I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Tendangan Pertama


__ADS_3


Tidak terasa kehamilan Anjani sudah memasuki bulan kelima. Setelah selesai mandi Anjani duduk di ranjang sembari menunggu Arkan keluar dari kamar mandi.


"Sayang kamu lagi apa di dalam?" Tanya Anjani seraya mengusap perutnya.


"Oh kamu lagi minum susu ya, soalnya mama sekarang lagi minum susu," lanjut Anjani terkekeh dan menghabiskan susu yang sudah Arkan buatkan.


Iya rutinitas pagi Arkan setiap pagi dan malam hari adalah membuatkan susu hamil untuk Anjani. Meskipun para pelayan menawarkan diri tapi Arkan tidak mau, dia maunya langsung membuatnya sendiri untuk Anjani. Lagi pula membuat susu itu tidak sulit.


Tak selang beberapa lama Arkan pun keluar dari kamar mandi dan mengusap rambutnya dengan handuk karena basah. "Sudah habis?"


Anjani mengangguk dan menunjukkan gelasnya di atas meja, membuat Arkan tersenyum lalu menaiki kasur. Untuk apalagi kalau bukan menciumi anaknya di dalam perut. "Anak ayah sudah kenyang?"


"Udah, Ayah. Tapi bayi mau makan ramen," ucap Anjani.


Arkan terkekeh, ada-ada saja memang maunya Anjani. "Ya sudah, pulang dari dokter kandungan bagaiman kalau kita makan ramen?"


"Mauuu!!"


Arkan tertawa lalu dia duduk dan menarik Anjani ke dalam pangkuannya. "Ini bayi yang mau atau mamanya yang mau hm?" Tanya Arkan yang kini menarik pipi istrinya gemas.


"Mamanya." Anjani mengeluarkan cengiran khasnya, membuat Arkan gemas saja.


"Ya sudah nanti kita makan ramen, tapi ada syaratnya," balas Arkan.


"Apa?"


Arkan menarik handuk yang ada di lehernya lalu memberikannya pada Anjani, setelah itu dia membantu tangan Anjani untuk mengusap rambutnya yang masih basah. "Lakukan ini untuk saya, Sayang."


Nahkan selain bayi dan mamanya, kini juga ayahnya ikut manja. Tapi Anjani tersenyum saja sih, karena dia suka melakukannya. Dengan lembut Anjani mengusap rambut Arkan dengan handuk. Sementara Arkan menekuk lututnya agar Anjani bersandar dengan nyaman dan menenggelamkan wajahnya di perut istrinya.


Posisi yang paling nyaman ya begini, Arkan merasa di sayang kalau sedang mode manja begini. "Mas kamu mau anaknya perempuan atau laki-laki?"


"Perempuan."


"Aku kira kamu mau jawab, mau apapun gendernya kamu terima. Kaya di novel-novel," balas Anjani.

__ADS_1


Arkan mengangkat wajahnya dan menangkup pipi Anjani. Ada saja memang pemikirannya ini. Arkan ya kalau ditanya dia akan menjawab sesuai apa yang dia pikirkan. Dengan lembut Arkan mengecupi setiap jengkal wajah Anjani.


"Mas ihh aku–"


Arkan terus mengecupinya sampai Anjani tidak bisa berkata-kata dan tertawa mendapatkan perlakuan seperti itu. Terakhir Arkan mengecup bibir Anjani singkat dan menatap matanya. "Saya mau anak perempuan bukan berarti kalau anak kita laki-laki saya tidak menginginkannya, bukan?"


"Jadi kalau laki-laki juga tetep sayang?" Tanya Anjani.


Arkan mengangguk, tentu. Apapun itu dia pasti akan sangat menyayangi anaknya. Apalagi dia memang ingin mempunyai anak, tidak mungkin juga mengabaikannya hanya karena gendernya tidak sesuai. "Memang kamu ingin anak laki-laki?"


"Apa aja, kalau perempuan harus mirip aku, kalau laki-laki harus mirip kamu. Tapi hidungnya harus mirip kamu, soalnya aku suka hidung kamu," kata Anjani seraya mengusap ujung hidung Arkan dengan jari telunjuknya.


"Kenapa?"


"Soalnya lebih mancung dari punyaku. Memperbaiki keturunan hahahaha."


Melihat itu Arkan ikut tertawa. Padahal hidung Anjani juga mancung, ya hanya saja lebih mungil. Tapi kalau anaknya nanti mirip Anjani juga pasti akan cantik dan tampan. "Pasti mirip kita, kita yang buat berdua."


"Dih kapan buatnya?" Goda Anjani.


"Dasar mesum!"


"Biar saja, kalau saya tidak mesum anak saya tidak akan ada. Pasti dia saat ini bangga karena kemesuman ayahnya, dia ada di dunia."


Anjani menahan tawanya, ada-ada saja memang kelakuan Arkan yang bikin geleng-geleng kepala. Tapi benar juga sih, secara dia saja awalnya tidak tau cara membuat anak.


.


.


.


Anjani yang sedang bersiap-siap untuk periksa kandungan bersama Arkan, kini malah menatap dirinya sendiri dengan perut yang sudah membuncit. Yaampun perut kecilnya ternyata bisa menampung anak. Kok bisa ya? Ini bisa dilepas dulu tidak sih?


Sesekali dia tertawa, ya karena lucu saja. Badannya yang kurus ini sekarang jadi lebih berisi belum lagi perutnya yang sudah terlihat membesar seperti balon. Dia berpikir apa kalau dia tusuk pakai jarum akan meledak ya?


Random sekali memang pikirannya, tapi memang dia yang hamil besar begini lucu juga. Arkan yang baru masuk ke kamar terkekeh melihat Anjani yang sedang berlenggak lenggok di depan kaca.

__ADS_1


"Sedang apa?" Tanya Arkan seraya menghampiri istrinya itu.


Anjani tertawa sedikit lalu menggelengkan kepalanya. "Engga, lucu aja liat perut aku gendut. Kamu malu gak aku jadi gendut kaya gini?"


Mendengar itu Arkan malah tersenyum lalu memeluk istrinya dari belakang. Mengusap perutnya yang semakin membesar ini rasanya menjadi rutinitas setiap hari untuk Arkan. "Tidak, karena kamu mengandung anak saya, bukan gendut."


"Bayinya udah besar, nanti aku bisa gak ya lahirinnya?" Gumam Anjani.


"Tentu bisa."


"Tapi takut," ucap Anjani.


Ya dia tau kalau melahirkan itu sakit, dia saja sering ngilu kalau membayangkan sakitnya melahirkan. Belum lagi akhir-akhir ini dia sering menonton video ibu melahirkan dan itu membuatnya sedikit bergidik ngeri.


"Kenapa takut? Saya kan nanti akan selalu di samping kamu," kata Arkan seraya menciumi pipi Anjani dengan sayang.


"Iyakah?" Tanya Anjani lagi.


Arkan mengangguk, ini anak pertama mereka. Tidak bahkan rasanya mau anak ke berapa pun Arkan selalu mau kalau dia menemani Anjani melahirkan. Dia mau menjadi orang pertama yang mendekat tubuh anaknya dan melakukan skin to skin. "Jangan dipikirkan, kalau kamu bayangkan tentu kamu akan parno, sesuatu itu harus dirasakan sendiri. Kadar sakitnya seseorang berbeda-beda. Yang terpenting kamu harus tau kalau saya akan selalu di samping kamu."


Anjani tersenyum mendengar perkataan suaminya. Setidaknya dia sedikit lega meskipun tetap saja dia kepikiran. Tapi Arkan benar, kalau dia stress sekarang yang ada dia parno, stress dan akhirnya berakibat pada anaknya di dalam sana.


Melihat itu Arkan menghadapkan Anjani padanya lalu berlutut dan menciumi perut Anjani. "Nanti ayah yang akan gendong kamu pertama kali, Sayang. Cari posisi terbaik ya biar Mama tidak kesakitan. Setelah kamu lahir, nanti kita bisa tidur bertiga."


"Aww–" Anjani sedikit meringis saat merasakan ada sebuah tendangan kecil di dalam perutnya. Tendangan yang bisa dirasakan dan dilihat oleh Arkan.


Membuat mereka berdua sama-sama terdiam untuk sejenak. "Sayang, anak kita menendang."


Anjani masih terdiam namun perasaannya mendadak jadi senang sekali. Ini tendangan pertama anak mereka dan berhasil menyentuh kedua orang tuanya. "Mass anak kita udah bisa nendang."


Arkan mengangguk senang dan kembali menciumi perut Anjani. Ternyata begini ya rasanya menjadi orang tua, melihat pertumbuhan anak mereka sekecil apapun membuat mereka sangat bahagia. "Kamu merespon ucapan ayah ya, Nak? Iya jadi anak ya baik ya, Nak. Ayah mencintaimu."


Perasaan Anjani menghangat dengan lembut Anjani mengusap rambut suaminya yang masih betah mengajak anaknya bicara. Bagaimana Anjani tidak gemas coba? Arkan selalu begini setiap hari.


"Jadi sudah siap?" Tanya Arkan, mereka janji akan datang ke dokter pukul 10 tepat dan sekarang sudah jam 9.


Anjani mengangguk, setelah itu dia mencium bibir Arkan lalu mengajaknya untuk pergi ke dokter kandungan. Anjani tidak sabar ingin melihat anaknya lagi, pasalnya dokter mengatakan kalau sekarang mereka bisa tau jenis kelamin anaknya.

__ADS_1


__ADS_2