I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Arkan dan Papa Abdi


__ADS_3


"Mau anggur lagi?" Tanya Arkan seraya menyuapkan anggur pada Anjani.


Anjani menggeleng. "Mau jeruk."


Arkan mengangguk paham setelah itu dia mengambil jeruk dan mengupasnya dengan bersih, tidak lupa juga dia menghilangkan serat-serat di sana lalu menyuapkannya pada Anjani.


Anjani dengan senang hati kembali menerima suapan dari Arkan dan matanya tidak lepas dari film yang ada di hadapannya. Yang lebih membuat Arkan geleng-geleng kepala adalah, Anjani menonton film anak-anak. Entah Frozen, Barbie, atau Cocomelon.


Rasanya Arkan bukan sedang memanjakan istrinya, tapi keponakannya atau mungkin anaknya. Apalagi Anjani sedang mode gemas begini yang nampak anteng dalam pelukannya sejak tadi.


Pada akhirnya seharian ini Arkan benar-benar menemani Anjani. Kalau ditanya se-manja apa? Tentu rasanya Anjani akan lebih manja daripada anaknya kelak sepertinya. Dia bahkan begitu rewel hari ini, mudah marah dan tersinggung. Membuat Arkan serba salah dibuatnya.


Lagi, barang sedikit saja Arkan beranjak, Anjani sudah menarik bajunya. Seperti sekarang ini, Arkan beranjak karena ingin mengambil iPadnya di ruang kerja tapi Anjani menahannya. "Mau kemana?"


"Ke ruang kerja, Sayang." Arkan berusaha selembut mungkin untuk bicara dengan Anjani. Meskipun kalau boleh jujur dia pegal karena seharian di dalam kamar menemani Anjani.


"Kamu bosen ya sama aku?" Anjani memajukan bibirnya.


Nahkan apalagi ini, padahal Arkan hanya ingin mengambil iPadnya. Bukan meninggalkannya. "Mau ambil iPad nanti saya ke sini lagi."


"Kamu marah ya?" Tanya Anjani yang salah paham karena perkataan suaminya.


"Tidak, Anjani saya tidak marah," jelas Arkan yang kini nampak urung untuk pergi karena istrinya tengah merajuk. Padahal Arkan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga tingkah laku, tatakrama, adat istiadat, tapi Anjani tetap saja marah.


Memang sulit berurusan dengan yang namanya wanita, apalagi dia galak, moodyan, ditambah dia sedang hamil. Berkali-kali lipat menyeramkannya. Tobat deh Arkan kali ini. Tapi dia sendiri memang yang menginginkan Anjani hamil.


"Ya sudah saya tidak kemana-mana." Arkan mengalah dan akhirnya kembali memeluk Anjani. Membuat Anjani yang tadinya murung, kini nampak tersenyum lagi saat Arkan memeluknya.


"Kenapa kamu jadi lebih manja begini?" Tanya Arkan gemas seraya menciumi pipi chubby istrinya.


"Gak boleh ya emangnya?" Tanya Anjani yang kini mengadahkan wajahnya pada Arkan.

__ADS_1


"Boleh, Sayang. Boleh, jangan ngambek gitu. Saya bingung kalau kamu cemberut begitu," jelas Arkan.


Sebenarnya Anjani juga merasa kalau dirinya sekarang lebih manja dan sensitif. Tapi dia juga tidak dapat mengendalikan dirinya, terkadang tanpa alasan yang jelas pun dia ingin menangis. Apa semua ibu hamil begini ya atau hanya dia saja?


"Mas kepala aku pusing," adu Anjani.


Mendengar itu Arkan langsung memijat pelipis Anjani dan menyandarkan istrinya itu pada dada bidangnya. "Bilang kalau sakit, lalu apa lagi yang kamu rasakan?"


Anjani menggeleng dan kini mengeratkan pada Arkan. Aroma maskulin Arkan jujur saja membuatnya nyaman. Membuat perasaannya merasa aman jika ada di dalam pelukan suaminya.


"Mass ... "


"Apa, Sayang?"


"Aku sayang kamu."


"Saya juga menyayangi kamu, Anjani," balas Arkan lembut.


.


.


.


Anjani sudah tertidur, jadi Arkan memutuskan untuk turun ke bawah. Sejak tadi pagi dia menemani Anjani sampai tidak terasa sudah siang begini.


Sepertinya secangkir kopi bisa membuatnya rileks, perlahan Arkan berjalan ke dapur dan mengambil coffe capsulle. Setelah itu dia nampak sibuk dengan mesin kopinya.


Wajahnya terlihat tenang saat menghirup aroma kopi dari sana. Memang kopi, teh, rokok, terkadang yang bisa membuat Arkan jauh lebih rileks dari sebelumnya.


"Kenapa baru turun, Gio?" Tanya Abdi yang nampak sibuk dengan peliharaan yang baru saja dia bawa dalam plastik besar. Apalagi kalau bukan ikan, entah ikan apa lagi yang di bawa oleh ayahnya setelah pulang kerja.


"Orang hamil sedang manja, Pa," adu Arkan.

__ADS_1


Abdi terkekeh mendengarnya, dia paham apa yang Arkan rasakan, karena pasalnya dulu juga Hera tidak ada bedanya. Bahkan Hera lebih parah karena mengidam makan eskrim di Arab Saudi. Belum lagi saat menjelang persalinan, Hera meminta untuk dibawakan bubur ketan hitam, padahal itu jam 1 malam. Abdi masih mengingat jelas masa itu meskipun sudah puluhan tahun.


"Butuh teman bicara?" Tanya Abdi.


Arkan menganggukkan kepalanya perlahan. Mungkin bicara dengan ayahnya bisa membuatnya tau apa yang harus dia lakukan ditengah serba salahnya dia menghadapi Anjani yang moodnya tidak karuan.


"Buatkan papa satu dan susul ke belakang." Setelah mengatakan itu Abdi membawa ikan-ikannya dan pergi ke belakang untuk menyatukan ikan itu kepada kawanannya.


Pada akhirnya Arkan mengikuti ayahnya ke taman belakang untuk mengurusi kolam ikannya dengan membawa dua cangkir kopi. Memang dia juga sudah lama tidak bicara seperti ini dengan sang ayah. Tentu karena kesibukan mereka masing-masing.


Padahal Arkan dan Abdi ini sering berbagi, Arkan selalu senang bicara banyak hal pada orang tuanya. Selain meminta solusi, dia juga pasti ingin tau banyak hal soal pembelajaran hidup. Tentunya Abdi lebih berpengalaman.


Abdi dan Arkan duduk di pinggir kolam dengan secangkir kopi yang berada di tangan mereka. Perlahan Abdi menyesap kopi itu dan memejamkan matanya sejenak. Begitu juga dengan Arkan. Kalau soal ikan, Arkan dan Abdi tidak akan clop, tapi kalau soal kopi dan teh mereka bisa sangat satu frekuensi.


"Orang hamil memang begitu, sebagai suami kamu harus paham-paham, harus sabar-sabar, karena orang hamil itu bisa menyebalkan berkali-kali lipat," ucap Abdi tiba-tiba seolah menjawab apa yang Arkan pikirkan.


Arkan hampir saja tersedak, pasalnya memang benar apa yang dikatakan Abdi, Anjani jauh lebih menyebalkan dari biasanya. Mudah tersinggung, emosian, kalau manja sih tidak apa-apa, tapi kalau sudah mengomel atau menangis tidak jelas itu menyebalkan untuk Arkan. Meskipun dia juga tidak marah sih karena tak tega melihat sang istri begitu karena hamil anaknya.


"Papa dulu juga seperti itu, apalagi mamamu itu ngidamnya sangat sulit. Tapi yang perlu kamu ingat itu adalah, menjadi wanita itu tidak mudah ."


"Mereka mengalami menstruasi, sakitnya malam pertama, bahkan mereka bisa melayani suaminya di saat sedang lelah, setelah itu hamil dengan morning sickness beserta keram dan juga moodswing yang mereka alami. Lalu yang terakhir melahirkan dan bertaruh nyawa untuk melahirkan anak kita, jadikan itu acuan agar kita tidak lepas kontrol," lanjut Abdi.


Arkan tersenyum, memang kalau soal begini dia lebih tepat untuk bicara dengan ayahnya. Sebagai rolemode-nya sejak kecil Abdi memang adalah orang yang selalu memberikan banyak motivasi dan pengalaman serta pembelajaran hidup dalam diri Arkan.


"Papa benar."


"Memang sulit memahami istrimu apalagi dia juga masih muda, tapi dia itu hebat karena sekarang mengandung anakmu, Gio. Jadi masih mau mengeluh?" Tanya Abdi.


"Tidak, Pa. Saya paham."


Abdi tersenyum lalu menepuk bahu putranya bangga. Rasanya baru kemarin dia belajar berjalan, sekarang dia sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang akan mempunyai anak. Waktu cepat sekali berlalu ternyata.


Tanpa sadar seja tadi Hera menatap kebersamaan suami dan juga putranya. Moment seperti ini rasanya selalu membuat perasaannya menghangat, Arkan itu anak satu-satunya. Jadi dia harus selalu dekat dengan orang tuanya. Meskipun dia sudah dewasa tapi Hera senang kalau Arkan masih melibatkan mereka dalam hal-hal yang menjadi permasalahan hidupnya seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2