I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
PMS Hari Pertama


__ADS_3

Hai maaf ya guys kemarin aku gak update, doain aja aku khilaf hari ini dan update banyak. Happy reading~



Hari Minggu pagi, setelah selesai mandi Arkan malah menemukan Anjani sedang berguling-guling di kasur sembari memegangi perutnya. Siapa yang tidak khawatir coba?


Dengan cepat Arkan menghampiri Anjani dan duduk di tepi kasur. "Kenapa, kamu kenapa?"


Anjani hanya menggeleng dan sesekali meringis sambil terus memegangi perutnya. Melihat itu Arkan menghela napas. Wanita ya seperti ini nih, kalau ditanya selalu menjawab tidak apa-apa, tapi kalau tidak ditanya akan bilang kalau pria itu tidak peka. Arkan jadi bingung sendiri.


"Heii, kenapa?" Arkan mendekatkan wajahnya pada Anjani seraya mengusap rambutnya perlahan.


"Sakit banget perut aku," jawab Anjani dengan suara yang bergetar.


"Kamu makan apa semalam, atau kamu telat makan jadi kambuh? Makan pedas atau salah makan? Sebentar saya panggilkan dokter," ucap Arkan seraya mencari ponselnya.


Tapi sebelum memanggil dokter Anjani menahan tangan Arkan gar tidak melakukan apa-apa. "Engga, bukan karena itu."


"Lalu kenapa? Kenapa bisa sakit? Tetap harus diperiksa, Sayang. Saya tidak mau terjadi apa-apa."


Anjani berdecak, bukan itu maksudnya. Bagaimana caranya agar Arkan tau, kan malu ya kalau dia membicarakan soal siklus bulanan pada Arkan. Hal yang aneh saja menurutnya.


"Itu ... "


"Itu apa?" Tanya Arkan tak mengerti.


"Datang Bulan! Ck dasar gak peka!" Cibir Anjani.


Arkan menghela napas, ya mana dia paham soal datang bulan. Sakit perut kan banyak macamnya, lagi yang dia tau hanya karena magh, diare, atau salah makan. "Ya lalu kenapa? Saya panggilkan dokter ya agar saya tau kenapa, saya guru matematika, bukan anak kesmas. Lalu sekarang harus bagaimana?"


"Anterin beli kiranti sama pembalut," ucap Anjani yang masih meringis kesakitan.


"Mana bisa saya biarkan kamu pergi dengan kondisi seperti ini. Biar saya saja yang belikan, kamu tunggu di sini." Arkan mengecup puncak kepala Anjani setelah itu dia keluar dari kamar dan menuju supermarket terdekat.


Anjani melongo, apa tidak salah Arkan membeli kebutuhan wanita sendirian ke supermarket, memang dia tidak malu ya? Atau jangan-jangan dia tidak tau lagi? Ah tapi tidak ada waktu memikirkannya, Anjani kembali guling-guling karena ini rasanya sakit sekali.


Di sisi lain setelah melakukan mobilnya cukup jauh Arkan turun di salah satu supermarket terdekat. Sebenarnya malu juga membeli pembalut tapi kasian juga Anjani di rumah, apalagi dia merasa kesakitan seperti tadi.

__ADS_1


Arkan melangkahkan kakinya menuju rak pembalut, matanya meneliti sambil mengambil satu persatu merk pembalut yang ada di sana. "Anjani pakai yang mana ya?"


Arkan menghela napas, kenapa barang ini aneh sekali. "Sayap dan tidak ada sayap, mana yang lebih bagus? Memang kegunaan sayapnya untuk apa?"


Sungguh Arkan bingung, dia sampai 10 menit berdiam diri di depan sama hanya karena memikirkan sayap pembalut, ini benar-benar gila. Seharusnya tadi dia tanyakan pada Anjani tentang hal ini. Sialnya juga dia tidak membawa ponsel. Akhirnya dia memasukan semua merk ke dalam sana beserta kirantinya.


Arkan tidak tau Anjani menyukai yang mana, kalau banyak pilihan mungkin nanti salah satunya ada yang benar. Memang pintar sekali otaknya ini.


"Untuk pacarnya, Kak?" Tanya si kasir.


"Istri saya," ralat Arkan.


"Wah idaman banget Masnya, jarang loh ada pria yang mau membelikan istrinya pembalut."


Arkan hanya mengangguk-menganggukkan kepalanya, karena memang apa yang perlu dibalas, dia membelikannya untuk Anjani jadi ya tugasnya hanya itu.


Setelah selesai dengan barang belanjaannya Arkan kembali ke rumah, dia harus cepat-cepat juga karena Anjani tadi sudah sangat kesakitan. Dasar gadis kecil, bisa saja memang membuatnya khawatir.


Beberapa menit berlalu, Arkan sudah sampai di rumah. Hal pertama yang dia temui adalah Ibunya yang menatap keheranan melihat belanjaan Arkan yang sangat banyak. "Apa ini, Sayang?"


"Anjani kesakitan karena sedang datang bulan dan dia butuh ini, jadi saya saja yang belikan."


"Sedang guling-guling di atas," jawab Arkan santai.


Hera melongo, memang sih sangat sakit pasti. "Yasudah antarkan dulu ini, nanti Mama juga akan buatkan ramuan herbal agar sakitnya berkurang."


"Baik, Ma. Saya ke atas dulu." Arkan tersenyum lalu dia menaiki tangga untuk menemui Anjani.


Benar saja kan, gadis itu masih guling-guling di atas kasur. Lucu seperti ulat sagu menurut Arkan. "Sayang ... "


"Hmmm?" Anjani merespon hanya dengan suara yang terdengar lirih, kasian sekali. Ternyata begini kah wanita saat menstruasi?


"Ini, saya tidak tau kamu suka pakai sayap atau tidak, tidak tau juga sayap kegunaannya apa, jadi saya belikan semua merek, beserta kirantinya."


Anjani mengubah posisinya menjadi duduk, tidak menyangka kalau Arkan akan membelikan semuanya. "Banyak banget ... Akhh." Anjani kembali memegang perutnya yang terasa melilit.


"Kamu diketawain mba kasirnya gak?" Satu pertanyaan yang sedari tadi ingin Anjani tanyakan.

__ADS_1


"Sedikit tapi yasudah, kamu lebih perlu. Saya belikan untuk kamu juga kok, kenapa malu?" Jawab Arkan santai.


Anjani Jani memajukan bibirnya, bukan karena sedih. Tapi dia terharu saja karena Arkan melakukan ini untuknya. "Makasih ya, Mas. Kamu harus nanggung malu karena aku."


"Kamu bicara apa? Tidak begitu, kamu istri saya. Sudah kewajiban saya mengurus kamu juga.


Setelah bicara itu Arkan malah naik ke atas kasur dan membaringkan Anjani setelah dia meminum pereda sakitnya. Tadi dia disarankan membeli penghangat perut instan, jadi Arkan mencobanya. Siapa tau bisa meredakan nyerinya.


"Kamu mau ngapain?" Tanya Anjani seraya menatap ke arah Arkan.


Arkan tidak menjawab, dia malah memijit kapsul yang ada di dalam penghangat itu dan menaruh benda itu di atas perut Anjani seraya mengusapnya perlahan.


"Ini katanya bisa meredakan nyeri, coba saja. Saya tidak paham soal menstruasi." Arkan tersenyum seraya fokus mengusap-usap perut Anjani.


Jujur ini rasanya memang enak sekali di perut Anjani, dia merasa sedikit membaik setelah Arkan melakukannya. Sampai tidak sadar dia terus memperhatikan Arkan sejak tadi.


"Kenapa menatap saya seperti itu?" Tanya Arkan.


"Gapapa, gak boleh kah?" Tanya Anjani berbalik.


"Boleh, yasudah lakukan lah kalau itu membuat kamu membaik," jawab Arkan sembari kembali mengusap perut istrinya.


Anjani membatin : Ya Allah yang kaya gini nih, yang kaya gini orangnya yang aku mau. Makasih banget Ya Allah! Aku Salting brutal!!!


Tapi dia diam saja sih, tidak mau bereaksi berlebihan, melihat Arkan seperti ini saja dia tidak bisa berhenti tersenyum. "Mass ... "


"Hmm? Kenapa?"


Anjani merentangkan tangannya pada Arkan. Arkan yang paham langsung memeluk Anjani seraya menciumi pipinya. Gemas sekali kan Anjani yang sedang mode seperti ini?


"Aku sayang Mass," bisik Anjani pada telinga Arkan.


Arkan terkekeh mendengar ucapan Anjani dan menatap gadis itu dengan senyuman tipisnya. "Apa? Bicara sekali lagi."


"Aku sayang sama Mass," ucap Anjani, kali ini dia mengatakannya seraya membalas tatapan Arkan.


Selama mereka menikah ini pertama kalinya Anjani mengungkapkan perasaanya pada Arkan. Siapa yang tidak senang mendengarnya? Maksudnya di luar pernyataan cintanya waktu itu. Karena ya itu pun harus dipaksa dulu.

__ADS_1


"Mas juga sayang kamu." Arkan kembali memeluk Anjani dan menciumi gadis itu dengan penuh rasa sayang. Bahkan Anjani perlu merasakan kasih sayangnya lewat pelukan seperti ini.


Anjani mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Arkan. Ternyata enak juga jatuh cinta seiring waktu begini.


__ADS_2