
"Mba Hana, perlengkapan Arsy udah masuk tas semua?" Tanya Anjani pada salah satu mba yang membantunya untuk berkemas hari ini.
"Sudah, Non," jawab Hana sambil menenteng tas berwarna navy dengan motif bulan dan bintang. "Diapers, tissue basah, tissue kering, baju ganti, botol, ASIP, semua sudah siap."
Anjani memberikan dua jempol, lalu memasang gendongan di pundak kiri dan kanan. Setelah itu, dia menggendong Arsy dengan metode M-shape dan bayi itu langsung merasa nyaman dalam dekapan sang mama.
"Ya, udah. Mba Hana tolong bawakan tasnya ke depan, ya," pinta Anjani karena dia mau touch up sedikit.
Rencananya, pagi ini mereka akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan Imunisasi pada Arsy. Katanya ini penting sekali, jadi Anjani memang sudah menjadwalkannya. Anjani benar-benar telaten dalam mengurusi putrinya sampai mama mertuanya pun memuji Anjani karena bisa se-telaten itu. Iya, Anjani mudah belajar dan Anjani ingin menjadi ibu terbaik untuk anaknya, jadi dia berjuang keras untuk itu.
Arkan tersenyum saat istri dan anaknya ke luar rumah, Anjani yang sudah cantik berbalut dress berwarna pink, membuatnya semakin cantik. Setelah itu baru lah Arkan membukakan pintu mobil.
"Makasih, ya, Mas," kata Anjani, lalu selanjutnya Arkan duduk di samping sang istri dan melajukan mobilnya.
Sesekali Arkan melirik ke arah Anjani dan juga putrinya. Arsy tertidur lelap di pelukan Anjani, sementara Anjani membuang pandangan ke sisi kanan. Sesekali, dia menghela napas panjang ketika mendapati antrean di perempatan yang mengular. Bunyi klakson yang bersahut-sahutan, ditambah pengamen dan pengemis yang berkeliaran, membuat Anjani mengusap wajah kasar.
"Kenapa sih, Sayang? Saya perhatikan kamu cemberut terus?" Tanya Arkan yang keheranan.
Anjani menoleh. "Gak cemberut, kok, Mas," ucapnya berbohong.
"Jangan bohong sama saya. Ada apa? Saya tau kapan istri saya jujur dan tidak," kata Arkan.
Anjani hanya diam karena karena sejujurnya dia tidak tau bagaimana harus menjelaskannya. Ada banyak kegelisahan dia mengenai imunisasi itu, namanya juga seorang ibu, pasti dia memikirkan banyak hal, takut anaknya sakit lah, takut apa lah. Namanya juga pertama kali. Jadinya Anjani hanya mengalihkan ke hal yang lain, seperti mengajak Arkan bicara.
Perjalanan selama satu jam tak terasa lama karena Anjani asyik ngobrol dengan Arkan. Pantas saja laki-laki itu sampai cuti hanya untuk menemani Anjani, ternyata dia hanya ingin menjaga suasana hati sang istri. Arkan tahu, Anjani paling kesal dengan yang namanya macet.
Mobil berhenti di depan lobi. Anjani dan Arkan bergegas turun. Sebelumnya, Arkan sudah mendaftar sehingga tak perlu lama mengantre. Ini adalah kali pertama Anjani mengantar Arsy imunisasi karena dulu saat bayi itu
"Aku deg-degan, Mas. Nanti kalau Arsy nangis gimana?" Tanya Anjani.
"Nangis ya tidak apa-apa,Anjani. Namanya juga disuntik," jawab Arkan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
"Mama tuh lucu ya, Arsy. Masa kamu tidak boleh nangis?" Ucap Arkan seraya memainkan pipi gadis kecilnya itu. Gemas sekali Arsy yang nampak anteng seperti ini. Rasanya kalau bukan di rumah, Arkan ingin menciuminya.
Anjani mendesis. "Kan ini baru pertama kali, Ayah," ucap Anjani.
"Semuanya akan baik-baik saja, Sayang. Anak kita di imunisasi agar sehat, jadi seharusnya kamu tidak perlu khawatir dengan ini. Percayakan pada dokter kalau semuanya akan baik-baik saja." Arkan sudah dewasa, jadi dia harus pintar untuk membuat situasi menjadi nyaman. Wajar memang kalau Anjani banyak takutnya, namanya seorang ibu pasti tidak mau anaknya kenapa-kenapa.
Apalagi Anjani ibu muda, masih awam kalau soal begini. Jadi ya Arkan harus bisa lah untuk menjelaskan hal yang satu ini pada Anjani agar dia tidak banyak khawatirnya.
Anjani menormalkan debar di dadanya ketika nama Arsy dipanggil. Dia masuk bersama Arkan dan disambut oleh dokter perempuan berhijab pashmina berwarna hitam itu. Setelah memeriksa berat dan suhu badan Arsy, dokter bergegas menyiapkan alat suntik beserta cairan obat.
"Imunisasi ini nanti tidak menyebabkan demam. Nanti saya suntik di lengan kanan ya," jelas dokter dengan name tag Jiara. Anjani hanya mengangguk, sementara tangan Arkan yang berada di pinggang Anjani seolah mengerat dan meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Setelah alat suntik siap, DokterJiara mendekat ke ranjang tempat Arsy berbaring dengan nyaman. Saya suntik sekarang, ya."
.
.
.
Anjani nampak tersengguk-sengguk, lucu sebenarnya di mata Arkan. Tapi kata dokter hal seperti ini wajar dan tidak terjadi pada Anjani saja. Jadi dokter memakluminya.
"Sudah jangan menangis lagi, anaknya juga malah anteng tidur tuh, tidak kenapa-kenapa," ucap Arkan.
"Tapi tadi dia kaya kesakitan gitu loh, Mas. Kasian Arsy disuntik, aku aja kalau disuntik takut, apalagi dia masih kecil. Dia pasti–"
Arkan menghadapkan Anjani ke arahnya dan mengusap air mata Anjani dengan kedua telapak tangannya. "Cengeng, tidak akan terjadi sesuatu padanya, Sayang. Dia hebat, menangisinya tidak lama kok. Dia baru pertama kali imunisasi disuntik jadi wajar saja dia kaget."
"Tapi, Mas–"
"Sudah jangan dipikirkan, itu anaknya saja sudah tidur. Tidak kenapa-kenapa, tidak demam juga. Sudah ya? Sekarang mau apa? Mau makan apa?" Tanya Arkan yang berusaha menenangkan Anjani.
Anjani menggelengkan kepalanya. "Engga, aku mau pulang aja. Mau makan di rumah aja."
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu, ayok kita pulang." Ajak Arkan dan Anjani pun mengangguk seraya berpegangan di lengan Arkan, membuat Arkan tersenyum karena tingkah istrinya hari ini.
Sesekali Arkan melirik anaknya yang tertidur, dia juga menutup bibir Arsy yang terbuka. Persis seperti Anjani saat tertidur. Sebegitu cintanya Arkan dengan Anjani sampai-sampai kelakuan anaknya dan Anjani ini hampir sama.
"Persis seperti mamanya, hobi sekali tidur, Sayang. Padahal di tengah keramaian begini, tapi dia tidak terusik," gumam Arkan sambil menatap sang putri yang nyaman di gendongan Anjani.
"Ya kan, emang anak aku, Mas," jawab Anjani sambil memutar bola mata. Anjani semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Arkan.
Namun tiba-tiba ...
"Gio?" Tanya seorang wanita yang berpapasan dengan mereka.
Merasa di panggil Arkan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah wanita itu. "Rindu?"
"Yaampun kamu kemana aja, Gio. Lama loh kita gak ketemu." Wanita itu mendekat dan bersalaman sambil cepika-cepiki tanpa tau malunya, namun Arkan sebenarnya tidak membalasnya kok. Malah dia menatap ke arah Anjani yang menatapnya seolah meminta penjelasan.
Wanita itu memeluknya, namun dengan spontan Arkan melepaskannya sambil menghela napas. Kenapa juga jadi begini?
"Eh sorry, aku kangen banget sama kamu."
"Kalau kangen juga jangan peluk suami orang sembarangan kali," celetuk Anjani sinis. Jangan lupakan fakta, meskipun Anjani ini sudah jinak dengan Arkan, tapi kalau soal begini ya dia tidak akan segan-segan untuk menegur atau melabrak sekali pun.
Wanita itu menatap ke arah Anjani. "A-ahh, kamu menikah, Gio?"
Arkan menggenggam tangan Anjani lalu menariknya agar lebih dekat. "Dia istri saya dan ini anak pertama kami."
"Anjani, Clarissa Putri Anjani. Istri Mas Arkan Giovano Altair dan ini anak kami, Arsyla Mutiara Altair," ucap Anjani seolah mengaskan dan mengulurkan tangannya pada wanita yang ada di hadapannya itu.
"R–Rindu." Rindu membalas uluran tangan Anjani namun masih dengan raut wajah keterkejutan.
"Mama Mama ayok kita pulang, Jihan mau pulang, Ma," ucap seorang balita yang kini menarik-narik ujung baju Rindu.
Melihat itu Arkan tidak mau ambil pusing dan tertarik untuk bertanya. "Saya duluan."
__ADS_1
Mendengar itu Rindu hanya mengangguk dan menatap punggung Arkan yang sudah menjauh dari pandangannya. Serius, Arkan menikah? Padahal dulu dia terlihat seperti anti komitmen, itu kenapa dia tidak gentar mendekati Arkan saat masih kuliah.