
Keputusan mendadak Nanda dan keluarganya membuat Anjani kaget. Kalau keluarga Nanda tidak datang ke sekolah, kehamilan Nanda juga masih aman. Iya, berita itu tersebar karena ada seorang murid yang menguping percakapan di ruangan kepala sekolah.
Akhirnya Anjani dan teman-temannya memutuskan untuk ke rumah Nanda. Anjani dan Della izin dari sekolah, sementara Azzam, Bagas dan Rafi kabur lewat tembok besar di belakang sekolah. Ini gawat, mereka bukan pembolos tapi ini memang harus ditangani.
Iya Bagas ikut bersama mereka karena Bagas yang memberitahu jalan rahasia itu, bagaimana pun juga Nanda adalah temannya, sebenarnya Azzam dan Rafi menolak, tapi kalau tidak ada Bagas mereka tidak akan bisa mengetahui jalan ini.
Anjani dan Della pergi menggunakan mobil Della. Untung saja gadis itu membawa mobil. Tapi karena ulah Anjani, kini Arkan yang khawatir sendiri. Gadis itu keras kepala, dia tadi memohon dengan sangat agar diizinkan keluar kelas. Padahal bisa dilakukan pulang sekolah.
Akhirnya karena terlalu khawatir, Arkan hanya memberi tugas setelah itu dengan alasan lain Arkan bisa menyusul Anjani ke rumah Nanda. Pasalnya tadi saja di ruangannya orang tua Nanda sangat emosi, sepertinya mereka baru mengetahui kehamilan putrinya dan langsung memutuskan untuk Nanda keluar sekolah.
Turun dari mobil, Anjani dan Della dikagetkan dengan suara pecahan vas bunga dari dalam sana. Membuat mereka bertanya-tanya apa yang terjadi di dalam.
"Jan Nanda gimana? Itu papanya marah banget kayanya." Della panik, dia pernah melihat kemarahan Papa Nanda waktu itu.
Anjani bergetar, dia juga memikirkan hal yang sama. Namun dengan keberanian, mereka mendekat. Karena pintu tidak di tutup.
"JAWAB PAPA, NANDA! SIAPA YANG MENGHAMILI KAMU!" Teriak Antoni–Ayah Nanda.
"Aku gak mau jawab, aku mau besarin anak ini sendiri! Papa jangan paksa aku!" Nanda menjawab dengan tangis yang deras dan juga tubuhnya yang bergetar ketakutan.
Pranggg ...
Anjani dan Della membulatkan matanya saat Antoni meninju lemari kaca yang ada di sampingnya. Mungkin itu adalah perasan kecewa seorang ayah yang merasa gagal menjaga putrinya, Nala–Ibu dari Nanda memeluk putrinya yang kini histeris.
Sungguh Anjani jadi bingung harus bagaimana, perlahan dia melihat Antoni maju dan melangkah ke arah putrinya. "Papa tanya baik-baik, siapa yang melakukannya?"
"JANGAN PAKSA AKU PA!" Nanda yang nampak frustrasi kini menutup telinganya dan menangis dengan kencang.
Anton mengangkat tangannya. "NANDA! KATAKAN SIAPA–"
__ADS_1
"SAYA!" Seseorang dengan lantang masuk melewati Anjani dan juga Della. Napasnya masih ngos-ngossan karena berlari.
"Saya yang menghamili Nanda. Pukul saya saja om, saya akan tanggung jawab atas semuanya." Sorot matanya nampak lekat dan bersungguh-sunggguh.
"Rafiii ... " Gumam Anjani dan Della.
"LAKI-LAKI KURANG AJAR!" Tanpa ampun Antoni menghajar Rafi dengan tangannya.
Bagaimana bisa dia membiarkan orang yang menghamili putrinya ini hidup dengan aman. Dia harus diberi pelajaran karena telah membuat masa depan Nanda hancur.
"OMMM JANGANNN!!" Teriak Anjani.
Namun Antoni seperti kalap, dia tidak mendengar Nanda yang bahkan kini tengah memohon sambil ditahan oleh ibunya. Bagaimana pun dia sedang hamil besar.
Melihat itu Azzam berusaha melerai, namun dia juga kesusahan. Tapi dia terus mencoba. Anjani melihat itu ketakutan, dia takut dengan kekerasan sampai dia ditarik oleh seseorang untuk masuk ke dekapannya.
Anjani tidak sadar, tapi dia memang perlu itu sebenarnya, dia terus menutup telinga dan matanya. Tanpa dia tau kalau Arkan kini berjalan ke arahnya dan menatap tajam pada Bagas yang dengan beraninya mengambil kesempatan di saat seperti ini.
"Jangan sentuh istri saya," ucap Arkan dengan nada dinginnya.
Anjani yang mendengar itu kaget, dia pikir yang tadi memeluknya Arkan, pantas saja wanginya berbeda. Dia jadi semakin ketakutan. Namun Arkan mendekapnya seolah menjelaskan kalau dia paham situasinya.
Bagas tertegun, bodoh sekali dia menganggap Anjani masih mencintainya karena menerima dekapannya. Benar-benar miris, dia menginginkan Anjani melihat ini semua.
Arkan hendak masuk namun sepertinya dia memang telat datang. Dia bingung kenapa Rafi yang jadi dihajar habis-habisan. Namun sekarang fokusnya adalah menenangkan Anjani. Karena memang yang di dalam masih terdiam dan menetralkan emosinya masing-masing.
"Mass, Rafi gak salah," ucap Anjani setengah berbisik.
Arkan mengangguk dan mencium puncak kepala Anjani. "Lepaskan dulu, biar saya yang selesaikan."
Anjani menatap Arkan dan berusaha mempercayain suaminya. Perlahan dia melepaskan pelukannya pada Arkan dan membiarkan Arkan masuk.
__ADS_1
Mereka semua duduk di dalam, Anjani menghampiri Nanda dan berusaha menenangkannya bersama Della. Sementara Arkan mencoba bicara dan mencari jalan terbaik untuk mereka semua.
"Saya akan bertanggung jawab," ucap Rafi yang masih kukuh pada pendiriannya untuk tetap mengaku kalau dia yang melakukan ini.
"RAF!" Bentak Nanda, dia tidak mau membawa Rafi ke dalam masalahnya, dia tidak mau Rafi bertanggung jawab untuk hal yang tidak dia lakukan.
"Aku pengecut karena kemarin gak mau tanggung jawab, biar sekarang aku tanggung jawab!" Putus Rafi.
Nanda menghela napasnya, kenapa Rafi harus berkorban seperti itu untuknya sih? Kenapa dia harus mengorbankan masa depannya juga untuk Nanda.
Mendengar itu Arkan mengajak Rafi bicara, dia tidak tau apa yang dipikirkan Rafi sehingga melakukan itu. Tentu dia tidak mau ada korban lagi di sini. Arkan mengajaknya keluar lebih dulu dan menatap muridnya itu.
"Kenapa kamu melakukan ini, kita sama-sama tau kalau Nanda hamil tanpa suami dan tidak jelas siapa laki-laki yang menghamilinya," ucap Arkan.
"Saya mencintai Nanda sejak lama, saya rela bertanggung jawab untuk anaknya, akan melakukan itu demi melindunginya dari kemarahan Om Anton. Apa jadinya kalau beliau tau anaknya melakukan pekerjaan haram? Bukankah beliau akan semakin terpuruk?" Tanya Rafi.
"Kamu tidak akan dikeluarkan dari sekolah tapi kalau sampai berita ini menyebar apa kamu siap dengan konsekuensinya, menerima banyak sanksi sosial untuk hal yang tidak kamu lakukan?"
Rafi menganggukkan kepalanya mantap, katakan saja dia bodoh, tapi ini jalan terbaik untuk saat ini menurut Rafi. Melihat itu Arkan menghela napas sembari memijat pangkal hidungnya. Harus dia akui kalau Rafi ini gentleman yang memperjuangkan cintanya sampai sebegininya.
Arkan hanya mediator, Rafi sudah mengambil keputusan dan ya dia harus kembali menyelesaikan masalah ini. "Kalau begitu panggil orang tua kamu ke sini, kalian harus menikah malam ini juga."
"Malam ini?" Tanya Rafi kaget.
Arkan mengangguk, itu keinginan dari orang tua Nanda. Untuk penghulu dan semua surat-surat bisa dilakukan nanti, yang terpenting mereka sah. Rafi terdiam, bagaimana cara menjelaskan ini pada orang tuanya? Mereka baik memang, tapi apakah kalau kasusnya begini akan tetap seperti itu?
Tapi Rafi sudah mengambil keputusan, apapun resikonya harus dia hadapi. Rafi mengangguk dan setelah itu menjauh dari Arkan untuk menghubungi kedua orang tuanya.
Arkan melihat Rafi untuk beberapa saat, setelah itu dia kembali masuk ke dalam. "Nanda dan Rafi akan menikah malam ini, jadi persiapkan putri kalian."
Terkejut? Tentu mereka terkejut, mungkin kedua orang tua Nanda lega, tapi yang lainnya tentu kaget. Apalagi Nanda. Dia benar-benar malu pada Rafi, karena dia, Rafi harus menanggung perbuatannya yang tidak pantas. Entah harus bagaimana dia sekarang.
__ADS_1