
"Anjaniiiii!!!" Della dan Nanda memasuki ruangan Anjani dengan senang. Mereka sudah mengabari sih pada Arkan kalau mereka akan datang. Tentu Bagas lah yang bicara. Karena memang kemarin hanya ibu dan ayahnya saja yang kesini.
Melihat itu Anjani tersenyum dan merentangkan tangannya ke depan lalu disambut hangat oleh kedua sahabatnya itu untuk memeluknya. "Kangennnnnn!"
"Aku juga kangen kalian, kenapa baru ke sini. Aku kira kalian gak akan kesini," ucap Anjani merajuk.
"Ke sini lah, mau liat keponakan cantik. Tapi keadaan kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Della.
"Baik kok, cuma suka ngilu aja di bagian jahitannya. Belum kering banget kayanya. Tapi aman kok aman. Aku baik-baik aja."
"Emang kalau sesar itu gitu, gak boleh banyak bergerak. Tapi Alhamdulillah kalau kamu baik-baik aja. Asi aman?" Tanya Nanda yang memang sepertinya sudah paham menjadi ibu-ibu.
"Aman-aman." Anjani tersenyum ya walaupun Arsy sempat menolak tapi pada akhirnya kan Arsy bisa meminum ASI-nya dan itu membuat Anjani senang sekali.
"Gila ya, kalian udah punya anak aja, aku kapan?" Gumam Della.
Seketika Rafi yang sedang menggendong baby Eyris berdeham, begitu juga dengan Bagas. Membuat Azzam yang merasa menjadi objek tersangka seketika tercekat.
"Aku kan yang kalian maksud?!" Kesal Azzam.
Mereka semua tertawa, mereka bertiga akhirnya juga ikut bergabung dengan para wanita itu. Karena Arkan sendiri sekarang sedang ke kantor sebentar untuk meeting, setelah itu dia kembali ke sini.
"Jadi boleh gendong bayinya?" Tanya Bagas.
"Boleh."
Satu jawaban dari Anjani membuat Bagas kesenangan. Setelah mendapat izin dari ibunya barulah dia menggendong baby Arsy. Dia tidak pandai memang, tapi dia sudah belajar dulu sewaktu baby Eyris dilahirkan.
"Mirip Bang Arkan," gumam Bagas saat melihat bayi cantik yang kini menatapnya. Tatapannya begitu polos, namun membuat Bagas tak henti-hentinya memuji keponakan itu.
"Kalau mirip kamu aneh," cibir Azzam.
"Pak Arkan tuh bucin banget sama Anjani, gak heran anaknya mirip Pak Arkan. Cantik banget ih, Jan," ucap Della yang kini mendekat pada baby Arsy.
"Cantik lah mamanya juga cantik. Hai Arsy ini Om Bagas, mantan mama kamu sekaligus om kamu sekarang," ucapnya bangga.
"Mantan kok bangga!" Cibir Rafi.
__ADS_1
"Bangga lah, mantan aku hebat udah punya anak. Parah sih, Jan. Bales dendamnya gak nanggung, mana buat aku jatuh cinta juga lagi sama anaknya," ucap Bagas terang-terangan.
Serius deh ini mereka yang ngeri, pasalnya kalau ada Arkan sudah habis itu Bagas kena amuk. Tapi Bagas senang sih mengerjai kakak sepupunya itu. Karena terlalu posesifnya dan takut dia mendekati Anjani, dia sampai memperingatinya beberapa kali.
Anjani yang melihat itu hanya terkekeh saja, dia sih sudah biasa melihat kelakuan random Bagas yang seperti itu. Dia dan Bagas sekarang saudara dan mereka berteman. Jadi bercanda seperti itu masih dalam batas wajar menurut Anjani. "Jangan pedoin anak aku, Gas!"
"Iya engga, bisa kena amuk bapaknya," balas Bagas.
"Kamu jangan lupa minum vitamin dan suplemen ya, Jan. Harus banyak makan juga, kamu kan menyusui jadi asi kamu harus berkualitas. Pokoknya jangan terlalu cape," peringat Nanda.
Mendengar itu Anjani tersenyum, sepertinya selain orang tuanya, Nanda ini bisa diajak bekerja sama dalam membahas persoalan anak. Karena memang dia juga sudah menjadi seorang ibu, Eyris tumbuh dengan baik ditangannya. "Iya, Mom Eyris," ledek Anjani.
"Apasih kok mom Eyris," kata Nanda.
"Sekarang kan WhatsApp kamu ditambahin itu hahahaha," ucap Anjani dengan tawanya.
"Geli juga ya, tapi aku ikutin ibu-ibu dia sekolah motoriknya Eyris, ganti ah geli juga."
Anjani terus tertawa dengan tingkah Nanda. Ya lumayan lah, hiburan juga untuknya di saat sedang bosa begini. Memang teman-temannya ini mood booster.
"Btw Bagas lagi pdkt sama temenmu, Jan," adu Azzam.
Anjani melirik Bagas, sementara Bagas yang tadinya sedang memandangi baby Arsy yang sedang diajak bermain oleh baby Eyris langsung mendadak gagu.
"Engga, apaan sih. Engga kok, Jan. Serius engga deh, ngaco," elak Bagas.
Anjani menatap curiga, teman siapa? Temannya di kampus kan kalau tidak Shella, ya Dion. Siapa lagi coba. "Deketin Shella ya?!"
Bagas kembali mengelak, namun Azzam berusaha meyakinkan Anjani kalau Bagas benar-benar berbohong. Anjani menyipitkan matanya ke arah Bagas. Nahkan kalau sudah begini Bagas yang kalah.
"Yaudah iya, semenjak di rumah sakit waktu kamu hamil itu aku chat terus sama dia," aku Bagas.
"Terus?" Tanya Anjani otoriter.
"Ya gitu, aku suka sama dia."
Anjani menggelengkan kepalanya seraya menghela napas. Ya bagaimana ya, dia harus selektif untuk mengizinkan orang yang akan memacari temanya. Apalagi dia tau sekali Bagas bagaimana. Belum lagi permasalahan di antara mereka dulu.
Jadi dia tidak mau kalau Shella sampai merasakan sakit sepertinya dan juga Andira, tapi kalau dilihat lagi, Bagas memang sudah berubah sih. Tapi ya Anjani harus hati-hati.
__ADS_1
"Yaudah boleh, tapi jangan disakitin! Cukup kemarin aja kamu jadi buaya!" Peringat Anjani.
"Iya, Jan. Aku kapok kok, gak lagi. Beneran kali ini aku serius, gak akan kaya kemarin."
Mendengar itu Anjani mengangguk, baguslah kalau dia kapok. Tapi keterlaluan sekali sih kalau Bagas tidak ada rasa jera. Andira saja sampai tidak kembali lagi ke sini, karena kelakuannya. Jadi Anjani berharap kalau Bagas kali ini benar-benar menjalani hubungan dengan baik.
Mungkin ada 2 jam mereka di sana dan memutuskan untuk pulang, tepat sekali. Saat mereka pulang, Arkan datang dan melemparkan senyum pada Anjani yang kini sedang menyusui anak mereka.
Entahlah, pemandangan ini sepertinya akan menjadi hal yang Arkan sukai mulai detik ini. Rasanya tenang dan senang. Arkan mendekat ke arah istri dan anaknya lalu mengecup puncak kepala Anjani dan turun untuk mencium si kecil. "Selamat sore istri dan anak ayah."
"Selamat sore Ayah, gimana kerjanya?" Tanya Anjani.
"Aman, anak saya hari ini bandel? Dia rewel tidak?" Tanya Arkan seraya mengusap-usap pipi mungil itu dengan jari telunjuknya. Serius Arkan ingin sekali memakan pipi anaknya, gemas sekali.
"Arsy baik kok, Ayah. Minum susunya banyak, gak rewel. Tadi dia diajak main sama baby Eyris. Seneng kayanya dia ada temennya," ucap Anjani sambil tersenyum.
Arkan mengangguk dan melengkungkan senyumnya. Bagus lah kalau tidak terjadi apa-apa, tadi dia sudah membayangkan kalau Anjani kebingungan mengurus anaknya karena tidak ada dirinya. Tapi melihat Anjani yang sudah terlihat sedikit beradaptasi begini, dia jadi merasa bangga.
"Mas aku kapan boleh pulang?" Tanya Anjani.
"Nanti saya tanyakan dulu ya cantik, kamu kan masih butuh perawatan intensif. Kenapa, sudah tidak betah ya istri saya?" Tanya Arkan seraya mencium bibir Anjani sekilas.
"Heem, aku bosen banget di rumah sakit.Gak bebas, makanannya juga gak enak. Aku gak suka," adu Anjani.
"Yasudah kalau begitu nanti saya tanyakan ya? Yang terpenting kamu sehat dulu. Banyak makan, sekarang ingin apa? Biar saya pesan saja agar kamu makannya enak," tawar Arkan.
"Mau pudding Regal, aku mau itu aja sama minum oatmilk," pinta Anjani.
Arkan mengangguk dan kembali mencium bibir Anjani. Setelah itu dia mengetik pesan pada seseorang dan kembali fokus melihat baby Arsy yang sedang fokus dengan susunya.
"Sayang ... "
"Apa, Mas?" Tanya Anjani yang kini mengalihkan fokusnya pada suaminya.
"Boleh sebelah sebelah sama Arsyla?" Tanya Arkan random.
Anjani mengerutkan dahinya. "Apanya?!"
Arkan menunjuk objek yang di maksud dengan dagunya. Membuat Anjani langsung memukul lengan suaminya. "Jangan loh, punya anaknya. Gak!"
__ADS_1
"Punya Ayahnya, dia pinjam saja selama dua tahun. Jadi tidak masalah harusnya. Saya juga suka begitu," ucap Arkan seolah merajuk tak mendapatkan mainannya.
Anjani menghela napasnya, kenapa sih suaminya ini random sekali? Masa dia cemburu dengan anaknya sendiri? Memang Arkan saja yang begitu. "Mesum!!"