I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Peran Arkan Sebagai Ayah


__ADS_3


Tugas menjadi seorang ibu memang berat, apalagi Anjani melahirkan secara sesar. Pemulihannya juga cukup lama, dia harus banyak beristirahat dan itu membatasi ruang lingkupnya. Sungguh, Anjani merasa bosan deh kalau begini..


Tapi beruntung, dia memiliki Arkan dalam hidupnya. Kalau dikatakan Arkan siap menjadi ayah, dia sangat siap sekali. Dia melakukan tugasnya dengan baik, seperti belajar mengganti popok, atau memperhatikan bagaimana cara memandikan bayi.


Anjani memang sudah pulang hari ini, tapi Arkan masih melarangnya untuk kemana-mana dengan alasan takut Anjani kelelahan. Setelah Anjani selesai menyusui anaknya Arkan seperti biasa akan menggendong putri kecilnya dan menaruhnya di dada untuk disendawakan. Kata dokter setelah minum susu bayi memang harus bersendawa jadi Arkan melakukan itu.


"Mas anak kita putih banget ya," ucap Anjani seraya melirik Arsy yang nampak tenang dalam dekapan ayahnya.


"Genetikanya begitu."


Anjani terkekeh, dia pikir anaknya ini akan merah. Karena sejak dilahirkan memang wajahnya merah sekali. Anjani melihat itu saat berada di ruang operasi. Tapi ternyata anaknya seputih susu, lucu sekali.


"Arsyla sama Ayah ya? Iya? Kenapa kamu gemes banget sih? Mau mama makan," kaya Anjani yang gemas sendiri melihat anaknya yang kini menatap ke dirinya.


"Jangan dimakan, buatnya susah," balas Arkan.


Anjani hanya tertawa saja, melihat Arkan yang menggendong putrinya seperti ini membuat Anjani merasa tenang. Setelah Arsy bersendawa Arkan tersenyum dan membawa bayi kecil itu ke tengah-tengah mereka di kasur.


"Lucu banget Arsy kalau kenyang gini langsung anteng," kata Anjani yang memperhatikan anaknya ini nampak sedang menatap kedua orang tuanya setelah bergantian.


"Anteng lah, ayahnya juga kalau diberi pasti anteng begini," kata Arkan asal yang lagi-lagi membuat Anjani mendengus kesal.


Sejak Arsy lahir loh Arkan selalu ingin seperti anaknya yang bisa menyusu pada ibunya. Siapa juga yang tidak kesal. Padahal Arkan kan sudah dewasa. Tapi Arkan santai saja, memang mereka sering melakukannya kan sebelum ini.


"Kamu nanti aja, belum 40 hari," balas Anjani.


"Lama sekali, Sayang. Saya mana bisa, biasanya kita lakukan seminggu beberapa kali," ucap Arkan seolah merasa berat sekali.


Anjani terkekeh melihat suaminya, mungkin Arsy juga bingung melihat ayahnya yang nampak uring-uringan. Masih belum bisa dipahami oleh si bayi kelakuan ayahnya itu.


"Sebentar, sabar ya Pak suami," ledek Anjani.


Arkan menghela napasnya, padahal sebelum Anjani lulus dia bisa menahannya, tapi kenapa sekarang terasa berat sekali ya? Sudah puasa beberapa bulan dia karena kehamilan Anjani.


Akhirnya Arkan memilih untuk memeluk putri kecilnya dan menghirup aroma tubuh bayi yang sangat khas itu. Sedikit lah mengalihkan pikirannya dari hal-hal yang kotor.


Namun melihat Arkan yang terus memeluk anaknya membuat Anjani memajukan bibirnya. "Arsy itu kayanya saingan berat aku ya, Mas."

__ADS_1


"Kamu cemburu?" Tanya Arkan.


"Sedikit." Anjani langsung mengubah posisinya miring dan memeluk Arsyla. Tapi memang dia juga sangat menyayangi anaknya ini. Dia seperti mendapatkan boneka baru yang bisa diajak bermain dan bisa dicium-cium.


"Mamanya juga kesayangan ayahnya." Arkan kembali memeluk Anjani dan menciumi Arsyla dan juga Anjani bergantian.


"Kalian dunia saya, dunia saya yang tadinya hanya ada saya kini bertambah dengan adanya kamu dan Arsy dalam hidup saya, Sayang," lanjut Arkan sembari memeluk mereka berdua.


Mereka bertiga sekarang lengkap, lengkap menjadi sebuah keluarga yang utuh.


.


.


.


Sore ini Anjani melihat bagaimana Arkan mengurus anak mereka, iya Arkan yang memandikan putrinya sore ini dan Anjani yang belum bisa hanya melihat sembari memperhatikan.


"Kamu diajarin siapa, Mas?" Tanya Anjani.


"Mama, Mama Hera dan Mama Viona."


"Tidak, Sayang. Kita, buatnya sama-sama, mengurusnya juga harus sama-sama," jelas Arkan.


"Tapi biasanya kan istrinya yang segala bisa," kaya Anjani yang masih memperhatikan Arkan yang sedang menyemprotkan parfum ke baju anaknya.


"Tidak ada, kamu juga bersama saya di sini mau belajar, kan? Saya lebih dewasa dari kamu, anggap saja ini belajar ya, Sayang?" Arkan tersenyum lalu mengecup bibir Anjani singkat.


Akhir-akhir ini Anjani selalu overthinking karena merasa belum bisa menjadi seorang ibu yang benar-benar seorang ibu. Jadi Arkan lah yang harus suportif di sini, memberikan pemahaman kalau semuanya bisa diatasi berdua.


Tapi tetap saja kan ya, sebagai seorang wanita Anjani ingin menjadi yang terbaik untuk suami dan anaknya. Tapi karena Arkan selalu meyakinkan kalau dia adalah ibu yang hebat, ibu yang bisa melakukan segalanya meskipun harus belajar secara bertahap dan itu sih yang membuat dia merasa tidak sendirian, selalu ada Arkan, mama mertuanya yang selalu bersamanya.


"Besok ajarin aku mandiin baby ya?" Pinta Anjani.


Arkan mengangguk dan merengkuh pinggang Anjani untuk di sampingnya, sembari tetap fokus membuat anaknya cantik dengan memakaikan bedak dan juga parfum.


"Ajarin juga gendong sambil berdiri ya?" Pintanya lagi.


Arkan melirik ke arah istrinya yang menatap dia dengan puppy eyesnya. Gemas sekali Anjani ini. "Iya, Sayang. Saya ajarkan, asalkan kamu cepat sehat. Makan yang banyak, jangan susah minum obat."

__ADS_1


Anjani memajukan sedikit bibirnya dan membuat Arkan mendekat untuk mencium bibirnya. "Kenapa begitu, minta saya cium atau minta buat adik untuk Arsyla?"


Anjani semakin memajukan bibirnya, ya Tuhan gemas sekali istrinya ini, seperti bayi tapi dia sudah memiliki bayi. "Kenapa?"


"Gak suka minum obat ih gak enak, aku gak mau, Mass. Lagian aku baik-baik aja tau, gak mau ya?" Pinta Anjani dengan nada manjanya.


"Mau ya, Sayang?"


Anjani terus menggeleng, tanpa mereka sadari kalau mereka terlalu asik berdua sampai mengabaikan si kecil Arsyla.


Oeekk ... Oeekkk


Anjani yang mendengar itu sama-sama panik, langsung saja Arkan menggendong putri kecilnya yang kini nampak memaju majukan bibirnya merajuk. Nahkan sudah paham itu keturunan siapa? Tentu ibunya.


"Kenapa anak Ayah menangis?"


Oeeekkk ...


"Cemburu liat mamanya ya? Tidak boleh begitu, kan sama-sama cantiknya Ayah, Sayang." Arkan tersenyum dan menciumi bayi kecil itu, membuat Anjani mendekat ke arah mereka dan memeluk suaminya.


"Udah paham dicuekin dia, Mass. Makanya marah, gak boleh mamanya berduaan sama ayahnya. Beneran mau saingan sama mamanya, kan?" Anjani gemas sekali dengan anaknya ini. Kadang dia mencubit hidungnya sampai Arkan menghela napas.


Memang begini nih kalau bayi diberi bayi, jadinya malah geregetan. Tapi ya bagaimana ya, Anjani itu tidak memiliki adik, jadi dia gemas sendiri pada anaknya sampai ingin mengusek-usek bayi kecil itu.


"Bukan saingan, kalian sama-sama kesayangan ayah." Arkan terus menciumi Arsyla dan sesekali Anjani mengecupi pipi Arkan tak mau kalah. Pusing kan menjadi Arkan?


Bayi itu nampak memajukan bibirnya, begitu juga Anjani. Bisa dia bayangkan nantinya akan bagaimana Anjani dengan putrinya. "Kalian akur dong, saya pusing Anjani. Kamu mengalah ya sama anaknya."


Anjani menggelitik perut anaknya gemas. "Dasar bayi, untung kamu anak Mama. Yaudah Mama ngalah, kamu kesayangan Ayah nomor 1, Mama nomor 0."


Arkan menggelengkan kepalanya karena itu membuat Arsy seperti paham kalau tak ingin dinomor duakan. "Anjani jangan begitu."


"Gemes, Mass gemes banget pingin aku unyel-unyel anaknya gemes banget!! Boleh gigit sekali gak? Atau aku pijit idungnya aja ya," Kata Anjani yang memang memperlihatkan sekali kegemasannya.


Arkan hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Yasudah lah memang resikonya juga menikahi balita begini.


Mau liat baby Arsy gak? Hihi liat gemes deh.


__ADS_1


__ADS_2