
Beberapa hari berlalu, acara pernikahan Arkan dan Anjani semakin dekat, tapi sampai saat ini dia belum menemukan cara untuk membatalkan pernikahan ini. Malah sepertinya ini semakin rumit karena sekarang Anjani diajak untuk makan malam di kediaman Altair.
Meskipun bertemu kedua orang tua Arkan bukan untuk pertama kali, tapi tetap saja dia gugup dan grogi. Apalagi Arkan menggenggam tangannya saat dia turun dari mobil. Anjani terkesiap, dia langsung menahan diri untuk tidak lanjut berjalan. "Saya gak mau, Pak. Saya mau pulang."
Arkan menghentikan langkahnya dan menatap Anjani. "Kenapa?"
"Saya gak mau menikah sama bapak, gak mau! Pokoknya gak mau!" Tegasnya.
"Kita tidak akan menikah hari ini, sekarang hanya makan malam."
Anjani menghela napas lalu dia merengek pada Arkan untuk di bawa pulang saja, tapi Arkan memang tidak akan mendengarkan Anjani. Dia tetap menggenggam tangan Anjani dan membawanya masuk ke dalam. Kalau sudah di dalam begini, apa yang bisa Anjani lakukan selain pasrah?
Suasananya nampak sepi, namun mulai riuh saat kakinya melangkah ke arah ruang makan. Benar saja, ternyata bukan hanya keluarga kecil Arkan tapi, keluarga besar Altair ada di sana. Namun, bukan itu masalahnya.
Mata Anjani kini bertemu dengan sosok pria yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya. Bukan hanya Anjani, tapi Bagas juga menunjukkan keterkejutannya saat Anjani mendampingi Arkan. Keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya, Arkan juga merasakan kalau Anjani bergetar, sepertinya emosi dan perasaannya sedang bergejolak.
Dia paham, ini pasti mengejutkan dan sulit untuk Anjani. Tapi, bukannya mereka harus cepat menyelesaikan hubungan mereka sekarang juga karena perjodohan Anjani dengannya? Katakan Arkan pria yang egois, tapi semuanya harus realistis, Anjani menerimanya dan inilah resiko yang harus dia hadapi.
"Selamat malam," ucap Arkan.
Anjani terkesiap, dia langsung menyalami kedua orang tua Arkan dan berusaha untuk tetap tersenyum meskipun pandangan Bagas tidak lepas darinya.
"Akhirnya kalian datang juga, cantik sekali calon memantu Mama," ucap Hera seraya memeluk Anjani dan mencium pipinya, Hera tidak memiliki anak perempuan sehingga saat melihat Anjani dia begitu menyayanginya.
Semua orang di sana juga terpana melihat kecantikan Anjani malam ini dengan balutan dress berwarna biru dongker yang senada dengan Arkan.
"Anjani calon istri saya, semoga kalian bisa cepat beradaptasi," ucap Arkan seraya merengkuh pinggang Anjani untuk mendekat ke arahnya.
Jangan tanya ekspresi Anjani dan Bagas. Mereka berdua sama-sama kaget. Terlebih lagi Bagas yang kini rasanya ingin membawa Anjani pergi untuk meminta penjelasan. Dia tau kalau Arkan sepupunya akan menikah karena dijodohkan, tapi wanitanya Anjani? Yang benar saja, Bagas dan Anjani saling mencintai kenapa bisa?
__ADS_1
Semua orang menyambut baik kedatangan Anjani dan acara makan malam pun dimulai dengan Anjani yang kini duduk berdampingan dengan Arkan. Kalau boleh jujur, Anjani tidak dapat menikmati makan malam hari ini, padahal banyak menu kesukaannya. Bukan kebetulan juga, sebelum acara makan malam Hera sudah bertanya apa saja yang disukai oleh Anjani. Jadi dia mempersiapkan ini semua.
"Oh jadi ini Anjani, cantik sekali. Tante sampai tidak berkedip loh melihatnya. Kelas berapa kamu, Sayang?" Tanya Vanya – Tante dari Arkan dan itu orang tuanya Bagas.
"Kelas 12, Tante," jawab Anjani sembari memberikan senyum tipis.
"Di SMA Taruna Nusantara, kan? Berarti kamu dan anak Tante Bagas saling mengenal dong?" Tanya Vanya lagi.
Degh.
Mendadak Anjani menghentikan aktivitas mereka saat mendengar pertanyaan Vanya. Bukan teman lagi, tapi mereka saling mencintai. Mata mereka berdua sejenak bertatapan. Ada sebuah harap dalam sorot mata Anjani kalau Bagas akan memperjuangkannya di depan semua orang. Dia berharap kalau Bagas membawanya pergi dari sini sekarang. Dia berharap ...
"Iya, kami berteman," jawab Bagas nampak terlihat santai.
"Iya, kami berteman, Tante," lanjut Anjani sedikit terkekeh.
Seketika ekspetasi Anjani dibuat jatuh. Kenapa Bagas tidak melakukan apapun? Apa mungkin karena dia terlalu takut? Tapi Anjani berusaha untuk biasa saja, padahal dia ingin menangis detik ini juga. Demi apapun menahan tangis di depan banyak orang seperti ini rasanya tidak enak.
"Anjani cantik sekali, Gio. Kamu memang tidak salah memilih wanita," ucap Sena- Omanya.
"Iya dia memang sangat cantik, Oma. Ya hanya sedikit galak," ucap Arkan dengan santai. Semua orang terkekeh, tapi tidak dengan Anjani yang kini menatap tajam ke arahnya.
"Benar, kan?" Tanya Arkan saat mendapati Anjani menatapnya.
Semua orang senang melihat kedekatan Arkan dan Anjani yang menurut mereka nampak serasi. Sementara Anjani diam, dia memilih untuk memakan pudding yang ada di piringnya. Perasaannya sedang tidak karuan, tidak ada waktu untuk melayani Arkan sekarang.
Setelah selesai makan malam mereka bicara banyak hal. Ingin mengetahui bagaimana kehidupan yang Anjani jalani. Karena terakhir kali mereka melihat Anjani rasanya pada saat umur 5 tahun. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.
Meskipun moodnya sangat tidak enak, Anjani bisa kok menyesuaikan diri. Memang pada dasarnya Anjani orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Pembawaannya pun tenang dan santai, tak jarang membuat mereka tertawa satu sama lain.
Sampai akhirnya acara makan malam dan perkenalan keluarga itu pun selesai. Setelah pamit pada semua orang, kini Arkan akan mengantarkannya kembali pulang. Seperti bunglon, senyuman yang tadinya selalu Anjani kembangkan kini berubah menjadi sendu, mengingat bagaimana Bagas mengacuhkannya selama di dalam tadi.
__ADS_1
"Anjani," panggil seseorang dari belakang.
Anjani menoleh begitu mendengar suara seseorang yang sedari tadi dia pikirkan. Bagas melangkahkan kakinya mendekat ke arah Arkan dan juga Anjani. Mata mereka bertemu, jantung Anjani berdebar kala Bagas melepaskan tautan tangannya dengan Arkan dan membawanya ke taman yang berada di depan rumah.
Arkan diam, tidak marah atau melakukan apapun. Dia tau mereka berdua perlu bicara. Jadi dia hanya diam bersidekap dada memperhatikan mereka dari jauh sambil menyenderkan punggungnya di mobil. Sementara di sisi lain Bagas kini menatap Anjani dengan sendu.
"Kenapa kamu lakuin ini?" Tanya Bagas memulai pembicaraan.
"Kenapa harus Bang Arkan?" lanjutnya.
Anjani membisu, dia tidak kuat sebenarnya harus berhadapan dengan Bagas seperti ini.
"Kenapa kamu lakuin ini sama aku, Jan? Kamu bahkan gak bilang dulu sama aku kalau kamu dijodohkan sama Bang Arkan?"
"Aku gak bisa nolak perjodohan ini, Gas. Kau tau orang tuaku seperti apa. Aku maunya kamu, tapi aku gak bisa. Seberapa sering aku nolak ini semua, semakin aku gak bisa lepas. Akua gak tau gimana bilangnya sama kamu. Aku gak mau kamu sakit hati apalagi bikin kamu hancur," ucap Anjani.
"Tapi kalau kaya gini aku lebih hancur Anjani, aku hancur kalau kamu mau tau. 2 tahun, Jan. 2 Tahun kita bareng-bareng akhirnya gini? Bercanda kamu?" Bagas terkekeh tak percaya, bagaimana bisa Anjani membuat keputusan sepihak atas hubungan mereka.
Anjani menenggelamkan wajah di telapak tangannya. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Bagas, dia hanya bisa menangis. Rasanya sesak sekali mendengar perkataan Bagas, seperti sebagian hatinya juga ikut tersayat. Pasti sakit rasanya berada di posisi pria itu. Tapi Bagas juga harus tau kalau dia juga sakit. Dia juga berat memutuskan ini semua, karena hatinya akan tetap memilih Bagas.
"Maafin aku, Gas. Maafin aku," ucap Anjani di sela isakannya.
Bagas yang tidak tahu harus berbuat apa kini malah memeluk Anjani dengan erat, membawa gadis itu ke tempat paling nyaman dan menenggelamkan wajah di bahu Anjani. "Jangan tinggalin aku, Jan. Aku gak bisa."
Anjani semakin terisak, inikah rasanya ditampar eh kenyataan? Di saat dia sudah menata dengan baik masa depannya bersama Bagas, semua itu mendadak berantakan, berceceran seperti kaca yang pecah. Anjani tidak tahu harus menyatukan kembali dengan cara apa.
Cukup lama mereka saling berpelukan, waktu yang Arkan berikan sudah habis. Perlahan dia menarik Anjani dan melepaskan pelukan mereka. Arkan maju satu langkah berhadapan dengan Bagas yang kini nampak berantakan karena menangis. "Saya berjanji akan mengantarkan dia pukul 9 tepat. Sudah cukup menikmati pelukan terakhir kalian? Karena setelahnya saya tidak akan membiarkan kamu memeluk calon istri saya."
Tangan Bagas terkepal, langkahnya maju satu langkah. Rasanya dia ingin memukuli Kakak Sepupunya ini. Namun Arkan membisikan sesuatu pada Bagas yang membuatnya terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Anjani yang sudah dilanda ketakutan kini menatap mereka bingung.
Bahkan saat Arkan menarik tangannya Bagas tidak berkutik, dia tetap diam di tempatnya meskipun Anjani meminta tolong padanya agar tidak pulang bersama Arkan. Dia kalah, kali ini dia benar-benar kalah dengan Arkan.
__ADS_1