I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Sakit Dua-Duanya.


__ADS_3

Huhu, aku mau minta maaf sama kalian karena slow update. Sebenernya aku lagi sakit guys, semoga aja besok udah sembuh dan bisa update banyak lagi. Happy reading~



Anjani memeluk Arkan sampai dia tertidur. Malamnya juga dia bergadang dan dengan telaten mengurus suaminya. Dari mulai memberikannya makan dan obat, pokoknya dia yang mengerjakan, meskipun kalau masak ya urusan mba di dapur.


Waktu menunjukkan pukul 1 malam, sejak tengah malam tadi Anjani tidak bisa tidur karena terbangun, setelah itu dia malah memandangi suaminya yang tertidur dengan pulas. Kasian ternyata kalau Arkan sakit, wajah menyebalkan ya malah jadi hilang di mata Anjani.


"Cepet sembuh, Mas." Tangan Anjani terulur lalu mengusap pipi Arkan dengan lembut seraya tersenyum tipis.


Namun Anjani lupa kalau suaminya ini begitu sensitif, sehingga mendengar dan merasakan sentuhan Anjani di pipinya, membuat Arkan terbangun lalu mengusap tangan Anjani. Anjani kaget, malu kan dia. Nanti bagaimana coba kalau Arkan berpikir Anjani mencintainya. Tidak, tidak, mau ditaruh di mana wajahnya?


"Kenapa tidak tidur?" Tanya Arkan yang kini menatap tepat ke manik mata coklat indah milik Anjani.


"Kebangun, kamu kenapa sih mudah bangun?" Kesal Anjani.


"Karena kamu istri saya."


Anjani mendengus, bisa-bisanya Arkan gombal saat dia sakit seperti ini. Memang suaminya ini ajaib sekali. "Tidur lagi, besok kamu gak usah ngajar aja, Mas. Biar aku yang titipin tugas. Kamu di rumah aja istirahat."


"Tidak mau, saya harus-"


"Mass ... Jangan sekolah! Sehari izin kan gapapa."


"Kenapa? Khawatir sama saya?"


"Iyalah ... " Anjani mengigit bibir bawahnya, kenapa juga dia harus keceplosan sih. "Ya maksudnya kan kalau misalnya di jalan ada apa-apa nanti mama juga khawatir. Nanti aku juga ikut, gitu."


Arkan terkekeh pelan, rasanya tubuhnya ini memang lemas, tapi suka saja melihat Anjani Membuatnya jadi tidak merasakan apapun.


"Cantik."


Mendengar itu Anjani menjadi salah tingkah, apalagi jarak mereka ini sangat dekat. Meresahkan sekali suaminya. "Tidur."


"Mana bisa saya tidur sementara istri saya masih terjaga seperti ini?"

__ADS_1


"Aku tidur juga!" Anjani kembali mengulurkan tangannya dan memeluk Arkan. "Tidur lagi, meremin matanya. Aku peluk biar bisa tidur lagi."


"Suka peluk saya? Nanti kamu tertular bagaimana?"


"Bukan suka, cuma kemanusiaan. Biar Mas juga bisa tidur. Udah sih jangan banyak nanya. Ini aku lagi baik nih!"


"Kalau kemanusiaan itu berarti ada perasaan, kan? Kamu ada perasaan sama saya?"


Anjani menahan napasnya, kenapa sih Arkan. Baru saja dia berucap kalau Arkan tidak menyebalkan ketika dia sakit, ternyata sama saja.


Arkan terkeke lalu menciumi pipi Anjani dengan lembut. "Kalau begitu saya akan cepat sembuh. Terima kasih ya?"


"Hmm, cepet tidur!"


Arkan mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Anjani, semoga saja dia tidak tertular. Semoga ...


Pukul 4 pagi, seperti biasa Arkan bangun untuk sholat subuh. Niatnya ingin membangunkan Anjani tapi dia lupa kalau istrinya sedang halangan. Jadi Arkan membiarkan Anjani tertidur lelap.


Setelah selesai menunaikan kewajiban, Arkan kembali ke kasur untuk kembali tertidur, namun saat melihat wajah Anjani yang sedikit pucat dan memegang dahinya, ternyata Anjani juga demam.


"Mass ... " Mata Anjani mengerjap saat merasakan kompresan di dahinya.


"Kamu sakit, jadi biar saya yang rawat kamu."


Anjani menghela napas, karena tubuhnya juga lemas jadi dia menurut saja pada Arkan dan kembali memejamkan mata. Karena Arkan juga juga lemas akhirnya mereka berdua kembali tertidur sambil berpelukan.


Pukul 9 tepat, Arkan terbangun karena memang sudah ada janji dengan dokter keluarga Altair. Karena demamnya sudah turun dia hanya diresepkan obat saja dan setelahnya dokter Raiden memeriksa Anjani yang sedang tertidur.


Wajahnya nampak pucat, tubuhnya lemas, dokter menyarakan agar Anjani diinfus. Anjani juga terkena dehidrasi yang cukup parah sampai dia sulit bergerak lebih. Tapi memang benar juga, suhu tubuhnya tinggi, dia juga belum makan dan minum sejak pulang sekolah kemarin karena mengurus Arkan.


Anjani menggeleng dan menatap ke arah Arkan dengan wajah memelas, dia takut jarum suntik dan jarum sejenis lainnya. Membuat Arkan harus ekstra keras membujuknya.


"Aku gak mau diinfus aku takut!" Anjani tetap kekeh sembari duduk dan memeluk Arkan untuk menyembunyikan tangannya.


"Kalau tidak diinfus kamu sakitnya semakin lama, ayok sebentar saja ya?" Arkan menggenggam pergelangan tangan Anjani dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lainnya memeluk tubuh Anjani.

__ADS_1


"Aku gak mau, aku takut. Aku minum obat aja." Anjani tukuh pada pendiriannya, kali ini dia sungguh tidak mau melakukannya.


"Anjani ... "


"Masss!!" Anjani merengek karena dokter mulai memegang tangannya.


Entah kenapa Anjani seperti itu malah terlihat gemas di mata Arkan. Bayangkan saja dia merengek dan wajahnya memelas karena lemas.


"Sakitnya sebentar, nanti tidak akan sakit lagi. Saya peluk nih biar kamu tidak takut."


Tidak ada korelasinya, tidak ada pengaruhnya mau dipeluk atau tidak Anjani tetap tidak mau. Dia takut, namun karena tenaganya tidak ada dia juga tidak bisa melawan dan akhirnya jarum itu berhasil menembus kulitnya. Membuat Anjani meremas lengan Arkan menahan sakit.


Arkan menunduk lalu menciumi puncak kepala istrinya, kasihan dia sampai berkaca-kaca begitu matanya karena harus pasang infuss. Anjani selalu mati-matian menghindari mangnya ya karena takut diinfus, sekarang dia malah harus diinfus karena demam.


"Sudah, Pak." Dokter Raiden tersenyum saat sudah selesai memasangkan infus pada tangan Anjani. Walaupun sempat tidak merespon tapi untungnya bisa dengan dua kali tusuk saja. Sehingga Anjani tidak perlu merasa sakit berkali-kali. Memang sih dokter yang dipilih juga bukan sembarangan, tentunya sudah ahli dan berpengalaman.


Arkan mengangguk, setelah itu dia mendengarkan instruksi dokter untuk selanjutnya dan setelah selesai, Arkan menyerahkan dokter itu kepada asisten pribadinya yang memang tadi dia suruh ke sini. Karena sudah pasti dia tidak akan bisa turun ke bawah karena menemani Anjani.


Barulah saat hanya ada mereka berdua Anjani menangis. Membuat Arkan mengerutkan keningnya. "Loh kenapa?"


"Sakit tau, Mas!! Aku mau nangis tapi malu sama dokternya. Nanti disangka kaya anak kecil, nanti—Mana dokternya ganteng. Mana tuh ya—"


Arkan menghela napasnya lalu membaringkan Anjani di kasur sembari menutup mulut gadis itu, berisik sekali ternyata Anjani. Kepalanya yang sudah pusing menjadi tambah pusing mendengarnya. "Sudah tidur, ganteng-ganteng. Lebih ganteng saya." Arkan kembali menarik selimut Anjani dan berbaring di sampingnya. Membuat Anjani kini malah kembali memeluk dirinya.


Nahkan, jadi dia yang manja sekarang. Tidak biasanya Anjani begini, tapi ya sudah. dia juga suka kok kalau Anjani manja begini. Dia jadi terlihat lebih kalem dan tidak galak.


"Sakit ya?" Arkan menciumi tangan Anjani yang memakai infus


"Sakit, dua kali ditusuknya," adu Anjani.


"Kasian ya, makanya jangan bandel. Kalau suami bicara itu harus nurut, semalam kamu malah memaksa dekat-dekat saya."


"Dieemm!" Anjani menenggelamkan wajah di dada Arkan. Dia tidak ada tenaga untuk berdebat dengan Arkan, matanya juga berat sekali, mungkin efek obat juga.


Arkan terkekeh, setelah itu dia membiarkan Anjani kembali tertidur dalam dekapannya. Sebenarnya kalau boleh jujur Arkan tidak tega melihat Anjani harus diinfus seperti ini, tapi akan lebih tidak tega lagi kalau dia membiarkan Anjani sakitnya semakin parah.

__ADS_1


Sekarang tugasnya adalah menjaga Anjani sampai mereka berdua juga sama-sama sembuh. Karena akan curiga juga kalau Anjani dan Arkan terus tidak masuk sekolah secara bersamaan seperti ini.


__ADS_2