I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Kalau Nyicip Doang Boleh?


__ADS_3

TW : Aku cuma mau bilang 3 part ini khusus 21+ ya, buat yang gak suka atau risih bisa skip aja okey!



Malam ini karena memang tidak ada pelayan, mereka berdua memutuskan untuk delivery online. Karena walaupun memang Anjani menawarkan untuk masak dan dia juga bisa memasak. Tapi tetap saja Arkan tidak mau kalau sampai istri kecilnya itu repot.


Bukan karena memanjakannya juga, masalahnya Anjani kalau masak itu akan lama, dia orang yang perfeksionis, jadi terkadang kalau gagal dia akan kehilangan moodnya. Jadi lebih baik yang cepat saja untuk beberapa hari.


Anjani nampak menikmati ayam dan juga nasinya sembari menonton drama Korea yang ada di tab besarnya. Sesekali Arkan melirik ke arah Anjani. "Kenapa kamu suka sekali menonton Drama Korea?"


"Karena ya seru aja."


"Padahal kamu sudah punya satu yang tampan di rumah ini, tapi masih menyukai film asing."


Anjani mengernyitkan dahinya dan menatap Arkan sambil menyipitkan matanya. "Kamu ya kamu, drama korea ya drama korea. Kan aku gak ada bandingin kamu sama opa korea juga."


"Aku suka fil korea ya karena sesuai aja sama genre yang aku suka, aku suka drama korea karena emang film-nya pasti mengandung maknanya tersendiri."


"Film indo juga ada."


"Tapi gak banyak, kamu lebih suka aku nonton film azab ya, Mas? Atau nonton perselingkuhan gak jelas gitu terus aku jadi punya banyak overthinking sama kamu dan nuduh kamu selingkuh terus?"


"Kok begitu?"


"Karena filmnya kebanyakan begitu."


"Yasudah jangan menonton, nanti kamu banyak pikiran."


Anjani mengacung ya jempolnya pada Arkan. Kalah kan dia, suka memang Anjani kalau suaminya kalah berdebat dengannya. Sementara Arkan justru memilih untuk mengalah saja, karena sudah pasti yang diinginkan Anjani adalah validasi kalau dia menang. Memang begitu.


Setelah selesai makan, Anjani membuang sampah dan juga mencuci tangannya. Namun seperti biasa, ada saja yang usil padanya. Siapa lagi kalau bukan Arkan yang kini melingkarkan tangannya di perut Anjani.


"Aku lagi cuci tangan, Mas!" Omel Anjani.


"Ya cuci tangan saja, saya kan hanya peluk kamu. Bukan menghalangi kamu cuci tangan."


"Ishhh."


Arkan terkekeh, lalu dia menumpukan dagunya di bahu Anjani seraya memperhatikan Anjani yang sedang mengeringkan tangannya di mesin. "Anjani."


"Hmm? Kenapa?" Tanya Anjani.

__ADS_1


Arkan menciumi bahu Anjani yang setengah terbuka karena kaos oversizenya. Membuat Anjani sedikit merasa resah ketika Arkan melakukannya.


"Mass jangan digituin ihh. Geli."


Bukan mendengarkan larangan dari Anjani, Arkan malah terus melakukannya, membuat Anjani sesekali memejamkan matanya karena tubuhnya meremang. "Dengar saya dulu."


"Emm? Kenapa, ini aku dengerin tapi jangan kaya gitu."


Kali ini Arkan mengehentikan aktivitas nakalnya dan membalikan tubuh Anjani untuk menghadapnya. Arkan menatap serius pada Anjani sekarang. Jujur saja ini membuat Anjani sedikit berdebar. Karena Arkan nampak seperti ingin memakannya.


"Kamu tau saya sudah menunggu lama?"


Anjani menelan salivanya dengan susah payah. Apa ini? Arkan tidak akan meminta haknya sekarang, kan?


"Saya tidak akan basa-basi, mulai sekarang saya akan memandang kamu sebagai istri saya, bukan istri kecil saya lagi."


"Jadi, boleh saya minta hak saya sekarang?" Tanya Arkan. Suaranya terdengar pelan, tapi dalam. Apalagi suara beratnya membuat Anjani semakin tidak karuan.


Wajah Anjani seketika memucat, apalagi saat bicara Arkan mendekatkan wajah padanya, membuat Anjani mundur dan bertumpu di ujung pantry. Napasnya naik turun, kalau sekarang bagaimana dia harus menolak?


"H-harus sekarang banget, M-mas. Maksudnya kan a-apasih ... Oh kamu kan besok ke kantor, kan?" Tanya Anjani mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tidak," jawab Arkan dengan santai.


Anjani mengigit bibir bawahnya kuat, membuat Arkan kini menyentuh bibir itu. "Jangan digigit, nanti berdarah."


Arkan malah fokus memainkan bibir Anjani dengan jempolnya, membuat Anjani semakin tidak mengerti apa yang dia rasakan sekarang. Arkan menghela napas, karena belum mendapat jawaban dari Anjani. "Baik kalau kamu belum siap, kalau nyicip dulu boleh?"


Anjani nampak berpikir, apa maksudnya seperti yang mereka lakukan saat berlibur? Itu tidak berlebihan, kan? Akhirnya Anjani mengangguk saja, daripada dia habis dimangsa Arkan malam ini. Lebih baik begitu saja.


Namun sepertinya Anjani salah mengambil keputusan kalau memang belum siap. Mari kita lihat, akan sekuat apa Anjani mempertahankan ketidak siapannya.


Arkan tersenyum, setelah mendapatkan persetujuan Anjani, Arkan mengecup kening Anjani dengan lembut, setelah itu turun ke hidung dan terakhir bermuara di bibir.


Ciuman mereka memang selalu sama, ciuman yang tidak biasa, Arkan menekan dan me lu mat bibir tersebut, meminta Anjani mengerti bahwa ada banyak nafsu di sana dan seberapa besar kalau Arkan benar-benar menginginkannya sekarang. Kali ini Arkan benar-benar menambahkan tuntutan yang lebih besar, dia menuntut Anjani lebih jauh.


Tangan Arkan mengelus bahu dan punggung Anjani, bahkan dengan nakalnya tangan itu turun dan masuk ke kaos kebesaran milik gadisnya dan mengelus perut rata itu dengan sensual. Membuat tubuh Anjani sedikit meliuk apalagi saat Arkan bermain dengan dadanya dari luar tanktop yang dia pakai.


"Empphhh." Anjani berusaha menahan suara itu tapi pada akhirnya lolos juga, karena Arkan benar-benar bermain di dadanya dan itu membuat Anjani merasakan perasaan bergejolak pada dirinya dan seolah meminta lebih.


Ciuman Arkan meliar sekarang, diciuminya pipi Anjani lalu menjalar ke telinga gadis itu dan memainkan lidah di sana, membuat tubuh Anjani meremang. Anjani mengeratkan pegangannya pada pantry, entahlah kenapa Arkan selalu bisa membuatnya terbuai hanya karena sentuhannya saja.

__ADS_1


Tangan Arkan masih tetap di sana, kini tangannya turun dan menyelinap masuk ke dalam tanktop dan juga bra Anjani untuk memainkan benda kecil yang nampaknya sudah menegang.


"Ahhh Mass jangan disentuh .... Emphhh." Anjani mengerang frustrasi, ini pertama kalinya Arkan bermain dengan area privasinya, kemarin tidak sejauh ini.


"Kamu menyukainya?" Tanya Arkan yang malah semakin lincah bermain dengan benda kecil itu.


Anjani menggeleng membuat Arkan tersenyum. "Mau saya hentikan?" Tanya Arkan.


Anjani menggeleng dan menahan tangan Arkan untuk tetap di sana. "Iyaaa hentikan Mass ... Ahhhh."


Arkan terkekeh, respon tubuh anjani dan juga perkataan gadis itu tidak sinkron. Bibirnya mengatakan iya tapi tubuhnya menginginkan lebih.


Tapi Arkan memang akan selalu menjadi yang paling mengalah dan perlahan mengeluarkan tangannya dari sana. "Ya sudah kalau tidak boleh."


Arkan mengecup bibir Anjani dan memperhatikan Anjani yang menatapnya sayu. Ada raut wajah kecewa di sana membuat Arkan gemas sekali melihat reaksi istrinya.


"Maaaaassss," rengeknya.


Ah sungguh Arkan membuatnya tersiksa, napasnya naik turun seolah meminta Arkan untuk mengerti apa yang dia inginkan, karena dia tidak akan memintanya. Tentu GENGSI.


Arkan paham apa yang diinginkan istrinya, tapi malam ini biarkan Arkan memainkan perasaan Anjani agar mereka juga melakukannya karena sama-sama ingin. "Kenapa, Baby?"


"Ituuu ... " Anjani mengigit bibir bawahnya menahan gejolak yang kini memuncak sampai kepala.


Mungkin karena ini pengalaman pertama Anjani jadi dia tidak mengerti apa yang dia rasakan, sehingga dia jadi uring-uringan sendiri saat tidak mendapatkan kepuasan dari apa yang sudah membuatnya penasaran.


"Itu apa, Sayang?" Arkan kini mengusap pinggang Anjani dengan lembut, membuat Anjani kecanduan dengan sentuhannya.


"Kamu ingin saya melakukannya lagi?"


Dengan cepat Anjani mengangguk, entah sadar atau tidak tapi Anjani ingin Arkan melakukannya lagi.


"Saya kan cuma mau nyicip, tadi kamu tidak mau melakukannya."


"Yaudah kaya gitu aja jangan sampe bawahh!!" Putus Anjani.


Arkan mengulum senyum dan mengangguk-nganggukan kepalanya. "Ayok kita lakukan di kamar."


"Di sini aja, sekarang ... "


"Kamu ini tidak sabaran Anjani, ayok lebih enak kalau kita lakukan di kamar saja," ajak Arkan.

__ADS_1


Anjani benar-benar frustrasi, dia sudah pusing sekali ini ingin melakukannya, tapi Arkan seolah mempermainkannya. Anjani bisa gila!


__ADS_2