
Beberapa bulan berlalu, sepertinya membuahkan hasil yang tidak sia-sia. Anjani juga mulai terbiasa karena orang tua mereka yang sedang sibuk-sibuknya di luar negeri sampai memperpanjang urusan di sana. Iya mereka membangun cabang di luar negeri untuk sebuah colab perusahaan, jadi memang harus selalu dipantau perkembangannya sampai perusahaan itu bisa beradaptasi dan maju.
Tapi selama itu Anjani tidak merasa kesepian kok, dia dan orang tuanya sering berkomunikasi, meskipun Anjani yang memang masih kesal sebenarnya. Bukan soal Arkan saja pertengkarannya dengan kedua orang tuanya, tapi mengenai banyak hal bertentangan dengan prinsip Anjani yang selalu mereka langgar. Ya dia memang hanya perlu waktu dan itu cukup sulit.
Hari ini entah ada angin apa Arkan mengantarkan Anjani sendiri ke sekolah. Padahal Anjani ya was-was saja meskipun Arkan akan menurunkannya cukup jauh dari sekolah. Takut kalau mereka akan ketahuan sebagai suami istri atau dikira menjalin hubungan gelap. Kan seram, apalagi Anjani memang siswi populer. Jadi ya dia takut.
"Mas ini emang gak akan ketauan?" Tanya Anjani.
"Tidak, jam segini masih sepi kok sekolahnya," jawab Arkan seraya mengusap puncak kepala Anjani. Ya seharusnya memang tenang apalagi kaca mobil ini juga tidak tembus pandang.
Anjani mengangguk patuh sampai akhirnya mereka berhenti di tempat tujuan. Sebelum turun Anjani mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalam tasnya. "Buat, Mas. Tadi pagi banget aku siapinnya. Cobain ya, kali ini gak akan keasinan."
Arkan tersenyum menerima kotak bekal dari istrinya, ya romantis saja, kan? Dia membuatkannya pagi-pagi sekali untuk Arkan, pasti membutuhkan usaha keras. Pantas saja Anjani tadi siap lebih dulu. Ternyata ini alasannya? "Iya, Sayang. Makasih udah siapin saya makan."
Anjani mengangguk lalu mengulurkan tangan untuk menyalimi Arkan. Dengan senang hati Arkan menyambut uluran tangan itu lalu menari Anjani untuk sedikit lebih dekat dan mengecup bibirnya. "Semangat belajarnya."
Anjani tidak menjawab, dia buru-buru keluar dari mobil Arkan untuk menetralkan debaran jantungnya. Sepertinya dia tidak butuh perona pipi lagi kalau setiap hari begini. Namun setelah itu Anjani menggeleng, tidak. Dia harus fokus hari ini untuk belajar. Karena sampai sore juga kan karena pemantapan. Kalau Anjani tidak fokus pada pelajarannya, nanti dia juga yang akan kesulitan.
Sepertu biasa, Anjani ketika sudah sampai langsung memasuki gerbang. Namun saat dia menelusuri lorong, dia melihat Nanda berlari ke toilet, membuat Anjani panik tentunya dan menyusul Nanda.
Perlahan Anjani memasuki toilet dan melihat Nanda yang muntah-muntah. "Nan ... "
Nanda yang mendengar itu langsung menoleh, tapi setelah itu dia melanjutkan muntah-muntahnya. Anjani yang melihat itu tau, kalau Nanda sepertinya belum sarapan dan masuk angin. Memang sih Nanda akhir-akhir ini sering jarang makan. Karena insiden beberapa waktu lalu yang mengakibatkan orang tuanya bangkrut lalu memutuskan untuk tinggal di Jogja untuk mengurus perkebunan. Semetara Nanda di sini harus berjuang hidup.
"Nan, ayok kita ke UKS. Kamu lagi gak sehat, biar aku beliin bubur, kamu ke UKS duluan ya? Atau mau aku temenin?"
Nanda menggeleng, tapi dia akan menuruti Anjani untuk beristirahat di UKS, karena memang dia kurang enak badan juga tapi tetap memaksa masuk sekolah.
__ADS_1
Setelah menaruh tasnya Anjani segera berlari ke kantin untuk membeli bubu, Arkan kan melihat Anjani lari-larian begitu hanya menghela napasnya. Bagaimana coba kalau dia terjatuh?
Namun ya tidak ada waktu, karena sebentar lagi juga bel masuk berbunyi. Anjani tidak mau kalau dia melewatkan pelajaran Arkan. Karena memang dia sekarang senang saja merasakan interaksi mereka di dalam kelas.
Setelah membeli bubur, Anjani melangkahkan kakinya menuju kepada ruang UKS. Terlihat Nanda yang sedang berbaring lemah di atas ranjang. "Kamu kenapa sih, Nan? Kamu gak sarapan lagi atau gimana?"
"Iya kayanya tapi aku udah gapapa kok, kamu masuk kelas gih. Sebentar lagi masuk pelajaran Paksu. Bukannya kamu lagi suka sama pelajarannya Pak Arkan?" Tanya Nanda.
"Tapi kamu gimana? Aku jagain kamu di sini aja ya? Aku khawatir kamu kenapa-kenapa, Nan. Atau gimana kalau kamu pulang aja, jadi kamu gak usah masuk hari ini. Istirahat di rumah. Oke?"
Nanda menggeleng, dia paham kecemasan temannya, tapi dia rasa ini bukan sesuatu yang harus diperbesarkan. Apalagi hanya tidak enak badan. "Gapapa, aku bisa jaga diriku sendiri. Udah sana, atau aku marah nih?"
Anjani menghela napas pasrah, bukan mau membolos, cuma ya Anjani khawatir saja kalau Nanda butuh apa-apa bagaimana? Meskipun sudah ada anak PMR yang berjaga-jaga di sini."
Dengan pasrah akhirnya Anjani mengangguk, semoga saja Nanda tidak kenapa-kenapa. Setelah memastikan Nanda memakan buburnya, Anjani masuk ke dalam kelas. Rajin sekali Arkan sudah ada di kelasnya.
Padahal jam masuk 1 menit lagi kira-kira, tapi namanya juga Arkan. Mr. Perfeksionis yang akan datang lebih awal dan pulang paling lambat. Apalagi dia bertukar jadwal hari ini dengan pelajaran agama, sudah pasti dia akan datang lebih awal begini.
"Dari UKS, Pak saya-"
"Kamu sakit? Apa yang sakit?"
Semua murid menatap heran ke arah keduanya. Pasalnya mereka nampak terlihat dekat karena Arkan sepeduli itu pada Anjani. Menyadari hal itu Arkan berdeham. "Ekhmm ... Maksudnya kamu sakit? Jika iya lebih baik di UKS saja."
"Nanda yang sakit, Pak," balas Anjani.
Arkan menghela napas seraya mengangguk-nganggukan kepala. Cukup lega rasanya, Arkan pikir istri kecilnya sakit. "Ya sudah, silahkan duduk. Saya akan segera memulai pelajaran kita hari ini."
Anjani mengulumh senyumnya, jadi Arkan sepanik itu ya? Dia tertawa puas dalam batinnya, kalau begitu kenapa sekali-sekali Anjani berpura-pura sakit saja ya agar bisa melihat Arkan dengan wajah menggemaskan seperti tadi.
__ADS_1
Sial, Anjani malah mengulum tawa sembari menatap ke arahnya. Membuat Arkan sedikit gagal fokus saat akan memulai pelajaran. Benar-benar jahil istri kecilnya.
Sudah Anjani bilang, kalau dia sedang bersemangat dengan pelajaran Arkan. Pada saat Arkan menerangkan rumus dan pelajaran baru dia aktif bertanya.
Bahkan sering, Arkan malah jadi berpikir apa dia dikerjai ya? Tidak biasanya Anjani bertanya sebanyak itu. Nah kan, apalagi sekarang. Anjani kembali mengangkat tangannya.
"Iya ada apalagi, Anjani? Masih ada yang tidak kamu pahami?"
Anjani menahan tawanya lalu menarik napas sebelum dia kembali bertanya. "Udah beres, boleh saya kumpulkan, Pak?"
Arkan mengangguk, setelah itu Anjani maju ke meja Arkan lalu menyimpan buku tulisnya di meja. Sembari memeriksa, Arkan melirik Anjani yang ada di depannya seraya tersenyum.
Benar-benar aneh Anjani hari ini, tapi anehnya ini yang bikin meresahkan. Sedari tadi Anjani seperti menggodanya. Dia tau kelemahan Arkan adalah senyumannya, jadi dia terus melakukan itu untuk membuat Arkan salah tingkah.
"Nomor 6 kenapa begini?" Tanya Arkan.
"Di sederhanain, kan?" Tanya Anjani berbalik.
Arkan mengangguk-nganggukan kepalanya lalu mengembalikan buku pada Anjani. "Seperti biasa, nilai kamu bagus. Pertahankan, silahkan kembali duduk."
Anjani mengangguk semangat lalu duduk. "Gemes banget punya suami, gemes," batinnya.
Arkan kembali bernapas lega setelah dibuat kelimpungan oleh istri kecilnya. Tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi dan terlihat di sana sebuah notifikasi pesan dari Anjani.
Anak kucing : Salting ya?
Anak kucing : Kalau kamu terganggu sama aku yang godain kamu dari tadi bilang aja
Anak kucing : Biar aku buat semakin sering 👻👻
__ADS_1
^^^Arkan Altair : 😊^^^
Lagi-lagi Arkan menghela napas napas dan menatap ke arah Anjani yang kini menatapnya meledek. "Lihat saja kamu, Anjani," batin Arkan seraya memijat pangkal hidungnya.