
Napas Anjani nampak masih naik turun, tapi tubuhnya seolah meminta lagi pada Arkan, terbukti bagian bawahnya kini sudah berkedut lagi.
"Mau lagi ya, Sayang?"
Arkan kembali mendekatkan dirinya dan memasukan kembali jarinya di sana. Kini dia bermain sangat pelan, dia tidak mau merusak selaput itu dengan tangannya. Dia mau kalau itu akan dirasakan oleh miliknya nanti.
Anjani kembali kelabakan menghadapi permainan Arkan, lenguhan demi lenguhan kembali dia lontarkan. Membuat Arkan sudah tidak tahan sebenarnya ingin segera memasuki intinya, karena foreplay yang dia lakukan sudah berhasil, seharusnya dia sudah bisa eksekusi.
Tapi lagi dan lagi dia menahan dirinya sendiri meskipun di bawah sana sudah sangat sesak ingin keluarkan. Arkan semakin mempercepat gerakan jarinya, namun saat Anjani akan datang untuk ketiga kali Arkan menarik jarinya dari sana.
Membuat Anjani menggila. Dia hampir sampai dan Arkan melepaskannya? Anjani menggeliat minta dipuaskan. Gairah yang tertunda membuat Anjani semakin pusing karena keinginannya tidak terpuaskan. "Masshhhh ... "
Arkan terkekeh, dia suka melihat Anjani yang merengek seperti ini padanya. "Jangan harap kamu bisa keluar tanpa menunggu saya, Baby girl," bisik Arkan sensual.
Menambah gairah Anjani semakin terbakar. Arkan memperbaiki posisi Anjani, menekuk sedikit lutut Gadisnya dan membuka kedua paha Anjani lebar-lebar hingga terlihat milik Anjani yang sudah sangat basah.
Arkan terpana, ini kali pertamanya dia melihat milik Anjani dalam keadaan siap seperti ini. Cantik, benar-benar melumpuhkan akal sehat Arkan tanpa sisa.
Perlahan Arkan menurunkan celananya dan kini dia polos, tanpa sehelai benang. Anjani memejamkan matanya saat melihat benda itu ternyata jauh lebih besar dari apa yang ada di bayangannya. "Mass jangannnhh."
Arkan tidak mendengarkan Anjani, dia mengarahkan miliknya kesana dan menggesek-gesekkan sebentar. Anjani mencengkeram kuat sprey, merasakan benda itu bergerak di bawah sana.
"Tidak boleh dimasukan sayang? Arght," tanya Arkan disela-sela gejolak perasaannya sendiri.
"Jangannnhh ... Akhhh ... Iyaa gituu ... Teken Masshh."
"Jadi boleh saya masukan?" Tanya Arkan meminta persetujuan.
__ADS_1
"Jangannhhh!!" Anjani bicara begitu tapi kepalanya mengangguk.
Oke akan Arkan artikan iya kalau Anjani mengangguk, dia tidak bisa menahan lagi sekarang. "Siap sayang?" Tanya Arkan setelah memposisikan miliknya berada tepat di pintu masuk Anjani yang terasa panas dan menggoda.
Tidak ada jawaban, Anjani hanya mengangguk karena sudah dikuasai gairah. Memangnya apa lagi yang bisa Anjani lakukan selain mengiyakan apa yang Arkan inginkan? Karena sebenarnya, Anjani sudah sudah berada di puncak gairahnya. Sudah ingin merasakan ledakan hebat seperti yang dia rasakan tadi.
"Ini akan sedikit sakit, kamu bisa gigit atau cakar saya untuk melampiaskannya" ucap Arkan dan lagi-lagi Anjani hanya mengangguk. Kedua tangannya sudah berada di bahu Arkan, bersiap menerima sengatan rasa sakit yang akan ia rasakan.
Anjani memang polos, tapi Anjani tau untuk pemula seperti dirinya akan sangat sakit ketika di masuki untuk pertama kalinya. Arkan mengambil napas, lalu dengan perlahan mengarahkan miliknya untuk masuk ke lembah hangat yang sudah lama dia inginkan.
Ya Tuhan! Ini baru ujungnya saja, tapi rasanya sudah membuat tubuh Arkan bergetar nikmat. Bagaimana nanti ketika miliknya masuk sepenuhnya di liang sempit Anjani?
"Akhhh ... " Anjani terpekik, rasa sakit mulai Anjani rasakan ketika milik Arkan berusaha menembus pertahanannya. Ini luar biasa sakit seperti yang pernah Anjani dengar.
Anjani sampai harus mencengkram bahu Arkan untuk melampiaskan rasa sakit yang dia rasakan. Arkan kewalahan, milik Anjani benar-benar sempit sekaligus nikmat padahal miliknya baru masuk setengah.
Beberapa kali Arkan gagal untuk masuk, tapi tentu saja itu menjadi tantangan tersendiri untuk Arkan. Arkan mencium bibir Anjani untuk mengalihkan rasa sakit yang Anjani rasakan. Tidak hanya itu, tangan Arkan juga turut andil untuk meremas squisy kesayangannya.
Arkan mengambil ancang-ancang sebelum akhirnya menghentak keras milik Anjani dan berhasil membuat milik Arkan masuk seluruhnya ke milik Anjani.
"Akhh ... Sakitt ... Masss!" Anjani terperanjat, tubuhnya menegang merasakan hujaman keras yang Arkan lakukan. Anjani menangis, rasa nikmat seketika hilang terganti oleh rasa sakit yang luar biasa.
"Maaf sayang, tapi kalau saya pelan-pelan itu malah semakin lama dan membuat kamu lebih kesakitan" bisik Arkan merasa bersalah.
Tapi walaupun begitu, Arkan tetap mempertahankan miliknya di dalam dan mengabaikan tubuh Anjani yang menolak keberadaannya di dalam sana.
Setelah 10 menit Arkan mencium dan memainkan bukit kembar Anjani, istrinya itu kembali rileks, tubuhnya mulai menerima milik Arkan dan bahkan sesekali Anjani bergerak mencoba mencari kenikmatan dari penyatuan mereka.
"Bisa saya bergerak sekarang?"
__ADS_1
Suara lembut Arkan membuat Anjani terlena, belum lagi remasan Arkan yang masih terus menggoda bukit kembarnya semakin membuat Anjani hilang akal. Anjani mengangguk, dibarengi dengan gerakan amatir Anjani di penyatuan mereka.
"Bukan seperti itu sayang, cukup nikmati saja, sisanya biar saya yang bekerja." Setelah membisikkan kata sensual itu, Arkan mulai bergerak perlahan.
Ingin melihat reaksi Anjani terlebih dahulu sebelum akhirnya nanti Anjani meminta lebih padanya. "Ahhh, Massshh!! Aku–"
Arkan seperti tidak memberi Anjani kesempatan untuk berbicara selain mendesah. Hujaman Arkan pun semakin cepat selaras dengan ******* Anjani yang semakin sering Arkan dengar.
Ini nikmat, rasanya benar-benar luar biasa membuat Arkan harus menahan diri untuk tidak langsung keluar di menit awal milik mereka menyatu. Anjani sungguh di luar batas wajar. Setiap gesekan yang tercipta di bawah sana membuat Arkan semakin hilang akal. Nyaris gila.
"Arght ... Sayang, bagaimana kamu bisa senikmat ini." Hentakan Arkan semakin tak terkendali di bawah sana membuat dada Anjani bergerak mengikuti gerakan brutal yang Arkan lakukan.
Tak ingin benda itu menganggur sia-sia, Arkan pun melahapnya sambil sesekali menggigit gemas saat milik Anjani meremas nikmat di bawah ini. Rasa nikmatnya di luar nalar seorang Arkan Giovano Altair. Istrinya memang luar biasa rasanya.
"Masss, Aku ... Ahhhhh ..." Siksaan Anjani bertambah ketika lagi-lagi Arkan menggigit dadanya dengan gigitan gemas. Arkan gila. Suaminya ini kenapa bisa menyiksanya sampai sedemikian rupa.
Bahkan ketika Anjani sudah di hajar habis-habisan di bawah sana, Arkan masih menyiksa bukit kembarnya dengan hisapan dan gigitan yang tak kalah menggairahkan. Arkan seperti balas dendam karena lama menunggu Anjani lulus dulu untuk melakukan ini.
"Jangan Sayang, jangan cengkram punya saya seperti itu. Saya belum mau datang sekarang ... arghht ... " Arkan mendongak, matanya terpejam saat merasakan milik Anjani mencengkram begitu ketat.
Sampai akhirnya, ketika keduanya tidak bisa lagi menahan desakan yang sudah sampai ke kepala, keduanya meledak bersamaan dan cairan itu bersatu di dalam milik Anjani.
Arkan ambruk menimpa Anjani dengan napas keduanya yang saling menggebu. Arkan langsung berguling di samping Anjani karena takut membuat Anjani sesak jika dia berada di atas tubuh istrinya terlalu lama.
Ini semua luar biasa. Memang segala sesuatu yang dilakukan sebagaimana mestinya akan terasa nikmat juga. Apalagi ini sama-sama pengalaman pertama mereka.
"Lelah sayang?" Tanya Arkan retoris. Tanpa perlu bertanya pun Arkan tau Anjani kelelahan dan kewalahan menghadapi permainannya yang menggila tadi. Terlalu sulit bermain biasa saja jika lawannya adalah Anjani.
"Mass, aku cape," keluh Anjani jujur. Rasanya seluruh tubuhnya remuk redam walaupun rasa puas Anjani rasakan setelah usai percintaan mereka.
__ADS_1
Ini kali pertamanya untuk Anjani. jika ditanya soal bagaimana rasanya, tentu saja Anjani akan dengan tegas mengatakan rasanya sangat luar biasa karena Anjani tidak punya perbandingan.
"Terima kasih ya," bisik Arkan lembut, tangannya sudah menarik Anjani untuk mendekat, memeluk tubuh mungil Anjani yang masih terengah dengan tubuh yang basah karena keringat.