
Bukan tanpa alasan memang kenapa Arkan mengajak Anjani untuk pergi kelompok secara mendadak begini. Nampaknya juga Anjani belum sadar tentang esok hari. Sekarang dia malah asik di balkon kamar ini memandangi pemandangan yang memang selalu memanjakan mata.
Tak selang beberapa lama, apa yang Arkan pesan datang juga. Sebuah gaun cantik berwarna hitam cantik, memang sedikit rendah dadanya dan juga ada belahan yang cukup panjang di bagian bawahnya. Arkan rasa Anjani akan cantik memakai ini nanti malam.
Anjani yang memang melihat jelas apa yang ada di hadapannya langsung menghampiri suaminya. "Mas, itu buat apa?" Tanya Anjani ke keheranan.
Tidak mungkin kan Arkan yang akan memakainya, sudah pasti dia. Maksudnya memang akan ada apa sampai Anjani harus memakai itu?
"Nanti malam ikut saya."
"Kemana?" Tanya Anjani yang sudah mulai penasaran, karena ya itu bajunya cantik sekali dan sangat sexy, apakah Arkan akan mengajaknya ke sebuah acara?
"Ikut saja ya dan dandan yang cantik." Arkan menaruh gaun itu di lemari setelah itu menghampiri Anjani yang nampak masih bingung.
"Aku gak suka dibuat penasaran tau, spill sedikit aja," pintanya.
"Tidak mau," jawab Arkan simpel. Membuat Anjani mencibir. Kenapa ya orang-orang suka membuat dia penasaran, padahal Anjani adalah orang yang tidak suka kalau dia dibuat penasaran.
Apalagi Arkan, sepertinya pria ini sangat senang membuatnya penasaran. Untung saja suami, kalau tidak sudah Anjani tendang sampai planet mars. Jadi mau tidak mau dia harus menahan penasarannya sampai malam.
Beberapa jam kemudian, malam pun tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 9 Malam. Arkan bilang kalau acaranya jam 10 malam, terlalu malam untuk Anjani yang mudah mengantuk. Tapi tidak apa-apa, kemana pun Arkan pergi dia pasti akan ada di sana juga.
Anjani menatap dirinya di cermin, Arkan itu tergolong orang yang perfeksionis dan rapi. Seleranya juga tinggi, itu kenapa dia membelikan gaun ini untuk Anjani. Oleh karena itu dia harus menyesuaikan juga dengan gaun yang dia gunakan.
Sapuan-sapuan make up yang dia pakai senada dengan gaunnya yang glossy dan glamour. Tidak lupa dia menyemprotkan parfum di sekitar area inti agar tahan lama. Untuk sesaat Anjani tersenyum memuji hasil karyanya sendiri.
__ADS_1
Ternyata tidak buruk, cantik juga dia kalau berdandan seperti ini. Arkan yang baru keluar walk in closet saja terpana melihat istrinya yang sudah cantik di depan cermin. Memang tidak pernah gagal Arkan kalau memilih sesuatu. Gaun itu sangat pas di tubuh semampai di tubuh Anjani yang juga pilihan hatinya.
Perlahan Arka. menghampiri Anjani, membuat Anjani kini dapat melihat jelas kalau dasi yang Arkan gunakan itu berantakan. Dengan telaten dia membenarkan dasi milik Arkan. Bisa Arkan rasakan dari jarak dekat seperti ini Anjani semakin cantik, apalagi aroma tubuhnya yang selalu memabukkan.
"Kamu kalau pake dasi itu yang bener, kaya gini baru rapi. Yang tadi jelek," omel Anjani.
"Kalau begini caranya saya tidak mau menggunakannya dengan baik, biar kamu selalu membenarkannya," ucap Arkan seraya merengkuh pinggang istrinya agar semakin mendekat.
Entah kenapa setelah melakukan 'itu' dengan Arkan, Anjani selalu merasa sensitif jika terlalu dekat dengan Arkan. Pikirannya sudah tidak polos lagi sekarang karena Arkan yang memperkenalkannya. Sampai-sampai Anjani harus berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran kotornya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya Arkan yang melihat sedikit kegelisahan di raut wajah istrinya.
Anjani tersenyum dan menggelengkan kepalanya, setelah itu mengambil parfum yang selalu Arkan gunakan. Anjani membantu menyemprotkan parfum pada suaminya. Di dada, di bagian lengan di belakang telinga dan terakhir di rahangnya.
"Terima kasih, Sayang."
Anjani menganggukkan kepalanya seraya menampilkan senyum terbaiknya.
Anjani mengerutkan dahinya. "Aku kira kamu mau ajak aku ke acara gitu ... "
"Saya kan tidak bilang," balas Arkan.
Anjani ingin ngedumel tapi saat sampai di atas dia benar-benar takjub dengan apa yang ada di hadapannya. Sepertinya ini memang sudah direncanakan dengan baik. Sebuah dinner romantis.
Ini bukan pertama kalinya memang tapi entah kenapa terasa jauh lebih spesial. Sekarang mereka sudah duduk dan seperti makan malam pada umumnya, di sana sudah ada steak dan juga wine. Jujur saya Anjani sudah pernah minum wine saat dia masih sekolah, tapi memang tidak ada yang tau saja.
Mereka berdua menikmati makanan sampai selesai, setelah selesai keduanya hanya saling menatap dan minum wine. Sesekali Arkan mengusap punggung tangan Anjani dan mengecupnya. Ingin memberitahu saja pada Anjani kalau Arkan sangat mencintainya.
__ADS_1
Tak selang beberapa lama datang seorang pelayan hotel yang masuk melalui tangga balkon ini, tentunya tidak terhubung ke kamar, itu kenapa semua ini tersedia.
Lebih mengejutkan, pelayan itu membawa kue dan mengucapkan Happy anniversary. Anjani masih terpaku namun mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu, sampai pelayan itu sudah pergi barulah Anjani menatap ke arah Arkan.
"Memang masih besok, tapi saya ingin mengucapkannya malam ini.
Anjani menutup mulutnya tak percaya. Hari ini tepat satu tahun mereka menikah. Ah bahagia sekali Anjani, perlahan Arkan memindahkan kursinya dan duduk di samping Anjani. "Mari kita tiup."
Anjani dan Arkan menutup matanya dan dalam hitungan ketiga mereka sama-sama meniup lilinnya. "Happy anniversary," ucap mereka bersamaan.
Setelah itu keduanya saling memeluk dan menciumi pipi satu sama lain. Tidak terasa memang, hubungan ini sudah sampai di titik ini. Hubungan yang awalnya tidak pernah mereka inginkan sekarang malah menjadi hubungan yang paling mereka jaga.
Perlahan Arkan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Anjani. Tangannya juga melingkar di tubuh Anjani, membuat Anjani lebih dekat padanya dan membalas ciuman Arkan dengan manis.
Jarang memang mereka saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, tapi mereka sering mengutarakannya lewat tindakan. Semuanya itu mampu kok membuat mereka saling merasakan perasaan disayang satu sama lain. Meskipun terkadang cara mereka berdua berbeda.
Arkan menciumi seluruh permukaan wajah Anjani, ada banyak doa baik yang dia panjatkan sebenarnya. Terutama untuk masalah anak, semoga kedepannya akan ada manusia kecil di antara mereka dan menjadi pelengkap pernikahan ini.
Kemudian Arkan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak beludru berwarna biru, membuat Anjani membuka kotaknya saat Arkan mendekatkan kotak itu padanya.
Sebuah gelang cantik keluaran terbaru dengan dihiasi kupu-kupu dan juga berlian kecil. Simpel memang tapi Anjani menyukainya. "Aku suka."
"Kalau suka boleh saya pakaikan?" Tanya Arkan dan langsung saja Anjani mengangguk.
Arkan memasangkan gelang cantik itu pada pergelangan tangan Anjani. "Pilihan saya selalu bagus atau memang kamu yang selalu pantas memakai apapun? Gelang ini cantik di pakai oleh kamu, Anjani."
"Bukan, tapi karena emang kamu selalu tau apa yang pantas buat aku, Mas. Kamu selalu melakukan yang terbaik buat aku, makasih ya?"
__ADS_1
Arkan menganggukkan kepalanya, namun karena dia memang usil. Arkan mencolek krim yang ada pada kuenya dan meletakkan kembali di ujung bibir Anjani, membuat Anjani sedikit mengerucutkan bibirnya. "Usil."
Arkan tidak menjawab, dia hanya terkekeh lalu meraup bibir Anjani dan membersihkan krim itu dengan sapuan lidahnya. Mereka saling menyaut dan menikmati kue itu bersama-sama. Iya, cara baru menikmati kue ini rasanya lebih Anjani sukai daripada yang biasanya.