
Sudah hampir 6 bulan Anjani dan Arkan menikah. Ya memang pasti selalu ada rintangan dalam pernikahan, entah itu pertengkaran kecil, atau masalah masa lalu yang sering kali dikaitkan oleh mereka. Tapi sejauh ini mereka enjoy kok menikmati kehidupan pernikahan mereka.
Seperti hari ini setelah pulang sekolah, Arkan dan Anjani mampir ke salah satu restoran Jepang untuk makan ramen dan sushi. Anjani yang mengajaknya, karena dia sedang ingin makan-makanan Jepang. Lagi, Anjani sudah mendapat nilai terbaik di semester pertama. Jadi dia ingin memberikan self reward untuk dirinya sendiri.
Seperti biasa mereka selalu mengganti baju dan menggunakan masker, cukup ribet memang. Tapi tidak apa-apa, semuanya akan berakhir beberapa bulan lagi.
Anjani menyeruput ramennya, ahh dia sudah lama tidak ke sini. Membuat Arkan terkekeh karena tingkahnya, Arkan memang suka kalau melihat istrinya makan, karena dia tidak mau diam. Menggemaskan sekali.
"Demi apapun ramen di sini gak akan ada duanya, enak banget," gumam Anjani.
"Bagi kamu semuanya enak," balas Arkan.
"Ya iya sih, tapi ini enak banget. Aku mau nambah satu porsi lagi!" Kata Anjani.
"Tambah lah, biar kamu ada isinya. Biar saya tidak seperti menggendong angin," ledek Arkan.
"Ishh, ngeledek ya karena kiloan aku naik 2 kilo?" Tanya Anjani seraya mendengus pelan.
"Loh nambah? Hahaha."
"Ketawa lagi, tapi gapapa sih. Aku gak takut gendut, aku lebih takut aku gak bisa menikmati makanan yang enak selama aku hidup."
"Tambah sebanyak apapun juga tidak apa-apa, saya suka kamu dalam keadaan apapun," ucap Arkan seraya mengusap puncak kepala istrinya.
Tiba-tiba notif ponsel Anjani berdering. Namun bukan pesan atau telepon, melainkan sebuah alarm yang dia tandai sebagai : Husband's birthday! 🎉🎊🎂
Anjani melirik Arkan sebentar, nahloh dia panik sekarang harus membelikan apa untuk Arkan? Kenapa juga dia memasang alarm H-1? Dia juga sibuk ujian dan memikirkan raport.
"Kenapa sayang?" Tanya Arkan yang kini merasa ditatap oleh Anjani.
"Hah? Engga, gapapa kok. I'm oke," jawab Anjani seraya tersenyum lalu kembali memakan ramen miliknya.
__ADS_1
Mendengar itu Arkan tersenyum dan mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. "Gemes."
Anjani hanya tersenyum kecil, aduh dia bingung sekarang harus melakukannya dari mana. Pasalnya kan Arkan juga tidak ada jadwal kemana mana, pasti akan selalu bersama Anjani. Sulit nih kalau begini jadinya.
"Mas hari ini banyak pekerjaan kah?" Tanya Anjani.
"Ada tapi tidak banyak, kenapa hm? Mau saya temani? Atau ingin manja-manja malam ini?" Tebak Arkan.
Anjani menggeleng. "Iya jadi nanti kamu selesain dulu pekerjaannya ya, biar enak kalau pekerjaan kamu udah selesai."
Mendengar itu Arkan mengangguk, tentu akan dia kabulkan. Pulang dari sini pasti akan dia selesaikan agar bisa quality time nanti malam bersama gadis kecilnya.
Setelah makan ramen mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Di sepanjang perjalanan Arkan fokus menyetir, sementara Anjani sibuk dengan sebuah katalog jam tangan yang ingin dia belikan untuk Arkan, kebetulan bisa diantar hari ini juga jadi soal kado itu gampang, begitu juga dengan kue. Anjani tidak membeli kue besar, dia malah membeli mini cake korea. Karena ya menurutnya gemas saja.
Anjani terus senyum-senyum, tanpa sadar Arkan menatapnya sejam tadi. "Kenapa senyum-senyum?"
"Gapapa," jawab Anjani sekenanya, ya karena memang sedang fokus.
"Chat dengan siapa? Pria?" Tanya Arkan yang mulai kambuh posesifnya.
"Butuh kamu," balas Arkan seraya kembali fokus pada jalanan.
Anjani menghela napas, kalau sudah begini berarti Arkan sedang cemburu. Padahal Anjani tidak pernah membalas pesan dari pria manapun, terkecuali ya Azzam dan Rafi.
Anjani menyimpan ponselnya lalu mendekat ke arah Arkan dan menyenderkan kepalanya di lengan suaminya. "Gak fokus hp lagi tuh, jangan marah."
"Gak marah, Sayang." Tangan Arkan mengusap pipi Anjani dengan lembut. Ya memang tidak marah, hanya dia tidak mau kalau diabaikan oleh Anjani.
Anjani tersenyum, dia merasa lega kalau Arkan tidak marah padanya, meskipun ya Anjani tau kalau Arkan tidak akan pernah bisa marah padanya, tapi tetap saja dia memiliki rasa takut pada suaminya itu.
.
.
__ADS_1
.
Sengaja memang Anjani tadi tidur lebih cepat, karena kalau dia tertidur, suaminya juga akan tidur. Perlahan Anjani mengangkat tangan Arkan dari atas perutnya, karena Arkan memang mudah terbangun, apalagi menyadari kalau Anjani tidak ada di sampingnya.
Tapi ternyata tangan Arkan ini berat, Arkan malah semakin mengeratkan pelukannya pada Anjani. Aduh kenapa sih manusia satu ini menempel terus padanya? Tidak bisa ditinggal barang sedikit itu.
"Aduh gimana ya," gumam Anjani pelan.
Anjani menghela napas berkali-kali, dia susah ini mau lepas dari pelukan Arkan saja. Benar saja kan, Arkan terbangun. "Mau kemana?" Tanya Arkan dengan suara bangun tidur.
"Hmm? Hoaaamm ... Aku kebangun ayok bobo lagi." Anjani kembali memeluk Arkan dan memejamkan matanya, tak lupa juga dia mengusap usap punggung Arkan agar kembali tertidur.
Beberapa menit berlalu, dengkuran halus mulai terdengar dari bibir Arkan, itu berarti dia sudah kembali tertidur nyenyak. Dia harus mencoba lagi untuk lepas dari pelukan Arkan ini.
Pokoknya Anjani tidak menyerah, dia kembali mencoba melepaskan diri berkali-kali dari Arkan dan dengan susah payah akhirnya Anjani berhasil turun dari kasur lalu keluar kamar. Di sini sepi, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 lebih. Mama dan Papa mertuanya ada acara keluar kota kemarin, jadi memang hanya ada Anjani dan Arkan, juga para pelayan.
Anjani perlahan duduk di sofa ruang tengah lantai dua ini, dia sudah menyembunyikan semua persiapan ini sejak tadi. Untung saja Arkan juga tadi sibuk di ruang kerjanya, jadi semuanya berjalan lancar.
Setelah dirasa semuanya sudah lengkap Anjani kembali ke kamar untuk mengeksekusi semuanya. Pokoknya dia harus jadi orang pertama, karena beberapa bulan lalu juga Arkan melakukan hal yang sama padanya tepat diumur 18 tahun, jadi dia juga harus se effort itu untuk Arkan.
Terlihat Arkan masih tertidur pulas di kasur, sementara Anjani dengan santai duduk di tepi ranjang sembari memasangkan lilin di mini cakenya. Ah gemas sekali. Meskipun simpel karena memang mendadak, tapi Anjani suka. Dia juga tidak suka yang terlalu heboh.
Anjani senyum-senyum sendiri melihat kuenya, dia juga menggambil lilin dan menancapkan ya di sana. tidak lupa juga menyiapkan sendok kecil dan juga korek api. Beres sekarang tinggal menunggu jam menunjuk angka 12.
Sambil menunggu waktu, Anjani menatap Arkan yang masih tertidur, ternyata menyenangkan sekali menatap suaminya saat sedang tertidur. Kurang beruntung apa Anjani, sudah memiliki suami tampan, anak tunggal kaya raya, perhatian, memiliki mertua yang baik juga. Dia merasa ketidak sempurna dalam hidupnya kini menjadi sempurna karena kehadiran Arkan dalam hidupnya.
Dan sekarang tinggal beberapa detik lagi waktu menunjukkan tepat tengah malam. Anjani menyalakan lilin lalu menepuk-nepuk pipi Arkan pelan. Tidak mau bangun, kok tumben.
"Masss bangun, Masss ... " Anjani kembali menepuk-nepuk pipi Arkan.
Tidak kehabisan akal kini Anjani menciumi wajah suaminya itu dengan lembut, tidak ada satu pun yang terlewat pokoknya. Karena ya Anjani sudah berani kalau melakukan itu sekarang. "Mass bangunnnn, selamat ulang tahun!!"
__ADS_1
Tak selang beberapa lama Arkan bangun dan menatap Anjani bingung. "Sayang?"
"Selamat ulang tahun, Suami aku!" Anjani tersenyum ke arah Arkan dan mengulurkan kue ke hadapan suaminya.