I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Acara Graduate


__ADS_3


Anjani nampak sudah cantik dengan kebaya berwarna coklat yang dia pilih waktu itu. Rambutnya yang juga di tata simple bun membuat kecantikannya semakin terpancar.


Mungkin ada sekitar 3 jam dia bersiap-siap, apalagi Arkan membawakan MUA khusus ke rumah karena memang Anjani yang memintanya. Jadi tidak perlu diragukan lagi penampilan Anjani bagaimana.


Arkan sudah berangkat lebih dulu karena dia memang guru, jadi dengan terpaksa Anjani harus di antar oleh supir. Tidak masalah sih, toh di sekolah juga mereka tidak bisa dekat-dekat.


Jadi Anjani masih enjoy menikmati harinya meskipun pagi ini di antar supir. Anjani mengirimkan photo dirinya pada Arkan tadi dan dia tersenyum saat melihat balasan suaminya.


Tukang Es 🌨️ : Jangan keluar rumah!


Tukang Es 🌨️ : Saya bisa gila kalau semua orang menatap kamu karena cantik begitu.


Tukang Es 🌨️ : Saya wakilkan saja ya?


"Dasar om-om posesif." Anjani terkekeh. Bisa-bisanya Arkan membuatnya salah tingkah begini.


Anjani memilih untuk tidak menjawab, sampai akhirnya dia sudah sampai di sekolah. Wajahnya berbinar, tidak mau berbangga diri tapi dia mau percaya diri kalau kebaya miliknya ini bagus.


Arkan juga sih yang memilihkannya dan seleranya memang cukup tinggi. Jadi Anjani sangat-sangat percaya diri. Terlihat di dalam auditorium Della sudah melambaikan tangannya pada Anjani.


Dengan setengah berlari Anjani menghampiri Della, Azzam dan juga Rafi. "HAPPY GRADU!!"


Mereka bertiga langsung menutup telinga, tidak biasanya Anjani begini. Suaranya juga bahkan sangat melengking. Namun setelahnya mereka tertawa.


"Seneng banget, kenapa sih?" Tanya Della.


"Iya auranya tuh beda, kenapa sih?" Tanya Azzam.


"Ya apalagi kalau bukan Pak Arkan. Pasti Pak Arkan kasih hadiah yang wah ya?" Tanya Rafi.

__ADS_1


Anjani menggelengkan kepalanya, sebenarnya ada alasan kenapa dia senang sekali hari ini. Tapi dia tidak mau memberitahukan dulu deh, biar mereka terkejut juga.


"Dih pelit, bagi-bagi kek!" Ucap Della.


"Ih apaan sih orang ya aku seneng aja, kita lulus, nanti bisa kuliah deh. Bukan anak ingusan lagi," balas Anjani.


"Tapi gak bareng tau!" Della memajukan bibirnya.


"Loh tapi kan masih temenan, kita bakalan selalu temenan, sahabatan!" Tegas Anjani seraya memeluk Della.


Memang hanya Azzam yang satu kampus dengannya, mereka sama-sama tertarik di jurusan psikolog dan akhirnya Azzam lolos juga test di kampus negeri itu.


Tapi tidak apa-apa sih kalau mereka berpencar, memang ada kalanya semua orang harus berjalan masing-masing untuk mencapai sesuatu yang mereka impikan. Selama komunikasi berjalan lancar, Anjani rasa itu aman.


Beberapa menit kemudian acara dimulai, kepala sekolah dan beberapa guru memberi sambutan. Biasanya Abdi juga akan turut hadir ke sini, namun sepertinya karena Abdi sedang sibuk untuk rencana bisnis di London, dia tidak bisa hadir.


Mata Anjani meliar mencari suaminya, pria itu nampak tidak ada di jajaran guru-guru yang sudah standby di depan sana. Padahal Anjani ingin sekali melihat suaminya.


"Cari apa sih, Jan?" Tanya Della setengah menggoda.


Namun tidak di sangka-sangka setelah serangkaian acara kini Arkan di panggil maju ke depan untuk memberikan sedikit pidatonya, mungkin karena dia anak dari pemilik yayasan kali ya?


"Selamat pagi anak-anak, rekan-rekan guru dan juga staff. Saya selaku perwakilan dari Bapak Abdi Altair, ingin mengucapkan mohon maaf karena Ayah saya tidak bisa menghadiri acara wisuda hari ini. Tapi itu semua tidak mengurangi rasa bangga dan haru atas nilai yang menakjubkan pada tahun ini. Lebih bangga lagi karena tahun ini semua siswa dan siswi SMA Taruna Nusantara dinyatakan lulus."


Arkan nampak menjeda ucapannya, namun riuh dari sisi gedung mulai terdengar karena melihat si guru tampan yang hari ini nampak semakin mempesona saja. Suara tepuk tangan juga terdengar atas kelulusan mereka. Membuat gedung ini sangat ramai.


Anjani tidak suka sih para gadis menatap suaminya, tapi dia tetap memfokuskan diri pada Arkan. Saat dia bicara seperti itu nampak sekali kharisma yang dia miliki bukan kaleng-kaleng. Boleh tidak ya Anjani berbangga diri? Rasanya Anjani sampai tidak mendengar lagi apa yang Arkan katakan saking terpesonanya.


"Oleh karena itu sebagai bentuk penghargaan karena menjadi siswa berprestasi selama menimba ilmu di SMA Taruna Nusantara, saya persilahkan kepada Clarissa Putri Anjani sebagai peraih nilai ujian tertinggi tahun ini naik ke atas panggung."


Semua orang bertepuk tangan, Anjani yang dipanggil dan juga reaksi teman-temannya yang sudah mendorong-dorongnya untuk maju membuat Anjani deg-degan.

__ADS_1


Anjani sering maju sebagai siswa berprestasi, tapi ini Arkan yang memanggilnya dia jadi salah tingkah sekali, sampai-sampai pipinya sudah merona.


Perlahan Anjani menaiki panggung, tatapan mereka bertemu. Arkan mengalungkan medali dan juga sebuah bouqet yang memang sudah disiapkan oleh sekolah untuk Anjani. "Terima kasih, Pak."


Semua orang bertepuk tangan dan Arkan tiba-tiba saja mengambil mic dari stand-nya lalu dia berdeham. "Selain itu di sini saya ingin memperkenalkan anggota keluarga Altair yang baru. Seseorang yang saya cintai dan sudah resmi menjadi istri saya pada tahun lalu."


"Berita yang menyebar luar di kalangan murid dan guru kemarin sejujurnya membuat saya terganggu, karena hubungan saya dengan istri saya sejauh ini baik-baik saja, oleh karena itu biarkan saya memperkenalkan istri saya, sekaligus menantu dari keluarga besar Altair yaitu ... "


Semua nampak mengedarkan pandangan mencari sosok istri yang Arkan maksud. Tentu sangat penting bagi mereka karena berarti istri Arkan ini adalah orang penting juga di sini kan. Perlahan Arkan menggenggam tangan Anjani. Sungguh kenapa begini?


Anjani meminta pengakuan memang sebagai hadiah kelulusannya tapi bukan seperti ini, bukan saat acara graduate seperti ini. Terlalu malu dia karena dilihat banyak orang.


"Clarissa Putri Anjani yang sekarang ada di samping saya, dia adalah istri saya sekaligus menantu dari keluarga Altair. Kami sudah menikah satu tahun lalu."


Boom ...


Mereka semua kaget sih, tidak terkecuali mereka yang memang sudah tau tentang hubungan Anjani dan Arkan. Seperti teman-teman Anjani dan kepala sekolah. Ya kaget saja, mereka mencari info ke sana-kesini ternyata istrinya Arkan satu sekolah dengan mereka.


"Jadi berita tentang kemarin itu tidak benar, saya tidak mempunyai selingkuhan dan Anjani bukan perusak rumah tangga saya. Karena memang Anjani lah yang menjadi istri saya kemarin, hari ini, esok, dan seterusnya." Arkan menatap lembut ke arah Anjani yang nampak sudah berkaca-kaca.


Ahhh dia baper sekali kalau begini caranya. Belum lagi suara godaan dari teman-temannya, nampaknya kelas 12 IPA 1 lah yang paling bahagia atas ini. Terbukti mereka paling heboh sekarang, perasannya campur aduk.


Belum selesai di situ, tiba-tiba anak buah Arkan membawakan bouquet uang yang cukup besar, membuat Anjani melongo. Untuk siapa itu. "Clarissa, istri saya. Selamat karena sudah berhasil mencapai apa yang kamu impikan, selamat karena sudah berusaha keras untuk belajar siang dan malam sampai kamu berada di sini sekarang. Saya bangga dengan kamu, sangat bangga."


Anjani menatap Arkan nampak malu-malu, dia mengangguk dan Arkan menyeka setetes air mata yang keluar dari sudut mata Anjani dan memeluk istrinya.


"Terima kasih, Mass," ucap Anjani.


"Sama-sama, Sayang. Are you happy?"


"I'm soo happy."

__ADS_1


Suasana di sana tidak bisa dijabarkan, ada yang terharu, ada yang heboh, ada yang baper karena keuwuan pasutri di depan mereka, ada yang cemburu, pokoknya banyak sekali. Tapi dari semua perasaan yang ada, mereka semua bahagia kok kalau Arkan dan Anjani memang sudah menikah.


Mereka juga merasa kalau Anjani dan Arkan selama ini bersikap profesional di sekolah, sampai mereka tidak bisa mencium pernikahan mereka. Jadi mereka senang dengan semuanya.


__ADS_2