I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Strawberry


__ADS_3


"Terima kasih ya," bisik Arkan lembut, tangannya sudah menarik Anjani untuk mendekat, memeluk tubuh mungil Anjani yang masih terengah dengan tubuh yang basah karena keringat.


Anjani membalas pelukan Arkan lalu Arkan menarik selimut mereka agar Anjani tidak kedinginan. Setelahnya karena kelelahan Anjani langsung tertidur di dalam pelukan Arkan. Membuat Arkan tersenyum karena gadis ini sekarang sudah menjadi wanitanya.


Arkan mengecupi bibir Anjani dengan lembut. "Good night my queen."


Setelahnya Arkan ikut terlelap dan memeluk Anjani dengan erat. Malam ini adalah malah yang paling bersejarah untuk mereka berdua tentunya.


Keesokan harinya, jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Astaga saking kelelahannya mereka sampai bangun kesiangan. Arkan melihat ke arah Anjani yang masih tertidur pulas. Nampaknya dia benar-benar lelah.


Dengan lembut Arkan memeluk Anjani dari belakang dan menciumi bahu polosnya. "Anjani, Sayang, bangun."


"Eunghhhh ... Nanti 5 menit lagi Mass aku masih ngantuk." Anjani kembali menarik selimutnya dan kini dia berbalut selimut seperti kepompong.


Arkan terkekeh melihat kelakuan istrinya, gemas sekali. Tapi ini sudah siang, Anjani harus segera sarapan kalau tidak maghnya akan kambuh. "Bangun, kita sarapan. Cepat atau kamu mau mengulangi yang semalam?" Bisik Arkan yang membuat Anjani terperanjat dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Sshhhtt akhh sakit ... " Anjani meringis kesakitan saat dia menggerakkan tubuhnya, bagian intinya terasa ngilu sekali sekarang dan perih.


Arkan melihat itu sedikit panik. Tapi memang wajar sih, ini pengalaman pertama Anjani dan sudah pasti rasanya menyakitkan. "Sakit ya?"


Anjani mengangguk, apalagi saat dia lihat dari balik selimut ternyata ada darah di sana. "Berdarah."


"Itu bukti kalau kamu baru pertama kali melakukannya, kamu milik saya seutuhnya sekarang." Arkan menarik Anjani dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Anjani nampak diam. "Kamu janjinya gak akan lakuin!"


Arkan terkekeh lalu mengecup bibir Anjani lembut. "Coba ingat-ingat siapa yang meminta untuk lebih jauh?"


Wajah Anjani memerah, Apalagi saat Arkan menundukkan kepalanya dan menatapnya dengan lembut, ah kenapa sih dia harus seperti itu semalam. Liar sekali ternyata dirinya, sungguh dia merutuki dirinya sendiri. Dia malu apalagi mereka sangat dekat dan tidak memakai apapun saat ini.


"Kamu tuh mainnya licik ya? Kamu sengaja mancing biar aku yang mau, iya kan?" Tuduh Anjani.


Arkan tertawa, memang pintar istri kecilnya ini. Dia tidak mengelak kok, dia malah tersenyum menandakan kalau tebakan Anjani benar adanya. Tapi ini namanya strategi, bukan licik.

__ADS_1


Anjani memajukan bibirnya sebal dan berusaha melepaskan diri dari Arkan. "Mass aku mau pake baju dulu ih malu." .


"Malu kenapa? Semuanya sudah saya lihat, biar begini saja. Kamu lebih cantik tidak mengunakan apa-apa ternyata."


"Mesummm!!!"


"Artinya kamu punya suami yang normal, justru aneh kalau suami kamu tidak begitu. Bisa jadi dia homosexual," kata Arkan sok misterius.


"Isshh!! Tapi aku mau tanya deh."


"Tanya apa?"


"Kamu sering begituan ya sama cewek lain?" Tanya Anjani curiga.


"Astaga baru dengan kamu ini, itu pun saya harus menunggu hampir satu tahun, Anjani. Kenapa bisa berpikiran ke sana?" Tanya Arkan berbalik.


"Ya kamu kaya udah pro banget, aku curiga kamu sering main sama tante-tante yang kaya Azzam sama Rafi bilang. Soalnya pria dewasa kaya gitu katanya."


"Menikmati ya?" Tanya Arkan dengan gamblang, ya kalau dia merasa Arkan sangat lihai berarti Anjani puas dan menikmati pergulatan mereka semalam.


Anjani melongo mendengar pertanyaan Arkan. Sebal sekali pria itu terus menggodanya. Dia tidak akan mau lagi melakukannya kalau begitu. "Udahlahhh kamu nih, berarti bener kan suka main sama cewek lain kaya gitu?"


.


.


.


Seperti layaknya pengantin baru, Anjani selalu menempel pada Arkan kemana pun dia pergi. Pokoknya Anjani tidak mau jauh-jauh. Tapi Arkan menyadari kok mungkin istrinya sedang mode manja. Oleh karena itu dia juga tidak keberatan.


Lagi pula dia juga harus bertanggung jawab, karena ulahnya semalam Anjani masih merasa kesakitan di bagian intinya. Jadi dia selalu menggunakan alasan itu untuk dekat-dekat dengan Arkan atau saat dia menginginkan sesuatu.


Seperti saat ini mereka berdua sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati cemilan dan juga menonton drama korea kesukaan Anjani.


"Masss sakiittt," ucap Anjani manja sembari memajukan bibirnya pada Arkan.

__ADS_1


"Mau apa?" Tanya Arkan to the point. Membuat Anjani tersenyum sumringah karena Arkan sudah paham dengan maksudnya.


"Mau strawberry di kulkas, yang kaya gitu," ucap Anjani seraya menunjuk ke arah film yang menampilkan pemainnya sedang memakan buah strawberry.


Arkan menghela napas, dia harus sabar-sabar hari ini. Apalagi nampaknya Anjani sedang banyak mau, jadi dia menurut saja daripada Anjani merengek dan membuatnya pusing kepala.


Arkan beranjak dari sofa lalu berjalan ke arah dapur dan mengambil strawberry milik Anjani. Iya gadis itu sangat menyukai strawberry apalagi bentuknya besar-besar, dia akan lupa dengan makan kalau sudah melihat buah itu.


Arkan kembali ke sofa dan menyimpan buah itu di pangkuan Anjani, membuat Anjani tersenyum. "Terima kasih pak suami."


"Sama-sama." Arkan mengecup bibir Anjani singkat lalu kembali fokus pada iPadnya.


Sementara Anjani sekarang asik dengan strawberry dan filmnya. Entah kenapa berada di dekat Anjani sekarang Arkan merasa jauh lebih sensitif. Bahkan mendengar Anjani memakan buah itu saja membuat Arkan harus menelan salivanya beberapa kali.


"Anjani ... "


"Hmm?" Anjani memalingkan wajahnya pada Arkan.


Ah sial, melihat gadis itu mengunyah dengan bibirnya yang sangat lembab seperti itu saja Arkan tergoda. Arkan menggeleng pelan. "Tidak, tidak apa-apa."


"Ohh, yaudah." Dengan santai Anjani kembali memalingkan wajahnya dari Arkan.


Saat Anjani kembali memasukan buah strawberry kedalam mulutnya, tiba-tiba Arkan menarik lengan Anjani dan mengigit strawberry yang ada di tepi bibir istrinya itu.


Anjani terpaku beberapa saat dan menguyah pelan buah yang tersisa, namun semakin dekat bibir mereka bertemu, Arkan langsung meraup bibir itu dengan sensual.


Rasa harum aroma strawberry menyeruak dari bibir keduanya, mereka bisa menghirup aroma manis sekaligus merasakan rasa buah itu di bibir mereka masing-masing. Arkan memperdalam ciuman mereka, rasanya dia menggila karena bisa dia rasakan kalau bibir itu manis bak strawberry yang dipetik langsung dari kebunnya.


Sengaja Arkan tidak menelan strawberry itu seluruhnya dan di sela-sela ciuman mereka Arkan menyalurkan strawberry itu dari mulutnya pada Anjani. Membuat Anjani pun menikmati buah yang sudah dilabeli cap bibir Arkan itu.


Anjani menyesap sari buah itu bak bayi yang diberi asupan pertama kali oleh ibunya, dia bahkan menghisap-hisap bibir Arkan. Membuat Arkan gemas sendiri karena tingkah istrinya.


Perlahan Arkan melepaskan ciuman mereka dan dilihatnya Anjani yang nampak menikmati buah strawberry dengan wajah yang lucu. Dengan lembut dia mengusap bibir Anjani dengan ibu jarinya. "Enak?"


Anjani mengangguk polos sembari menghisap bibirnya yang masih terasa manis. "Lebih segar kalau dimakan dengan cara seperti itu, kan?"

__ADS_1


Pipi Anjani bersemu merah, ah kenapa ya Anjani selalu tidak bisa berbohong di hadapan Arkan dan akhirnya menyembunyikan wajah di dada bidang suaminya.


"Kamu istri siapa sih? Gemas sekali." Arkan terkekeh lalu menciumi pipi Anjani. Hanya dia yang boleh melakukan ini pada Anjani, tidak ada yang boleh melakukannya selain dia.


__ADS_2