I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Nanda dan Masalahnya


__ADS_3


Seperti yang sudah disepakati kalau pulang sekolah mereka akan ke rumah Nanda. Anjani tentu bersama Arkan akan datang paling telat karena seperti biasa harus main kucing-kucingnya dulu.


Jadi setelah sekian lama akhirnya mereka sudah ada di mobil. "Aku gak mau makan sushi, aku mau minta anterin ke rumah Nanda."


"Nanda kenapa?" Tanya Arkan.


Anjani menggeleng. "Gak tau tapi gak ada kabar dan aku khawatir, apalagi dia tinggalnya sendiri. Boleh gak, Mas? Tapi kalau gak boleh biar aku sendiri aja naik online."


"Biar saya antar," ucap Arkan. Ya karena dia akan lebih merasa tenang kalau Anjani bersamanya. Jadi biar saja dia yang mengantar.


Setelah mengetahui lokasi yang dituju, Arkan pun melakukan mobilnya untuk segera menuju rumah Nanda. Anjani bersyukur sih karena Arkan mau mengantarnya, ya berarti dia peduli pada Anjani sampai mau mengantar Anjani ke rumah temannya.


"Kamu terlihat cemas sekali," ucap Arkan.


"Ya cemas lah, Mas. Nanda temen aku, dia tinggal sendiri sekarang dan dia gak ada kabar. Kalau sakit gimana?"


"Tidak mengabari sama sekali?"


Anjani mengangguk, Nanda hari ini seperti hilang ditelan bumi dan dia khawatir karena itu. Kalau sudah begini pasti terjadi sesuatu dan Anjani takut sekali.


"Ya sudah, jangan dibawa pikiran dulu. Dia pasti baik-baik saja."


Anjani mengangguk, lebih tepatnya banyak sekali yang dia pikirkan sekarang. Bagaimana kalau Nanda pingsan dan karena tidak ada orang, jadi tidak ada yang menolong? Bagaimana kalau dia sakit keras dan tidak berani ke rumah sakit?


Ekonomi Nanda memang sedikit lebih baik dari sebelumnya, tapi tetap saja banyak yang Anjani pikirkan dalam benaknya. Dia tidak tau apa yang terjadi pada Nanda di sana, apa yang sedang dia lewati, karena memang terkadang dia se-tertutup itu menurut Anjani.


Tak selang beberapa lama, akhirnya mereka sampai di depan rumah Nanda, pintunya terbuka karena memang yang lain sudah di sana. Namun saat Anjani masuk mereka semua nampak termenung dengan Nanda yang kondisinya tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Anjani tidak tau apa yang membuat mereka bungkam, tapi perasaannya tidak enak sekali sekarang. Dia memiliki banyak teka-teki di kepalanya tentang apa yang terjadi sebenarnya.


Iya dia sangat berantakan dan matanya sembah seperti telah menangis seharian. Anjani yang melihat itu langsung menghampiri sahabatnya dan Arkan ikut masuk untuk duduk di sofa.


"Nan, are you okay?" Tanya Anjani yang kini duduk berlutut di hadapan sofa yang Nanda duduki.


Nanda menggeleng, air matanya mengalir lebih deras dari sebelumnya dan dia langsung memeluk Anjani dengan erat. Membuat Anjani kebingungan, tapi dia balas seraya mengusap punggung sahabatnya.


Untuk beberapa saat dia membiarkan Nanda tenang, karena yang paling terpenting adalah Nanda tenang dulu, urusan masalah apa itu nomor ke sekian.


Setelah Nanda tenang dia malah memberikan amplop rumah sakit pada Anjani. Ragu sebenarnya, karena pikiran Anjani sudah kemana-mana, takut kalau Nanda terkena penyakit berat.


"Kamu sakit? Kenapa gak cerita, kenapa–"


Anjani terkejut ketika melihat hasil diagnosis Nanda di sana. "Hamil? Nan–"


"Iya aku hamil, aku hamil dan aku gak tau harus gimana sekarang. Aku berusaha biasa aja waktu pertama kali tau, aku berusaha nyembunyiin ini semua tapi aku gak kuat, aku udah beberapa kali coba gugurin ini tapi gak bisa. Aku mau dia ma-"


Lagi dan lagi Nanda hanya bisa menangis. "Aku gak tau. Aku gak tau siapa ayahnya."


Mendengar itu ingatan Anjani kembali memutar pada waktu acara reuni suaminya. "Nan jangan bilang kamu ... "


"Iya, yang dipikiran kamu itu bener. Aku ngelakuin itu karena aku butuh bertahan hidup, aku gak punya apa-apa lagi, Jan."


"Tapi bukan kaya gini caranya, Nan! Kamu sahabat aku, kamu punya aku, Della, Azzam sama Rafi dan kamu ... Nan kenapa sih harus mendem semuanya kaya gini?!"


"Jan ... " Peringat Della.


"Diem, Dell. Nanda perlu tau kalau kita ini temennya! Kenapa dia harus ngelakuin hal kaya gini, padahal kalau dia minta cariin pekerjaan mungkin aku bisa minta tolong sama Pak Arkan atau kalau dia butuh sesuatu mungkin kita bisa bantu."

__ADS_1


Nanda hanya terdiam dengan tangisannya, dia tidak marah pada Anjani karena dia tau Anjani pasti kecewa sekali padanya, dia tau kalau dia bersalah di sini.


"Kamu mikirin masa depan kamu gak sih, Nan? Anak kamu ini nanti akan semakin besar, sebentar lagi kamu ujian, kalau sampai sekolah tau gimana? Kamu mikirin konsekuensinya gak?"


"Aku butuh uang dan aku gak mungkin mengandalkan kalian terus, Anjani."


"Kenapa engga? Aku tau semua orang punya ego untuk mempertahankan hidupnya masing-masing tapi gak dengan cara gini, kalau kamu gak enak kamu bisa minta bantu aku buat cariin kamu kerjaan yang sekiranya mampu kamu jalani!"


Pada akhirnya kalau dalam kondisi seperti ini Anjani lah yang akan paling marah, dia bukan tipe teman yang akan selalu mendukung setiap perbuatan sahabatnya, tapi dia cenderung orang yang kalau sahabatnya melakukan kesalahan pasti dia tegur.


Azzam menghela napasnya. "Nan masa depan kamu masih panjang, tapi ini udah terjadi. Sekarang kamu mau kaya gimana?"


"Iya itu intinya, kamu juga harus bilang sama orang tua kamu. Kamu gak bisa hanya diam aja," timpal Rafi.


Nanda menggeleng, dia tidak masuk hari ini karena dia tidak tau bagaimana harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Apalagi bicara kepada kedua orang tuanya. Dia buntu, jalan satu-satunya adalah mengugurkan kandungannya.


Arkan menghela napasnya, begini yang dia takutkan pada remaja sekarang hingga tak ragu menikahi Anjani. Ya karena dia tidak mau gadis kecilnya terjebak dalam kondisi seperti ini.


"Saya bisa bantu untuk menyembunyikan semua ini sampai beberapa bulan ke depan, tapi namanya kehamilan pasti akan terlihat dan ketika pihak sekolah tau, saya tidak bisa berbuat apa-apa meskipun sekolah milik keluarga Alaric."


Bukan tidak ingin berbuat lebih sebenarnya, tapi ini masalah peraturan. Mau tidak mau dan suka tidak suka semuanya harus kembali ke sana. Apalagi ini bukan perkara main-main. Sekolah pasti memilih jalan tegas karena kalau berita tersebar sudah pasti akan memiliki citra buruk kalau tidak ditindak tegas.


"Tapi Nanda belum lulus, Mas! Kamu tau ini penting buat masa depan Nanda. Aku bilang sama papa, boleh?"


"Ini peraturan sekolah, Sayang. Saya tidak bisa berbuat banyak selain diam selama beberapa bulan ke depan ini, sekarang tergantung bagaimana cara Nanda menyembunyikan kehamilannya. Papa itu tegas, dia justru malah akan mengeluarkan Nanda di detik kamu bilang."


Anjani menghela napasnya, posisi yang sulit memang, tapi mereka malah lebih kaget karena Arkan memanggil Anjani dengan sebutan sayang, jadi kagetnya dia kali lipat. Ya seorang Arkan yang vibes-nya cool terlihat sangat bucin ternyata kalau dihadapkan oleh cinta.


Kembali ke masalah Nanda, Anjani kini malah berkutat dengan pikirannya sekarang, kalau untuk beberapa bulan masih aman, tapi kedepannya bagaimana? Masa depan Nanda lah yang akan terancam. Arkan benar, sekolahnya memang miliknya tapi tindakan seperti ini pasti tidak ada pembenaran untuk itu.

__ADS_1


Della menghampiri Anjani dan juga Nanda. Dia menggenggam kedua tangan sahabatnya. "Aku tau ini sulit, tapi kita hadapin sama-sama ya? Resikonya ada, pasti ada. Tapi semuanya udah kejadian, anak kamu ini butuh hidup, Nan. Meskipun kamu gak pingin tapi dia ada, dia berdetak dan punya nyawa. Jadi jangan berpikir untuk menjadi pembunuh."


Ya memang kalau soal begini terkadang Della yang lebih bisa memahami. Untuk sekarang, mereka sudah tau. Jadi daripada terus disesali lebih baik mereka berpikir, jalan apa yang harus mereka ambil kedepannya.


__ADS_2