I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Si Paling Mendadak!


__ADS_3


Malam ini Anjani dan Arkan sedang sibuk dengan urusan masing-masing di kamar. Arkan sekarang sedang menyelesaikan pekerjaannya sementara Anjani sibuk membaca novel.


"Saya tidak akan mengajar lagi setelah ini," ucap Arkan membuat Anjani mengernyitkan dahinya. Tapi kenapa?


"Kok bisa?"


"Saya hanya menawarkan diri membantu selagi belum mendapatkan tenaga kerja yang baru dan sekarang sudah dapat. Jadi saya bisa fokus di kantor, " jelas Arkan.


Anjani tersenyum sembari mengangguk-menganggukkan kepalanya. "Bagus deh."


"Kenapa bagus?" Tanya Arkan seraya menatap ke arah Anjani.


"Bagus lah, jadi gak ada yang deket-deket kamu di sekolah lagi. Apalagi aku udah gak sekolah di sana, nanti kamu digodain Bu Manda," jawab Anjani tanpa ragu.


"Cemburu?" Tanya Arkan seraya mendekatkan wajahnya pada sang istri.


"Ya menurut kamu?" Memang ada ya istri yang tidak cemburu saat suaminya ditempeli wanita lain. Apalagi Manda itu seumuran dengan Arkan dan dia ini merasa masih bocah. Tentu ada perasaan mindernya sendiri, meskipun dia merasa lebih cantik dari Manda.


"Iya, Sayang. Ya sudah yang terpenting sekarang kan sudah ada penggantinya. Jangan cemburu-cemburu, saya cuma milik kamu," ucap Arkan menenangkan.


"Ya memang – Huekk." Anjani menutup mulutnya dan bergegas turun dari sofa menuju wastafel.


Anjani memuntahkan isi perutnya, rasanya sakit sekali. Arkan yang melihat itu langsung menghampiri Anjani sembari mengusap tengkuknya.


Huekk ...


Anjani muntah berkali-kali, sampai napasnya mulai terengah-engah. Dengan inisiatif Arkan mengambil air hangat dan diberikannya pada Anjani setelah dia selesai.


Perlahan Anjani meminum airnya, perutnya sedikit lebih baik dan mulanya juga mereda. Anjani kembali mengatur napasnya dan memberikan gelas itu kepada Arkan.


"Kok bisa?" Gumam Arkan.


"Bisa apa?" Tanya Anjani tak mengerti.


"Kok bisa kamu sudah mual-mual, padahal saya baru melakukannya sekali," lanjutnya keheranan.


"Hah, apasi mass sekali apa?" Tanya Anjani semakin tidak mengerti.

__ADS_1


"Itu kamu hamil?"


Plakk ...


Satu pukulan Anjani layangkan ke lengan Arkan. Bisa-bisanya Arkan menyangkalnya hamil. Yang benar saja. "Gak mungkin lah!! Kamu tuh ngaco! Kayanya aku telat makan aja, tapi ada obat kok aman."


Anjani belajar soal sains dan itu kan membutuhkan pembuahan cukup lama. Arkan terkekeh, ya tidak mungkin sudah jadi. Tapi melihat ekspresi Anjani begitu dia jadi suka.


"Kalau hamil juga tidak apa-apa, saya pelaku sahnya," balas Arkan.


Anjani mengedikan bahunya, lagian dia tidak mau hamil dulu. Sebentar lagi dia akan masuk kuliah, jadi memang ada beberapa hal yang harus dia pikirkan. Akan sulit kalau dia belajar sambil mengandung.


"Tidak boleh begitu, apapun yang nanti dikasih Tuhan harus kita terima, Sayang." Arkan menarik tangan Anjani dan memeluk istrinya itu dengan perhatian.


"Iya tapi gak mau sekarang, aku gak siap."


"Semalam juga kamu tidak siap tapi bisa menjadi siap."


Anjani sedikit menjauh dari Arkan dan menatapnya tajam. "Ya itu karena kamu curang mainnya. Jadi aku mau-mau aja."


Arkan tersenyum dan mengusap pipi istrinya itu dengan lembut. "Kata siap itu tidak akan pernah ada, Sayang. Semuanya berawal dari sebuah kemauan atau dorongan. Lalu setelahnya dia akan terbiasa dan siap dengan sendirinya."


"Saya tidak akan memaksa kamu kalau belum ingin, tapi apapun yang terjadi nanti kamu harus bisa menjadi orang yang paling bijak ya?"


Sejenak Anjani menatap ke arah suaminya dan mengangguk pelan. Bukan tanpa alasan Arkan mengatakan itu. Semalam mereka melakukannya tanpa pengaman dan kontrasepsi, jadi dia mengantisipasi saja kemungkinan-kemungkinan yang nantinya akan terjadi. Agar Anjani juga bisa belajar dari sekarang untuk menghadapi situasi tersebut.


Keesokan harinya, jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, namun Anjani dikagetkan oleh Arkan yang nampak buru-buru membangunkannya. "Anjani cepat, kita harus segera berangkat dari sini."


Anjani yang dibangunkan dengan cara begitu langsung terperanjat dan turun dari kasurnya. Apalagi Arkan sudah membawa dua koper dan langsung memakaikan jaket padanya.


"Hah, kita mau kemana sih, Mas?" Tanya Anjani panik.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, ayok cepat," ajak Arkan terburu-buru.


Anjani tentu panik, apakah mereka harus segera mengosongkan rumah ini? Apakah Arkan dikejar hutang, apakah dia dan Arkan dalam bahaya? Astaga kenapa? Anjani bertanya-tanya dalam hatinya.


Namun dia tak ingin banyak bertanya Anjani tetap mengikuti Arkan sampai akhirnya mereka sampai di mobil dan Arkan melajukan mobilnya ke luar gerbang.


Anjani yang nampak masih mengumpulkan nyawanya kini bercampur dengan rasa panik. "Kenapa sih kita buru-buru pergi, kamu dikejar debkolektor kah? Atau rumah itu disita? Atau gimana? Coba jelasin dulu kenapa?" Tanya Anjani yang memang kebingungan.

__ADS_1


"Tidak ada." Arkan menjawabnya dengan wajah yang santai dan tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


"Terus kita ini mau kemana, ngapain?!"


"Liburan, kita bulan madu ke Lombok sekarang."


Anjani menghela napasnya kasar. Astaga jadi sepagi ini Arkan mengajaknya bulan madu. Kenapa harus dengan cara begini. Anjani sudah kepalang panik ini. "Astaga, Mass!!! Kenapa harus sepagi ini, aku belum mandi, masih pake baju tidur, belum dandan sama sekali dan kamu ajak aku liburan?"


Arkan terkekeh mendengar ocehan dari istrinya. Asal Anjani tau kalau Arkan juga sebenarnya tidak ada niat berlibur ke sana, tapi karena terlintas secara mendadak di pikirannya tadi pagi, langsung saja dia ajak Anjani pergi sekarang.


"Tau ahh nyebelin banget, aku masih ngantuk tau!" Kesal Anjani.


"Ini namanya seru, tidak ada kan yang pergi liburan tapi masih ada iler seperti kamu," ledek Arkan yang membuat Anjani sontak mengambil tissue dan mengelap mulutnya. Padahal tidak ada apa-apa di sana.


Arkan tertawa lepas, senang sekali dia usil pagi-pagi begini terhadap istri kecilnya. Melihat wajahnya kesal begitu membuat Arkan semakin gemas pada Anjani. "Ishh nyebelin, tar kalau ada cowok liat aku gimana. Masa pake baju tidur sih, aneh banget."


"Memang saya izinkan mereka untuk melihat istri saya?" Tanya Arkan sensi.


"Sensi, kaya masker aja kamu Mas," ledek Anjani.


Arkan menarik pipi istrinya karena gemas. Lagian untuk apa juga dia memikirkan bagaimana cara orang memandangnya. Mau Anjani belum mandi atau hanya memakai pakaian tidur pun di mata Arkan dia selalu cantik. Jadi tidak ada masalah.


"Sakitttt ... " Anjani memajukan bibirnya, sejujurnya dia masih mengantuk. Memang sepertinya iya.


"Cup ... Cup ... Kasian bayi saya. Ya sudah kamu tidur lagi. Masih ngantuk, kan?" Tanya Arkan seraya mengusap puncak kepala Anjani.


Anjani mengangguk, benar sekali Anjani masih mengantuk. Asal kalian tau semalam Arkan mengerjainya lagi, meskipun tidak sampai melakukannya tapi tetap saja Anjani lelah.


Arkan dengan perhatian mengambil selimut di belakang jok. Setelah itu memberikannya pada Anjani. Ini masih terlalu pagi juga dan perjalanan mereka cukup panjang. Jadi dia biarkan Anjani tidur dan membantu memundurkan jok mobilnya agar nyaman.


"Aku tidur lagi, ya Mass," ucap Anjani sembari memejamkan matanya. Tubuhnya juga bergerak ke sana ke sini untuk mencari posisi paling nyaman.


"Hmmm."


"Kamu juga tidur lagi aja," gumamnya pelan.


"Nanti saya nabrak, Sayang."


"Hmmm ... "

__ADS_1


Setelah itu tidak ada lagi suara terdengar dari bibir Anjani, yang ada hanya lah dengkuran halus dan napas yang teratur. Membuat Arkan sedikit melengkungkan senyumnya.


Menurut Arkan Anjani seperti bayi yang akan uring-uringan jika tidurnya diganggu. Tapi itu ada kesenangan tersendiri untuk Arkan. Rasanya Arkan ingin mengurung Anjani 7 hari 7 malam nanti setelah sampai di sana.


__ADS_2