
Anjani, Shella dan Dion kini sedang skincare-an di tenda Anjani. Mereka sedang maskeran sih lebih tepatnya. Ya setelah api unggun wajah mereka terasa berminyak, jadi mereka harus rileks sembari menikmati malam ini.
"Jan, kamu gak bohong kan kalau kamu udah nikah?" Tanya Shella yang masih tak percaya.
"Tapi aku percaya aja sih, Shell. Dia itu banyak yang suka tapi dia gak mau," timpal Dion.
"Aku gak bohong, aku udah nikah. Kalian perlu bukti?" Tanya Anjani.
Mereka mengangguk cepat dan mendekat ke arah Anjani saat Anjani melakukan video call pada Arkan. Sebenarnya dia tidak tau sih Arkan sudah tidur atau tidak tapi dicoba saja.
Mereka mendekat tapi tidak memunculkan wajah di sana agar seolah Anjani memang hanya sendiri sebagai pembuktian. Tak lama kemudian panggilan itu diangkat dan menampilkan Arkan yang nampak frustrasi tidak bisa tidur.
"Yaampun, Mas kenapa kamu belum tidur?" Tanya Anjani seraya terkekeh.
"Mas tidak bisa tidur karena tidak peluk kamu ternyata, padahal dulu rasanya tidur sendiri tidak apa-apa," ucap Arkan jujur.
Anjani kembali terkekeh. "Besok aku pulang, baru selesai makrab. Tidur gih, Mass udah malem. Besok kan harus ke kantor."
"Saya susul ke sana saja bagaimana?" Tawar Arkan.
"Ishh jangan, besok ketemu. Tahan dulu kangennya."
"Kamu sedang apa?" Tanya Arkan.
"Lagi sama temen-temenku, mereka gak percaya aku udah nikah sama kamu. Jadi aku video call kamu." Anjani menjauhkan sedikit ponselnya dan memperlihatkan Dion dan juga Shella yang tersenyum kaku.
"Hai suaminya, Jani."
"Yaampun udah nikah beneran ternyata," ucap Dion.
"Iya kami sudah menikah, titip istri saya ya. Biar tidak digodain," ucap Arkan.
"Oh siap boss!! Tenang Dion gak suka Anjani, tapi malah tergoda sama suaminya," ucap Dion pelan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Anjani.
"Jangan yang ini Dion!"
"Iya ya Allah. Maaf, ampun!" Dion dan Shella pun menjauh dan berusaha mencerna ini semua. Ternyata bukan main-main suaminya Anjani. Anak tunggal kaya raya keluarga Altair.
Mereka jelas tau, tapi belum tau kalau Arkan sudah menikah. Dengan temannya sendiri lagi, benar-benar diluar dugaan sekali, bukan?
"Yaudah kamu tidur, atau aku gak usah tidur nemenin kamu video call gini?" Tawar Anjani.
"Tidak usah, kamu harus tidur juga, Sayang. Yasudah saya tidur, kamu jangan lupa isi perutnya. Besok kabari kalau sudah mau pulang dan kabari kalau sudah sampai kampus."
Anjani mengangguk dan tersenyum, perhatian sekali memang suaminya ini. Bagaimana bisa dia berpaling coba kalau begini caranya. "Yaudah, good night, Mas. Sleep well."
__ADS_1
"Good night too, Sayang. I love you."
"I love you too," balas Anjani lalu mematikan sambungannya.
Anjani tersenyum, namun setelahnya dia menatap Shella dan Dion yang masih mematung karena syok melihat suaminya Anjani. "SUAMI KAMU ARKAN ALTAIR? GILA!"
Mereka setengah berteriak, untung saja tidak terdengar sampai keluar. "Kenapa emangnya?"
"Gila sih kalau gitu juga aku gak akan mau sama yang lain, mau sama yang itu aja," ucap Shella.
"Tergoda," ucap Dion.
"Gak boleh!" Tegas Anjani.
"Susah, Jan. Suami kamu itu loh, gila cakep."
Setelah itu mereka malah penasaran dengan photo pernikahan Anjani dan penasaran melihat isi galeri Anjani yang memang isinya Arkan semua dan dirinya. Mereka semakin percaya kalau mereka suami istri, mereka juga tidak sadar lagi kalau isi isntagram itu Anjani semua. Benar-benar plot twist.
.
.
.
Kaki Anjani bergerak gelisah saat bus sudah mendekati area kampus. Acara makrab sudah selesai, hal itu membuat Anjani sangat lega karena akhirnya bisa pulang dan bertemu lagi dengan Arkan. Ck, padahal, mereka baru saja berpisah semalam, tapi Anjani sudah merasakan rindu yang teramat dalam. Apa sebegitu cintanya dia kepada Arkan?
“Lu udah nikah? Mana mungkin? Lu kan baru lulus SMA,” kata Galang. Saking terpingkalnya, dia sampai mengeluarkan air mata.
“Ya, terserah sih. Yang penting aku udah jujur. Aku udah nikah.” tegas Anjani.
Sialnya, banyak teman-temannya yang tidak percaya dan menuduh Anjani mengada-ada. Mereka pikir, Anjani sengaja berkata demikian untuk menolak Saka secara halus. Tak jarang, ada yang julid mengatai Anjani sok jual mahal. Salah lagi kan dia. Memang Anjani serba salah sepertinya.
“Anjani, gua boleh nanya?” Tanya Delard yang duduk di belakangnya. Iya itu adalah salah satu senior.
“Apa? Perkara aku udah nikah beneran apa belum dan nyangka aku jual mahal dengan nolak Kak Saka secara halus?” Kesal Anjani.
Delard meringis. “Kok, lu tahu sih? Rame banget soalnya. Mereka pikir lu ngada-ngada, Saka juga masih gak percaya,” jelasnya.
Bahu Anjani mengedik. Masa bodo mereka mau menilai bagaimana. Gadis itu melepas cincinnya, lalu menunjukkan pada Delard. Dia memperlihatkan ukiran nama Arkan di dalam cincin emas itu.
“Giovano?” Delard mencicit.
“Jadi, lu beneran udah nikah?” Tanya Delard.
“Masih kurang buktinya?”
Delard menggeleng. Tadinya, dia pikir Anjani juga mengada-ada. Dia pikir, cincin yang Anjani akui sebagai cincin kawin adalah cincin biasa. Namun, kini pria itu tak bisa lagi menutupi rasa terkejutnya.
__ADS_1
"Aku nikah waktu SMA, dijodohin. Bukan karena insiden atau apapun. Aku rasa Kakak juga kenal orangnya."
"Giovano siapa?" Tanya Delard.
"Arkan Giovano Altair, kalau gak tau cari aja instagramnya."
Tanpa berlama-lama Delard mencari akun itu di instagramnya, dia tau siapa yang Anjani sebutkan. Tapi tidak ada nama giovano di tengah nama Arkan. Namun matanya membulat saat melihat highlight dan photo pernikahan yang ada di sana.
Delard menatap Anjani tak percaya. Anjani mengambil cincin miliknya dan kembali memasangkannya di jari manisnya. Seharusnya itu cukup.
Bus mulai berhenti di depan kampus. Anjani tak bisa menahan senyumnya saat melihat iMess dari Arkan yang mengatakan jika dia sudah menunggu. Gadis itu dengan tergesa mengambil tas ranselnya, lalu sebelum pergi dia menepuk pundak Delard.
“Besok-besok kalau kurang jelas aku cerita lagi ya, Kak!” Kata Anjani dengan senyum sumringah. Langkahnya semakin cepat saat menatap mobil milik Arkan sudah terparkir bersama beberapa penjemput lainnya.
Arkan keluar dari mobil sembari melambaikan tangan kepada Anjani. Dia sangat lega karena akhirnya sang istri sampai dengan selamat. Gadis itu berlari, kemudian melompat ke pelukan Arkan.
“Kangen banget,” kata Anjani.
“Anjani, ada banyak orang di sini.” Arkan berusaha menyadarkan istrinya yang nampak cuek saja begitu saat memeluknya.
“Biarin,” jawab Anjani acuh tak acuh.
“ Anak-anak yang satu fakultas sama aku tau kok kalau aku udah nikah.”
“Sungguh?” Arkan melepaskan dekapan Anjani dan menatap istrinya lekat-lekat. “Mereka tau, kenapa bisa, Sayang?”
“Iya, aku semalam ngaku. Nanti deh aku ceritain di rumah, Mas. Aku mau pulang cape.” Anjani pun nyengir, lalu menarik tangan Arkan untuk masuk ke mobil.
Untung saja, tempat Arkan memarkirkan mobil di tempat yang pencahayaannya sedikit redup. Jadi, wajah lelaki itu tidak akan terpampang. Bisa-bisa banyak yang menyukai suaminya mengingat melihat reaksi Shella, Dion dan juga Delard.
Baru saja Anjani hendak membuka pintu, tiba-tiba pergelangan tangannya dicekal oleh seseorang. Gadis itu terperanjat dan refleks menarik tangannya saat sadar Saka lah pelakunya. Astaga, mengapa laki-laki itu tidak puas juga?
“Saya mau bicara sebentar, Anjani,” kata Saka.
Sadar jika sang istri tak kunjung masuk ke mobil, Arkan pun kembali keluar. “Ngapain kamu di sini?” tanya Arkan. Arkan pun kembali menarik tangan Anjani untuk menjauh.
“Kak,” sapa Saka. “Saya ingin bicara sebentar dengan Anjani.”
“Ada masalah apa? Kamu bisa bicara di sini.”
Saka berdecak kesal. Ya lagian biar sekalian saja di depan kakaknya sebagai pembuktian. “Anjani, kamu bercanda, kan? Kamu belum menikah, kan? Kalau kamu gak mau saya deketin bilang aja. Jangan ngaku-ngaku kalau udah nikah. Percaya itu lebih sakit dan seolah nutup kesempatan selamanya."
“Apaan sih, Kak?” Tanya Anjani jengah.
“Aku emang udah beneran punya suami. Aku udah menikah sama dia and i love him soo much, Soo stop dude!”
“Mana? Mana buktinya?”
__ADS_1
Arkan berdeham. Bocah ingusan di hadapannya ini memang minta disentil jantungnya. Karena sudah terlampau kesal, Arkan akhirnya mengulurkan tangan. “Perkenalkan, saya suami Anjani. Arkan Giovano Altair.”