
Melihat wajah Anjani sebenarnya dia tidak tega menyiksa Anjani seperti ini. Tapi memang Anjani tidak akan pernah mau, bukan Arkan memaksa, tapi dia hanya menunjukkan semuanya secara perlahan.
Dia jauh lebih dewasa dari Anjani, dia juga punya kebutuhan biologis, jadi anggap saja ini salah satu pelajaran yang harus mereka mulai sebelum menjalani kehidupan rumah tangga yang sebenarnya.
Arkan menggendong Anjani ala brydal untuk menaiki tangga, sepertinya memang Anjani sudah terangsang tadi. Langsung saja Arkan kembali me-lu-mat bibir Cherry itu dan Anjani pun mengalungkan tangannya di leher Arkan.
Suara cecapan demi cecapan membuat keduanya semakin bergairah, terutama Arkan. Tapi dia memang harus pelan dan tidak terburu-buru di pengalaman pertama mereka. Dia harus melakukannya secara hati-hati agar malam ini menjadi malam yang spesial untuk keduanya.
Saat sampai di kamar tangan Anjani dengan inisiatif membuka pintu dan kaki Arkan mendorong pintu itu agar terbuka. Setelah menutup kembali pintunya Arkan merebahkan tubuh Anjani di kasur dan mengukung ya di bawah tubuhnya.
Ciumannya kini turun ke leher jenjang milik Anjani dan kembali menciptakan tanda merah yang yang selalu membuatnya merasa bangga. Tangannya dengan lincah mengangkat kaos putih itu ke atas dan melemparkannya ke sembarang arah bersamaan tanktop hitam yang berhasil dia sobek. Hingga kini hanya tersisa bra hitam milik Anjani yang masih melekat di kedua bukit indahnya.
Anjani cukup kaget tapi karena dia dikuasai oleh nafsunya sendiri, dia seolah tidak peduli dan membiarkan Arkan membenamkan wajahnya dibelahan dada miliknya, menciptakan beberapa tanda lagi di sana yang sungguh membuat Anjani mabuk kepayang. "Emmmhh Massshh."
"Do you like it?" Bisik Arkan dengan suara beratnya.
Anjani mengangguk dan meremas rambut Arkan untuk kembali membenamkan wajahnya di sana. "Emhhh i like it."
Arkan tersenyum melihat respon alamiah dari istrinya, ternyata Anjani bisa se-mengggebu-gebu ini kalau di pancing. Tapi itu mempermudah dirinya, kan?
Arkan bisa merasakan aroma tubuh Anjani yang membuat dirinya semakin tergugah. Tidak menyangka kalau Anjani yang dia anggap anak kecil adalah sosok yang candu.
Arkan menanggalkan pengait bra yang masih terpasang membuat kini hanya bagian bawah Anjani yang masih tertutup.
Arkan terpaku sejenak melihat apa yang ada di depan matanya, setelahnya tentu saja dia tidak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung meraup apa yang memang menjadi miliknya.
Anjani belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya beberapa kali dia memejamkan matanya kemudian melenguh, iya akhirnya dia mendesah karena perasaan yang semakin lama kian membuncah.
"Mashhhh ... " Panggilnya.
__ADS_1
Arkan memilih mengabaikan panggilan Anjani, dia belum selesai dengan seluruh urusannya. Dia menikmati kedua bukit kembar itu secara bergantian, tangannya dengan terampil mempermainkan benda kecil itu hingga semakin mengeras. Membuat Anjani semakin mengerang nikmat.
Dia berusaha melampiaskan dengan menendang sprey yang ada di bawah kakinya, namun kakinya dihimpit oleh paha pria itu. "Ahhh ... Emmhh Masshh a-aku mau pi-pishh."
Mendengar itu Arkan malah mengigit benda kecil itu membuat Anjani semakin tidak tahan mencapai gelombang pertamanya, sampai akhirnya Anjani lemas. Melihat itu Arkan tersenyum puas karena membuat istrinya keluar untuk pertama kali.
Tubuh Anjani sudah berkeringat, anehnya semakin berkeringat, membuat tubuh Anjani semakin wangi. Arkan juga tidak paham, dengan lembut dia menyeka keringat yang ada di pelipis Anjani sembari menciumi bibirnya.
Namun tiba-tiba Anjani mengigit bibir bawah Arkan karena merasakan ada sebuah benda di bawah yang menggesek bagian intinya dan membuatnya kembali turn on.
"M-masshh ... "
Arkan menatap Anjani tanpa menghentikan aktivitasnya di bawah. Tangan Arkan menahan pergelangan tangan Anjani di samping kepalanya, membuat Anjani menggenggam jempol milik Arkan dengan kuat. "Kenapa hm?"
"Itu ... Ahhh Masshh jangan nyiksa aku kaya gini." Anjani pening dengan semua ini, tapi dia belum mau kalau Arkan menyentuhnya lebih dalam. Dia berusaha bertahan namun dia tidak kuat lagi.
Perlahan tangan Arkan turun ke bawah dan mengusap bagian itu dari luar. "Ini maksudnya?"
"Masshh stopppp." Anjani menahan tangan Arkan yang berada di bawah. Membuat Arkan lagi-lagi menuruti kemauan istrinya.
Tapi lagi-lagi Anjani dibuat kecewa karena Arkan benar menghentikannya. Arkan berdiri, membiarkan Anjani tetap pada tempatnya tapi gadis itu merengek lagi. Bingung kan apa maunya.
"Mass ... " Anjani mengigit bibir bawahnya.
"Kenapa lagi, Sayang? Sudah kan? Apapun yang kamu mau sudah saya ikuti. Saya bilang hanya nyicip, saya tidak akan ingkar janji kalau kamu tidak mau."
Ah gila, bisa-bisanya Arkan berkata begitu saat Anjani sudah kepalang nafsu. Kenapa dia masih membahas yang di bawah sih. Persetan dengan gengsi Anjani mengatur napasnya perlahan. "Lagi."
"Lagi apa, Sayang?"
"Kaya tadiiiiii!!"
__ADS_1
"Jadi kamu menginginkannya, Sayang?" Tanya Arkan memastikan.
"Jangan masukin itu! Aku takut."
"As you wish ... " Arkan membuka kancing piyamanya. Membuat Anjani meneguk air liurnya saat melihat 6 roti sobek yang berada di sana.
Pikirannya sudah kemana-mana, sampai Arkan menurunkan hotpant dan dalamnya, Anjani sudah tidak peduli. Dia menginginkan Arkan berbuat lebih, dia ingin seperti tadi.
Perlahan Arkan menatap milik istrinya yang masih berwarna pink menggemaskan. Dia pintar merawat diri ternyata, daerah yang tidak pernah tersentuh oleh siapapun. Dia perlu bangga karena dia lah yang memilikinya.
Sesaat dia mencium aroma dari sana yang membuat milik Arkan semakin menegak. Tapi sabar, dia harus sabar malam ini. Dia juga harus menjadi yang paling aktif karena memang Anjani belum berpengalaman. Dia juga sih tapi dia ini pria dewasa yang mempunyai insting kuat kalau soal begini.
Perlahan Arkan memasukan satu jarinya di sana membuat Anjani meringis karena perih saat dimasuki sesuatu pertama kali.
"Mashh saa ... kithh."
Arkan tidak mengindahkan perkataan Anjani dan malah memainkan jarinya di sana. Anjani kewalahan kalau begini karena menahan sentuhan-sentuhan dari Arkan membuatnya melayang. Anjani meremas kuat bantal yang ada di kepalanya, merasakan bagian bawahnya terkoyak oleh jari suaminya.
"Masss .... " Anjani sudah kehabisan kata-katanya. Arkan melakukannya semaksimal mungkin untuk memberi pengalaman yang luar biasa untuk istrinya. Belum lagi cairan tadi membuat Arkan lebih mudah untuk melakukannya.
Di permainan pertama sang istri, Arkan tentu harus memberikan yang terbaik bukan?
"Ya, seperti itu, Sayang. Say my name, please ... " Arkan semakin mempercepat gerakan jarinya keluar masuk di bawah sana. Tidak perduli Anjani yang sudah beberapa kali berteriak memanggil namanya untuk minta berhenti.
Malah hal itu membuat Arkan semakin bersemangat untuk memberikan hal yang lebih gila lagi untuk istri kecilnya ini. Tentu saja malam ini Arkan mengeluarkan semua keahliannya untuk sang istri.
Dan ketika Arkan merasakan kedua jarinya dicengkeram erat oleh milik Anjani, Arkan semakin mempercepat gerakannya karena sang istri akan mendapatkan pelepasan keduanya.
"Massssh Arkannn arghht ... "
Gelombang itu pun datang, membuat Anjani benar-benar lemas karena sudah keluar dua kali. Cairan itu keluar banyak dari sana, dia senang karena Anjani puas dengan permainan jari yang dia lakukan.
__ADS_1
Di sisi lain Anjani mengatur napasnya, rasanya dia sudah malu sekali karena tidak memakai sehelai benang pun sungguh dia malu sekali karena ini pertama kalinya Arkan melihat tubuhnya polos begini.