I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Acara Reuni Orang Dewasa


__ADS_3


Pulang sekolah Arkan membawa Anjani ke salon, pokoknya dia akan mendandani Anjani secantik mungkin, ya walaupun Anjani memang sudah sangat cantik. Benar saja, kan? Sekarang Anjani semakin terlihat cantik dengan balutan dress berwarna hitam. Ya di sesuaikan juga lah dengan kemeja dan jas Arkan.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Anjani yang lumayan kesal karena tak mendapatkan jawaban sejak tadi.


Arkan menoleh ke arah Anjani lalu memasangkan seatbeltnya seraya mengecup bibir kecil itu sekilas. "Temani saya ke acara reuni kampus."


Anjani membulatkan matanya, reuni katanya? "Kenapa bawa aku? Kamu mau disangka nyulik anak di bawah umur?!"


"Mereka juga sudah tau kamu, mereka datang di acara pernikahan kita walau tidak semua," jawab Arkan santai dan melajukan mobilnya.


Anjani terdiam, kenapa dia rasanya takut ya? Padahal Anjani bukan orang introvert juga, tapi ya malu saja kalau sampai ikut ke acara Arkan seperti ini. Agak sangsi juga kalau dia harus bergabung di acara orang-orang dewasa mengingat dia masih sekolah.


"Aku gak usah ikut deh ya?" Ucap Anjani.


"Kenapa? Penampilan saya malu-maluin kamu?" Tanya Arkan.


Kenapa jadi penampilan, kalau segi fisik dan penampilan Anjani juga tau kalau dia sangat tampan. "Bukan, aku malu aja dateng ke acara orang dewasa, kamu paham gak sih rasanya? Ngerasa paling oon sendiri nanti."


"Tidak akan, kamu bersama saya. Jangan khawatir, Sayang. Saya juga tidak mungkin mengabaikan kamu di sana. Saya juga sudah menyediakan banyak makanan kesukaan kamu di sana." Arkan tersenyum seraya mengusap puncak kepala Anjani.


"Jangan bilang kamu yang biayain acara itu," tebak Anjani.


"Mau bilang iya tapi istri saya sudah bilang jangan. Jadi bagaimana?"


Anjani menghela napasnya, mau heran tapi Arkan adalah anak tunggal keluarga Altair. Ternyata ucapan adalah do'a ya? Anjani pernah dengan lantang berteriak di kelas : Semoga aku nikah sama putra tunggal kaya raya. Dan ya, permohonannya terkabul.


Mereka sampai di sebuah cafe yang cukup besar, Anjani kira kalau orang dewasa reuni akan formal. Ternyata semuanya bergaya casual. Ya hanya saja penampilan mereka yang terlihat formal karena memang sesuai profesi juga kali ya.

__ADS_1


Anjani yang memang tidak mengenal siapa-siapa hanya mengekori Arkan yang sedari tadi dia gandeng lengannya.


"Gio! Sini!" Panggil seorang perempuan yang berada di tengah kumpulan orang lainnya.


"Boss besar udah datang nih, selamat datang, Bapak Altair."


Arkan terkekeh dan beradu tos dengan beberapa orang di sana, sementara tangan Anjani kini sudah berpindah memegangi ujung jas Arkan. Tidak sadar saja kelakuannya ini membuat teman-teman Arkan terkekeh karena berpikir Arkan membawa keponakannya. Pasalnya kan pada saat menikah Anjani nampak berbeda karena make up dan juga riasan yang disesuaikan untuk acara pernikahan.


"Adik? Keponakan? Istri lo kemana, Gio?" Tanya seorang wanita.


"Ini istri gua, Anjani." Arkan kembali menggenggam tangan Anjani lalu mengajaknya duduk di tengah orang-orang yang kini dia ketahui adalah sahabat dekat Arkan.


"Cantik banget istri Gio, berapa tahun?" Tanya seorang pria yang kini menatap kagum ke arah keduanya.


"17 tahun, Om," jawab Anjani polos.


Ya dia tidak tahu harus memanggil teman-teman Arkan apa, terlebih lagi memang culture-nya berbeda. Mereka cenderung menggunakan bahasa yang santai dan Arkan juga begitu ternyata. Ahh pokoknya Anjani bingung, tapi itu membuat semua orang tergelak.


"Really? Lo nikahin anak di bawah umur, Gio?" Tanya Galang tak percaya.


"Gila, jadi rumor di kampus itu bener?" Tanya Aryan.


Anjani menatap ke arah Arkan, memang rumor apa? Tuhkan Anjani malah seperti orang dongo di sini hanya bisa planga-plongo tidak jelas. Apalagi kini Arkan mengangguk, bikin penasaran saja.


"Kamu terlalu dipaksa Gio ya, Anjani?" Tanya Sabrina.


Anjani menganggukkan kepalanya seraya terkekeh, ya kapan lagi kan menjahili Arkan di depan teman-temannya. Melihat itu Arkan menghela napas lalu kembali menggenggam tangan Anjani dengan erat. Melihat interaksi keduanya mereka semua paham dan hanya mengangguk-nganggukan kepala seraya menggoda pasangan yang baru menikah itu.


Sabrina gemas sekali melihat reaksi keduanya. "Anjani sini deh, kamu mau tau gosip suamimu gak?"

__ADS_1


"Gosip apa?"


Sabrina terkikik geli dan melambaikan tangan, meminta Anjani untuk duduk di sisi kanannya. Saat Anjani hendak bangkit, Arkan menahan, tapi gadis itu dengan sigap melepaskan pegangan Arkan dan berhasil mendarat tepat di samping Sabrina.


Perempuan berhijab itu mendekat, lalu membisikkan sesuatu ke telinga Anjani. Sambil mendengarkan, Anjani terkekeh dan menatap Arkan yang wajahnya sudah jengkel tak karuan. Sudah pasti ini teman-temannya membongkar aib Arkan di depan sang istri.


Cukup lama mereka mengobrol, rasanya Anjani ingin sekali tertawa lepas. Tapi dia juga harus menjaga image, tiba-tiba dari arah panggung ada suara khas seseorang yang Mika ketahui pasti adalah idolanya. "Ardito Pramono!"


Mata Anjani berbinar, Arkan sedikit melirik ke arah istri kecilnya. Oh jadi gadis kecilnya juga menyukai salah satu artis naungan perusahaannya? Baguslah, sekalian menyenangkan Anjani juga di sini.


Namanya juga remaja, dia sangat senang sampai akhirnya saat sang artis menawarkan bernyanyi bersama ke penonton, Anjani dengan lantang bersuara dan maju ke depan. Arkan yang melihat itu melongo, bisa-bisanya Anjani melewatinya begitu saja dan langsung berlari ke depan.


"Lucu banget istri si Gio, aduh bocil-bocil," gumam Aryan.


"Gua pusing sebenernya," jawab Arkan seraya memijat pangkal hidungnya.


Nahkan sekarang dia juga yang menjadi bulan-bulanan teman-temannya karena menikahi gadis muda yang masih senang bermain-main seperti Anjani. Tapi sudut bibir Arkan tertarik ke atas, melihat Anjani yang nampak senang memegang mik seraya bernyanyi dengan idolanya.


Wajahnya nampak berbinar dan lagi ternyata suara Anjani sangat bagus. Lagu berjudul I Just Couldn't Save You Tonight mengalun indah dari keduanya. Membuat Arkan full senyum apalagi saat Anjani sesekali melirik ke arahnya saat bernyanyi. Terasa lagu itu memang ditujukan untuknya, ahh sudah gila rasanya Arkan kalau melihat Anjani seperti itu, rasa-rasanya gadis kecil itu memang selalu mampu memporak porandakan hatinya.


Satu lagu sudah selesai, Arkan yang melihat itu langsung menghampiri Anjani yang nampaknya masih betah di sana. Tidak lupa juga dia menyapa sang artis yang kini sudah berjabatan tangan dengan Arkan. Anjani tidak berhenti full senyum, bahkan biasa saja saat Arkan mulai merangkul bahunya.


"Terima kasih karena sudah menghibur acara ini dengan baik," ucap Arkan.


"Tidak usah berterima kasih, saya senang bisa menjadi bagian acara anda, Pak. Ini adik Pak Gio?"


Anjani dengan semangat mengangguk, membuat Arkan harus menghela napasnya. "Istri saya."


Anjani mendelik ke arah Arkan, kenapa sih dia menyebalkan sekali? Padahal mengaku sebagai kakak juga kan tidak apa-apa seharusnya. Tapi Arkan malah tersenyum kemenangan, siapa suruh dia terpesona dengan pria lain selain dirinya. Anjani miliknya, jadi akan dia pertegas kepada siapapun.

__ADS_1


Lucu sekali interaksi di antara mereka. Apalagi setelahnya Anjani meminta Arkan untuk memotretnya dengan Ardito, sebenarnya Ardito juga tidak enak apalagi Arkan atasannya juga. Tapi lumayan kan, kapan lagi seorang boss memotretnya seperti ini. Tentu saja itu juga mengundang gelak tawa dari belakang sana.


Arkan seorang CEO besar mau mengikuti permintaan istrinya yang meminta dia memotret gadis itu dengan idolanya. Sungguh, mungkin terkesan aneh apalagi Arkan tipe orang yang cuek, banyak wanita juga yang dia tolak. Tapi mereka yakin, pasti ada alasan kenapa Arkan bisa luluh dengan gadis kecil seperti Anjani. Berarti wanita itu luar biasa. Pantas saja Arkan awet muda, istrinya saja se-menggemaskan itu.


__ADS_2