I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Sebuah Rahasia Besar


__ADS_3


Anjani tidak fokus saat pelajaran terakhir. Dia kepikiran Bagas yang tadi saat istirahat berlari karena buru-buru pulang. Tapi sebenarnya bukan itu intinya, tapi apa yang membuatnya harus buru-buru pulang? Kalau terjadi sesuatu dengan orang tuanya, bukankah dia juga sudah menjadi keluarga ya? Tentu Anjani khawatir.


Sampai saat di rumah pun dia masih kepikiran soal itu. Namun ya sudah lah, mungkin kalau ada kabar juga pasti akan sampai ke telinganya. Karena pasti kan mereka juga berkabar dengan mertua dan suaminya?


Anjani masuk ke dalam rumah, baru saja dia menyimpan tas dan bersalaman dengan mama mertuanya, tiba-tiba Vanya datang dengan terburu-buru. Iya Ibunya Bagas, sudah dia bilang pasti akan ada kabar dari keluarga mereka ke sini. Vanya langsung memeluk Hera dengan wajah terharu. Entah itu terharu, sedih atau apa. Anjani tidak bisa menebaknya.


"Loh, Nya? Ada apa?" Tanya Hera panik.


"Andira, Mba. Andira sadar, dia sudah sadar dari komanya," ucap Vanya dengan sorot mata yang berbinar.


"Yang benar kamu, Nya? Alhamdulillah, kalau begitu tunggu apa lagi? Ayok kita ke rumah sakit!' Ajak Hera.


Vanya mengangguk antusias, dia langsung keluar untuk menyiapkan mobil, sementara Hera ke kamarnya untuk mengambil tas. Anjani tidak  berani bicara, dia nampak bingung dengan apa yang terjadi. "Andira? Siapa Andira?"


Tak selang beberapa lama Hera keluar dari kamarnya. Dia langsung menghampiri Anjani, saking senangnya dia jadi melupakan menantunya ini. "Sayang, Mama mau ke rumah sakit. Kamu mau ikut atau di rumah saja?"


"Aku mau ikut, Ma. Tapi Andira itu siapa?" Tanya Anjani.


"Adiknya Gio, ayok ikut saja. Nanti juga Mama akan menghubungi Gio. Ayok, Sayang. Tante Vanya sudah menunggu di luar."


Tanpa bertanya lagi Anjani segera mengikuti Ibu mertuanya dan masuk ke dalam mobil. Sebenarnya ini ada apa? Iya sekarang dia tau kalau Andira Andira itu adalah adiknya Arkan. Tapi bukankah Arkan anak tunggal dari keluarga Altair? Sebenarnya ada rahasia apa di balik keluarga ini? Anjani benar-benar bingung. Tapi ya dia ikut saja lah sekalian menuntaskan rasa penasarannya juga tentang Andira.

__ADS_1


Tak selang beberapa lama, mereka pun sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruangan VVIP di lantai 8 rumah sakit ini. Anjani memutuskan untuk diam dan mengekori Tante dan Ibu mertuanya ini, sampai saat di depan pintu kamar Andira, mereka semua memilih untuk tidak masuk ke sana karena melihat Bagas yang nampak sedang menghabiskan waktu dengan Andira, dia bahkan memeluk Andira erat dan tidak menyadari kehadiran mereka. memang cukup jauh juga sih pintu ini dari brankar. Sepertinya memang Andira ini kesayangan keluarga ini.


Mata Anjani terus menatap ke arah Bagas dan Andira yang masih berpelukan. Sampai akhirnya suara Hera membuat Anjani menoleh. "Bagas pasti sangat merindukan Andira."


"Bagas dan Andira sangat dekat ya, Ma?" Tanya Anjani, melihat dari pelukan Bagas kepada gadis itu, terlihat jelas kalau Bagas sangat menyayangi Andira. Dia tau semua tentang Bagas, termasuk gestur dan mimik wajahnya.


"Tentu, Sayang. Mereka sudah bertunangan sejak masih SMP. Sudah pasti dekat dan saling merindukan."


"Tunangan?"


"Iya, Sayang. Gio, Bagas dan Andira itu teman kecil. Karena Gio lebih dewasa dari mereka, jadi Gio sudah menganggap Andira seperti adiknya. Seiring berjalannya waktu, karena Bagas dan Andira sering bersama-sama timbul lah rasa di antara keduanya. Karena orang tua Andira juga dekat dengan kami, akhirnya Tante Vanya dan suaminya memutuskan untuk mengikat mereka dalam pertunangan."


"Benar yang dikatakan Mama mertua kamu, Anjani. Tapi sayang, sewaktu kelulusan Andira mengalami sebuah kecelakaan dan mengakibatkannya harus koma dan terbaring di rumah sakit. Bagas dengan setia menjaganya setiap ada kesempatan. Tiga sampai empat kali dalam seminggu pasti dia akan datang ke sini untuk menemui Andira, berharap kalau Andira cepat sadar."


Anjani menarik napas panjang, sebentar dia harus mencerna ini bagaimana? Bagas bertunangan dengan Andira sejak SMP lalu dirinya ini? Mengingat ini rumah sakit dan mengingat tidak ada satu orang pun yang mengetahui hubungannya dengan Bagas, Anjani memilih diam dan menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Dia pikir, dialah penjahat dalam hubungannya dengan Bagas, ternyata di sini Bagas pelaku utama kejahatannya.


Bagas melirik ke arah pintu, matanya bertemu dengan Anjani. Bagas terlihat sangat panik, belum lagi kini Anjani menatapnya dengan tatapan kecewa. Meskipun dia tidak menangis, tapi Bagas bersama Anjani cukup lama, dia tau apa-apa saja dan bagaimana semua ekspresi Anjani. Bagas tertunduk, demi apapun dia tidak berani menatap Anjani sekarang. Dia tidak akan menduga kalau Anjani harus tau dengan cara seperti ini.


Mereka semua masuk ke dalam, begitu juga Anjani. Seperti sebuah keluarga pada umumnya Vanya dan Hera langsung bergantian memeluk Andira, Gadis itu juga nampak senang karena orang-orang yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya juga hadir saat dia membuka mata. Rasanya dia seperti putri tidur yang puluhan tahun tertidur dan pada saat terbangun banyak orang yang menyambutnya dengan kerinduan. Bahagia sekali menjadi Andira, pikir Anjani.


Bagas kini menatap Anjani yang masih terdiam, dia tau Anjani butuh penjelasan. Kalau dia marah karena perjodohan Anjani dengan Arkan apalagi Anjani. Bagas sadar kalau selama ini dia berbohong pada Anjani. Tapi kalau soal perasaan Bagas tidak berbohong kok, dia memang mencintai Anjani. Anjani megepalkan tangannya, kenapa dia mendadak benci dengan pria yang ada di hadapannya ini.


Sebuah suara sepatu yang masuk dengan terburu-buru mengistruksi semua penghuni kamar ini untuk menatap ke arah pintu. Iya itu Arkan, tidak di pungkiri kalau Arkan juga turut senang atas sadarnya Andira. Tapi bukan itu yang membawanya ke sini sampai harus berlari. Anjani, dia langsung memikirkan Anjani saat Ibunya mengatakan kalu Anjani ikut bersma mereka.

__ADS_1


Anjani menatap sendu ke arah Arkan, Arkan yang mengerti menganggukan kepala sedikit berharap kalau Anjani bisa menahan perasaanya sebentar saja. Arkan pasti akan membawanya pergi dari sini. Perlahan dia menghampiri Anjani untuk menggenggam tangannya dan mengusap punggung tangan gadis itu dengan Ibu jarinya. Jujur saja itu sedikit membuat perasaanya terobati meskipun rasa sakitnya mendominasi.


"Kak Gio," panggil Andira yang kini menatap ke arah Arkan.


Arkan tersenyum mendengarnya. Tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Anjani, kini dia langsung menghampiri Andira dengan membawa serta Anjani di sampingnya. Andira yang sangat merindukan kakaknya kini memeluk Arkan, dengan terpaksa Anjani sendiri yang melepaskan genggaman itu dari tangan Arkan. Ya dia tidak boleh egois. Mereka juga pasti butuh space sebagai kakak dan adik


"Are you okay? Bagaimana keadaan kamu sekarang, Dir?" Tanya Arkan saat Andira melepaskan pelukannya. Dia juga kembali mengganggam tangan Anjani.


Andira mengangguk senang. "I'm oke, Captain!"


Namun mata Andira kini tertuju pada gadis cantik yang masih menggunakan seragam SMA-nya. Ini dia yang pelupa atau memang gadis ini adalah orang baru di tengah-tengah mereka. Andira tidak tahu. "Ini siapa?"


"Dia istri kakak, namanya Anjani. Kalian seumuran," jelas Arkan sembari memperkenalkan istri kecilnya pada Andira.


Anjani dan Andira saling tersenyum. Tapi Andira sedikit kaget sih mengetahui hal ini. Karena ya Arkan kan se-flat itu ya? Dia bertanya-tanya, berapa banyak kejutan lagi saat dia bangun? Moment apa saja yang sudah dia lewatkan sampai dia tidak mengetahui dan datang ke pernikahan kakaknya. Tapi Andira sangat senang kok, jadi dia juga ada teman kan nanti? Iya menurut Andira, tapi tidak dengan Anjani yang kini masih berusaha mencerna semuanya.


"Seneng bisa kenal kamu, nanti kita cerita banyak hal ya kalau aku pulang dari rumah sakit!" Ajak Andira pada Anjani.


"Iya boleh," jawab Anjani seadanya dan berusaha bersikap biasa saja di tengah sakit hati yang sedang menyerangnya.


Bagas yang memang merasa ada dosa terdiam di belakang. Dia tidak tau harus berbuat apa, dulu ceritanya sudah dia susun sebaik mungkin, tapi Anjani menikah dengan Arkan yang membuatnya juga dekat dengan Andira. Sekarang dia bingung harus bagaimana.


Hai-hai, gimana kabarnya? Ada komentar atau kritik? Yuk tap tap di komentar.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya biar aku semangat update. Mau berupa vote, komen, like, follow, tambahkan ke fav atau rate cerita ini sok sok mangga. See u in the next chapter!


__ADS_2