
Pulang sekolah Anjani dan Arkan sekarang sudah ada di meja makan untuk makan bersama dengan kedua orang tua mereka, Mario dan Viona. Anjani memang sudah 1 Minggu tidak mau bicara dengan orang tuanya, itu cukup membuat Viona takut kalau putrinya akan marah berlarut-larut.
"Gimana sekolahnya hari ini, Sayang. Lancar kan?" Tanya Viona.
Anjani hanya mengangguk sembari memakan makanan miliknya, Arkan sedikit melirik ke arah Anjani. Sepertinya dia tau kalau Anjani masih marah kepada kedua orang tuanya. Tapi tidak ingin berkomentar lebih juga, tidak enak rasanya kalau mengungkapkan di meja makan.
"Hari ini udah mulai les lagi?" Tanya Mario.
Lagi-lagi Anjani hanya mengangguk, Mario menghela napasnya. Bukannya apa-apa, selama ini mereka sudah terbiasa dengan Anjani yang blak-blakan, sekarang dia menjadi silent treatment seperti ini rasanya tidak enak perasaan.
"Oh iya, hari ini kamu akan pindah ke rumah Arkan, Sayang. Sudah siap-siap?" Tanya Viona.
Anjani menghentikan aktifitasnya lalu beranjak dan menatap ke arah kedua orang tuanya sejenak. "Kalian mau Anjani cepet-cepet keluar dari sini ya? Emang gak bisa ngomongin nanti aja? Pasti seneng kan karena anak tirinya udah gak ada di rumah ini lagi? Itu kan yang kalian mau?"
"Anjani ... " Arkan menggenggam tangan Anjani, namun Anjani menepisnya.
"Anjani maksud Mama bukan begitu," jelas Viona.
"Gak perlu dijelasin, Anjani udah tau semua jawabannya!" Anjani melenggang pergi ke atas untuk bersiap-siap. Kalau memang orang tuanya setidak mau itu Anjani di rumah, baik akan Anjani lakukan sekarang juga.
"Maaf atas sikap Anjani, Ma, Pa. Biar saya yang bicara dengan dia," ucap Arkan yang segera berlari menyusul Anjani ke kamar.
Di kamar, dengan semua emosi yang dia tahan, Anjani mengambil semua baju-bajunya di lemari dan juga beberapa koper. Moodnya benar-benar tidak bisa dikontrol, benar-benar buruk. Sudah PMS hari pertama, melihat Bagas yang mulai merokok, dihukum Arkan di sekolah dan sekarang orang tuanya seakan mengusirnya cepat-cepat dari sini.
"Kenapa sih hari ini sial banget," gerutunya.
"Makanya kalau menghadapi apapun itu jangan pakai emosi," ucap Arkan yang kini masuk ke dalam kamar.
Anjani tidak mempedulikannya, bahkan sisa kesal akibat terkena hukuman tadi pagi pun belum hilang, malah semakin bertambah saat melihat wajah Arkan yang kini ada di hadapannya.
__ADS_1
"Saya tau kamu marah dengan orang tua kamu, tapi bukan berarti kamu bisa bersikap begitu pada mereka, Anjani," ucap Arkan memberi pengertian.
Anjani mengadahkan wajahnya dan menatap Arkan. "Terima kasih ceramahnya tapi saya gak butuh."
Anjani melanjutkan packing nya, sementara Arkan kini malah berbaring di kasurnya sambil menikmati wajah marah dan kesal istrinya.
"Kamu ini pintar loh, tapi membedakan kalimat tanya dan kalimat perintah saja tidak bisa," gumam Arkan.
"Maksudnya?!"
"Mama Viona hanya bertanya, kalau kamu belum siap packing biar beliau bantu, bukan mengusir kamu dari rumah ini," jelas Arkan.
Anjani tidak membalas perkataan Arkan lagi, ya mau bagaimana pun, di posisi apapun, dia memang selalu salah, kan? Memang ada ya anak yang menurut saja ketika dijodohkan di zaman milenial seperti ini? Wajar kan Anjani marah? Bahkan semua keputusan di putuskan secara mendadak kurang dari seminggu. Apa-apaan coba?
Setelah mengemasi barang-barangnya yang cukup banyak, Anjani melirik ke arah Arkan yang sedang fokus pada layar ponselnya. "Ayok, Pak."
Arkan menyingkirkan ponselnya untuk sesaat dan menatap Anjani. "Mau kemana hm?"
Sungguh Arkan bertanya? Sudah jelas-jelas kan katanya mereka akan pindah lalu kenapa bertanya? "Katanya kita pindah ke rumah Pak Arkan, kenapa masih nanya sih, Pak?!"
Anjani mengerutkan dahinya, lalu urusannya apa? "To the point!"
Arkan mengangguk-nganggukan kepalanya, jadi gadis ini tidak suka basa-basi. Oke, akan dia tunjukan bagaimana to the point ala Arkan Altair. Perlahan Arkan duduk di tepi kasur dan menarik tangan Anjani untuk mendekat ke arahnya. Tangan Anjani dibuat mengalung sempurna di leher Arkan dan dia memeluk pinggang istrinya, membuat Anjani kaget sampai harus menahan napasnya ketika wajahnya sangat dekat dengan Arkan seperti ini.
"Bicara baik-baik sama saya, baru saya akan bawa kamu pulang ke rumah saya."
Anjani meneguk ludahnya dengan susah payah, dia harus bagaimana sekarang? Tapi sungguh, tubuhnya seolah kaku dan tidak bisa menghindari dari Arkan. Kalau dia memilih tinggal di sini akan malu harga dirinya karena menantang kedua orang tuanya tadi, ahh bagaimana? "Pak ... "
"Panggil saya Mas!"
"Aduhh, Pakk kenapa-"
__ADS_1
Arkan semakin merengkuh pinggang Anjani dan merapatkan gadis itu padanya, kalau begini Anjani yang ketar-ketir. "M-mass?"
"Hm. Kenapa, Sayang?"
Tunggu-tunggu, kenapa Anjani malah salah tingkah sih. Kenapa Arkan menyebutnya sayang seperti itu? Kenapa pria yang ada di hadapannya ini begitu meresahkan.
"Ayok." Hanya satu kata itu yang terlontar dari bibirnya.
"Ayok apa, bicara yang jelas."
"Ayok pindah ke rumah Pak-"
"Mas!" Peringat Arkan lagi, kenapa susah sekali mengajarkan Anjani untuk memanggilnya Mas, lebih sulit daripada menerangkan rumus matematika ternyata.
"Ayok kita pulang ke rumah Mas." Satu kalimat berhasil Anjani lontarkan, Arkan bisa melihat rona dari pipi Anjani sekarang. Menggemaskan sekali melihatnya.
"Pintar. Ayok, Sayang."
Arkan mencium pipi istrinya dengan lembut, setelah itu berdiri dan membantu Anjani untuk mengeluarkan koper-kopernya. Iya hanya Arkan yang bergerak karena Anjani kini mematung di tempatnya karena perlakukan aneh Arkan.
Arkan terkekeh melihat keterkejutan istrinya, dia tidak peduli kalau Anjani marah, toh mereka sudah sah. Jadi wajar saja jika Arkan ingin memperlakukan dan diperlakukan manis oleh sang istri. Tapi di sisi lain Anjani belum terbiasa, bahkan dia tidak mau membiasakannya. Aneh sekali rasanya romantis-romantisan dengan orang lain sementara hatinya tidak pada pria itu.
Untuk sejenak Anjani mengerjapkan matanya, seperti orang linglung kini dia mengikuti Arkan saja membawa koper-koper miliknya. Apalagi Anjani sampai membawa sepuluh koper, bayangkan saja. Untung koper miliknya masih tertata rapi di gudang. Kan berguna juga.
Setelah selesai memasukan koper-koper Anjani, kini mereka berdua berpamitan. Meskipun wajah Anjani masih masam tapi Mario sudah membuat tenang istrinya kok, dia juga memang harus memberi ruang untuk Anjani. Pasti sulit sekali harus menerima perjodohan ini, jadi dia tidak tersinggung atas putrinya.
Meskipun begitu, sebagai suami Arkan merasa tidak enak. Tapi memang sepertinya Anjani butuh waktu dan menikmati amarahnya. Mungkin akan lebih baik daripada dia diam sendiri dan pada akhirnya terjadi hal yang tidak buruk.
Perlahan tapi pasti, Arkan akan berusaha semaksimal mungkin membuat keadaan ini membaik. Tapi sebelum itu dia juga harus berhasil mendapatkan hati Anjani agar semuanya berjalan lancar ke depannya.
Sebelum melajukan mobilnya, Arkan menatap ke arah Anjani. "Benar tidak mau memeluk Mama dan Papa?"
__ADS_1
Anjani mengedikkan bahunya pertanda kalau dia tidak mau. Arkan menghela napas, setelah itu dia mengangguk-nganggukan kepalanya dan melajukan mobil untuk keluar dari kediaman Mario dan Viona.
Anjani mengehela napasnya lega. Ya ada baiknya juga dia keluar dari rumah dan jauh dari orang tuanya, setidaknya pikirannya bisa tenang dari emosi dan perasaan kesal setiap kali melihat wajah orang tuanya. Meskipun dia juga tidak tau apakah mertuanya ini baik atau seperti di film-film azab.