih? Anjani kan tidak berpengalaman. "Ya yaudah gitu kan?"


"Gitu bagaimana?" Tanya Arkan yang semakin mendekatkan wajahnya pada Anjani.


Arkan terkekeh melihat ekspresi wajah Anjani yang sudah pucat, dia tau Anjani paham apa yang dia maksud. Tapi memang dia gadis yang masih polos dan tidak tau apa-apa.


Cup ...


Arkan mencium bibir Anjani begitu lembut, rasanya Anjani bisa merasakan deru napas pria itu sekarang. Arkan menyatukan bibir mereka tanpa berbuat apa-apa, setelah itu dia menjauhkan wajahnya dari Anjani.


"Saya mau mandi dulu."

__ADS_1


__ADS_2