
Maaf ya aku baru update lagi, aku cuma mau kasih tau kalau setiap awal bulan 1-3 hari aku bakalan ambil libur guys, karena emang dapet jatah 3 hari libur dari NT. Nah kalau akhir bulan biasanya aku up banyak. Ya begitulah guys. Aku mau up satu chap dulu ya btw, nanti kulanjut siang. Happy reading~
Kini di depan ruangan hanya ada Bagas dan juga Shella. Mereka juga tidak berani masuk sebelum Arkan masuk duluan. Jadi segera saja mereka menghampiri Arkan yang mendekat ke arah mereka.
"Tas Anjani." Bagas mengulurkan tas itu pada Arkan.
"Terima kasih," ucap Arkan seraya mengambil tas dari tangan Bagas.
"Anjani sakit apa, Bang?" Tanya Bagas.
"Hamil 9 Minggu."
Bagas tertegun, ya bagaimana tidak? Mantannya kini sedang mengandung. Keren sekali, bukan? "Ternyata benihmu masih berkualitas, dikirain performa turun termakan usia, selamat, Bang," ucap Bagas setengah meledek.
"Gak boleh gitu ih, katanya yang tua itu berpengalaman, tegur Shella.
Arkan menghela napasnya kurang ajar memang, dia tua begini tapi jangan diragukan loh. Apa perlu dia membuktikan dengan memiliki 12 anak? Lihat saja. Tapi Arkan memanglah Arkan kalau di mata orang lain, dia hanya membalas seadanya. Meskipun rasanya ingin sekali menyumpal mulut Bagas yang menyebalkan itu.
Setelah mereka bicara cukup lama, Bagas dan Shella memutuskan pulang. Sementara Arkan mengabari kedua orang tuanya dan segera masuk ke ruangan Anjani yang baru saja di pindahkan ke ruang rawat
Perlahan Arkan mendekat ke arah brankar dan duduk di kursi. Terlihat mata Anjani masih terpejam menandakan kalau dia memang lelah sekali sepertinya. Wajahnya nampak tenang meskipun masih terlihat sedikit pucat.
Wajar memang, sejak ospek, dia tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Belum lagi dia ambisius dalam apapun. Mulai sekarang sepertinya Arkan harus menata jadwal Anjani agar lebih teratur.
Digenggamnya tangan Anjani dengan lembut, tapi itu membuat Anjani terbangun dari tidurnya. "M-masss awww–"
Anjani berdecak saat mengetahui tangannya diinfus. Ini kenapa lagi? Membuat Arkan bangkit lalu mengusap puncak kepala Anjani. "Apa yang sakit? Kenapa?"
Anjani menggeleng. "Kenapa aku dirawat?"
"Kelelahan, istirahat. Kamu harus banyak istirahat," ucap Arkan memberi pengertian.
"Aku mau pulang, aku udah gak kenapa-kenapa. Aku mau pulang aja ya?" Pintanya.
"Tidak boleh, Sayang. Dokter bilang kamu masih harus di sini beberapa hari untuk dipantau keadaannya."
"Aku gak suka rumah sakit, Mas." Anjani menggenggam tangan Arkan dan memasang wajah memelasnya.
Dia tidak mau berlama-lama di ruangan dengan bau obat-obatan seperti ini. Dia tidak pernah suka juga dengan makanan rumah sakit yang terasa hambar.
"Tiga hari saja ya?"
__ADS_1
"Massss ... "
"Tiga hari saja setelah itu saya janji kamu diperbolehkan pulang, sekarang di sini dulu," bujuk Arkan. Sebenarnya bisa saja Anjani dirawat di rumah, tapi akan lebih baik di sini saja akan terpantau kehamilannya.
Anjani menghela mengatur napasnya dan memejamkan matanya lagi, memang kepalanya ini berat sekali sih, tubuhnya masih terasa hangat. Arkan menarik selimut Anjani namun saat akan melepasnya Anjani menarik tangan Arkan. "Sini."
"Ke sini bagaimana?" Tanya Arkan tak paham.
Anjani menggeserkan tubuhnya dan menatap Arkan seolah tidak mau ditinggal. "Hug me!"
"Anjani kamu butuh tempat tidur yang luas dan nyaman, kalau saya ikut berbaring kamu bisa sesak," ucap Arkan.
"Kamu gak mau deket-deket aku ya?" Tanya Anjani.
"Bukan begitu, Anjani tapi–"
"Yaudah."
Nahkan si bumil ini mulai kesal. Kini Arkan yang menghela napas. Karena tak ingin membuat Anjani marah, Arkan melepaskan jas dan melinting lengan bajunya. Setelah itu dia melepaskan sepatu dan kaos kakinya lalu duduk di tepi brankar. "Saya di sini, tidur lah."
"Bukan gitu ihh maunya dipeluk. Mau tidur di peluk kamu," kata Anjani memperjelas.
Lagi-lagi Arkan menghela napasnya, haruskah? Pasalnya ini di rumah sakit, bagaimana kalau ada suster atau dokter yang masuk. Tapi mengingat Anjani tidak boleh stress Arkan akhirnya mengikuti kemauan si bumil.
Anjani membalas pelukan Arkan dan menganggukkan kepalanya pelan. "Di sini aja."
"Hmm ... Sekarang apa yang kamu rasakan?"
"Mual, pusing, aku mual banget, Mass. Walaupun udah mendingan tetep mual. Perut aku aneh banget, kaya ... "
"Kaya gimana?" Tanya Arkan.
Anjani memegang tangan Arkan, diarahkannya telapak Arkan untuk mengusap perutnya. Untuk sejenak Anjani memejamkan matanya, ada perasaan hangat yang dia rasakan akhir-akhir ini, apalagi diusap begini oleh Arkan. Ada rasa nyaman yang tidak bisa dia gambarkan.
"Kenapa, Sayang? Sakit hmm?" Tanya Arkan yang sedikit khawatir juga karena Anjani hanya terdiam seperti itu.
"Engga tapi kayanya kaya ada bunga-bunga tumbuh di perut aku, kaya ada yang bergerak-gerak itu bikin aku nyaman, tadinya keram tapi sekarang engga lagi."
Mendengar itu Arkan memasukan tangannya ke dalam kemeja yang Anjani kenakan lalu kembali mengusapnya. Bukan hanya Anjani, tapi dia juga merasakan darahnya berdesir, seperti bertaut dengan sang buah hati di sana.
"Sudah lebih baik perutnya?"
"Heem. Gapapa minta diusapin?" Tanya Anjani.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Sayang. Mintalah apapun yang kamu butuhkan, saya di sini. Sampai kamu pulih," ucap Arkan setengah berbisik.
"Aku butuh kamu aja."
Arkan menganggukkan kepalanya paham dan kembali mengusap punggung Anjani dengan sabar. "Anjani ... "
"Hmm? Kenapa?" Tanya Anjani dengan nada pelan dan menatap ke arah wajah Arkan yang kini tengah menatapnya.
Arkan nampak berpikir, bagaimana caranya menyampaikan pada Anjani tanpa membuatnya kepikiran kalau kandungannya lemah? Pasalnya dia tidak mau Anjani jadi kepikiran dan nanti akan memperburuk keadaannya. Tapi kalau tidak diberi tau akan lebih bahaya. Masalahnya itu adalah : Anjani suka kebebasan, dia tidak suka dikekang tapi dia ceroboh.
Arkan tersenyum, membuat Anjani mengernyitkan dahinya tak paham. Kenapa coba suaminya itu tiba-tiba tersenyum begitu. "Mas kenapa?"
"Kamu mau tau sesuatu?" Tanya Arkan.
"Tentang apa?" Tanya Anjani tak paham.
Arkan kembali tersenyum seraya merapikan helaian rambut Anjani. Kenapa ya Arkan kalau ingin mengatakan sesuatu tidak langsung pada intinya. Untuk ukuran manusia kepo seperti Anjani ini membingungkan sih.
"Iya apa?" Tanya Anjani lagi.
Tangan Arkan perlahan mengusap kembali perut istrinya seraya menatap Anjani dengan hangat. "Di dalam perut kamu ini, ada anak kita."
"Kamu hamil," lanjut Arkan.
"Mas, kamu gak bercanda, kan?" Tanya Anjani tak percaya. Bagaimana percaya, pasalnya hari ini dia masih menstruasi. Namun nampaknya wajah Arkan tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia sedang bercanda. "Tapi, kan–"
"Mas serius?" Kali ini mata Anjani mulai berkaca-kaca.
"Serius, Sayang. Di dalam sini ada anak saya, dia nakal sekali, di dalam dia bermain petak umpet selama 9 Minggu. Pasti keturunan Mamanya," ucap Arkan sok serius.
Anjani terkekeh, tapi dia menangis, ah susah digambarkan bagaimana rasanya. Bahagia, sedih, senang semuanya campur aduk. "Mas gak bohong cuma buat nyenengin aku aja, kan?" Tanya Anjani memastikan.
"Tidak, Sayang. Kamu benar-benar hamil." Arkan kembali mendekap Anjani dan menciumi pipinya, sementara tangannya sesekali menyeka air mata Anjani.
"Kenapa bisa aku gak sadar ya? Berarti waktu ospek itu aku lagi hamil juga? Maafin aku ya, Mas. Aku kayanya kemarin malah forsir diri aku sendiri."
"Itu karena kamu tidak tau, Sayang. Sekarang kan sudah tau. Karena kamu masih muda dan baru pertama kali hamil, jadi saya harap kamu mengurangi aktivitas dulu ya? Jangan terlalu stress, belajar secukupnya, aktivitas juga secukupnya. Saya tidak akan melarang kamu ini dan itu."
"Lakukan apapun yang kamu suka tapi ingat batasan, ayok kita jaga anak kita sejak masih dalam kandungan seperti ini, Anjani," ucap Arkan.
Anjani mengangguk paham, dia pasti akan mendengarkan apa yang Arkan ucapkan. Dia senang sekali mendengar kabar ini. Dia jadi berpikir ternyata begini ya rasanya menjadi orang tua. Tidak bisa dijabarkan.
Arkan mengecup bibir Anjani dengan lembut, untuk beberapa detik dia mencium Anjani. "Terima kasih karena sudah membuat saya menjadi seorang ayah, Anjani."
__ADS_1