
Setelah mengetahui keberadaan rumah sakit yang Nanda tempati, Anjani dan Arkan langsung menuju ke sana. Jujur, Anjani cemas sekali. Apalagi melahirkan itu perjuangan yang sama besar.
Belum lagi Nanda yang posisinya hamil di usia muda. Katanya banyak resiko jika melahirkan di usia dini. Pokoknya pikiran dia sudah ke mana-mana. Bahkan sampai di rumah sakit pun dia cepat-cepat mencari ruangan Nanda hingga mereka salah jalan beberapa kali.
Akhirnya dengan susah payah Anjani menemukan ruangan terpojok ini. Langsung saja dia masuk dan menemu Nanda. Di lihatnya Rafi sedang mengecupi tangan istrinya. Sementara anak mereka ada di baby box.
Anjani dengan senang langsung menghampiri Nanda. "Nannnnn .... "
Nanda tersenyum melihat kedatangan sahabatnya. Tapi Anjani nampak khawatir, padahal dia tidak kenapa-kenapa, meskipun dia melahirkan Caesar pada tadi pagi.
"Jannn, kenapa khawatir gitu. Aku gapapa kok."
Anjani menggeleng, dia memeluk Nanda yang masih terbaring. Meskipun Nanda tidak apa-apa tapi tetap saja Anjani khawatir. "Tadi lahirannya normal, kan?"
"Caesar, karena kata dokter bahaya kalau normal. Tapi aku gapapa, ya agak ngilu juga di bagian bekas jahitan tapi gapapa, cuma gak boleh banyak gerak dulu."
Anjani meringis. "Dibelek gitu? Sakit?"
"Gak sakit, Jan. Gak kerasa malah, tapi emang sesudahnya sakit, kerasa lah." Kata Nanda seraya menunjukan senyumnya.
Anjani kembali meringis dan memegangi perutnya, apa nanti kalau dia hamil dan melahirkan aka n begitu juga ya? Nahkan dia jadi takut. Arkan yang melihat itu hanya terkekeh, gadis itu pasti sudah memikirkan banyak hal di kepalanya.
"Takut kamu, Jan? Wajah preman sekolah tapi udah takut sama hal yang belum kejadian. Kalah sama istriku," ledek Rafi.
"Ngeledek terus!" Anjani memajukan bibirnya, ya takut lah. Membayangkannya saja sudah mengerikan. Apalagi melahirkan itu bertaruh nyawa. Membuat Arkan mendekat dan memeluk Anjani.
"Selamat ya, kalian sudah menjadi orang tua. Semoga kalian bisa menjadi lebih dewasa untuk anak kalian."
"Makasih, Pak. Ditunggu juga ya, Pak Arkan calon temennya anak aku," ucap Nanda, membuat Anjani membulatkan matanya.
"Gampang," balas Arkan. Ya senang saja dia menjahili gadis kecilnya itu.
Setelah bicara panjang lebar, Anjani menghampiri baby box. Dia berlutut sembari memegangi ujung baby box. Ah dia gemas sekali kalau melihat bayi. Dia selalu meminta pada orang tuanya agar diberikan adik, tapi tidak pernah dilakukan.
Anjani melihat ke papan nama si bayi, ternyata bayi kecil cantik itu diberi nama Eyris. Cantik sekali namanya, seperti bayi itu. Nanda melihat Anjani seperti itu gemas sendiri. Lucu saja temannya itu. "Gendong aja, Jan kalau mau."
__ADS_1
Anjani menggeleng. "Aku gak bisa gendong bayi."
Mendengar itu Arkan mendekat pada Anjani yang sedang anteng memandangi baby Eyris. Lucu sekali seperti anak kecil yang melihat adiknya lahir.
"Sini biar saya gendong." Perlahan Arkan menggendong bayi kecil itu dan Anjani berdiri memperhatikan bayi yang ada di gendongan suaminya.
"Ihhh gemess, kamu bisa gendong bayi?" Tanya Anjani.
Arkan mengangguk, tentu dia bisa. Kalau soal anak begini memang Arkan lah yang paling siap memiliki anak. Bahkan pria itu nampak tidak kaku lagi saat menggendong bayi. Anjani jadi melting melihat suaminya bisa menggendong bayi.
Mereka berdua duduk di sofa yang lumayan jauh dari Rafi dan Nanda. Anjani sedari tadi memperhatikan bayi yang sepertinya masih bingung menatap dunia.
"Kamu mau yang seperti ini?" Tanya Arkan.
"Mauu, tapi emangnya Mama bisa hamil lagi? Bukannya–"
"Anak kita, Sayang."
Anjani mengulum senyum dan mengedikan bahunya dan memilih untuk mencium bayi kecil itu lagi yang nampak anteng di gendongan Arkan.
"Kalau kita punya anak ya begini, dia pasti akan lucu begini. Bisa kamu peluk, bisa kamu gendong, bisa kamu sayang-sayang dan ajak bicara," ucap Arkan yang nampak tersenyum memperhatikan wajah tenang bayi mungil itu.
"Tidak bisa itu karena belum belajar, Sayang. Kamu punya saya untuk belajar banyak hal, termasuk mengurus bayi. Kemari mendekat," perintah Arkan.
Anjani menurut tapi dia bingung apa yang akan Arkan lakukan. "Mau ngapain?"
Perlahan Arkan menaruh bayi itu di gendongan Anjani, membuat Anjani gemetar. "Mass ihh nanti dia gak enak badan kalau aku gendongnya salah.
"Makanya harus benar." Arkan tersenyum dan membenarkan posisi tangan Anjani. "Nah begini sudah benar, kalau dia tidak menangis berarti kamu menggendongnya dengan posisi yang benar."
Anjani mengigit bibir bawahnya dan tersenyum kegirangan. Kenapa ya dia senang bisa menggendong bayi seperti ini, meskipun dia tidak berani bergerak karena takut merubah posisinya tapi Anjani senang sekali. "Masss aku bisa gendongnya."
Arkan mengangguk-nganggukan kepalanya dan memeluk pinggang Anjani sembari menatap bayi yang tengah digendong istrinya. Dia juga senang, dia membayangkan kalau sebentar lagi Anjani akan menjadi seorang ibu pasti begini.
Tanpa sadar Rafi sedari tadi memperhatikan interaksi mereka berdua dan memotretnya beberapa kali. Melihat mereka nampaknya seperti orang tua muda dan itu lucu sekali.
"Lucu ya, Raf mereka," gumam Nanda.
__ADS_1
"Lucu, Anjaninya aja yang masih kebanyakan gengsi. Tapi aku yakin kok mereka nanti akan di posisi seperti itu juga," ucap Rafi yang kembali mengecupi tangan Nanda.
Nanda mengangguk, ya semoga saja. Karena satu perasaan yang kini dia rasakan adalah, bisa melahirkan seorang anak itu menyenangkan dan Nanda mau kalau Anjani suatu saat nanti merasakan hal yang sama saat melahirkan anaknya.
Setelah selesai menengok Nanda, Anjani dan Arkan sampai di rumah pada malam hari. Mereka sudah makan di luar tadi, jadi setelah selesai mandi Arkan menemani Anjani membaca buku dan memeluk istrinya dari samping.
"Sudah selesai belajarnya?" Tanya Arkan.
Anjani mengangguk, dia menutup bukunya dan menaruh di atas laci. Setelah itu membalas pelukan Arkan. Dia sedikit lelah juga sih hari ini, karena memang pada dasarnya berpikir itu menguras energi yang sangat banyak.
Arkan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Anjani, menghirup aroma tubuh gadisnya ini selalu Arkan lakukan setiap malam, karena kalau tidak dia akan merasa rindu. "Kenapa kamu wangi sekali?"
Arkan kembali mengeratkan pelukannya pada Anjani. Anjani juga sudah terbiasa dengan sifat manja Arkan yang seperti ini. Jadi dia tidak risih juga karena memang saking seringnya.
"Sayang ... "
"Kenapa, Mas?" Tanya Anjani seraya melepaskan pelukan mereka sesaat dan menatap Arkan.
Arkan menarik dagu Anjani perlahan dan mengecup bibirnya dengan lembut. "Saya mau bayi seperti tadi."
Anjani sedikit mengerutkan dahinya. "Semau itu ya kamu punya anak, Mas?"
Arkan mengangguk, membuat Anjani kini menatapnya. Sejujurnya dia bingung sih. "Kalau aku hamil berarti gak bisa ambil kuliah."
"Kuliah itu tidak ada batasan umur, apalagi membatasi orang hamil," jelas Arkan.
"Tapi bakalan malu gak sih, Mas?"
Arkan menangkup pipi Anjani dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu. "Malu kalau tidak ada suaminya, kalau kamu kan jelas. Ayah biologisnya saya, jadi kenapa harus malu, Sayang?"
"Nanti diledekin gimana? Masih kecil punya bayi."
Arkan terkekeh, sebenarnya tidak salah sih. Anjani kan memang masih remaja, masih suka bermain-main dan pasti masih sangat awam soal ini di lingkungan pertemanannya. "Tidak, Sayang. Di perkuliahan itu berbeda dengan sekolah. Yang punya anak pun ada. Kamu cukup jalani hidup kamu dengan baik tanpa memikirkan pandangan orang lain selagi kamu tidak merasa salah."
"Jadi kamu maunya aku hamil?" Tanya Anjani dengan wajah polosnya.
Arkan mengecupi bibir Anjani berkali-kali, kenapa dia lucu sekali sih. "Iya, memang kamu tidak mau punya yang lucu seperti tadi?"
__ADS_1
Anjani menghela napas, dia mau tapi dia takut. Pokoknya banyak takutnya. Tapi karena ini sudah terlalu jauh pada akhirnya Arkan memeluk Anjani dan mengusap punggung gadis itu dengan sayang seolah menjelaskan kalau semuanya akan baik-baik saja.