I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Baby Boy OR Baby Girl?


__ADS_3


Sejak dalam perjalanan, sampai di rumah sakit, Arkan tidak melepaskan genggamannya pada Anjani. Bahkan Arkan sangat melindungi istrinya itu dengan baik karena dia memang sangat protektif saat mengetahui kalau kandungan Anjani lemah.


Jadi sebagai suami dia ingin memberikan yang terbaik untuk Anjani dan juga anak dalam kandungannya. Agar mereka sama-sama sehat dan nanti menjadi sebuah kesatuan keluarga yang utuh.


Sesampainya di dokter kandungan, mereka melakukan pemeriksaan sebentar mengenai keluhan-keluhan selama kehamilan dan juga pengecekan kesehatan lainnya. Alhamdulillahnya berat Anjani normal dan tidak kekurangan apapun.


Tidak mungkin kekurangan sih, Anjani memiliki suami yang protektif dan mama mertua yang sangat perhatian. Jadi asupan yang Anjani butuhkan terpenuhi setiap harinya. Belum lagi orang tuanya dan juga Oma Sena yang sangat antusias sekali dengan kehadiran cicitnya dalam perut Anjani. Pokoknya Anjani sangat dimanjakan sekali sebagai ibu hamil.


Selesai dengan pengecekan kini Anjani sudah berbaring di ranjang untuk melakukan USG. Seperti biasa dokter akan mempersiapkan alat dan ke-strerilan dirinya terlebih dahulu sebelum menangani pasien.


"Mass ... "


"Kenapa, Sayang?" Tanya Arkan sembari mengusap puncak kepala Anjani.


"Bayi mau makan sushi," ucap Anjani setengah berbisik.


Arkan menganggukkan kepalanya. "Iya, setelah ini kita cari."


Anjani tersenyum senang, setelah itu dia kembali mengusap perutnya dan mengeratkan genggamannya pada Arkan. Entah kenapa ya setiap dia memeriksakan kandungannya, dia selalu merasa grogi. Padahal sudah melakukannya beberapa kali.


Tak selang beberapa lama dokter Zara pun datang lalu tersenyum ke arah Anjani. "Bajunya saya singkap sebatas dada ya, Bu?"


Anjani dan Arkan mengangguk berbarengan. Aduh kenapa ya Arkan selalu ingin tertawa melihat Anjani sedang USG. Dia sadar kalau dia sekarang menghamili gadis berusia 19 tahun. Padahal dia sendiri sudah 26 tahun.


Anjani yang melihat tatapan Arkan membuatnya sebal. Pasalnya Arkan sering sekali mengatakan kalau dirinya ini kecil-kecil tapi hamil. Padahal dia juga yang berbuat. Memang suka saja dia meledek Anjani sampai istrinya ini kesal.


Memahami itu Arkan tersenyum lalu menciumi punggung tangan Anjani. Dokter pun sepertinya sampai iri melihat pasangan ini. Sudah serasi, lucu sekali mereka.


Setelah disingkap, dokter menaruh ultrasound gel pada alat transducer lalu menggerakkannya di perut Anjani. Membuat Anjani dan Arkan langsung mengarahkan tatapannya pada layar.


Saat-saat seperti ini selalu membuat mereka merasa dekat dengan anak mereka. Melihat tumbuh kembangnya dari yang masih sebesar kacang merah dan sekarang beratnya sudah lebih besar.


"Alhamdulillah bayinya sehat ya, Bu."

__ADS_1


"Usia kehamilan 20 minggu biasanya sangat nyaman. Karena mualnya sudah mulai berkurang dan Ibu sudah membiasakan diri dengan pola aktivitas bayi di dalam sana. Meskipun begitu, harus tetap dijaga kandungannya ya. Vitamin dan suplemen nya harus tetap diminum setiap hari," nasehat dokter Zara.


Arkan mengangguk paham dan memperhatikan setiap detail yang disampaikan dokter, begitu pun dengan Anjani. Mereka juga menanyakan tentang beberapa hal seperti tendangan tadi pagi yang mereka rasakan dan ternyata semuanya baik-baik saja.


"Dan selamat, anak Ibu Anjani dan Pak Arkan perempuan. Cantik sepertinya."


Anjani dan Arkan saling menatap lalu dengan spontan Arkan memeluk Anjani, membuat Anjani membalas pelukannya. "Masss erat banget aku gak bisa napas!!"


Arkan terkekeh lalu mengecup puncak kepala Anjani. Baru saja dia bilang kalau ingin anak perempuan dan ternyata anaknya perempuan. "Maaf, saya terlalu senang anak kita perempuan."


"Aku juga seneng," balas Anjani yang kini kembali memperhatikan dokter yang juga ikut tertawa melihat kedua sejoli ini.


Dokter juga memperihatkan USG 4D pada Anjani. Dia sangat terharu melihat wajah anaknya di sana, meskipun belum terlalu jelas tapi hati Anjani rasanya hangat saat melihat itu. Tidak hanya Anjani namun Arkan pun merasakan kebahagiaan yang sama sekarang.


"Anaknya cantik sekali, Bu, Pak. Sedang tersenyum tuh ke arah Mama dan Papanya. Sebentar saya perjelas."


Dokter kembali menggerakkan alat itu dan mengotak Atik mesinnya. Sesekali Arkan mencuri ciuman pada bibir istrinya saling senangnya melihat ini semua. Membuat Anjani juga mencubit Arkan karena tidak tau tempat. "Masss!!"


"Kamu gemas."


"Nah ini anaknya, Bu, Pak."



Anjani mengeratkan genggamannya pada Arkan, kenapa ya dia terharu sekali melihat wajah anaknya yang terlihat cantik itu. Apalagi senyumnya itu loh membuat hatinya meleleh.


"Kenapa ya dia cantik banget, manis banget, Mass," gumam Anjani seraya menyeka air matanya.


"Cantik dong, Bu, seperti Mamanya," kata sang dokter.


"Dokter boleh lahiran sekarang aja gak? Saya mau gendong sekarang," kata Anjani random.


Nahkan ada-ada saja keinginan Anjani. Padahal usia kandungannya baru menginjak 5 bulan. Mana bisa dilahirkan sekarang. Membuat Arkan kembali mengecupi puncak kepalanya.


"Tidak bisa, Sayang. 4 Bulan lagi," ucap Arkan.

__ADS_1


Anjani memajukan bibirnya, memang sepertinya harus bersabar. Tapi melihat bayinya sehat begini dia senang kok, senang sekali. Dia berharap kalau bayinya akan sehat-sehat terus sampai nanti dilahirkan.


Setelah selesai memeriksakan kandungan, Arkan memenuhi janjinya untuk mengajak Anjani makan di restoran Jepang langganan mereka. Memang Anjani dan Arkan ini satu selera.


Mereka berdua sama-sama suka makanan Jepang. Biasanya Anjani selalu makan makanan mentah. Tapi berhubung dia sedang hamil, jadi dia hanya diizinkan untuk makan yang matang saja.


Arkan mengusap perut Anjani dengan lembut. "Anak ayah happy mau makan ramen?"


"I'm Soo happy, Ayah. Seneng juga udah ketemu sama ayah tadi, aku manis, kan?" Tanya Anjani.


"Manis, mirip mamanya. Ayah tunggu kamu 4 bulan lagi ya?" Kata Arkan yang dihadiahi anggukan oleh Anjani.


Anjani juga tidak tau kenapa Arkan selalu menanyakan dirinya ini happy atau tidak setiap hari, tapi dia merasa kalau Arkan selalu berusaha membuatnya bahagia sampai dia ingin memastikan kebahagiaannya setiap hari.


Anjani sangat bersyukur untuk itu, baru kali ini ada seseorang yang menanyakan kondisi perasaannya hampir setiap hari begini. Baru dengan Arkan lah dia merasakannya.


"Kita mau belanja perlengkapan bayi?" Tawar Arkan saat Anjani baru saja menyuapkan sushi dalam mulutnya.


Anjani menggeleng. "Kata mama gak boleh beli dulu sampai hamilnya 7 bulan."


"Kenapa tidak boleh?" Tanya Arkan.


"Pamali, nanti aja. Lagian masih lama, Mas. Siapa tau modelnya lebih bagus lagi bulan depan. Bayi sekarang belum mau dibeliin baju, maunya makan," kata Anjani.


Bukan terlalu kolot sih, mereka ini memang tinggal di zaman modern tapi tidak ada salahnya juga mengikuti pantangan. Karena meskipun di luar nalar terkadang ada sisi baiknya juga kan?


Katanya kalau membeli baju sebelum tujuh bulan, anaknya tidak akan lahir atau keguguran. Tapi kalau dari segi logikanya ya benar juga, lagi sekarang mode cepat berubah. Akan sayang kalau nantinya tergantikan oleh yang lebih bagus. Jadi lebih baik nanti saja. Karena masih banyak waktu soal itu. Apalagi Arkan itu royal, tidak perlu memikirkan apapun, tinggal beli.


Arkan mengangguk paham. Padahal dia semangat sekali ingin membeli banyak kebutuhan anaknya. Dia sangat antusias sekali kalau mengenai anaknya. Bahkan soal susu, vitamin, alat kehamilan yang dibutuhkan Anjani, Arkan yang membelikannya.


Tapi kata Hera wajar kalau dia begitu, karena dulu pun Abdi begitu. Dia yang paling semangat saat menyiapkan keperluan kehamilan dan kelahiran Arkan dan itu memang menyenangkan.


"Mas kamu harus pikirin namanya dari sekarang."


"Nanti kita pikirkan," balas Arkan seraya mengusap puncak kepala Anjani. Setelah itu mereka kembali memakan makanan mereka dan menikmati waktu libur bersama.

__ADS_1


__ADS_2