I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Penjelasan


__ADS_3


Akibat pengaruh obat, Anjani pun tertidur di dalam pelukan Arkan. Matanya sembab sekali, Arkan tidak pernah ingin Anjani menangis karenanya. Tapi sekarang dia membuat Anjani menangis sampai se-begininya.


Bodoh sekali dirinya, niat tidak ingin diganggu tapi malah membuat istrinya khawatir. Dia menyesali perbuatannya dan mulai hari ini dia berjanji tidak akan melakukannya lagi.


Dengan lembut Arkan terus menciumi tangan Anjani membuat Hera, Viona, Abdi dan Mario menatap mereka penuh dengan rasa haru. Kemudian Abdi berdeham. "Jadi kenapa kamu tidak jadi pergi ke Jakarta, Gio?"


Arkan menghela napasnya, saking fokusnya pada Anjani dia juga lupa kalau keluarganya butuh untuk dikabari. "Proyek di sana baik-baik saja dan masih bisa dihandle, orang-orang saya mengabari beberapa jam sebelum keberangkatan."


"Perasaan saya juga tidak enak, jadi saya dan Gerald bertemu dan mengadakan meeting dengan client di sebuah cafe. Karena sangat penting saya mematikan ponsel. Maaf untuk itu, Ma, Pa, Saya bersalah."


"Syukurlah, kamu masih diberi keselamatan, Sayang. Mama sudah khawatir sekali, apalagi Anjani tadi ingin langsung menyusul ke sana, bahkan kamu sudah menyewa kapal besar untuk memastikan keadaan kamu," ucap Hera yang menghampiri Arkan lalu memeluk putranya dengan erat. Dia juga mengusap punggung tangan Anjani. Kasian sekali menantunya sampai harus dilarikan ke rumah sakit begini.


Arkan mengangguk, dia juga sejujurnya tidak bisa berkata apa-apa. Dia merasa diberikan keselamatan dan sebuah pertanda lebih dahulu. Lalu sekarang dia masih ada di sini, masih bisa melihat istrinya. Entah rasa syukur sebesar apa yang harus dia panjatkan sekarang.


"Tuhan masih melindungi saya, Ma."


Hera mengangguk, dia pikir dia tidak akan bisa lagi memeluk dan mencium putranya seperti ini. Ternyata Tuhan masih baik kepada mereka, masih menyelamatkan Arkan dengan kondisi yang baik-baik saja tanpa luka lecet sekali pun.


"Lalu kapalnya bagaimana?" Tanya Viona.


"Sudah saya perintahkan untuk membantu tim SAR, anggap saja ini rasa syukur karena Gio menantu kita masih diberikan keselamatan. Sudah menyiapkan perlengkapan yang lengkap juga agar mereka bekerja dengan maksimal mengevakuasi korban," jelas Mario.


Viona tersenyum, syukurlah. Memang itu tujuannya barusan. Ternyata Mario memang peka juga. Karena ini memang seharusnya disyukuri, membayangkan menantunya tidak ada membuatnya kalut, apalagi melihat kondisi Anjani seperti tadi.


"Dokter bilang, Apa, Ma?" Tanya Arkan pada Viona.


"Anjani hanya syok dan itu berpengaruh pada kehamilannya, dia juga tadi berlari dan membuat perutnya keram, tapi tidak apa-apa kok. Kehamilannya baik-baik saja, sore juga sudah bisa pulang kalau labunya sudah habis," jelas Viona.


"Alhamdulillah. Terima kasih, Nak sudah menjaga Mama kamu." Arkan tersenyum dan mengusap-usap perut Anjani.

__ADS_1


"Besok-besok kalau kemana-mana jangan suka mematikan ponsel, kalau tidak jadi bepergian langsung kabari, kejadian seperti ini kan tidak bisa kita tebak," nasehat Abdi.


"Baik, Pa. Saya paham, sekali lagi maaf karena telah membuat kalian khawatir. Saya benar-benar menyesal. Terutama untuk Papa Mario dan Mama Viona, maaf karena membuat Anjani menangis. Saya tidak pernah berniat membuatnya menangis seperti ini," ucap Arkan penuh penyesalan.


Mario dan Viona mengangguk. Ini bukan kesalahan Arkan kok, mereka paham dan sangat mengenal Arkan. Dia sangat menyayangi putri mereka, jadi mana mungkin dia sengaja menyakitinya.


.


.


.


Anjani mengerjapkan matanya beberapa kali, sepertinya dia nyenyak sekali tidurnya sampai dia tidak bangun-bangun padahal ini sudah hampir malam.


Yang pertama kali dia lihat adalah Arkan yang sedang memeluknya dan menatap Anjani dengan senyum. "Pulas tidurnya?"


Anjani mengangguk lalu memeluk Arkan seolah tidak mau jauh dari suaminya. Meskipun tidak sampai satu hari, tapi kejadian tadi membuatnya sangat takut kalau Arkan meninggalkannya. "Jangan kemana-mana."


"Mata aku berat banget, kepala aku juga pusing," adu Anjani.


"Bagaimana kalau kamu diperiksa dulu dokter, setelah itu kita pulang?" Tawar Arkan seraya mulai beranjak. Namun belum juga beranjak, Anjani malah menahannya.


"Nanti dulu, aku masih mau peluk kamu. Aku gak mau ditinggalin kamu, di sini dulu," ucapnya dengan nada bergetar.


Melihat matanya yang berkaca-kaca membuat Arkan tidak tega walaupun hanya melepaskan pelukannya barang sedetik saja. Pada akhirnya Arkan mengangguk dan kembali memeluk Anjani, tangannya terulur dan menyingkirkan anaknya rambut Anjani. "Jangan menangis, saya tidak suka melihat istri saya menangis."


"Heem. Kamu tau gak, tadi waktu aku liat kabar pesawat itu di tv, aku kaya gak berpijak di bumi."


Anjani menaruh telunjuknya di kening Arkan lalu jadinya menelusuri setiap lekukan wajah suaminya dengan lembut. "Aku kira aku gak bisa ngerasain dipeluk kamu lagi kaya gini. Aku juga mikir aku gak akan liat wajah ini setiap aku bangun pagi. Aku ngerasa takut yang takut banget," lanjutnya.


Arkan menggenggam tangan Anjani yang ada di hadapan wajahnya lalu menciuminya dengan lembut. "Tidak akan, saya sudah berjanji kalau kita akan bersama dalam waktu yang lama. Jangan sedih lagi, saya di sini."

__ADS_1


Anjani terkekeh, namun tetap saja ada air mata yang jatuh dari peluk mata Anjani, membuat Arkan mendesah pelan lalu menghapus Air mata Anjani. "Saya tidak jadi pergi karena penerbangannya dibatalkan. Semua urusan di Jakarta bisa dihadle oleh orang-orang kepercayaan saya, Sayang. Itu artinya Tuhan masih mau kita bersama lebih lama lagi."


Anjani menganggukan kepalanya dan mengecup bibir Arkan singkat walaupun dengan susah payah karena perutnya yang semakin berat. "Harus baik-baik aja. Kamu harus inget kalau kamu punya aku di rumah, punya anak kita. Anak kita butuh ayahnya, aku butuh kamu."


"Aku gak akan pernah bosan bilang kalau aku sayang banget sama kamu, aku gak mau kamu tinggalin aku atau harus hidup tapi gak ada kamu. Aku gak siap, gak akan pernah siap, Mas," lanjut Anjani.


"Saya juga tidak mau meninggalkan kamu, Sayang. Sudah ya, jangan dipikirkan lagi, jangan menangis lagi. Saya merasa gagal sebagai suami kamu kalau kamu sampai menangis."


"Tapi nangisnya karena sayang. Bukan karena disakitin sama kamu. Aku nangis karena gak mau kehilangan kamu, jadi gak salah."


"Tetap saja saya tidak mengizinkan ada air mata yang turun dari wajah cantik kamu selain karena bahagia. Jangan lagi. Arkan menciumi bibir Anjani beberapa kali, jujur itu membuat Anjani semakin tenang. Membuat Anjani merasa nyaman dan mulai lega dari perasannya yang kacau tadi.


Tangan Arkan turun mengusap perut Anjani. Kalau Anjani mau tua dia juga tidak kalah khawatirnya. Kalau sampai anaknya kenapa-kenapa mungkin Arkan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.


"Perutnya masih sakit?" Tanya Arkan.


"Engga, tadi bayinya kaget karena mamanya lari-lari. Tapi bayi baik-baik aja, dia happy soalnya papanya ada di sini sekarang."


"Happy?"


Anjani mengangguk lalu menggenggam tangan Arkan dan mengadakan tangannya ke arah yang dia rasakan seperti ada pergerakan. Arkan tersenyum saat merasakan pergerakan yang yang dirasakan tangannya. "Sayang."


"Kenapa, Mas?" Tanya Anjani.


"Dia menendang perut kamu, tapi yang tersentuh hati saya. Saya jatuh cinta dengan tendangan anak saya," ucap Arkan, nadanya terdengar bahagia sekali membuat Anjani terkekeh.


Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, bukan Arkan saja yang merasakan seperti itu, dia juga sama. "Aku juga, aku juga sama. Kamu harus tepatin janji kalau gitu."


"Janji yang mana?"


"Janji akan menjadi orang pertama yang peluk dia saat lahir, janji selalu di samping aku sampai rambut kita putih dan liat anak kita menikah lalu punya keluarga bahagia."

__ADS_1


"I promise." Setelah mengatakan itu Arkan mencium bibir istrinya dengan lama, menyalurkan seluruh perasaan yang dia rasakan sekarang. Dia mau Anjani tau kalau Arkan senang sekali karena masih bisa melakukan hal-hal sederhana seperti ini.


__ADS_2