I Love You, Pak Arkan!

I Love You, Pak Arkan!
Tentang Sisi Gelap Pria


__ADS_3


"Aku mau bawa mobil sendiri," ucap Anjani memutuskan saat dia dan Arkan keluar rumah.


Arkan menatap ke arah Anjani, ya dia tau kalau gadis itu bisa membawa mobil sendiri tapi tidak, lebih baik dia yang antar saja. "Bareng saya!"


"Mass!!!" Rengek Anjani.


"Kenapa, ada masalah?" Tanya Arkan seraya bersidekap dada di hadapan Anjani.


"Ya aku mau bawa mobil sendiri aja, udah lama juga. Boleh, ya? Mobil kamu banyak begitu buat apa kalau gak digunain? Mending aku pake."


Arkan menghela napasnya lalu menggeleng. "Berapa kecepatan kamu dalam menjalankan mobil?"


Anjani nampak berpikir mendengar pertanyaan Arkan. "100 kilo meter per jam."


Mendengar itu Arkan berdecak, itu terlalu tinggi. Dia tidak mau Anjani mengambil resiko apalagi emosinya sangat labil dan naik turun. Tidak tidak, selagi bisa bersamanya lebih baik Anjani bersamanya.


"Saya tidak izinkan, ayok naik." Arkan membukakan pintu Anjani dan menatap gadis itu yang masih memajukan bibirnya.


"Kode minta dicium?" Tanya Arkan.


"Ihhhh engga, aku mau bawa mobil sendiri. 80 kilo meter per jam deh, atau 60? Boleh ya?" Tawar Anjani.


"Saya suami kamu, bukan pedagang di pasar yang bisa ditawar."


"Ya karena Mas suami aku jadi harusnya izinin lah, harus ada toleransi dalam rumah tangga. Agama aja ada toleransi," kesal Anjani.


"Nice info, ayok naik. Keputusan saya tidak bisa diganggu gugat."


Nice info katanya? Mendengar itu Anjani menghela napas dan menggeram dalam hati. "Sabar banget aku loh!"


"Bagus, memang kamu harus banyak bersabar kalau mau menjadi istri yang baik." Arkan tersenyum dan mengusap puncak kepala istrinya, membuat Anjani semakin kesal karena Arkan memang se-menyebalkan itu.


Saat diperjalanan sesekali Arkan melirik ke arah Anjani yang nampak sedang sibuk membaca buku novelnya. "Pulang sekolah mau jalan-jalan?"


Anjani yang masih kesal hanya mengedikan bahunya tak peduli, dia masih kesal karena tidak diizinkan membawa mobil.


"Padahal saya mau makan sushi di tempat kesukaan kamu yasudah kalau begitu–"


"AISHHH!! OKE MAU!"

__ADS_1


Arkan tertawa melihat reaksi Anjani seperti itu. Memang gadis itu mudah marah tapi mudah juga disogok. Ya tidak pusing lah, jadi kalau dia marah, bisa Arkan sogok dengan apapun yang menjadi kesukaan Anjani.


"Senyum dulu."


Anjani menunjukkan senyumnya sekilas, setelah itu kembali fokus pada bukunya. Menggoda iman sekali memang suaminya yang terkadang seperti setan.


"Saya jadi mau terkam kamu," ucap Arkan.


Anjani menelan air liurnya dengan susah payah, brutal sekali kan Arkan? Anjani tidak bisa membayangkan bagaimana dirinya diterkam oleh Arkan. Membuat Anjani menggeleng pelan, merinding sekali.


.


.


.


Di tengah pelajaran Anjani nampak terdiam. Dia jadi kepikiran kenapa Nanda tidak masuk hari ini. Lebih khawatir lagi karena dia tidak mengirim surat atau kabar sama sekali pada absensi.


Dia jadi khawatir apalagi Nanda tinggal sendiri sekarang. "Dell, pulang sekolah ke rumah Nanda yuk?"


Della yang sedang fokus dengan pelajarannya kini melirik ke arah Anjani. "Ayok, tapi aku bareng Azzam."


Della nampak memalingkan wajahnya dan senyum-senyum sendiri, membuat Anjani nampak curiga. Ya dia tau kalau Della menyukai Azzam, tapi baru kali ini mereka pergi bersama begitu.


"Ihh, Della ... "


"Sstt ah berisik, Jan." Della memilih untuk tidak menjawab, membuat Anjani memajukan bibirnya kesal. Ya mereka berteman, dia kesal kalau salah satunya main rahasia-rahasiaan. Meskipun dia juga suka merahasiakan sesuatu sih.


"Nanti deh kalau udah jadi aku cerita, kalau belum jadi yang ada nanti malah akunya terbang sendirian. Oke?" Della mencoba memberikan pengertian kepada sahabatnya itu.


Mendengar itu ya Anjani mengangguk saja, lagi pula benar, mereka pasti butuh proses dan privasi dulu, ya semoga saja hasilnya baik.


Jam istirahat pun tiba, kini Anjani, Della, Azzam dan Rafi seperti biasa kalau sedang akur ya mereka akan makan bersama di kantin sembari bertukar canda tawa, mereka sengaja memang memilih tempat paling pojok agar lebih leluasa.


"Kamu gak pernah sembunyiin cincin nikah? Baru sadar," gumam Rafi. Ya pelan tentunya, karena takut juga karena didengar orang.


"Gak pernah, buat apa juga? Ya emang sejak awal aku nolak tapi ya ngapain juga, gak perlu bilang-bilang kalau sadar juga ya gapapa toh menikah, kan? Bukan hamil di luar nikah?"


"Bener sih, kan gak ada aturan gak boleh nikah sebelum lulus," timpal Della.


Anjani menjentikkan jarinya, jadi kalau ketahuan juga tidak apa-apa, mereka suami istri dan mereka malah masih dalam batas wajar karena pacaran setelah menikah, belum sampai tahap yang gimana-gimana.

__ADS_1


"Tapi kamu sama Big boss belum pernah anu kan?" Tanya Della.


Anjani malah mendadak nge-blank, anu apa yang dimaksud Della. "Anu banyak maknanya, anu yang mana dulu?"


"Itu, hubungan suami istri." Azzam to the point, karena meskipun Anjani pintar terkadang dia bodoh dalam beberapa hal. Termasuk yang begini nih.


Anjani yang sedang meminum jus jeruknya langsung tersedak, ya bagaimana tidak? Memang pikirannya harus ke sana ya? "Engga lah!"


"Cowok mana yang bisa tahan satu kamar sama cewek tapi gak turn on," celetuk Rafi.


Anjani menghela napasnya, kenapa justru mereka yang otaknya ngaco. Arkan tidak pernah tuh rasanya bertindak porno, ya terkecuali kalau ciuman ya mereka sering melakukannya. "Engga, Pak Arkan gak pernah aneh-aneh, aman."


"Yang diem-diem kalem gitu pro biasanya, Jan. Bisa jadi Pak Arkan langganan club malam," ucap Azzam.


"Emang iya? Masa sih, tapi gak pernah ah pulang malem atau gimana-gimana, orang kalau pergi juga ajak aku."


"Bisa jadi main solo di kamar mandi!" Cetus Rafi.


"Hah? Aku juga suka main solo di kamar mandi," kata Anjani santai.


"HAH?!"


"Nyanyi, kan?" Anjani kembali menyuapkan siomay ke dalam mulutnya setelah itu menatap mereka semua yang nampak masih melongo.


"Bukan gitu, bodoh! Ah udahlah mana paham," kesal Azzam.


Anjani mendengar itu memajukan bibirnya, memang salah apa coba? Anjani kan hanya bertanya, teman-temannya saja yang akalnya di luar nalar.


Saat mereka sedang asik bercanda tawa tiba-tiba mereka terdiam karena Bagas yang duduk di meja sebelah mereka. Suasana seketika menjadi hening, mereka juga tidak mau menyapa atau sekedar say hai kok. Lagi pula, semua ini berawal dari Bagas sendiri.


"Nanti jadi ke rumah Nanda, kan? Aku kayanya bakalan sama Pak Arkan, nanti aku nyusul. Aku ke kelas dulua," ucap Anjani pelan setelah itu dia menyudahi makannya dan pergi dari sana.


Membuat Bagas tertegun juga mendengarnya. Iya dia kehilangan Anjani dan juga Andira, karena sampai sekarang Andira juga tidak menghubunginya dan pergi ke luar kota dengan alasan liburan. Dia terjebak di permainan yang dia buat sendiri.


Anjani keluar dari kantin, dia bukan benci dengan Bagas hanya saja moodnya akan selalu tidak baik jika bertemu dengan pria itu, lebih baik dia tidak cari penyakit, kan?


Namun saat akan masuk ke kelas dia melihat Arkan dari ujung lorong sana dan berjalan ke arahnya. Dia jadi teringat perkataan Azzam dan juga Rafi mengenai sisi gelap pria dewasa di kamar mandi.


Anjani jadi tegang sendiri, apa Arkan begitu juga ya? Apalagi mereka kan memang sekamar, bisa jadi Arkan begitu. Anjani langsung menahan napasnya, saat dekat sekali dengan Arkan dia langsung buru-buru masuk ke dalam kelas karena sudah merinding.


Arkan yang melihat itu mengerutkan dahinya. Padahal dia suaminya, tapi Anjani menatapnya seperti melihat setan. Gadis kecil yang aneh.

__ADS_1


__ADS_2