
Hari ini ada ulangan mendadak di kelas 12 IPA 1, siapa lagi pelakunya kalau bukan Arkan. Anjani tidak kaget sih, karena memang Arkan semalam juga bilang kalau dia akan mengadakan ulangan. Sambil mengawas di mejanya, sesekali Arkan melirik kepada istri kecilnya yang memang duduk berhadapan dengan meja guru.
Dia nampak masih terlihat murung, sebenarnya semalam Arkan menawarkan kisi-kisi tapi Anjani menolaknya. Tidak fair juga kalau dia mendapatkan kisi-kisi hanya karena suaminya seorang guru. Tapi Arkan yakin kok kalau Anjani bisa mengerjakannya. Meskipun bodoh soal cinta, tapi otaknya bisa mencerna lebih mudah kalau soal pelajaran, memang berbeda sekali Anjani ini.
Anjani mengumpulkan kertas ulangannya ke depan, mata mereka bertemu. Tapi tidak lama, setelahnya Anjani kembali ke mejanya untuk merapikan alat tulis yang masih berserakan. Karena memang waktu istirahat sudah dekat, yang sudah selesai boleh keluar untuk langsung beristirahat. Jadilah Anjani keluar kelas dan menuju rooftop sekolah.
Tukang Es 🌨️ : Ambil makanan di ruangan saya, kamu harus makan.
Tanpa membalas Anjani memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Dia hanya ingin menyendiri di sini, menikmati cuaca yang bersahabat karena di sini juga teduh. Tak selang beberapa lama Nanda dan Della yang sudah tau Anjani ada di sini langsung menghampirinya.
"Nih, makan. Dari paksu," ucap Della mengulurkan sebuah paper bag. Ahh dia lupa kalau suaminya ini pemaksa, padahal dia sedang malas makan. Tapi ya dia juga tidak bisa menolak, kalau menolak akan ketahuan jika nanti maghnya kambuh.
Dengan terpaksa Anjani menerimanya dan memakan pemberian Arkan. Sambil memakan telur gulung, Della dan Nanda menatap ke arah Anjani yang nampak murung sejak pagi.
"Kamu ada masalah sama Pak Arkan, Jan?" Tanya Nanda.
"Sama Bagas," jawab Anjani dengan gamblang.
"Loh, Bagas kenapa lagi? Dia pasti gagal move on dan mau balikan terus ya? Pasti sulit sih secara-"
"Secara aku selingkuhannya," lanjut Anjani yang membuat kedua nya terbelalak kaget. Bukan, mereka ini tidak salah dengar kan?
Anjani menatap mereka yang kini menatapnya seolah meminta penjelasan, dia tidak menutup diri dan menceritakan semua yang sudah terjadi. Dari awal pertemuannya dengan Andira sampai dengan perasaannya sekarang.
"Sumpah! Gak terima sih aku, bisa-bisanya loh dia kaya gitu sama Anjani? Manipulative banget jadi cowok, emang dia pikir dia siapa bisa mainin cewek sesukanya. Liat aja si Bagas, gak peduli deh soal pertemanan. Ini gak bener!" Ucap Della kesal. Ya siapa yang tidak kesal kalau mendapati sahabatnya disakiti, apalagi kebohongannya dari awal mereka pacaran loh.
__ADS_1
"Eh asli, Jan kalau aku jadi kamu udah tampar si Bagas detik itu juga. Kalau begini udah bagus kamu menikah sama Pak Arkan," timpal Nanda.
Anjani terdiam, tidak tau juga harus menimpali bagaimana. Akhir-akhir ini kalau sedang marah dia lebih suka diam, dia juga entah kenapa setuju dengan perkataan Nanda. Ada bagusnya juga dia menikah dengan Arkan. Coba kalau mereka tidak menikah, apa kebohongan Bagas akan terungkap? Mungkin bisa saja dia akan lebih sakit kalau mengetahuinya di masa depan.
.
.
.
Pulang sekolah Anjani dan yang lainnya menunggu semuanya lebih dulu keluar, karena mereka mendapati Bagas yang ada di depan kelas Anjani. Sebenarnya kalau boleh jujur, Anjani tidak mau bertemu dengan Bagas, tapi dia juga butuh penjelasan soal ini.
Saat Bagas akan meraih tangan Anjani, Della menepisnya. Mau apa lagi coba bajingan ini menemui Anjani. "Kamu mau apain lagi temenku sih, Gas? Gak cukup sama rasa sakit yang kamu kasih ke Anjani?!"
"Dell, biarkan aku bicara dulu sama Anjani," pinta Bagas dengan lirih.
"Enak aja bicara-bicara, kamu punya waktu selama 2 tahun dan sekarang baru mau bicara sama Anjani soal ini? Nyesel ya aku pernah anggap kamu gentleman!" Kesal Nanda.
Anjani menghela napas, malas juga sebenarnya. Anjani menginstruksikan teman-temannya untuk pulang lebih dulu. Setelah itu dia menatap lamat ke arah Bagas. "Kita bicara di rooftop."
Anjani berjalan lebih dulu, namun Bagas berusaha menggapai tangannya. Anjani berbalik dan menghentakkan tangannya dengan kuat. "Jangan pegang aku!"
Bagas menghela napasnya, dia tidak pernah melihat Anjani yang seperti ini. Yang sulit digapai olehnya, ada perasaan yang menyiksa ketika Anjani memperlakukannya seperti ini. Anjani dan Bagas berjalan menaiki tangga, tanpa mereka sadari kalau sedari tadi Arkan memperhatikan mereka. Tapi Arkan mencoba memahami posisinya kok, Anjani memang perlu menyelesaikan masalah ini dengan Bagas.
Tak selang beberapa lama, mereka berdua sampai di rooftop. Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Anjani memposisikan dirinya di menghadap ke arah tembok sembari melihat pemandangan sekolah dari atas sini.
"Aku mencintai kamu, Anjani. Aku gak pernah bohong soal itu," ucap Bagas.
__ADS_1
Anjani tertawa sinis lalu menghadapkan dirinya pada Bagas. "Mencintai katanya? Kamu jadiin aku pelampiasan rasa sepi kamu karena Andira koma masih bisa kamu bilang kalu kamu cinta sama aku?!"
"Rasa cintanya beda, Anjani. Aku sama Andira punya perasaan karena kami bersama sejak lama, tapi perasaan aku sama kamu layaknya dua orang yang saling bertemu lalu jatuh cinta. Aku jatuh cinta sama kamu sebagai wanita dalam hidup aku."
"Bohong! Aku kenal kamu Bagas dan tatapan kamu ke Andira itu sama kaya waktu kamu natap aku. Kamu boleh terus bohong sama aku, tapi kamu gak bisa bohong sama perasaan kamu sendiri! Aku bisa liat semuanya! Stop jadi seorang bermulut manis di hadapan aku yang udah gak punya kepercayaan apapun lagi sama kamu!"
"Oke, oke aku minta maaf Anjani. Kamu gak salah, kamu emang bener. Aku juga mencintai Andira, kami bertunangan sejak lama. Tapi dia koma selama bertahun-tahun sampai aku bertemu kamu. Aku nyaman sama kamu, aku gak bisa melepaskan kamu tapi aku juga gak bisa melepaskan Andira."
"Jadi aku cuma pelampiasan, kan?"
"Engga, Jan. Aku mencintai kamu dan aku benar-benar melakukannya walaupun-"
"Walaupun kamu bohongin aku berkali-kali selama kita pacaran karena untuk menjaga Andira dan kamu penipu. Kamu jahat!"
Bagas sakit mendengar makian Anjani, dengan cepat dia menarik gadis itu dan membawa Anjani ke dalam pelukannya. Anjani menolak, dia yang bahkan sudah menangis kini tidak butuh pelukan dari Bagas lagi. Rasanya sesak sekali namun Bagas malah mengeratkan pelukannya pada gadis itu.
"Kamu jahat banget! Aku cinta sama kamu setulus itu tapi kamu cuma anggap aku opsi kedua di hidup kamu, kamu jahat Bagas, jahat!" Anjani memukul-mukul dada Bagas, tidak peduli dia kesakitan atau tidak.
Kini Anjani meremas kuat seragam Bagas dan menumpahkan segala amarahnya, dia ingin Bagas pergi dari sini. Dengan sekuat tenaga Anjani mendorong tubuh pria itu dan terlepas dari dekapannya.
"Anjani ... "
"Aku benci kamu! Tinggalin aku sendiri!"
"Tapi, Ja-"
"Pergi!!!!" Bentak Anjani.
__ADS_1
Bagas terhenyuk, cukup kaget dengan kemarahan Anjani. Kalau sudah seperti itu Bagas tidak bisa apa-apa, dia berbalik dan meninggalkan Anjani di sana dengan rasa sesak yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.
Anjani berjongkok seraya menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Ini sakit sekali ternyata, Anjani pikir mendengar penjelasan Bagas dia akan lega. Tapi malah membuatnya semakin sakit. Dia tidak tau harus apa, hatinya telah dipatahkan oleh orang yang sangat dia cintai. Anjani sangat membencinya!