
Pada akhirnya, kalimat 'Karena saya mencintai kamu, Anjani.' itu menjadi berisik di kepala Anjani. Setelah Arkan mengatakan itu dia terdiam, namun otaknya tidak berhenti memutar kalimat itu tanpa jeda. Bikin pusing kepala saja. Sampai-sampai Anjani tidak fokus belajar dan bolak-balik mencuci wajahnya di wastafel.
Arkan mengamati Anjani yang sedari tadi nampak grogi dan cemas. Entah apa juga yang dia cemaskan, tapi yang Arkan tau Anjani begitu setelah dia mengutarakan perasaannya. Memang apa yang perlu dia cemaskan?
Arkan menghela napasnya, langsung saja dia turun dan menghampiri Anjani. Saat sampai di depan Anjani yang sedang mencuci tangannya, tiba-tiba Arkan memeluk Anjani dari belakang dengan hangat. Anjani yang memang sedari tadi grogi, kini malah semakin merasa tidak nyaman dengan dirinya yang mulai ketar-ketir. "M-mass?"
"Hm? Kenapa?" Arkan menaruh dagunya di bahu Anjani sambil menatapnya di cermin.
Anjani memegang kedua tangan Arkan dan mencoba melepaskan dirinya dari sana. Tapi Arkan malah mengeratkan pelukannya pada Anjani. "Kamu kenapa grogi? Kepikiran kata-kata saya tadi?"
"Gapapa."
Arkan melepaskan pelukannya dan membalikan Anjani untuk menatapnya. Perlahan dia maju satu langkah, membuat Anjani mundur dan mencengkeram pinggiran wastafel. Anjani menjauhkan wajahnya saat Arkan mendekat. Namun tidak bisa jauh.
Dengan lembut Arkan menunduk dan mencium bibir Anjani, membuat sang empu kini kaget karena serangan yang dia dapatkan. Tapi dia juga tidak bisa kemana-mana. Tubuh Arkan yang tinggi dan tangannya yang bertumpu di wastafel, mampu mengunci pergerakannya.
Anjani yang sudah pasrah kini hanya memejamkan matanya, membiarkan Arkan menyesap bibirnya dan bermain-main di sana. Anjani yang hanya diam membuat Arkan semakin leluasa bermain dengan bibir yang kini membuatnya candu. Merasa mendapat celah, Arkan memberikan Anjani kesempatan bernapas sebentar dan tanpa berlama-lama kini lidahnya menelusuri rongga mulut Anjani, mengabsen setiap giginya dan bermain dengan lidahnya.
Anjani sesekali hanya melenguh karena permainan Arkan. Dia benar-benar pasrah saat Arkan melilit lidahnya dan kembali menyesap bibirnya kuat. Entah kenapa Anjani suka dengan permainan Arkan yang mendominasi seperti ini. Perlahan Arkan melepaskan ciuman itu dan mengecup bibir Anjani sebagai penutup. "Manis, saya suka."
"Jangan lakukan ini dengan yang lain, cukup dengan saya. Saya tidak ingin berbagi! Hanya milik saya!" Tegasnya.
Anjani mengerjapkan matanya berkali-kali, dia masih harus mencerna ini semua. "Kamu kenapa sih suka bikin aku gak bisa bilang apa-apa. Selalu bingung. Ini aku lagi bingung, Mas!"
Cup ...
Arkan mengecup bibir Anjani sekilas. "Jangan bingung. saya mencintai kamu."
Cup ...
"Kamu milik saya!"
"Kenapa, kenapa kamu cinta sama aku? Semudah itu kah kamu jatuh cinta?" Tanya Anjani spontan.
__ADS_1
"Memang kalau mencintai seseorang harus dijabarkan? Memang kamu perlu itu? Kenapa tidak menikmati saja perlakuan saya? Kamu merasakan perasaan saya, kan? Itu artinya saya bersungguh-sungguh."
Satu menit dia menunggu, tapi tidak ada jawaban dari bibir Anjani. Karena Anjani hanya diam, baik. Biar Arkan saja yang banyak bicara malam ini. Perlahan Arkan menggendong Anjani ala brydal, ditaruhnya Anjani di ranjang setelah itu Arkan menarik Anjani untuk tidur di atas tubuhnya.
"Kamu bisa gak kalau mau ngelakuin apa-apa itu bilang dulu, aku kaget!" Kesal Anjani yang berusaha turun dari tubuh Arkan, namun Arkan malah memeluk pingganganya.
"Dengar dulu, kamu mau tau kenapa saya mencintai kamu, kan? Biar saya jelaskan kalau memang itu penting untuk kamu," ucap Arkan melembut.
Benar juga, seketika Anjani terdiam. Dengan refleknya dia malah menyamankan posisi di atas tubuh Arkan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Arkan gemas sekali melihat tingkah Anjani seperti ini, nampak seperti kucing yang sedang bermanja-manja dengan majikannya.
Tapi dia harus stay cool, tidak mungkin dia terlihat salah tingkah di depan Anjani. Padahal aslinya dia sedang bersorak di dalam hatinya karena bisa seperti ini dengan Anjani.
"Dulu ada anak kecil cantik berumur 5 tahun yang mendekati saya ketika sedang murung di pinggir kolam. Rambutnya keriting gantung, bulu matanya lentik seperti boneka dan menggunakan overall berwarna pink."
"Terus?"
"Dia memberi saya coklat dan menghibur saya agar tidak sedih. Dari sana saya menemukan cinta pertama saya."
"Urusannya sama aku apa sih?" Protes Anjani yang tidak paham maksud cerita Arkan. Untuk apa juga dia menceritakan cinta pertamanya, aneh.
"Lalu setelah itu dia mencium pipi saya seperti ini."
Cup ...
"Genit, anak kecil cium-cium? Belajar dari mana tu anak?" Tanya Anjani sedikit kaget, anak kecil loh itu dan bisa-bisanya juga Arkan jatuh cinta pada saat dia masih 7 tahun. Aneh sekali.
Arkan tertawa mendengar pertanyaan Anjani, jadi sungguh dia tidak ingat? Memang dasar gadis pelupa, atau memang karena dia masih kecil, jadi lupa mengingat beberapa hal? Tidak peduli, Arkan tetap melanjutkan ceritanya pada Anjani yang kini mulai tertarik dengan pembicaraan mereka.
"Namanya Clarissa Putri Anjani," lanjut Arkan.
Anjani membulatkan mata seraya menunjuk dirinya sendiri? "Aku? Masa akuu?!!!"
"Ya memang kamu, siapa lagi memangnya? Anak papa Mario dan Mama Viona!"
"Gak pernah loh aku cium-cium orang waktu kecil. Ngaco, kan? Salah orang!" Sungut gadis itu tak terima saat namanya disebut oleh Arkan.
__ADS_1
Arkan menyentil kening istrinya pelan. "Itu kamu, Clarissa. Mama Viona dan Papa Mario yang membawa kamu ke rumah ini. Kamu juga berjanji akan menjadi teman saya selamanya, jadi sekarang kamu harus penuhi janji itu."
"Menjadi teman hidup," jawab Arkan.
"Awwhh, sakit! Masa sihh, aku gak inget lohh. Nanti aku tanyakan sama Mama dan Papa deh, ini alasan aja? Ngaku!" Anjani mengusap-usap keningnya pelan. Kesal sekali dia.
"Memang saya terlihat bercanda, Anjani?" Tanya Arkan.
Arkan menjelaskan bagaimana selama ini dia mengagumi Anjani sampai menyewa bodyguard untuk selalu menjaganya dari jauh, untuk selalu mengikuti kemana Anjani pergi. Karena dia hanya bisa menjaga Anjani dari jarak jauh, sampai akhirnya dia menyerah karena Bagas.
"Obsesi ya sama aku sampai kamu mau menikahi aku kaya gini?" Tanya Anjani.
"Tidak, orang tuamu yang meminta kita dijodohkan. Mereka tidak mau kamu sampai seperti Kakak kamu yang pergi dari rumah karena hamil. Apalagi mereka juga sudah mengetahui tentang Andira dari 3 bulan lalu."
"Jadi?"
"Mereka tidak mau kamu terluka, Anjani. Mereka sangat sayang dengan putri kecilnya. Memang cara didiknya salah, tapi di balik itu semua mereka tidak mau kamu mengalami hal-hal buruk yang menghancurkan diri kamu sendiri," jelas Arkan.
"Itu artinya sama aja aku diragukan dalam memilih setiap langkah yang aku pilih! Mau gimana pun aku gak suka, ah udahlah."
"Kenapa jadi marah? Saya hanya bercerita. Menuntaskan rasa penasaran kamu agar kamu merasa tenang. Kamu sedari tadi gelisah, kan?" Tanya Arkan.
"Ya bingung aja kenapa bisa jatuh cinta padahal kita gak kenal. Aku ngerasa dikuntit tau!" Kesal Anjani.
"Yang terpenting kamu aman."
Anjani mendadak diam, tapi ya salah tingkah juga. Sedari kecil Arkan menjaganya dari jauh, apa dia masih bisa biasa saja ketika mendengar pengakuan Arkan? Tentu dia remaja yang mudah larut dengan perasaan. Ah sudahlah.
"Tapi makasih."
"Untuk?"
"Karena udah jagain aku, walaupun aku gak inget ya pernah cium kamu. Kalau pernah juga maaf, khilaf. Haiisshhh gak khilaf jugaa, itu Mama bilang kalau orang sedih harus dicium biar gak sedih lagi!"
Arkan tergelak, saat sedang malu-malu begini Anjani semakin terlihat lucu. Akhirnya dia kembali menciumi istri kecilnya itu. Membuat Anjani membulatkan matanya, tapi Arkan tidak peduli. Sudah dia bilang, kalau mulai sekarang dia akan mencintai Anjani terang-terangan. Gadis itu harus tau kalau Arkan mempunyai cinta yang lebih baik untuknya lebih dari siapapun.
__ADS_1
Bucin banget Arkan. Mending Arkan sama Author aja yuk! Anjani mah gengsian! 🤭❤️
Jangan lupa like, vote, komen, kasih hadiah, dan bintang limanya ya biar Author lebih semangat update. See u in the next chapter!