I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Karena Saya Mencintai Kamu, Anjani


__ADS_3


Arkan menggenggam tangan Anjani dan memasuki area bioskop, Arkan sudah bertanya sih apa genre kesukaan Anjani dan Anjani hanya menyerahkannya pada Arkan. Karena pada kenyataannya hari ini tidak ada film yang sedang dia tunggu-tunggu alias asing semua.


Setelah membeli tiket, tidak lupa juga dia membeli satu box popcorn dan dua cola dingin. Tidak lama dari itu mereka masuk ke ruangan teater karena memang sudah dibuka. Anjani dan Arkan duduk di tengah-tengah. Memang sepi sih dan rata-rata diisi oleh pasangan. Seperti memang sengaja memilih tempat untuk mengucilkan diri masing-masing.


"Ini kamu pilih film apasih?" Tanya Anjani dan melirik Arkan yang berada di sampingnya.


"Film romantis," jawab Arkan.


Anjani menghela napas lalu mengangguk-nganggukkan kepalanya pelan. Pantas saja banyak pasangan yang mendominasi, memang filmnya sangat diperuntukan untuk mereka.


Film sudah dimulai, mengisahkan tentang sebuah rumah tangga yang baru di bangun oleh pasangan muda, terlihat jelas banyak adegan romantis di sana. Anjani memang suka sih film begini, itu kenapa sesekali dia melengkungkan senyumnya, membuat Arkan juga ikut tersenyum melihat Anjani tersenyum.


Mereka juga sangat menikmati filmnya sambil makan popcorn. Tapi saat mereka sedang asik menikmati tiba-tiba suasana di antara Arkan dan Anjani menjadi canggung. Sebuah adegan dewasa ditayangkan di depan mereka yang memang pasangan pengantin baru.


Anjani menahan napasnya sembari melihat ke arah sekitar, begitu juga dengan Arkan. Untuk sejenak mereka menelan ludah masing-masing saat melihat orang-orang berciuman. Bahkan sampai ada yang di luar batas. Ah kotor sekali mata Anjani.


Anjani langsung menundukkan kepalanya dan memakan popcorn. Sementara Arkan kini mati-matian untuk menahan nafsunya sendiri. Ya dia kan juga pria normal, apalagi dia memiliki istri sah, semakin liar juga fantasinya.


"Anjani," panggil Arkan.


Anjani kaget, apalagi suara Arkan terdengar berat di pendengarannya. Tidak! Jangan sampai Arkan menyerangnya di sini. Anjani bergetar saat tangan Arkan menggenggam tangannya. Arkan juga menarik Anjani agar lebih dekat lalu mengecupi punggung tangan Anjani.


"Mas ... " Anjani menoleh ke arah Arkan dengan takut.


"Hm?" Tanya Arkan santai dan perlahan mendekatkan wajahnya pada Anjani.


Anjani semakin tidak karuan ini, aduh apa yang harus dia lakukan? Akhirnya dia memejamkan matanya erat. Jantungnya mungkin sekarang sudah berpindah tempat saking takutnya. Namun ...

__ADS_1


"Popcornnya." Arkan mengambil popcorn dari box yang memang jauh dari jangkauannya.


Anjani mengangguk cepat dan merutuki dirinya dalam hati. Apa yang Arkan pikirkan tentangnya coba? Ah malu sekali Anjani karena mengira Arkan melakukan yang iya-iya.


Arkan terkekeh, dia tau kok apa yang ada di pikiran Anjani. Karena memang pikiran mereka sama, tapi ya bagaimana pun ini tempat umum, mereka harus tau tata Krama-nya. Tidak mungkin Arkan melakukannya di sini.


"Saya tidak akan melakukannya di sini, masih tau malu. Tapi tidak tau kalau di rumah," ucap Arkan yang langsung membuat Anjani menoleh padanya.


"Jangan macem-macem!" Peringat Anjani.


"Semacam saja kok," jawab Arkan santai.


Anjani ketar-ketir, kenapa sih lagi pula harus mengiyakan ajakan Arkan? Kalau benar-benar itu terjadi bagaimana? Tidak mau, masih banyak cita-cita yang ingin dia gapai kedepannya. Benar-benar uji nyali menikah dengan Arkan ini. Banyak jumpscare nya!


Kalau di telaah ternyata film ini bagus, Arkan jadi tau lebih banyak cara memperlakukan istri yang lebih muda darinya, dia jadi tau bagaimana membuat istrinya senang dan dia jadi tau pandangan seorang wanita yang menikah muda.


"Anjani," panggil Arkan.


"Kalau kamu punya keluhan atau apapun itu. Tolong bilang ke saya, jangan pernah pendam itu sendirian," ucap Arkan.


Anjani mengerutkan dahinya, sepertinya Arkan larut dalam film ini. Tapi ya memang sesuai juga filmnya, sama seperti mereka kondisinya. Tapi bedanya dia masih belum mau menerima pernikahan ini dan berjalan maju ke depan bersama Arkan.


.


.


.


Pulang dari bioskop mereka masuk ke toko pizza untuk makan pizza, ya tadi Arkan berjanji untuk makan pizza. Gadis itu terlihat sangat bersemangat, mungkin karena faktor patah hati juga kali ya, jadi Anjani memesan banyak makanan. Tapi tidak masalah, uangnya banyak. Jadi dia tidak akan takut membayar apapun yang istrinya pesan.

__ADS_1


Anjani memakan pizzanya dengan semangat, dia nampak senang sambil menggerakkan kepalanya. Mungkin memang wanita kalau makan seperti itu ya? Jadi Arkan hanya terkekeh saja karena gemas, sambil melanjutkan makannya.


Tapi kalau boleh jujur Anjani kalau sedang galau begini memang jadi banyak makan, pokoknya dia akan melampiaskan pada makanan, tidak peduli kiloannya naik atau bagaimana. Karena setelahnya dia akan puas. terlebih dia mau membuat Arkan ilfeel karena melihatnya yang sangat boros bahkan untuk makanan saja.


"Kamu gak takut bangkrut kalau misalnya aku setuju menjalani pernikahan kita?" Tanya Anjani random sembari memakan pasta yang ada di hadapannya.


"Memang kamu akan belanja dan makan sebanyak apa sampai saya bangkrut?" Tanya Arkan yang kini memfokuskan matanya kepada Anjani.


"Aku suka jajan, suka hangout sama temen-temen, suka ke salon, aku boros juga kalau kamu mau tau," jawab Anjani santai seolah tidak ada beban.


"Ya lakukan saja, memang saya bekerja untuk apa selama ini kalau bukan untuk kamu. Kalau kamu senang, happy, pasti akan saya dukung apapun yang kamu inginkan, kita juga belum mempunyai anak. Jadi kamu bebas."


Arkan mengeluarkan dompet dan mengambil kartu yang sudah dia sediakan jauh-jauh hari sebenarnya untuk Anjani. Perlahan dia menggulurkan kartu itu tepat di hadapan Anjani.


Anjani mengerjapkan matanya berkali-kali. Tidak salah ini? Padahal Anjani hanya menakut-nakuti Arkan agar tidak memaksanya lagi untuk menjalankan hubungan ini, dia tidak benar-benar serius tapi Arkan menganggapnya seserius ini bahkan sampai membicarakan tentang anak. "B-black card?"


Arkan mengangguk. "Pakai sesuka hati kamu. Itu nafkah yang saya berikan untuk kamu."


Perlahan Anjani mengambil black card itu, ya dia memang orang kaya juga. Tapi ayahnya tidak pernah tuh memberikan black card semacam ini. Bahkan semua yang dia beli pun ada laporannya, jadi tetap terkontrol oleh kedua orang tuanya.


"Tapi ini ... "


"Cocok untuk kamu yang suka jajan, kan?" Tanya Arkan. Kalau Anjani bermain-main soal uang ya salah sih. Dia berhadapan dengan Arkan Altair. Jadi dia tidak akan terpukul mundur hanya karena masalah uang dan kebiasaan istrinya yang suka foya-foya.


Anjani menghela napasnya. Tidak habis pikir, bagaimana lagi cara agar membuat Arkan terpukul mundur kalau begini. Benar-benar di luar dugaan Arkan. Anjani benar-benar terjebak, dia tidak bisa lari dari pernikahan ini sekarang.


"Kenapa?" Tanya Anjani dengan ketidak percayaannya dengan semua yang Arkan lakukan hari ini untuknya.


"Kenapa apanya?" Tanya Arkan tak mengerti.

__ADS_1


"Kenapa Mas kasih ini ke aku? Kenapa kamu seolah bisa menerima pernikahan ini padahal kita orang asing?" Tanya Anjani sambil menatap lamat mata Arkan yang kini ada di hadapannya.


"Karena saya mencintai kamu, Anjani."


__ADS_2