
Sabtu pagi hari selalu menyenangkan, karena selain ini malam Minggu, keesokan harinya juga mereka masih merasakan libur. Jadi hari sabtu itu seperti ada euforianya sendiri untuk Arkan dan Anjani.
Setelah Anjani selesai mandi, seperti biasa pemandangan yang Arkan lihat adalah istrinya yang sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk, aroma sabun dan juga wajah fresh adalah pemandangan indah yang selalu dia temui setiap pagi dan juga sore hari seperti ini.
Perlahan Arkan turun dari kasur dan berdiri di hadapan Anjani, membuat gadis itu menatapnya dengan bingung. "Kenapa? Kenapa liatin aku? Sana mandi, Mas."
"Mau peluk."
Anjani tidak salah dengar? Kenapa wajah Arkan juga menggemaskan sih? Tapi kenapa tiba-tiba ini? Anjani jadi curiga.
"Sayang ... " Panggil Arkan dengan lembut.
Tuhkan semakin mencurigakan, pasti ada hal yang tidak beres dengan otak Arkan. "Biasanya juga kalau mau peluk ya langsung peluk, kan?"
"Mau kamu yang memulai."
Anjani menghela napasnya, astaga dia baru merasakan kalau anak tunggal itu se-manja ini. Jadi ya sudah, mumpung Anjani sedang baik hati dia mengikuti kemauan suaminya.
Perlahan Anjani mendekat lalu memeluk suaminya dengan perhatian, dengan lembut juga dia mengusap-usap punggung Arkan agar dia nyaman, membuat Arkan membalas pelukan Anjani dan membenamkan wajah di ceruk leher istrinya. Menghirup aroma tubuh Anjani rasanya membuat Arkan semakin fresh.
"Saya suka dipeluk."
"Ya ini aku peluk."
"Saya suka kamu."
"Ya aku tau."
Arkan terkekeh mendengarnya. "Kamu suka sama saya juga, kan?"
"Iya suka."
Heran biasanya selalu wanita yang ingin mendapatkan validasi perasaan dari pasangannya, tapi yang Anjani alami malah Arkan yang sering menanyakan soal perasaannya. Setakut itukah Arkan kalau Anjani tidak mencintainya?
"Saya suka manja-manjaan, boleh?" Tanya Arkan.
Anjani terdiam lalu kembali menghela napas. "Boleh, tapi mandi dulu. Aku juga mau pake baju."
"Ya sudah ganti lah," ucap Arkan santai.
"Ya kamu ke kamar mandi dulu masa di depan kamu sih, ngaco," balas Anjani.
Arkan terkekeh lalu menangkup kedua pipi Anjani lalu menghimpit keduanya. Sangat lucu sekali bonekanya ini. "Saya suami kamu, mau lihat semuanya juga boleh."
__ADS_1
"Gak boleh!"
"Siapa yang buat aturan begitu?" Tanya Arkan seraya memajukan. wajahnya pada Anjani..
"Aku."
"Siapa kepala keluarganya di sini? Jadi yang berhak memberi peraturan siapa?" Tanya Arkan lagi.
"Ishhh, gebuk nih! Sana ah mandi dulu dibilang, kalau gak aku bakalan berubah pikiran, mau baca novel seharian sampe gumoh," ancam Anjani.
"Iya bawel, bentar jangan kemana-mana." Setelah mengucapkan itu Arkan tersenyum lalu mengecup bibir Anjani sekilas.
Kelakuan Arkan yang seperti ini nih yang terkadang membuat Anjani geleng-geleng kepala, dia bisa dewasa di satu waktu, tapi terkadang bisa seperti anak kecil juga. Benar-benar ajaib.
Setelah mengeringkan rambut Anjani menatap dirinya di cermin, dia nampak terlihat cantik dengan balutan dress berwarna coklat susu. Sebenarnya dia tidak akan kemana-mana sih, tapi memang Anjani lebih nyaman menggunakan dress hari ini.
Akhhhh ... Ahhh ... Sial ... Emmphhh ....
Mata tiba-tiba membulat karena mendengar suara Arkan dari kamar mandi. "Astagfirullah, orang itu lagi ngapain?"
Cukup membuat penasaran, apa jangan-jangan benar lagi kata Azzam kalau Arkan sering melakukan ... Anjani menggeleng, masa sih Arkan begitu?
Daripada dia penasaran lebih baik dia kembali menguping, langkahnya membawa Anjani pada depan pintu kamar mandi, telinganya mendekat untuk mendengar sesuatu dari dalam sana.
Anjani melongo dan menutup mulutnya, ternyata benar apa kata Azzam. Pantas saja pagi ini Arkan minta manja-manjaan. Jangan-jangan Arkan kan mengerjainya pagi ini. Aduh, gawat!!
Ceklek ...
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Arkan yang kini tengah mengeringkan rambutnya dan menatap Anjani keheranan. "Kenapa kamu di depan kamar mandi?"
Melihat itu Anjani kaget dan spontan menjauh dari Arkan. Tidak, Arkan bahaya sekali pagi ini. Dia tidak bisa bersama Arkan dalam kondisi yang seperti itu.
"Kenapa?" Tanya Arkan yang keheranan melihat sikap Anjani.
"H-hah? E-enggak, a-aku ke luar bawah duluan!" Anjani hendak pergi dari sana namun Arkan menarik lengannya lembut dan merengkuh pinggan gadis kecilnya itu.
"Kenapa gugup begitu?" Tanya Arkan yang seolah tidak puas dengan jawaban Anjani.
"E-engaaa ... "
"Kenapa?" Arkan semakin mendekatkan wajahnya pada Anjani.
"Maaaaasss!!! Jauh-jauh bisa gak?!!! Aku takut!" Ucap Anjani setengah berteriak.
Arkan mendengar itu terkekeh, kenapa juga tiba-tiba Anjani takut padanya. "Ya kenapa takutnya, sini bilang sama saya kenapa?"
__ADS_1
"Ahh udahlah, Mass aku mau ke bawah duluan!"
"Tidak bisa, tadi kamu sudah janji kalau saya boleh manja-manja jadi kamu seharian harus bersama saya," ucap Arkan.
"S-seharian? Ngapain??!!" Tanya Anjani seraya membulatkan matanya.
"Enaknya ngapain?" Tanya Arkan berbalik.
"Tuh kan emang aneh kan aku bilang, berarti bener kata Azzam. KAMU SUKA MAIN DI KAMAR MANDI YA?" Tanya Anjani spontan.
Arkan mengulum tawanya, ah dia paham kenapa Anjani bersikap seperti ini sekarang. Jadi dia mendengar suaranya di kamar mandi sampai pikirannya kemana mana? "Kalau iya kenapa?"
Mendengar itu Anjani semakin ketar-ketir. "Y-ya gapapa sih, y-yaudah deh skip ajaaa!!"
Arkan kembali terkekeh dan menggendong Anjani Ala brydal. Jangan ditanya perasaannya Anjani bagaimana, jelas dia kaget. Berharap kalau tidak terjadi sesuatu padanya. Perlahan Arkan membaringkan gadis itu di kasur dan mengukungnya di bawah. Membuat Anjani mengerjapkan matanya diiringi debat jantung yang semakin kencang. "M-masss ... "
"Saya kesandung kaca penyangga di kamar mandi, tidak seperti yang kamu pikirkan. Saya punya kamu, lebih baik langsung saja, kan?"
"H-hah jadi?"
Arkan mengangguk, dia sejak tadi sudah menahan tawanya. Memang tidak salah sih pemikiran Anjani. Lagian kenapa juga sahabat istrinya itu meracuni pikiran istri kecilnya itu, padahal biar saja Arkan yang mengajarkannya sendiri. "Karena kamu memancing saya, jadi ayok kita lakukan."
"Hahh??!! Gak mau, aku– aku mau ke bawah, bantuin Mama!" Ucap Anjani panik.
Namun tidak bisa dia keluar dari kukungan suaminya, dalam beberapa detik setelahnya pria itu berhasil menyatukan bibir mereka, mengutip napas Anjani yang terengah seraya menghisap bibir mungil yang selalu membuatnya candu setiap hari.
Jika sudah seperti ini Anjani justru tidak bisa melawan, dia menikmati setiap hisapan yang Arkan lakukan di bibir atas dan bawahnya. Sesekali Anjani mencoba mengimbangi ciuman mereka, tapi tetap saja Arkan mendominasi karena Anjani masih amatir.
Di luar apa yang Anjani pikirkan ini sangat gila, logika dan apa yang dia lakukan sekarang seolah bertolak belakang. Ciuman yang Arkan berikan seolah mampu membuatnya kelabakan dan candu dalam waktu yang bersamaan.
Anjani meremas baju Arkan saat oksigen dalam paru-parunya mulai menipis, membuat Arkan sedikit menjauhkan wajahnya. "Bernapas dengan hidung, Sayang."
Seolah paham Anjani malah mengangguk, kemudian Arkan melanjutkan aktivitasnya, rasanya pagi ini dia begitu bergairah, tidak peduli juga apa yang akan terjadi kedepannya karena Anjani juga cukup menikmatinya. Cecapan demi cecapan terdengar, kini Anjani sudah tau cara mainnya, sudah tau apa yang harus dia lakukan.
Tangan Arkan perlahan naik dan mengusap leher jenjang istrinya, entah perasaan apa yang Anjani rasakan, napasnya seolah terengah-engah menikmati sensasi yang baru dia rasakan.
Namun ....
"Den Gio, Non Anjani, Ibu sudah menunggu di bawah." Suara itu menginstruksi dari luar sana bak alarm di pagi hari.
Mendengar itu Arkan melepaskan ciuman mereka dan menggeram kecil. " Arghht ganggu aja."
Berbeda dengan Anjani, dengan napas yang masih terengah-engah dia bisa melepaskan diri dari Arkan dan turun dari kasur. "A-aku ke bawah duluan!"
Anjani langsung berlari meninggalkan Arkan yang kini malah kelihatan uring-uringan. "Anjaniii kamu belum selesai dengan saya!!!" Teriak Arkan.
__ADS_1