I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Perkara Baju


__ADS_3


Setelah melakukan perjalanan panjang dengan kereta dan kapal laut, akhirnya mereka sudah sampai di hotel mewah Karimunjawa, Anjani sampai tidak bisa berkata-kata, meskipun cuacanya panas karena terik matahari di siang hari, tapi pasti akan menyenangkan kalau nanti sore mereka berdua bermain-main di sini.


Kamar yang Arkan pesan sangat bagus menurut Anjani. Balkon kamarnya langsung menuju ke arah pantai dan itu sangat Anjani sukai, belum lagi kamar yang super besar dan sudah terdapat banyak camilan dan fasilitas yang sangat lengkap membuat Anjani pasti akan menikmati waktu liburan dengan sangat baik di sini.


"Kamu suka?" Tanya Arkan yang kini tersenyum menatap istrinya yang nampak sangat ceria.


"Suka, aku suka banget!" Ucap Anjani antusias.


"Suka sama saya?"


"Suka sama tempatnya ihh!!" Kesal Anjani.


Arkan tertawa lalu mengacak puncak kepala Anjani, dia mengajak istri atau adiknya sih, gemas sekali dilihatnya. "Sekarang masih panas, sore saja ya mainnya?"


Mendengar itu Anjani mengangguk, memang sangat panas, lagi dia juga lelah. Jadi setelah membersihkan dirinya, dia dan Arkan beristirahat dulu dan menghabiskan waktu di ranjang sampai nanti sedikit teduh.


Anjani menatap ke arah Arkan yang sedang fokus dengan ponselnya sembari menyandarkan tubuh di headboard kasur. Pria itu nampak sibuk dengan ponselnya membuat Anjani kesal.


Tapi memang kan yang libur di sini Anjani sebenarnya, meskipun sekolah libur tapi perusahaannya terus berjalan dan harus dia pantau grafiknya setiap saat.


"Mass ... " Panggil Anjani seraya menarik-narik ujung baju Arkan.


Mendengar itu Arkan langsung menatap ke arah Anjani yang berbaring di sebelahnya. "Ada apa?"


"Kalau mau main hp kita pulang aja sekarang, dilakuin di rumah juga bisa," ucap Anjani merajuk.


Arkan yang paham dengan itu langsung mematikan layar dan menyimpannya di nakas. "Kamu marah?" Tanya Arkan yang kini fokus pada istrinya.


"Gak marah aku cuma bosen aja."


Arkan melihat ke arah balkon, ternyata cuacanya sudah jauh lebih sejuk. "Mau bermain ke pantai?" Tanya Arkan.


"Mauuu!!!" Anjani langsung mengubah posisinya menjadi duduk.


"Aku mau main ayunan pantai sama ke penangkaran ikan hiu, mau naik perahu, mau snorkeling!"

__ADS_1


"Satu-satu dulu, kita di sini beberapa hari." Arkan menjawil hidung Anjani. Banyak mau sekali istrinya ini.


Anjani memajukan bibirnya, ya dia sudah searching apa saja yang bisa mereka lakukan di pulau ini. "Yaudah aku mau jalan-jalan di pantai aja sambil main ayunan."


"Boleh, sana ganti baju dulu. Saya juga siap-siap."


Dengan antusias Anjani mengambil bajunya di koper dan bergegas masuk ke kamar mandi. Kalau Arkan sih gampang, dia tinggal memakai celana pendek dan kaos putih polos juga sudah jadi.


Tak selang beberapa lama Anjani keluar dari kamar mandi, dengan percaya dirinya dia keluar menggunakan dress dengan tali spaghetti berwarna kuning serta membawa outer putih transparan di lengannya. "Ayok, Mas!"


Arkan meneliti penampilan Anjani dari atas sampai bawah. Cantik memang tapi apa harus keluar dengan baju seperti ini? Terlalu pendek apalagi bisa menampakkan jelas bahu putih susu itu kepada semua orang.


"Ck, apa kamu tidak membawa baju yang lain?" Tanya Arkan.


"Loh cantik, kan?" Tanya Anjani.


Arkan menghela napasnya. "Cantik tapi–Yang lebih tertutup tidak ada?"


"Gak ada, udah ih ayokkk!!" Anjani menarik tangan Arkan dan mengambil topi pantainya, dia tidak sabar bermain air di sana.


Kalau sudah begini Arkan hanya bisa menuruti kemauan Anjani, meskipun dia tidak rela sekali karena banyak lelaki yang menatap istrinya liar. Sungguh ini lebih menyiksa dari apapun.


"Setannya ada di mata orang-orang, kamu tidak melihat mereka memperhatikan kamu? Kamu boleh begini tapi kalau di hadapan saya saja!" Tegas Arkan tepat di wajah Anjani.


Anjani mendengus kesal, memang kenapa sih tidak boleh, padahal kan pakaian ke pantai kan memang seperti ini. Arkan saja yang terlalu kolot sampai tidak terbiasa dengan hal ini, padahal Anjani nyaman-nyaman saja.


Bahkan teman-temannya lebih parah hanya memakai bikini, dia kan tidak ya? Memang dasar om-om posesif, pikir Anjani.


"Yaudah kan aku bawa ini." Anjani menunjukkan outer di tangannya.


"Ya sudah pakai, kenapa tidak kamu pakai?" Tanya Arkan.


"Ya panas, nanti aja sorean aku pakenya."


"Pakai sekarang, saya yang panas dingin sekarang melihat kamu seperti ini." Arkan mengambil outer dari tangan Anjani lalu memakaikannya.


Meskipun ya transparan juga, tapi setidaknya begini lebih baik. Arkan tidak akan rela membagi apapun yang menjadi miliknya, enak saja Arkan saja belum pernah melihatnya secara detail dan orang lain sudah menikmatinya lebih dulu? Tidak akan dia biarkan.

__ADS_1


Bermain di pinggir pantai nampak membosankan, akhirnya Arkan mengajak Anjani menaiki perahu untuk menuju tempat bermain ayunan yang hits di pulau ini.


Anjani nampak senang, apalagi perahu ini hanya di sewa khusus untuk mereka berdua saja. Belum lagi sekarang perahu ini berhenti di bawah air yang banyak terumbu karang indah dan dapat di nikmati dengan mata telanjang.


Anjani tersenyum, dengan beraninya dia duduk di ujung perahu dan menurunkan kakinya ke air, Arkan yang melihat itu tersenyum. Cantik sekali istrinya. Sampai-sampai dia abadikan di kamera ponselnya.


"Ihh paparazi!" Ucap Anjani.


"Kamu cantik, ayok lihat kemari."


Anjani tidak terlalu suka diphoto sih, tapi akan aneh kalau mereka berlibur tidak mengabadikan apapun, akhirnya Anjani menurut dan menatap ke arah kamera. Akan Arkan pastikan kalau ini nantinya sudah menjadi penghias layar ponselnya. Yang biasanya wallpaper ponselnya hitam, galeri photonya hanya kopi, kini rasanya berisi Anjani semua.


Perlahan Arkan menghampiri Anjani, mereka berdua duduk di ujung kapal dengan posisi Arkan memeluk Anjani dari belakang. Ternyata bermain dengan alam seperti ini jauh lebih romantis, padahal hanya duduk di kapal dan di tengah lautan.


Arkan menciumi bahu Anjani yang terbuka karena outer-nya yang terjatuh ke bawah Akibat angin. "Are you happy?"


"I'm soo happy," jawab Anjani. Meskipun rasanya agak aneh Arkan menciumi bahunya seperti ini, tapi ya apapun itu dia harus terbiasa, kan? Mereka berdua suami istri dan Arkan berhak juga atas dirinya, meskipun kalau soal kewajiban yang satu itu belum bisa Anjani lakukan.


"Sudah tidak bosan lagi?" Tanya Arkan yang mengeratkan pelukannya pada Anjani.


Anjani menggeleng, tadi dia mengatakan bosan karena Arkan sibuk dengan ponselnya. Padahal sebenarnya dia hanya ingin diajak bicara oleh suaminya itu, tapi Arkan malah mengajaknya keluar, ya bagus dia semakin senang.


"Menurut kamu, kita nanti bisa kesini lagi gak ya?" Tanya Anjani. Ya kepikiran saja, mereka sampai kapan akan terus bersama-sama seperti ini.


"Tentu bisa."


"Dengan posisi masih sama-sama?" Tanya Anjani lagi.


"Tentu."


"Sampai berapa tahun ke depan?"


"10 tahun, 20 tahun, 30 tahun atau sampai rambut kita memutih, kalau kamu sanggup saya akan mengajak kamu ke sini lagi."


"Promise me?" Tanya Anjani yang kini mengacungkan jari kelingkingnya pada Arkan.


Arkan terkekeh dan menautkan jari kelingkingnya pada sang istri. "I promise you. Anjani, kita ini menikah bukan pacaran. Saya akan menjaga kamu selamanya dan hanya ada kamu di dalam kehidupan saya."

__ADS_1


"Karena menikah itu sekali seumur hidup dan saya mau keep kamu selamanya di hidup saya."


Anjani menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Tenang sekali Anjani di sini. Tepat sekali memang kalau mereka liburan seperti ini, karena memang yang mereka butuhkan adalah ketenangan.


__ADS_2