
Makan malam tiba dan para pelayan sudah menyiapkan makanan di meja makan. Anjani, Arkan, Andira dan Bagas juga sudah berkumpul di meja makan. Namun saat melihat menunya Anjani nampak tidak bisa memakannya. Bukannya karena dia pemilih, tapi dia memang alergi terhadap makanan laut.
"Anjani alergi seafood, dia gak bisa makan ini," ucap Bagas terang-terangan, membuat mereka bertiga sekilas melirik ke arah Bagas. Sebenarnya juga Bagas reflek bilangnya, karena bersama Anjani kan juga sudah menjadi bagian dari rutinitasnya.
Anjani diam saja, ya sudah pasti Bagas tau. Tapi kalau dia bicara seperti ini Anjani jadi tidak enak, baik dengan Arkan atau dengan Andira. Takut juga kalau sampai Andira kepikiran, apalagi dia baru sadar dari koma setelah sekian purnama.
"Kok kamu tau?" Tanya Andira penasaran, tentu penasaran. Anjani bilang mereka tidak dekat, lalu kenapa Bagas tau tentang Anjani?
"Temenku ada yang suka Anjani, sedikit tau karena dia cerita sama aku," jawab Bagas berbohong.
Andira mengangguk-nganggukkan kepalanya paham, sementara Arkan kini melirik Anjani dan berdiri seraya mengulurkan tangan pada Anjani. Anjani mengerutkan keningnya. "Mau kemana?"
"Saya buatkan makanan untuk kamu," jawab Arkan yang kembali mengulurkan tangannya pada Anjani.
Anjani menerima uluran tangan Arkan dan mengikuti Arkan ke dapur, meskipun tidak yakin juga. Memangnya Arkan bisa memasak ya? Kenapa repot-repot juga kalau ada pelayan? "Kenapa gak dibuatin Mba aja?"
"Ingin."
Mendengar jawaban suaminya, Anjani hanya mengedikan bahu. Ya sudah, dia menurut saja. Lagi pula dia juga memang lapar kok. "Kalau gak enak awas aja, aku gak bisa masak soalnya. Jadi gak bisa betulin."
"Iya, Sayang," jawab Arkan yang kini tersenyum manis ke arah istrinya.
Sesampainya di dapur, Arkan langsung mengangkat tubuh Anjani untuk duduk di pantry, membuat gadis itu kaget dibuatnya. Dia jadi merasa seperti anak kecil kalau bersama Arkan. Ya karena Arkan memperlakukannya seperti ini.
"Kenapa sih kamu suka anggap aku kaya anak kecil?" Protes Anjani.
"Memang kecil, lagi pula kalau kamu berdiri terus akan pegal. Jadi duduk dengan baik di sana," peringat Arkan, yang kini sedang mencari bahan-bahan di kulkas.
Anjani mendengus pelan, memang sebocah itu ya dia? Dasar Arkan sok dewasa, dia jadi sebal sendiri. Tapi dia juga senang di saat bersamaan. Memang pada dasarnya dia butuh seseorang untuk memberinya perhatian. Kalau di rumah Anjani selalu dipaksa untuk melakukan hal yang tidak dia suka.
Matanya melirik ke mana pun Arkan pergi, pria itu nampak fokus memotong-motong bahan seraya merebus pasta, sementara Anjani hanya duduk sembari mengayun-ngayunkan kakinya. "Kamu bisa masak diajarin mama ya, Mas?"
__ADS_1
"Bukan."
"Lalu belajar dari mana?"
"Saya pernah hidup sendiri sewaktu kuliah, kalau tidak bisa memasak bagaimana caranya bertahan hidup?"
"Kamu kan banyak uang, bisa delivery apapun yang kamu mau. Mau beli restonya juga bisa, apalagi?" Tanya Anjani membalikan perkataan Arkan.
Arkan terkekeh mendengar ucapan Anjani. Ya memang tidak salah sih. "Bukan berarti saat itu saya harus bergantung pada orang tua saya, kan? Saya tidak suka menggantungkan hidup pada orang lain, termasuk orang tua saya."
"Berarti kamu juga gak suka sama cewek yang bergantung sama kamu dong?"
"Maksudnya kamu?" Tanya Arkan seraya berdiri di hadapan Anjani dan menatapnya dengan perhatian.
"Mungkin?"
"Saya tidak mau bergantung dengan orang lain karena saya seorang pria. Kalau saya menggantungkan hidup pada orang lain bagaimana bisa suatu saat nanti saya bertanggung jawab dengan rumah tangga kita? Jadi kalau kamu bergantung pada saya, saya justru senang. Itu artinya saya bisa bertanggung jawab dengan kamu, bisa menjadi tumpuan untuk kamu dan bisa menjadi orang yang kamu andalkan. Mengerti?"
"Engga," jawab Anjani dengan wajah yang meledek.
Anjani tertawa dan menggeleng pelan. "Iya-iya paham, Pak Arkan Altair!"
"Anjani ... "
"Iya iyaa ihhh Mass Arkan!!!"
"Pintar, cium dulu biar saya semangat." Arkan mendekatkan pipinya pada Anjani. Membuat gadis itu menghela napasnya, memang dasar pria, sekali diberi dia akan meminta lebih dan lebih. Namun karena Arkan sudah berbaik hati, Anjani pun mendekat dan mencium pipi Arkan dengan lembut.
"Udah."
Penurut sekali istrinya, kalau begini kan enak. Mereka nampak harmonis sebagai suami istri. Mungkin memang pendekatannya saja yang harus ekstra, karena Anjani memang sulit untuk menerima orang baru dalam kehidupannya. Tidak apa-apa, sejauh ini semua berjalan lancar tanpa hambatan.
Dari kejauhan Andira nampak senyum-senyum sendiri melihat kedekatan Anjani dan juga Arkan. Mereka selalu terlihat romantis menurut Andira. Rasanya kalau tidak ingat umur, Andira ingin menikah juga dengan Bagas secepatnya.
__ADS_1
"Kak Gio sama Anjani mesra banget ya ..." Gumam Andira.
Bagas tau, bahkan sejak mereka pergi ke dapur pun pandangannya tak lepas dari Arkan dan Anjani. Dia sudah muak sebenarnya, emosinya seperti rollercoaster berada di rumah ini. "Apa yang kamu liat belum tentu kenyataannya, Dir."
"Maksudnya?" Tanya Andira yang tak mengerti maksud ucapan Bagas.
"Anjani kan masih muda, pasti berat harus menjalani hubungan rumah tangga, apalagi dengan orang baru. Mereka juga dijodohkan, siapa tau Anjani mempunyai sosok pria lain yang buat Bang Arkan harus ekstra keras pendekatan?"
Andira mengangguk-nganggukkan kepalanya, memang benar sih. Anjani juga terlihat sulit dekat dengan orang baru, ya contohnya dengan dirinya yang memang friendly. "Tapi aku yakin sih kalau Anjani bakalan cepet suka sama Kak Gio."
"Kenapa?"
"Mereka hidup di satu rumah, satu kamar, apalagi Kak Gio orangnya bisa dibilang cuek, tapi sama Anjani bisa seperhatian dan sesayang itu. Maksudnya kalau cewek ngerasa diperlakukan spesial dia bakalan luluh juga, bakalan ngerasa dicintai dan cewek itu sebenernya bisa ikut arus."
"Belum tentu juga," sambung Bagas seraya melanjutkan makannya.
"Udah pasti tau. Aku sebagai cewek nih bisa merasakan, aku juga tau gimana perasaan sesama cewek. Apalagi di usia kita yang segini, ditambah anak bungsu kan. Pasti butuh sosok yang lebih dewasa. Kaya aku ke kamu, walaupun kita seumuran tapi kamu lebih dewasa dari aku. Apalagi Kak Gio yang jelas-jelas udah matang usianya?"
Bagas mengedikan bahunya, tidak ingin berkomentar lebih. Dia takut keceplosan untuk terlihat kesal di depan Andira. Tapi sejujurnya dia kepikiran juga dengan kata-kata Andira, apa iya Anjani akan cepat mencintai Arkan dan melupakan dirinya? Arght, mengganggu pikiran saja. Setelah ini harus dia pastikan kebenarannya.
Selesai memasak Arkan membawakan pasta yang sudah dia buat untuk Anjani ke meja makan. Anjani juga tidak lupa berterima kasih dan sebagai rasa terima kasih dia juga membantu Arkan mengalasi makanannya. Ya anggap saja simbiosis mutualisme, kan?
"Terima kasih." Arkan mencium puncak kepala Anjani dan mengusap rambutnya dengan lembut.
"Terima kasih kembali, Mas." Anjani tersenyum lalu memakan pasta carbonara yang sudah Arkan buatkan untuknya. Anjani sangat suka dengan pasta carbonara, tapi harus dia akui kalau ini adalah pasta terenak yang pernah dia coba.
"Bagaimana?" Tanya Arkan yang sedari tadi mengulum senyumnya karena Anjani memakan makanannya dengan lahap.
"Not bad lah ya ... " Tapi Anjani tetaplah Anjani, si ratu gengsi. Mana mau dia terang-terangan memuji Arkan, apalagi di depan orang. Tidak akan pernah!
"Berarti kamu tidak menikmati, mau saya ganti dengan pasta resto? Ini simpan saja," ucap Arkan seraya menarik piring dari hadapan Anjani.
"Jangannn!!!" Anjani menarik kembali piring yang ditarik oleh Arkan. "Enakk!! Enak banget, gak mau diganti. Haus validasi banget heran."
__ADS_1
Arkan dan Andira terkekeh, lucu sekali memang Anjani dan itu mampu menghidupkan suasana di meja ini, karena setelahnya mereka juga membicarakan banyak hal, tak terkecuali Bagas yang memilih untuk diam saja.